8. Di Gudang

1669 Kata
Aku dan Genta dijejerkan, dengan penjagaan dari senior yang tetap memegangi tangan kami dari belakang. “Jadi... lo murid baru, tadi siapa nama lo?” tanya Orion di depan wajah Genta, namun Genta gak menjawab. “Gue nanya tuh jawab!” seru Orion, berbarengan dengan tinjunya yang mendarat di wajah Genta, membuatku sedikit meringis, karena bisa kurasakan, pukulan itu sangat kencang. Aku menoleh ke samping, kulihat sedikit darah keluar di hidungnya Genta, tapi ia malah tersenyum mengejek. “Ngapain gue jawab pertanyaan lo? Hah? Lo udah nanya tadi, dan udah gue jawab! Lo kalo g****k, jangan ditunjukin banget gitu dong!” ujar Genta, ia terdengar lantang, tak terlihat sakit sama sekali meskipun darah sudah mengalir pelan di salah satu lubang hidungnya. “Ohh, gini nih, anak baru, songong, gak tahu adab ke yang lebih tua. Ngerasa oke, lo, hah?!” bentak Orion, tapi kulihat Genta bergeming, ia bahkan gak terlihat takut atau apapun, dan lagi, sebuah tinju mendarat di wajah Genta. “Kemarin mereka ngapain Son?” tanya Orion, bertepatan dengan itu, beberapa kakak kelas datang, masuk ke dalam Gudang, bergabung bersama kami. “Kenapa nih?” tanya Jenny, salah satu senior cewek yang paling ditakuti juga. Selain galak, Jenny nih juara taekwondo beberapa kali. Serem lah pokoknya. “Biasa Jen, kemarin ada yang bikin drama di halte, bentak-bentak gue terus sok-sokan romantis gitu gendong-gendongan.” jawab Sonya. “Ohhh, gak sopan sama yang lebih tua, gitu?” tanya Jenny, lalu Sonya mengangguk. Jenny mendekat, ia seperti tertarik melihat wajahku, membuatku takut dan memutuskan menunduk agar tidak perlu melihat matanya. Dan detik berikutnya, Jenny meludahi mukaku, dan dilanjutkan dengan sebuah tamparan keras di pipiku. Aku diam. Di paskriba, aku pernah dapat hukuman yang lebih kejam dari ini, jadi aku masih tahan. “Kurang kenceng lah Jen! Masa segitu doang?” Sonya mengompori, kemudian tamparan kedua mendarat, lebih keras dari sebelumnya. “Mereka berdua pacaran apa gimana?” tanya Jenny. “Kayaknya sih pacaran.” ujar Sonya. “Yaudah, suruh mereka hadep-hadepan, biar saling lihat pas kita siksa mereka.” Yang memegangi tanganku langsung menarik paksa, membuat aku dan Genta berhadapan dengan jarak dua meter. Genta terlihat santai, ia seperti tidak peduli dihukum oleh senior seperti ini. “Lo anak baru! Nih kita ajarin sopan santun ya! Biar lo tahu, gimana caranya berlaku ke yang lebih tua!” ujar salah satu senior yang aku gak tau namanya. Lalu, ia mengikat sebelah kaki Genta di bagian ankle dan di bawah lutut, terlihat ikatannya sangat kencang. “Mana Jal? Yang tadi gue suruh bawa!” Serunya. Lalu, Rizal, seniorku di paskib, ia memberikan sesuatu benda yang kecil pada orang ini, aku penasaran itu apa. Aku tegang sendiri, karena Genta ada di depan ku, jadi aku bisa lihat bagaimana Genta akan dihukum, tapi sialnya, ini anak santai banget. Kaya gak peduli gitu loh. Lalu, kulihat senior ini berjongkok, mengelus betis Genta yang kebetulan saat ini mengenakan baju olahraga. Dan baju olahraga sekolahku ini tuh celana pendek dan kaus pendek. “Mau liat air mancur gak gaes?” tanya si Senior ini, dan semua langsung berseru iya, ada beberapa yang mengangguk. Aku menelan ludah ketika senior ini menusuk betis Genta dengan jarum, membuat darah langsung menyembur begitu saja dari titik titik yang ditusuk. Darahnya gak banyak emang, tapi ya muncrat terus, dan... kulihat Genta meringis. Gosh? Kalo