9. Kak Adam

1982 Kata
“Temen lo ini harus dibawa ke rumah sakit, Dek. Lo juga.” Seru kak Adam, ia panic tentu saja melihat kondisi kami berdua yang berantakan ini. “Jangan rumah sakit Kak, klinik aja.” kataku. “Yaudah!” Kak Adam sudah berhasil membawa Genta, ia lalu menidurkan Genta di jok belakang. Ketika aku melirik ke belakang, Genta benar-benar parah. Napasnya masih terseggal-senggal dan matanya tertutup. Segera saja Kak Adam mengemudikan mobilnya menuju klinik 24 jam dekat sekolah. “Kok, kok Kakak ada di sini?” tanyaku. Ya, Kak Adam kan kuliah di kota lain. “Jangan ngomong dulu, Dek. Ngeri gue liat tampang lo itu.” Aku diam, mengangguk kecil. Ketika kami sampai di klinik, Kak Adam langsung membantuku keluar. Tapi kutolak. “Kakak bantu Genta aja, aku bisa jalan sendiri.” kataku karena aku sih sudah lumayan bertenaga sekarang. “Oke, lo masuk sana duluan!” Aku turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke klinik, untung kliniknya kosong, jadi aku langsung berjalan ke arah resepsionis. “Permisi, Mbak!” kataku. “Astaga! Ayok, sini dulu!” Resepsionis ini kaget melihat tampang ku, jadi ia langsung membawaku ke ruangan lain. Saat berjalan, Kak Adam yang memapah Genta masuk, si resepsionis makin syok. “Bawa sini Mas, barengan!” Kami masuk ke ruangan semacam UGD, lalu resepsionis ini memanggil temannya untuk merawat luka-luka Genta. “Mbak muntah darah ya?” tanyanya, aku mengangguk kecil. “Kok bisa?” tanya perawat lainnya, tentu saja aku tak menjawab pertanyaan itu. “Mungkin harus dibawa ke rumah sakit, untuk diperiksa apakah ada organ dalam yang cidera atau bagaimana. Di sini cuma bisa rawat luka-luka luar aja.” “Baik Mbak, nanti saya bawa mereka ke rumah sakit.” jawab Kak Adam. Setelah luka-luka kami obati, Kak Adam kembali memapah Genta. Aku yang sudah kuat, berjalan  ke luar sendiri meskipun sesekali perutku terasa sakit. “Lo kenapa bisa dibawa ke Gudang, dek?” tanya Kak Adam saat kami di perjalanan menuju rumah sakit. “Susah kak jelasinnya, nanti deh di rumah. Intinya gue dianggep ngelawan senior.” “Ini yang bikin gue gak setuju lo masuk sekolah itu dulu!” “Tapi kan lo tahu Kak, sekolah kita tuh pelajarannya bagus, terus kalau mau masuk universitas idaman tuh benar-benar dibimbing, kaya lo. Gue masuk situ karena sistem sekolahnya yang bagus.” “Ya tapi senioritas, terus guru-guru juga diemin itu semua!” “Ya karena lo dan lain-lain.” seruku. “Kok gue?” “Ya alumni segalanya kan? Ikatan Alumni ngasih support finansial gak cuma ke anak kelas 3, tapi juga ke guru-guru, makanya mereka gak bisa lawan.” Kak Adam diam. Ya, pokoknya sekolahku tuh gitu lah. “Makanya, gue bilang kan, lo jangan macem-macem kalo masih jadi junior.” Aku tak menyahut, kami sampai di rumah sakit dan langsung menuju IGD. Aku dan Genta langsung diperiksa oleh suster dan dokter jaga. Kami diminta untuk beristirahat sebentar, sambil menunggu hasil pemeriksaan. ******** Mama syok melihatku pulang dengan kondisi begini. Reaksi yang sama dengan Mamanya Genta ketika kami mengantarnya pulang tadi. “Kenapa Andin, Kak?” tanya Mama. “Jatoh dia dari tangga,” jawab Kak Adam berbohong. “Bener?” “Iya, Ma. Masa gak percaya sama Adam? Lagian Andin udah gak apa-apa kok. Adam bawa ke klinik tadi, udah diobatin. Ya kan Din?” “Iya Ma, Kak Adam bener.” “Yaudah, temenin ke kamar gih.” Kak Adam mengangguk, lalu ia mengantarku ke kamar. Ya, orangtua kami sama sekali gak tahu apa-apa soal budaya sekolah kami yang gak sehat itu. Kalau tahu, mungkin Mama dan Papa gak bakal masukin kami ke sekolah itu kali ya? Di kamar, aku langsung merebahkan diri, sementara Kak Adam membuka lemariku, mengambilkan baju ganti karena gak mungkin aku pakai baju berlumuran darah ini terus kan? “Bisa ganti sendiri apa mau gue panggilin Mama?” tanyanya. “Sendiri aja, kalo minta tolong Mama, nanti Mama tahu gue parah.” “Yaudah oke, tapi gue di sini ya? Madep pintu, takut lo jatoh nanti gak kedengeran.” “Iya Kak!” Ketika Kak Adam berjalan ke arah pintu, aku langsung membuka kancing seragamku satu per satu, lalu melepas semua kain yang menempel. Setelah itu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Kak Adam. “Udah Kak.” Kataku ketika selesai berganti. Kak Adam berbalik, ia mengumpulkan pakaian kotorku lalu melemparnya ke keranjang laundry. “Tiduran dek, lo denger dokternya bilang apa, istirahat. Nanti malem lo gue beliin bubur.” Aku mengangguk. Aku berbalik di kasurku, Kak Adam juga ikut di sampingku, melihatku ngeri. “Kok bisa pulang? Bukannya ini belum libur kuliah, Kak?” tanyaku. “Jangan mengalihkan topik. Lo cerita, lo bikin ulah apa sampe dibawa ke Gudang?” tanya Kak Adam. Aku diam sejenak karena sesungguhnya aku juga gak tahu salahku apa. “Asli Kak, masalah gue tuh sama Genta. Gue gak ngerti kenapa Sonya laporin gue juga. Kalo Genta iya, dia emang ngebentak Sonya, tapi sumpah, gue sama sekali gak ada ngomong apa-apa ke Sonya.” Kulihat Kak Adam mengangguk. Asli sih, aku ngeri kalo Kak Adam ikut campur masalah ini. Yang aku tahu, angkatan kak Adam tuh terkenal yang tersadis di antara semua alumni, dan geng kak Adam, udah lah, denger nama ALSES aja kayaknya orang-orang pada takut. “Yaudah, besok lo mau sekolah apa engga?” “Besok gue ada quiz Kak, minggu kemarin Pak Abdul udah pengumuman, lo tahu kan Pak Abdul gimana?” “Yaudah, oke, gue anter lo ke sekolah!” ujar Kak Adam. Meskipun aku takut, tapi ya aku tetap mengangguk. Sebenernya aku gak mau Kak Adam ikut-ikutan. Nanti sama Senior aku malah dianggap tukang ngadu. Huh, semoga aja besok gak malah jadi masalah baru. Amin! ************ Keesokan harinya, aku bercermin dulu sebelum berangkat sekolah. Wajahku masih memar di beberapa bagian dan kalau kemarin cuma keliatan bengkak, sekarang makin serem karena bengkak itu sudah berubah warna jadi ungu. “Dekkk? Ayok!” terdengar suara Kak Adam dari luar. Segera saja kugendong tas sekolahku, lalu keluar dari kamar. Ikut sarapan bersama Mama, Papa dan Kak Adam. Papa masih gak percaya aku jatuh dari tangga. Dan menurut Mama, harusnya aku hari ini gak masuk sekolah. “Andin kuat kali, Pa, Ma. Udah, hari ini Adam tungguin dia di sekolah, biar gak kenapa-kenapa.” ujar Kak Adam menenangkan orang tua kami. Tapi, itu malah bikin aku ngeri. Kak Adam seharian di sekolah, ngapain? Aku yakin dia gak akan cuma duduk-duduk diam di warung sampai jam pelajaran berakhir. Selesai sarapan hanya dengan s**u karena aku belum bisa mengunyah, aku dan Kak Adam berangkat. Kali ini kami mengendarai motor Kak Adam yang sudah lama tidak ia gunakan. Untungnya, motor gak mogok jadi aku sampai ke sekolah tepat waktu. “Dah Dek, gue nunggu di warung, lo semangat quiz pak Abdul. Entar kalo ada apa-apa, telefon aja. Oke?” “Oke Kak!” aku mengangguk kemudian berjalan masuk ke sekolah, menuju kelasku. Sepanjang jalan, ada beberapa yang memperhatikan aku. Ya, aku sadar, wajahku yang babak belur ini pasti jadi pusat perhatian. Maka dari itu, aku berjalan menunduk. Ketika sampai kelas, teman-temanku terkejut. Mereka tahu aku dibawa senior kemarin, dan sekarang ke sekolah dengan keadaan begini. Kurasa mereka bisa menyimpulkan sendiri apa yang terjadi padaku. Duduk di tempat biasa, aku langsung menyenderkan diri ke tembok, biar menyatu sekalian aja lah, jadi gak ada yang merhatiin. “Kenapa lu?” tanya Ari, ia membawa tasnya, duduk di sampingku. “Gak apa-apa.” “Diapain lo sama Si Ridwan sama si Deni?” “Gak diapa-apain.” “Ah elu, gak seru!” ujar Ari. “Gue gak mau ada gosip apa-apa.” “Emang gara-gara apa?” Kali ini aku tak menyahut karena guru pelajaran pertama, yaitu Bu Tiwi sudah masuk dan mulai menjelaskan materi pelajaran hari ini. Ketika bel istirahat pertama berbunyi, beberapa anak keluar kelas, kulihat Mia dan Novi bersama beberapa anak lainnya keluar kelas. Ari sendiri masih ada di sampingku. “Lo mau titip sesuatu?” tanya Ari. “Mau s**u coklat dua ya Ri?” Kataku, lalu memberikan uang kepada Ari. “Oke, makan?” “Gak deh, tadi gue sarapan.” kataku berbohong. Aslinya, aku gak bisa menelan makanan solid, gak bisa ngunyah. Bisa ngomong aja ini udah bersyukur. Tenggorokanku rusak. “Oke!” Ari keluar kelas, aku sendiri langsung melipat tangan di meja dan membenamkan wajahku yang masih sakit ini. Semoga, seniorku menganggap semua masalah selesai hari kemarin, biar gak ada masalah susulan. Jujur, aku gak mau lagi berurusan sama mereka. “Hey!” Aku mengadah ketika mendengar sapaan itu. Genta, yang tampangnya lebih ancur dariku duduk di kursi di depanku, menghadap belakang ke arahku. “Lo bisa sekolah?” tanyaku kaget, gila, dia kemarin babak belur parah, hampir meninggal bisa dibilang. “Yep, gue sakit kemarin doang. Sekarang udah gak apa-apa. Makasiih ya, gue belum bilang makasih secara proper ke lo sama kakak lo.” “Gak usah bilang makasih, gak apa-apa.” “Ya tetep aja, makasih. Dan sorry, lo jadi ikutan kena.” Aku hanya mengangguk. Lalu perhatianku teralih ketika ponselku bergetar, ada chat dari kak Adam. Adam❤: Dek? Istirahat beli s**u gih Me: Udah nyuruh Ari, Kak Temen kelas Adam❤: Good Pelajaran pak Abdul kapan? Me: Abis istirahat pertama nih Kenapa? Adam❤: Beres quiz balik aja, mau? Me: Gak deh Adam❤: Yaudah Me: Lo di warung? Adam❤: Gak, lagi nyari bukti dulu nih Nanti gue ke warung lagi Me: Bukti apa? Adam❤: Udah Istirahat sana Siap-siap quiz Semangat adek ❤ Aku tak membalas chat terakhir Kak Adam. Ketika aku mengadah, kulihat Ari berjalan dari luar ke arah kami. Ia membawa satu tas plastik jajanan, di dalamnya ada dua kotak s**u pesananku. “Nih, Din! Hey, Gen!” Ari menyapa Genta yang masih duduk diam di depanku. “Thanks, Ri!” “Yoo!” sahutnya, kuambil dua kotak s**u tersebut, satunya kusodorkan pada Genta. “Nih, mau gak?” tawarku, ia mengangguk dan mengambil s**u tersebut. “Muka lo sama ancurnya Gen, kalian bareng dibawa ke Gudang kemaren?” tanya Ari. “Yo'i!” jawab Genta santai. “Kenapa sih? Kepo deh gue, terus berdua digebugin? Setau gue senior kalo hukum gak sampe bikin bonyok deh, paling nyakitin badan-badan yang tertutup seragam gitu, biar Guru gak curiga.” ujar Ari. “Gue ngelawan, makanya dibikin gini. Tadinya sih betis gue ditusuk-tusuk jarum ampe darahnya keluar gitu, kata mereka sih air mancur.” “Anjir perih!” Aku diam, mengingat kejadian kemarin. Aku masih penasaran, apa yang akan mereka lakukan padaku sebelum Gaftan datang. Apakah diperlakukan hal yang sama? Duhhh! Aku bergidik sendiri membayangkannya. Baru kulihat Genta akan bercerita lagi, eh bel berbunyi kembali. Istirahat pertama selesai. “Dah, gue balik kelas ya! Bye Din!” seru Genta, aku hanya mengangguk. “Lo beneran pacaran sama dia?” tanya Ari. Aku menggeleng tentu saja. Gak mau aku sama cowok begitu. Pak Abdul masuk, satu kelas langsung hening. Kami semua tegang ketika Pak Abdul membagi-bagikan kertas soal quiz hari ini. “Karena saya sudah kasih tahu dari minggu sebelumnya, harusnya kalian sudah siap ya!” ucapnya. Ketika kertas soal sampai di mejaku, aku syok... 20 soal? Buset, gak kurang banyak nih? Mo nangis aku. Menit-menit berlalu, aku cuma bisa kerjain 18 soal ketika bel pergantian pelajaran berbunyi. Di sampingku, Ari baru nyalin punyaku sampai nomor 15. “Anjir!” maki Ari pelan. Pak Abdul meminta semua lembar jawaban dan soal dikumpulkan, lalu beliau pun keluar dari ruangan. Menunggu guru jam pelajaran selanjutnya, kami terintrupsi oleh suara speaker yang menyala. Jadi, di masing-masing kelas tuh ada speaker gitu, buat halo-halo. Pusatnya di ruang tata usaha, bisa diatur juga buat kelas-kelas mana yang nyala, dan bisa juga semuanya nyala. “Perhatian semuanya, maaf menggangu waktu kalian!” terdengar suara dari speaker, dan yang bikin aku tegang, yang berbicara dari speaker itu suara Kak Adam. Astaga, dia mau ngapain sih??? ******** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN