7. Mama

1310 Kata
Aku tak langsung menjawab tentu saja, bengong dulu beberapa saat sampai akhirnya tersadar karena mendengar suara mobil yang mendekat. Masih belum menjawab, Genta bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju pintu dapur samping yang menembus ke luar tadi. “Dari mana Ma?” terdengar suara Genta dari luar. “Abis ngurus beberapa berkas. Kamu baru balik sekolah Gen?” terdengar pula suara orang lain, suara wanita yang kuasumsikan adalah Ibunya Genta, karena dia tadi sempet bilang 'Ma', kan? Lalu, tak lama dua orang masuk ke ruangan ini, keduanya langsung menatap ke arahku, dan tentu saja, aku auto berdiri, lalu tersenyum kaku. “Sama temen, Gen?” ujar wanita yang masih terlihat muda ini. Ini sih gak pantes jadi Mamanya Genta, cocoknya jadi kakak-nya Genta. Sumpah, cantik banget. Wanita ini lebih tinggi dariku, kulitnya putih bersih, ramnut berwarna cokelat tua dan bagian bawahnya ikal. Lalu, senyumnya manis banget. Gak salah kalau Genta ganteng, Mamanya aja secantik ini. Ehh? Ngomong apa aku barusan? Genta ganten? Dih! “Andin, Ma. Din, kenalin, nyokap!” Aku berjalan mendekat lalu mencium tangan mamanya Genta. “Hallo, tante.” kataku kaku. “Iyaa Andin, salam kenal yaaa. Bagus juga Genta udah punya temen walaupun baru tinggal di sini beberapa minggu.” “Bukan temen, Ma. Pacar!” ujar Genta bikin aku melotot, dan tentu saja aku juga menggeleng, untuk tidak membenarkan perkataannya itu. “Hahaha, kamu jangan ngaku-ngaku Gen kalo ceweknya belum mau! Andin sabar yaa, Genta emang anaknya begitu, kadang suka mangkel.” ucap Mamanya Genta. “I-iya, tante.” kataku pelan. “Yaudah, Gen. Mama ke ruang kerja ya, ada banyak deadline nih.” “Oke Ma!” “Bye, Andin, ditinggal ya?” “I-iya, tante.” lagi, aku hanya mampu berkata begitu. Sepeninggal mamanya Genta, aku dan dia masih diam di ruang makan, menghabiskan eskrim yang masih tersisa. Kami berdua diam, tak berbicara apa-apa. Aku gak tahu harus ngomong apa, aku sebenernya pengin pulang. Udah, itu aja. “Gue udah bilang ke nyokap gue kalau kita pacaran, lo setuju kan?” Aku menoleh, melirik sinis ke arah Genta yang tiba-tiba saja memutuskan sepihak. “Gue gak suka sama lo, Gen! Gue gak mau pacaran sama lo!” “Kenapa?” “Ya gak suka aja, lagian... Mia yang suka sama lo, mending lo sama dia aja.” “Dih, gue gak suka sama Mia, kenapa lo maksa?” “Nah, sama! Gue gak suka sama lo! Jangan maksa!” kataku tegas. Akhirnya, Genta diam. Aku bersyukur karena dia gak mendebat ucapanku lagi. Sumpah, aku gak betah banget sama sikapnya. “Kita gak pacaran! Jadi stop ngerusuh hidup gue! Kalo lo gak suka sama Mia, yaudah, gak apa. Tapi please, Gen, jangan hancurin persahabatan gue sama Mia. Dia sahabat gue, gue sayang sama dia, gue gak mau dia mikir gue berkhianat atau apa. Please!” kataku sungguh-sungguh. “Tapi, Din.... gue terbiasa mendapat apa yang gue mau.” “Kalo yang lo mau berupa barang, lo berhak dapetin apa yang lo mau, Gen. Tapi gue orang, gue punya pilihan, gue berhak bilang engga saat gue emang gak mau! Dah, ya. Gue mau pulang! Lo gak usah anter!” kataku tegas. Kemudian aku bangkit, menggendong kembali tasku, lalu berjalan menuju pintu keluar. Di depan, bapak-bapak yang berjaga tadi membukakan pintu untukku. Aku mengucapkan terima kasih tentu saja, dan mengembangkan sebuah senyuman. Berjalan pelan, lumayan juga aku jalan keluar komplek ini, belum lagi buat sampai ke halte terdekat, tapi untunglah, persediaan minum di botol yang kubawa masih ada, jadi aku gak dehidrasi deh. Menunggu di halte, hanya sekitar lima menit, bus yang menuju arah rumahku tiba, jadi langsung saja aku naik, duduk di belakang seperti biasa. Sambil duduk, aku membuka ponselku, ternyata ada pesan dari Novi, teman sekelasku. Novi IPA4: Din? Tadi Mia cerita sama gue Soal kejadian di kantin sama di belakang Ini gimana sih? Satu sekolah kayaknya tau berita ini Terus gue denger-denger tadi lo sama Genta ribut sama kakak kelas ya? Lo gak apa-apa kan Din? Aku menarik napas panjang, membuangnya perlahan, mengumpulkan tenaga untuk membalas pesan dari Novi ini. Me: Gue bingung Nov Gue sama Genta beneran gak ada apa-apa Dia aja itu ngaku-ngaku Kalo Mia curhat lagi, bilang ya, serius gue gak sama Genta. Mia sahabat gue, gak mungkin gue nyakitin dia Kalo soal kakak kelas, yaa... Genta berulah, dia gak tau kali ya senioritas di sekolah kita kaya apa Novi IPA4: Dari mana aja lu baru bales? Ini Mia sama Rika sama Ari lagi di rumah gue Kita lagi ngumpul hehehe Oke entar gue bilangin ke Mia Yaudah lo hati-hati kalo ketemu kakak kelas yaa! Me: Thanks Nov Hanya itu balasan terakhirku. Aku menutup room chat bersama Novi, lalu membuka obrolan bersama Mia. Me: Mi? So sorry Mi Lo tahu gue temen lo Masa lo percaya Genta yang kita baru kenal? Please, Mi. Percaya gue. Gue gak ada apa-apa sama Genta Pesan kukirim, namun hanya ceklis satu, dan aku baru sadar, kontaknya Mia sudah gak ada fotonya. Astaga, masa iya dia blokir kontak ku? Gosh, separah ini ternyata sakit hatinya Mia. Huh! Makin benci aja aku sama Genta. Aku mengembalikan lagi ponsel ke dalam tas, lalu melihat jalanan sekitar, ternyata gak jauh lagi halte tempat aku turun. Jadi aku bersiap, berjalan ke depan biar nanti tinggal langsung turun dan bilang makasih. Begitu sampai di halte tujuanku, aku segera turun begitu pintu otomatis dibuka oleh pak supir, kemudian langsung lanjut berjalan menuju rumahku. Di sepanjang jalan, aku bingung, masalah ini akan berakhir bagaimana. Karena.... aku gak mau kehilangan sahabatku. ******* Di kelas, Mia masih menghindar dariku. Ia bahkan sepertinya tak mau bertatapan mata denganku. Ia selalu membuang muka ketika kami berpapasan atau tak sengaja saling melihat. Gosh! Di kelas aku jadi berasa gak punya temen. Begitu bel pulang berbunyi dan Pak Rohim meninggalkan ruangan, ada dua senior yang masuk begitu saja ke kelas. Dua-duanya laki-laki, aku gak kenal namanya siapa, yang jelas, mereka terlihat seram. “Mana yang namanya Andin?” tanya salah satu dari mereka. Dan hampir seluruh kelas langsung melihat padaku yang duduk sendirian di bangku belakang pojok. Ketika aku bertatapan dengan salah satu senior, ia berjalan mendekat ke arahku. “Lo Andin?” tanyanya. Dengan takut, aku mengangguk. “Lo mau ikut secara sukarela atau gue sama Ridwan yang paksa?” tanyanya lagi, lalu temannya yang bernama Ridwan itu ikut mendekat ke mejaku. “I-ikut kemana Kak?” tanyaku takut. “Ke gudang!” ya, Gudang sekolah itu markasnya para kelas 3 di sini, di bagian belakang sekolah, ada Gudang yang dibiarkan kosong, pengurus sekolah juga kayaknya gak berani macem-macem di tempat itu karena secara tidak tertulis, Gudang adalah daerah teritori siswa kelas 3. “Nga-ngapain Kak?!” “JANGAN BANYAK NANYA LO! UDAH IKUT AJA!” yang bernama Ridwan baru saja menggebrak mejaku, suaranya yang keras membuat teman satu kelasku tersentak kaget. “Ya-yaudah Kak, sa-saya beresin tas dulu, sebentar, boleh?” tanyaku. “Cepet!” serunya. Aku langsung memasukkan semua buku dan alat tulisku yang ada di meja secara asal ke dalam tas. Dah, biarin berantakan, yang penting gak ada barang ketinggalan dan kakak kelas ini gak ngamuk karena aku lama. “Ayok!” ketika aku berdiri, senior yang bukan Ridwan mencengkram tanganku, berjalan cepat sehingga membuatku sedikit terseret. Bisa kurasakan kalau situasi di kelasku itu sangat tegang. Sebelum keluar kelas, aku melirik ke arah Mia, dan saat itulah pandangan kami bertemu, ia terlihat panik. Ketika sampai di Gudang, aku gak heran melihat Sonya ada di sana. Dan... ada Genta juga. Sama sepertiku, ia juga ditahan, tapi oleh tiga orang sekaligus yang badannya besar-besar, namun kalah tinggi dengan Genta. “Lengkap nih, Son?” tanya Orion, kakak kelas paling galak yang pernah kutahu. Dia ketua ekskul otomotif kalau gak salah. “Iya, pas, dua orang ini yang bikin rusuh kemarin.” jawab Sonya dengan suara yang sengaja dibuat-buat sok polos. Gosh, hukuman kami dimulai~ *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN