“Perhatian semuanya, maaf menganggu waktunya sebentar. Saya ingin memanggil semua siswa dan siswi yang ada di Halte pukul 15.20 pada hari Senin kemarin. Untuk yang merasa ada di sana, dimohon berkumpul di lapangan voli, sekarang! Se-ka-rang!” Kak Adam bahkan mengeja kata terakhirnya.
“Wihh? Kenapa?” tanya Ari, lalu beberapa orang saling bertatapan. Karena aku tahu aku termasuk, aku memundurkan kursiku, lalu berjalan ke arah luar, menuju lapangan.
Ketika aku berjalan ke lapangan, beberapa siswa sudah memenuhi koridor, ada juga yang berdiri di pinggir lapangan, sementara bisa kulihat Kak Adam berdiri di tengah lapangan voli, lapangan utama sekolahku ini, berada di tengah sekolah, dikelilingi gedung sekolah yang berbentuk huruf U.
Kulihat beberapa junior takut-takut berjalan ke tengah, lalu ada Genta juga. Jadi aku menyusul mereka semua. Aku mengenal muka-muka mereka, ya, mereka ada di sana ketika aku berniat menunggu bus pulang sekolah. Tapi satu yang kurang: Sonya!
“Udah nih segini aja?” tanya Kak Adam, dia gak pake pengeras suara, tapi suaranya terdengar lantang dan merambat bahkan sampai ke pinggir lapangan. Bisa kurasakan junior-junior kelas satu ketakutan.
“Lo, coba liat semuanya, bener cuma segini?” tanya Kak Adam ke salah satu siswi yang terlihat pucat.
“Emm, emmm, ka-kalau saya sih kemarin cuma berdua sama temen saya, ini anaknya, Mega.” Ia menunjuk teman di sebelahnya.
“Lo? Sama siapa hari senin kemarin?” tanya Adam ke siswi di samping Mega.
“Se-sendiri, Kak.”
“Bener cuma segini? Coba liat! Gue tahu kalau kalian bohong!”
Si anak ini melirik ke kiri dan ke kanan, ia seperti mencari seseorang.
“Kemarin, kemarin ada ibu-ibu, sama kakak kelas, Kak.”
“Ibu-ibu orang luar, jangan lo ajak ke sini! Yang anak sekolahan sini aja!” ujar Kak Adam.
“Be-ber-arti kurang kakak kelas, Kak. Anak kelas tiga.” jawabnya.
“Oke bagus, lo tau namanya siapa?”
“Emmm, kalau gak salah... emmm, namanya Kak Sonya, Kak.”
Kulihat Kak Adam tersenyum menang, lalu ia berteriak memanggil Sonya, membuat bulu kudukku merinding.
Aku melihat sekitar, hampir semua siswa sekarang berada di luar, menontoni kami. Di lantai dua dan tiga, mereka semua memenuhi pinggiran balkon. Aku bahkan melihat guru-guru, mereka menonton tak berdaya karena tahu Kak Adam adalah alumni Sekolah ini.
“Mana Sonya anak kelas tiga?! Kalo dia gak dateng ke sini, satu angkatan kalian gue hukum!” teriak Kak Adam.
Lalu beberapa kerumunan di lantai atas mulai rusuh, terutama lantai 3, lantai khusus anak kelas 3.
Tak lama kemudian, kulihat Sonya ditarik oleh Gaftan, mendekat ke arah lapangan, bergabung dengan kami.
“Nih kak anaknya!” Gaftan mendorong Sonya.
“Thanks!” ucap Kak Adam.
Gaftan mengangguk, lalu ia meninggalkan lapangan ini, berdiri di pinggir lapangan, bergabung dengan anak lainnya.
“Gue mau tanya ke kalian semua. Ini, adek gue!” Kak Adam menarikku pelan, keluar dari barisan.
“Kemarin dia digebugin, liat kan mukanya? Itu belum seberapa dibanding lambung, tenggorokan dan paru-parunya yang cidera. Katanya, dia ngelawan senior.”
“Well, gue pernah jadi junior, gue pernah jadi senior. Gue tahu sistem di sekolah ini gimana. Dan.... gue gak keberatan sama sekali kalo adek gue emang bener ngelawan senior!” Kak Adam berhenti sejenak. Aku yakin tak hanya kami di lapangan yang mendengar, tapi juga seluruh sekolah karena suara Kak Adam sangat kencang.
“Gue nemuin dia kemarin di Gudang, bareng dia!” Kak Adam menarik Genta agak kasar.
“Liat kan? Tampang mereka berdua sama ancurnya? Siapa sih yang ngajarin kalian buat ngancurin muka orang? Hah? Kayaknya sepanjang sejarah sekolah ini anak kelas 3 gak pernah bikin babak belur di muka! It's too obvious, jangan g****k lah, jangan kasih liat bukti yang jelas yang bikin lo kena!”
“Balik lagi.... adek gue dibawa ke Gudang karena katanya dia ngelawan senior, si Sonya ini. Sekarang gue tanya ke semua saksi yang ada di Halte kemarin, bener gak adek gue ngelawan?” Kak Adam menghampiri Mega.
“E-engga Kak, yang aku liat, Ka-kak Andin diem aja.”
“Lo bisa beralasan dia bohong karena takut. Tapi tadi pagi.... gue berhasil dapet rekaman CCTV dari kepolisian, jadi gue punya bukti gimana kejadian sebenernya di Halte senin kemarin!”
Kak Adam membuka ponselnya, dan ia memperlihatkan itu ke Sonya.
“Bagian mana adek gue ngelawan elu, heh!” bentak Kak Adam, dan kulihat Sonya menunduk takut.
“Udah, kalian semua boleh pergi kecuali Sonya, Andin sama Genta!” ujar Kak Adam.
Lalu, anak kelas satu yang ada di lapangan ini langsung berlari meninggalkan barisannya. Kulihat ada salah satu dari mereka yang menghembuskan napas lega kencang sekali.
“Sekarang! Gue mau semua yang ada di Gudang sore kemarin turun ke sini, hadepin gue!” teriak Kak Adam.
Hanya butuh satu kali panggilan, semua orang yang kulihat kemarin di Gudang turun ke lapangan. Mereka semua menunduk takut. Dan yang buat aku terkejut, Gaftan ikut bersama mereka.
“Lo ikut gebukin adek gue?” tanya Kak Adam ke Gaftan. Kak Adam tahu, Gaftan itu mantan pacarku. Dia sempet kena ultimatum dari Kak Adam waktu awal kami pacaran dulu.
“Gue masuk pas mereka mau nyiksa Andin, Kak. Gue pakai 2 privilege gue buat bebasin mereka. Gue tahu lo pasti bakal terlibat kalo Andin kenapa-napa, terus gue juga mau bebasin Genta, dia junior gue di basket.” jelas Gaftan.
“Then?” tanya Kak Adam.
“Ricco bilang privilege gue ilang satu doang, mereka bakal dihukum tapi gak fisik. Gue keluar pas setuju. Terus gue gak ngerti, kenapa bisa begini jadinya.”
“Okee, berarti kalian.... selain g****k karena gak ngecek dulu korban beneran salah atau engga, terus kalian ingkar janji juga?” Adam berjalan di hadapan mereka yang sekarang menunduk itu.
“Gue gak akan mukulin kalian satu-satu, buang-buang energi. Gue tahu hukuman yang pantes buat kalian! Sorry to say, tapi fasilitas dari Alumni untuk angkatan kalian gue cut! Dan kalian semua, kecuali Gaftan, gak berhak dapet bimbingan apapun buat kuliah ataupun channel kerja dari sekolah ini. Urus sendiri urusan kalian!” mereka semua langsung mendongkak, terbelalak kaget.
“Ta-tapi Kak, bukannya yang punya wewenang itu Kak Adam Gladri ya? Direktur Jenderal Ikatan Alumni?” tanya Orion, nada suaranya agak terdengar kesal seperti ingin melawan.
“I'm Imantaka Adam Gladri, asshole! Kalian berurusan dengan orang yang salah!” Kak Adam tersenyum dan kembali mereka semua menunduk.
“Lo mau dendam sama adek gue? Sama Genta? Lo liat hukuman kalian bakal separah apa nanti! Sekarang, gue anggap clear di sini! Kalo kalian gak terima, kita duel satu lawan satu! Siapa yang gak terima?” tanya Kak Adam.
Mereka semua menunduk. Aku yakin sih, mereka gak ada yang berani lawan alumni.
“Yaudah! Lo semua boleh bubar!”
Mereka semua bubar, termasuk Genta. Kak Adam lalu merangkul bahuku, mengantarkan aku kembali ke kelas.
“Lo mau balik aja dek? Apa lanjut belajar?” tanya Kak Adam.
“Balik deh Kak, lo bikin malu gue tau!” Aku masuk ke kelas, semua teman kelasku menatapku takut, kuambil tas ranselku lalu keluar.
Kak Adam langsung mengambil ranselku dan menggendongnya, ia menggengam tanganku dan kami pun langsung berjalan menuju parkiran, pergi meninggalkan sekolah ini.
Dengan motor, kami membelah jalanan kota siang hari ini. Gak langsung pulang, Kak Adam membawa motornya melipir ke restoran cepat saji.
“Lo gue pesenin cream soup ya? Laper kan pasti lo?” ujarnya membantuku melepaskan kaitan helm.
“Iya Kak, laper banget!”
“Ayok!” kami berjalan beriringan, Kak Adam merangkul bahuku seperti tadi. Dan aku langsung duduk di pojokan sementara Kak Adam berjalan ke counter pemesanan makanan.
Ketika datang, Kak Adam membawa senampan penuh makanan, ada dua cream soup di nampan itu. Lainnya? Ya makanan dia. Padahal kalo tenggorokanku gak cidera, mau deh aku juga makan itu.
“Sejak kapan lo jadi dirjen?” tanyaku, ya, serius, aku gak tahu kakakku punya jabatan sepenting itu di ikatan alumni.
“Hahaha udah 4 bulan, dan sampe 5 tahun ke depan nih. Sial, gue baru aja minggu lalu kasih anak kelas 3 duit buat bikin party.”
“Oh iya gue tahu tuh, anak kelas dua udah boleh ikutan kan ya?” tanyaku sambil mulai memakan soup yang sudah mulai hangat.
“Lo jangan ikut!” serunya.
“Kenapa?” tanyaku protes.
“Lo tahu? Anak cewek kelas 2 yang dateng ke party itu cuma bakal disuruh puasin anak senior yang b******k!” ujar Kak Adam, bikin aku kaget mendengar itu.
“Anjir, tapi... kan sekarang mereka tahu lo Kakak gue, gak berani dong mereka?”
“Mereka bakalan mabuk, dek. Mana bisa sadar? Mending lo gak usah dateng! Kasih tau Mia sama temen deket lo.”
Aku langsung diam ketika mendengar nama Mia disebut. Ya, situasi pertemanan kami sudah berbeda sekarang.
“Yaudah, lo ikut ya? Jagain gue, gue pengin tau kak party tuh gimana. “
“Gue libur cuma beberapa hari, gara-gara dosen banyak yang ikut Bimtek. Jangan ngadi-ngadi lo! Dah gak usah ikut, party yang ada juniornya itu tuh cuma buat bikin yang b******k sama yang cupu naik kasta.”
“Hah? Naik kasta?” Aku udah gak ngerti lagi. Kasta apa lagi sih ini? Gak cukup apa, anak kelas satu sampah, kelas dua manusia, kelas tiga raja, dan alumni itu dewa? Hah?
“Kasta kebandelan untuk tingkatan dihormati di angkatan. Rokok itu kasta terendah. Minum alkohol kasta ke dua. Drugs naik lagi sedikit. Nah tertinggi tuh ya have s*x!”
Aku menggeleng. Udah gilak emang.
“Dah, lo udah ngerti kan? Jadi gak usah ikut-ikutan!”
Aku cemberut. Satu soup sudah kuhabiskan, karena masih lapar, jadi aku mulai memakan porsi selanjutnya.
“Genta cowok lo?” tanyanya tiba-tiba.
“Hah? Apaan, kagak!”
“Ohhh, kok tadi pagi, pas dia liat gue di warung dia langsung nyamperin, bilang sorry gak bisa jagain lo, malah ngerepotin, gitu-gitu.”
“Jangan didenger. Dia bukan cowok gue.”
“Oke-oke, lo kalo ada apa-apa ngadu aja ke gue oke? Tapi jangan yang sepele juga ya? Masa Direktur Jenderal disuruh ngurusin masalah remeh?” Kak Adam mulai menyombongkan diri.
Tapi aku tersenyum, mengangguk. Dalam hati sedikit bersyukur, punya Kakak kaya dia yang emang bisa ku andalkan di situasi tertentu. Dan tanpa terduga.
Hahahah!
********
TBC