Aku mengejar Mia yang berjalan ke arah belakang sekolah. Dan ketika sampai di sana, kulihat ia sedang duduk di salah satu bangku yang tersedia.
“Mi, gak bener itu yang Genta omongin.” kataku.
“Gue kan minta lo jadi makcomblang, kenapa lo malah pacaran sama dia?”
“Mi, dengerin gue, percaya sama gue. Sumpah, gue gak jadian sama Genta. Dia bohong!”
“Kenapa lo gak bilang kalau dia gak suka sama gue?”
Aku diam, aku memang belum bercerita ke Mia soal Genta. Dan, aku juga gak berani lah bilang ke Mia kalau Genta sukanya sama aku.
Aku gak mau bahas itu, karena aku takut Mia mikir yang aneh-aneh. Dan lagi, kalau hal itu gak dibahas, kan akan dianggap gak pernah ada kan?
“Eh? Kalian di sini!” Aku dan Mia menoleh, Genta bergabung bersama kami.
“Lo mau ngapain ke sini?!” tanyaku kesal.
“Ya mau ikut jelasin ke Mia, kalau kita pacaran.”
“Pacaran apaan? Udah gila kali lu ya?”
“Yang bener yang mana sih ini?” tanya Mia, ia terlihat makin kesal padaku.
“Gue jujur Mi, sumpah, lo kenal gue udah lama kan? Kita temenen dari pas masih SD kan? Pas lo pesantren, gue kan yang selalu jadi tempat curhat lo? Masa lo gak percaya gue?” ucapku.
“Lo malah harus hati-hati sama yang kaya gitu, Mi. Karena ngerasa dipercaya, dia malah jadi bohong seenaknya.” bangke! Kenapa Genta malah ngomporin sih?
“Lo bilang lo sama Andin udah jadian dari minggu lalu? Kapan? Pas kita nonton?” tanya Mia.
“Bukan, sehari sebelumnya, pas gue bantuin dia kerjain Fisika, gue nembak dan dia terima. Ya kan Din? Terus lo bilang kalau gue harus nonton dulu sama Mia biar dia gak curiga sama hubungan kita?”
Anjir. Ini anak jago banget mengarang bebasnya? Nilai Bahasa Indonesianya gede kali ya?
“Lo jangan bikin cerita ngawur, Gen! Apaan sih? Untungnya lo bikin cerita gini tuh apa sih?!” seruku, emosi.
“Nah itu, gak ada untungnya kan? Makanya Mi, semua cerita yang gue bilang tuh jujur!”
Lagi-lagi, Mia melirik marah padaku.
“Kecewa gue sama lo, Din. Lo jahat banget! Harusnya lo bilang kalo lo juga suka sama Genta! Bukannya kaya gini, ngasih gue harapan tapi malah lo yang sikat dia. Dah, lah, gue gak mau kenal lo lagi.” ujar Mia dengan suara pelan. Lalu, ia bangkit dan berjalan meninggalkan kami.
Ketika aku hendak mengejarnya, tanganku ditahan oleh Genta. Langsung saja kutepis tangannya yang mencengkramku.
“Lo udah gila tau gak!” bentakku.
“Dia bilang dia gak mau kenal lo lagi, Din. Yang artinya, dia udah bukan temen apalagi sahabat lo. Jadi udah gak ada kan tuh girls-code yang menghalangi kita!”
“Ohhh, jadi itu rencana lo?” aku paham.
Terlihat Genta tersenyum licik.
“Terus menurut lo, kalo gue musuhan sama Mia, gue mau gitu sama lo? Dih, sorry! Cara lo kaya gini aja bikin gue ilfil sama lo!”
Kutinggalkan dia, aku berbalik badan dan sedikit berlari menuju ruang kelasku untuk menyusul Mia. Semoga sih, dia ada di kelas.
Ketika sampai kelas, aku kaget melihat meja kami, tas Mia sudah tidak ada di tempatnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, kulihat Mia memilih duduk bersama Seno, anak kelas introvert yang duduk sendiri di pojok depan, bersebrangan dengan meja guru.
Astaga. Kenapa gini sih?
********
Mia benar-benar tidak mau berbicara denganku. Dia marah, ditambah rumor sudah beredar kalau aku pacaran sama anak baru. Makin aja Mia ngambeknya.
Mencoba mengambil jeda, aku tak langsung mendatangi Mia, biar dia reda dulu deh ya? Kalau aku berapi-api menjelaskan di saat kondisi lagi kaya gini, takutnya Mia makin sewot sama aku.
Lalu, gosip soal aku berantem sama Mia, dan gosip soal aku jadian sama Genta, berhembus begitu saja ke penjuru sekolah. Tentu saja anak-anak kelasan tahu soal ini, apalagi aku dan Mia udah gak sebangku, makin banyak orang yang percaya kalau gosip yang beredar itu benar.
Ketika bel pulang berbunyi, aku langsung meninggalkan kelas, bahkan sebelum Pak Abdul keluar. Dah lah, aku udah males dengan tatapan anak-anak. Kalau aku diam lebih lama di kelas, aku akan mendengar gosip mereka yang hanya membuat telingaku panas.
Aku langsung berjalan menuju halte tempat menunggu bus yang akan mengantarku pulang. Belum sampai bus, aku dicegat, oleh Genta. Motornya berhenti menghalangi jalanku.
“Ayok gue anter balik!” ajaknya, nada suaranya lembut, gak nyebelin kaya tadi di belakang sekolah.
“Dih ogah!” seruku kesal, lalu aku mengitari motornya agar bisa terus berjalan.
Sialnya, Genta malah bikin drama dorong-dorong motor sambil ngejar aku. Ya Tuhan, aku jijik banget sama kelakuan dia ini.
Ketika sampai di halte, aku jadi pusat perhatian orang banyak. Gak cuma murid-murid yang nunggu bus, tapi juga warga biasa yang kebetulan ada di sana. Malu, ya ampun.
“Yaudah Neng, pulang aja sana sama pacarnya, gak baek ngambek begitu.” ucap seorang ibu-ibu yang sedang duduk menunggu bus.
“Dia bukan pacar saya, Bu.” kataku.
“Alah, sok jual mahal lo! Cantik lo? Ngerasa oke? Buluk gitu juga!” sindir Sonya, aku mengenalinya sebagai kakak kelas, anak cheerleader, kalau gak salah.
Kali ini aku diam, gak menyahuti ucapan Kak Sonya, karena aku gak mau ribut. Soalnya, anak cheers kalau ribut ngelabraknya bawa pasukan, dan lagi… di sekolahhku senioritasnya tinggi.
“Ngomong apa lu tadi?” aku menoleh, Genta sudah memarkirkan motornya, ia bergabung dengan kami-kami yang sedang menunggu bus.
“Eh? Lo adek kelas kan? Murid baru kan? Yang sopan kalo ngomong sama senior!” bentak Sonya.
Nah, ini salah satu yang paling menonjol di sekolahku, senioritas. Di sekolahku, senioritas adalah budaya. Di mana anak kelas 1 diperlakukan seperti b***k belian, anak kelas 2 diperlakukan selayaknya manusia, dan anak kelas 3 harus diperlakukan sebagaimana raja.
“Ya bacot lo aja gak bener! Ngapain gue sopan sama lo?” Genta balik membentak.
“Gini lo ya? Beraninya sama cewek!”
“Ya lo bawa 10 cowok juga ayok, sini gue ladenin.” Nada suara Genta langsung berubah tak menyenangkan, punya bibt rebellion nih kayaknya si Genta.
“Anak sinting, lo gak paham aja lo lagi ngomong apaan!” seru Sonya.
Kulihat Genta sedikit mengeram, lalu ia berbalik, menarik tanganku dan membawaku paksa ke motornya.
“Gen? Lo udah gila ya, apaan sih?!” Aku menolak ketika Genta memaksaku naik ke motornya.
“Lo mau gue gendong buat naik ke motor? Dah balik bareng gue, ngapain pula lo nunggu bus? Jadi bahan bully lo nanti sama si senior sinting itu.”
Aku menggeleng. Tidak menjawab pertanyaannya barusan, aku memilih lanjut berjalan kaki. Dah lah, biar aja aku jalan kaki sampai halte selanjutnya.
Baru berjalan beberapa langkah, aku langsung kaget, hampir terjatuh karena Genta tiba-tiba memeluk kakiku dan mengangkatku.
“Eh lo gila ya? Turunin gue!” seruku, namun ia tak mendengarkannya. Genta membawaku ke motornya dan mendudukkan aku di sana.
“Lo kalo turun, gue lakuin hal yang lebih gila!” ancamnya.
Aku menelan ludah, karena mulai merasa anak ini sedikit sinting, jadi aku diam saja. Lalu Genta pun menjalankan motornya, meninggalkan tempat ini.
Sepanjang jalan, aku hanya bisa diam. Pengin marah, pengin nangis, macem-macem lah. Ini kan kalo gini, ada yang liat terus disebar ke anak sekolah, udah pasti Mia bilang aku bohong. Gosh, aku gak mau kehilangan sahabatku cuma gara-gara ginian.
Ketika kami ada di satu persimpangan, Genta mengambil jalan belok ke kiri, padahal rumahku itu harusnya lurus.
“Eh? Lo mau bawa gue ke mana?” tanyaku, akhirnya membuka suara seraya menepuk punggungnya.
“Ke rumah gue!” jawabnya datar.
“Eh, gak, gak, gak! Gue gak mau! Turunin gue sekarang, gue naik bus aja!”
“Lu bisa gak sih gak usah bawel?”
“Ya lo juga seenaknya dong, tukang paksa!” sahutku.
Genta tidak berbicara lagi, ia malah menambah kecepatan motornya membuatku refleks menarik pinggiran baju seragamnya supaya gak jatuh ke belakang.
Hanya sekitar 10 menit, kami masuk di sebuah perkomplekan, lalu berhenti di sebuah rumah besar berwarna putih. Ketika motor Genta mendekat, seseorang di dalam rumah membukakan pagar, jadi motor ini pun lagsung masuk ke dalam.
“Makasih Pak!” seru Genta ketika ia membuka helm.
“Siap,Mas!” sahut bapak tersebut. Lalu Genta pun turun dari motor, memandangku, tersenyum.
“Lo gak mau turun?”
“Ngapain?”
“Minum dulu, lo marah-marah mulu meledak loh kepalanya.” Kali ini nada bicaranya santai, ia bahkan terdengar ramah jika seperti ini, gak kaya tadi.
“Gak mau gue, maunya pulang!”
“Abis ini gue anter pulang, janji!”
Mencoba bersabar, aku menghembuskan napas panjang, kemudian turun dari motornya. Genta langsung menggenggam tanganku, membawaku masuk ke dalam rumah melalui pintu samping, masuk ke ruang makan rumah yang menurutku sangat luas jika dibandingkan dengan rumahku.
“Duduk, Din. Gue ambilin minum!” ucapnya sambil menarik sebuah kursi makan. Aku tak menyahut, tapi tetap duduk di kursi yang ia tarik tadi.
Kulihat Genta menuju kulkas besar, lalu ia mengambil dua buah gelas dan mengisinya dengan air es. Terlihat juga ia membuka pintu kulkas sebelah kiri, yang merupakan freezer dan mengambil dua cup eskrim. Setelah itu, ia berbalik, meletakkan minum dan es di meja, lalu menarik kursi di sampingku.
“Nih minum dulu, terus dinginin kepala.” katanya.
Lagi, aku tak menyahut, hanya melakukan apa yang dia katakan. Aku mengambil satu gelas, lalu meminum airnya sampai habis, karena memang tenggorokanku terasa kering.
“Lo mau yang vanilla apa strawberry nih?” tanyanya sambil memegang dua cup eskrim.
Aku mengangkat bahu sedikit sebagai jawaban, masih belum mau ngomong sama dia. Sebel banget, sumpah!
“Yaudah nih, Vanilla aja. Eskrim vanilla kan bisa merangsang pengeluaran hormon-hormon bahagia. Biar lo gak ngambekan.” Ia mendorong cup eskrim berwarna biru itu, lalu mengambil sendok kecil dari tengah meja.
“Dimakan, ayok! Makin cepet beres, cepet juga lo balik!” katanya.
Aku tersenyum kecut, kemudian mengambil eskrim dan sendoknya, mulai memakan eskrim tersebut. Sialnya, ini eskrim emang enak banget, kampret. Beneran bikin happy!
Sekian ratus detik kami saling diam, hanya menikmati eskrim yang ada di tangan sampai akhirnya Genta menepuk tanganku pelan.
“Jadi gimana, lo mau jadi pacar gue?” tanyanya terdengar tegas dan yakin.
Aku??
Aku cuma bisa melongo.
Dah gilak kali ya???
********
TBC