Genta digituin, aku bakal diapain nih? Darah terus keluar selama beberapa menit, membuat lantai Gudang yang berwarna putih ini jadi ada bercak merah di bagian dekat kakinya Genta. Sampai akhirnya Orion melepaskan dua ikatan di kaki Genta, barulah darahnya berhenti. “Itu masih hukuman kecil, sekarang gantian, cewek lo dulu!” Kini, Jenny, Orion dan satu senior yang aku gak tau namanya berjalan ke arahku, mereka bertiga mengembangkan tersenyum manis yang menakutkan. “Kata Rizal lo anak paskib ya? Kuat dong ya berarti?” ujar Jenny. Aku diam, tidak berani menyahut. “Eh engga ya!” seru seseorang, pintu Gudang dibuka dan masuk Gaftan, ia langsung menembus kerumunan, membuat Jenny, Orion dan satu lagi berhenti sebentar. “Lo tahu gak ada pengecualian ya buat adek kelas yang ngelawan!” seru Orion. “Tan, dia mantan lo doang kali, kenapa lu? Gagal move on?” ledek Rizal. Ya, Rizal pasti tahu kalau Gaftan mantan pacarku, dulu Gaftan rajin banget nungguin aku latihan biar kita bisa pulang bareng. Salah satu hal yang bikin Gaftan gak suka aku ada di paskibra: pulangnya telat. “Tapi kan perjanjian kita boleh ngelindungin orang yang kita mau kan? 3 kali!” seru Gaftan. “Jadi lo mau pake kesempatan lo ini?” tanya Orion. “Yak! Dua kesempatan! Bebasin Genta sama Andin!” “Lha? Kenapa yang cowok juga?” tanya Jenny. “Dia bakal jadi penerus gue di basket! Dah gak usah banyak tanya kalian!” “Yaudah, kita gak siksa fisik mereka deh, gimana?” tanya senior yang aku gak tahu namanya ini. “Terus?” tanya Gaftan. “Kesempatan lo ilang satu aja. Semua saksi, gue gak akan siksa mereka secara fisik, tapi ya mereka harus tetep dihukum, gimana?” Gaftan melirik ke arahku lalu melirik ke arah Genta yang sepertinya mulai lemas. “Yaudah, oke, tapi gue gak ikut-ikutan kali ini, gak tega gue! Gue pegang ya omongan lo semua! Gak ada yang siksa mereka! Please, jangan macem-macem sama Andin!” Seru Gaftan. “Kita menghargai sesama Tan, you have my word!” ucap senior kejam ini. “Oke! Mark my word, gak ada yang siksa mereka, atau kalian semua kena masalah!” Gaftan langsung berbalik, ia menutup kembali pintu Gudang. Lalu, kerumunan sepi sejenak sampai Jenny bersuara. “Terus mereka kita apain, nih?” “Telanjangin mereka, cepetan!” Aku syok, ya... aku udah gak tau harus respon apa. Jujur, aku mending disiksa sih daripada harus begini! Gak mau aku! Di ruangan ini, sedikitnya ada 15 orang, dan rata-rata laki-laki. Aku gak mau! Gak sudi! Ketika Jenny, Sonya dan beberapa senior lainnya mendekat ke arahku, aku berontak tentu saja, berusaha sekuat tenaga supaya bisa lepas dari cengkraman ini. Ketika aku bebas, aku berlari menuju pintu keluar, tapi tentu saja, aku dihadang, kakiku dijegal dan aku jatuh. Detik berikutnya, terasa tendangan keras di perutku. Orion baru saja menendangku. Aku terbatuk, dan ia menendangku sekali lagi. Darah segar langsung keluar dari mulutku saat itu juga. Perutku perih dan dadaku sakit sekali. Dari lantai, kulihat Genta juga memberontak, ia bahkan sempat memukul beberapa orang yang menahannya sampai akhirnya ia pun terjerembab juga ke lantai sepertiku. Jenny berlutut di dekatku, lalu ia melayangkan beberapa pukulan ke wajahku! “Lo berontak! Perjanjian sama Gaftan udah gak berlaku!” Lagi-lagi darah keluar dari mulutku, tapi karena pukulan bertubi-tubi dari Jenny, beberapa kali aku terpaksa menelan kembali darah yang keluar dan menjadi sangat ingin muntah. Kepalaku menoleh ke samping, kulihat Genta dikroyok beberapa orang sekaligus. Hujanan pukulan bertubi-tubi jatuh ke wajahku, perutku bahkan dadaku. Lalu, aku merasakan sebuah tangan mencekik leherku sampai aku kesulitan bernapas. “Stop! Kita cuma ngasih pelajaran! Bukan mau ngebunuh mereka!” ttu suara Rizal, tapi suaranya samar, sepertinya telingaku juga cidera. “Yaudah, kita tinggal aja mereka. Lo berdua, berdoa aja Pak Yunus ngecek ruangan ini!” seru Orion. Semua pukulan dan cekikan di leherku berhenti, aku bisa bernapas kembali walaupun tersenggal. Lalu, terdengar langkah menjauh, dan seketika ruangan ini kosong. Hanya ada aku dan Genta yang terkapar di lantai. Ketika mencoba bangkit, namun aku tiba-tiba muntah, dan yang keluar adalah darah segar. Kuseka mulutku dengan baju, dan seragam putihku langsung bernoda merah. Aku diam sebentar, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bangkit, tapi badanku lemas sekali. Menoleh ke samping, Genta bahkan tidak bergerak, tapi terlihat napasnya terengah-engah. Ia juga pasti sakit sekali itu. Lagi, kucoba bangkit dan kali ini aku mampu duduk, lalu, aku merangkak ke arah Genta, ingin mengecek kondisinya. Wajah Genta lebam hampir di semua bagian, sudut bibirnya mungkin sobek, dan hidungnya terlihat bengkok. Gosh! “Gen?” panggilku. Ia tak menyahut, tapi ia membuka matanya yang lebam itu. “So-sorry, gak bisa jagain lo.” ucapnya pelan. “Sini, gue bantu berdiri ya?” kataku. Aku yang sudah mempunyai sedikit tenaga akhirnya menarik Genta bangkit. Dan kami berdua pun duduk di lantai, bersandar pada satu sama lain karena ternyata tubuh kami masih lemah. “Lo-lo kuat jalan sampe depan?” tanyaku. Genta gak menjawab. Aku menarik diri, lalu menahan tubuh Genta sebelum ia jatuh ke lantai lagi. “Bentar, gue ambil tas dulu, biar bisa telefon.” kataku, berniat menelepon Mama agar bisa menjemputku. Dengan kondisi begini, aku tak yakin kami bisa pulang tanpa bantuan orang lain. Aku merangkak menuju tas yang dilempar Ridwan ke sudut ruangan. Ketika membuka ponselku, aku lega melihat masuknya chat dari Kak Adam. Kakakku. Adam❤: Dek? Gue jemput nih Disuruh Mama Gue nunggu di warung ya? Dek? Woy? Orang udah bubar Lo mana? Dek? Lo gak balik duluan kan? Woy? Tak membalas pesannya, aku langsung menelepon Kak Adam, dan syukurlah panggilanku langsung dijawab. “Heh? Di mana lo? Gue nunggu sampe mau bertelor ini!” nada suara Kak Adam terdengar kesal. “Kak? Gu-gudang!” hanya itu yang mampu aku katakan. Aku tahu Kak Adam pasti mengerti maksudku, dia juga lulusan sekolah ini, jadi artinya dia pasti tahu semuanya. “Bangke!” serunya, lalu panggilan pun terputus. Aku bersandar di dinding, memeluk tasku. Sambil melihat Genta yang masih tergeletak di lantai. Hanya beberapa menit, akhirnya pintu Gudang terbuka dan aku langsung lega ketika Kak Adam berlari mendekat ke arahku. “Lo diapain?” tanyanya sedih, ia benar-benar prihatin. Aku tahu, Kak Adam tuh sayang banget sama aku. Kaya aku sayang sama dia juga. “Pu-pulang, Kak!” kataku. “Ayok!” Ia membantuku berdiri, dan ketika kami akan berjalan ke luar, aku teringat Genta. “Kak,” kataku ketika menahannya untuk berhenti. “Kenapa?” “Temen gu-gue Kak, tolongin dia juga.” kataku. “Yaudah, satu-satu, gue bawa dulu lo ke mobil ya!” Aku mengangguk. Aku lega. Setidaknya, dengan adanya Kak Adam, baik aku ataupun Genta tertolong. Hari ini kami gak jadi mati di Gudang sekolah. Syukurlah! ******* TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN