52. Tulus

1902 Kata

Mau marah aku. Genta bener-bener yaa, udah untung aku izinin dia anter aku balik. Eh dia malah ngajak aku makan dulu. Mana makannya di tempat formal lagi, gak bisa kan aku teriak-teriak marah ke dia. Ngomongnya kudu anggun. “Kamu lagi secantik itu, makanya tempatnya harus spesial juga,” katanya ketika aku protes. Ya, gimana aku gak protes, dia bawa aku ke tempat formal, mahal, dan yang kutahu, lounge ini tuh tempat meeting para bos-bos besar. Ini aku sama Genta jadi tamu termuda nih di sini. Termuda dan ter-riweh, karena tamu yang lain pada elegan parah. “Kamu nyebelin banget Gen, sumpah!” kataku kesal. Genta tersenyum manis, lalu ku lihat ia jadi duduk tegak di hadapanku, posisinya serius sekali. “Andin, aku minta maaf ya!” ucapnya dengan suara yang terdengar sangat tulus. “Maaf ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN