23. Jadian

2178 Kata
Tanding basket lagi, dan sekarang aku mulai menikmati menonton pertandingan sekaligus jadi supporter. Baru kerasa aja kalau vibe-nya asik, dan saat jadi supporter gini, aku sadar gak ada kasta di antara kami. Gak ada senior gak ada junior. Kami semua semangat untuk meneriakan yel-yel sekencang mungkin. Gak ada tuh junior kudu teriak paling keras dan senior leha-leha. Gak, kami semua serempak bernyanyi, berteriak untuk mendukung tim basket. Gila sih, mungkin ini juga salah satu tujuan Kak Adam. Bikin semua murid jadi erat tanpa ada senioritas. Mungkin... soalnya Kak Adam kan kadang pro juga ke sistem kasta-kastaan yang ada. Saat ini, sudah setengah kuarter berjalan, tim sekolahku unggul cuma beda skornya cuma dikit 42-38. Ngeri banget kan? Tim lawan dapet 2 tembakan aja kita bisa kesalip. Istirahat kuarter ini memang agak lama, seperti biasa kami dihibur oleh para modern dancer yang kadang gerakannya sedikit seksi. Dan, kalau lagi istirahat gini, kami juga istirhatat. Duduk gitu maksudnya. Sesekali Kak Orion berteriak. “Pemuda pertiwi bersatu!” lalu kami semua menyahut. “Tak bisa dikalahkan!” jadi walaupun istirahat, support dari kami untuk tim yang bertanding tetap jalan. Dari yang kuperhatikan di dua kuarter sebelumnya, Gaftan nih main hari ini kurang bagus. Banyak banget tembakan dia yang meleset, atau bahkan dia maksa shot buat 3 poin yang malah gagal, bukannya dioper ke anggota yang lebih dekat. Untungnya Genta dan Kiki mainnya bagus, mereka rajin mencetak angka untuk sekolah kami. Saat ini saja bisa kulihat Coach Pandu seperti marah-marah pada Gaftan, dan dia sendiri kelihatannya sedang banyak pikiran. Duh, jiwa kepo aku nih naik deh hahaha, penasaran apa yang diobrolin di sana. Lalu, aku juga melihat Genta yang gesturnya membela Gaftan. Gitu-gitu lah, mereka saling support kayaknya. Kemudian, mataku beradu dengan Genta. Heran deh, kok bisa dia tahu aku di mana? Padahal aku sekarang gak duduk di depan kaya kemarin, tapi membaur dengan kerumunan. Di samping kiriku duduk Lydia anak kelas satu, dan di sisi kananku duduk Mafaza anak kelas tiga. Aku beneran nyempil. Genta tersenyum, dan aku membalas senyumnya. Lalu, mulutnya bergerak, mengatakan sesuatu tanpa suara, dan aku berusaha membaca gerak bibirnya. “Do’ain ya?!” itulah yang aku tangkap dari gerak bibirnya Genta. Aku mengangguk dan senyumnya makin melebar. Kemudian Genta fokus kembali pada timnya, kayaknya dia deh yang lagi ambil posisi kapten. Untungnya di permainan basket tuh kapten gak ada ciri khas sendiri kaya pake band di sepak bola. Semua sama. Interval berakhir, pertandingan dimulai kembali dan bisa kulihat tim lawan amat sangat semangat seolah energi mereka semua baru terisi ulang. “Wah gila nih, kalo kalah kita gak masuk seperempat final!” kudengar ucapan tersebut ketika tim lawan berhasil menembakan bola ke keranjang dengan poin 3 angka. Selisih skor kami sekarang cuma satu sementara tim lawan terus menyerang. “Defence! Defence! Defence!” Orion berseru dan kami semua mengikutinya. Seperti suntikan semangan untuk para tim, Kiki berhasil mencegah tim lawan mencetak angka lagi, bola terlempar ke arah tengah langsung direbut oleh Agam yang langsung melakukan serangan balasan, Genta dan Gaftan berlari di dua sisi yang berbeda, menuju ring lawan menunggu Agam. Ketika Agam mengoper bola tersebut ke Genta, ia pun berhasil mencetak angka. Kami semua kembali berseru, terus memberikan suntikan semangat. Yel-yel dinyanyikan kembali dan asli sih, aku gak keberatan pita suaraku rusak gara-gara ini. Seru banget sumpah! Babak ketiga berakhir, skor tim lawan unggul 3 angka dan ini situasi tegang sih. Babak ke empat, sepuluh menit terakhir akan jadi penentuan apakah sekolah kami bisa kembali bertanding atau tidak. Ketika babak terakhir dimulai, Orion berteriak lebih kencang dari sebelumnya, dan ketika aku melirik ke arahnya, kaget aku liat Kak Kemal ada di sampingnya. Bersama-sama mereka mengibarkan bendera sekolah dan memandu kami meneriakan yel-yel. “Pemuda Pertiwi bersatu?” “Tak bisa dikalahkan!” seru kami semua serempak. Fokus pada Kak Kemal, aku jadi gak sadar kalau ternyata di lapangan situasi panas. Terlihat Gaftan jatuh ke lantai sedangkan anggota tim tersulut emosinya. Genta menahan mereka semua ke pinggir lapangan, lalu ia menekati wasit, seperti laporan atau negosiasi? Aku gak terlalu paham. Gedung ini mendadak hening, Gaftan diberikan Free Throw karena wasit juga menilai tim lawan sudah melakukan pelanggaran. Mengambil ancang-ancang, men-dribble bola beberapa kali ke lantai, Gaftan melemparkan bola dan masuk ke keranjang lawan, membuat kami berseru senang dan pertandingan kembali dilanjutkan. Mataku sesekali melihat layar skor, ternyata kami sudah unggul 2 poin, tapi ya tetep aja, tipis banget. Kiki, Genta, Gaftan dan dua pemain baru kini melakukan serangan, mereka semua berkoordinasi dengan baik sehingga kami terus mendapat tambahan poin. Waktu tersisa satu menit, tim basket sekolahku sudah unggul enam angka ketika tiba-tiba tim lawan berhasil melemparkan bola dari tengah lapangan. Sekarang skor hanya berbeda tiga angka. Gosh! Aku pengin waktunya berhenti aja deh. Tegang, aku memilih mundur, berusaha menyelip di antara banyaknya supporter untuk bisa keluar. Berhasil keluar dari barisan, aku berjalan ke tribun samping, tempat di mana penonton dari sekolah lain duduk. Aku memilih duduk di paling belakang, lalu membuka ponselku untuk mengalihkan perhatian dari pertandingan di depan. Kak Kemal: Aku di Gor nih Balik mau bareng? Ternyata pesan itu sudah masuk ke ponselku dari dua puluh menit yang lalu. Jadi langsung saja aku membalasnya. Me: Boleh Kak Aku di tribun samping kiri ya Paling belakang Pesan terkirim dan aku memaklumi kalau pesannya tidak langsung terbaca. Ketika aku ingin melirik ke arah Kak Kemal, tiba-tiba seruan super kencang menggema di dalam gedung ini. Ternyata waktu permainan sudah habis dan dipastikan kami menang. Aku sedikit tersenyum, lalu melihat ke arah lapanham yang anehnya, mataku langsung bertatapan dengan Genta. Kok bisa?? Dari sekian banyak pasang mata yang ada di lapangan kok bisa mata kami bertemu. Wajah Genta terlihat lelah, namun senyum puas mengembang di pipinya. Aku membalas senyum itu dan dia malah melambaikan tangan. Dih? “Din?” aku menoleh, Kak Kemal berjarak lima meter dariku, berjalan mendekat lalu di sampingku. “Minum Din?” Kak Kemal menyodorkan botol air mineral yang tersisa setengah, kuambil botol tersebut lalu meminumnya, emang haus banget sih gila, abis teriak-teriak coy. “Aku kira aku terlalu tua buat ikutan adek-adek jadi supporter, tapi asli deh! Seru banget yaa?” ucap Kak Kemal sambil bersandar di tembok belakang kami. “Aku awalnya gak suka, kaya yang... dih panas, sumpek, desek-desekan, eh sekarang malah happy karena ngerasa pas jadi supporter gak ada tuh kasta-kastaan,” “Hahaha itu bener sih, aku yang setua ini aja teriak-teriak ya sama kaya kalian,” “Kak Kemal gak setua itu kali!” “Hahaha, thanks!” katanya pelan. Aku ikut bersandar di tembok seperti Kak Kemal, kami sama-sama ngos-ngosan karena jadi supporter tuh ngeluarin banyak tenaga banget loh. “Abis ini mau langsung balik, atau kemana dulu?” tanya Kak Kemal. “Emm langsung pulang ayok, kemana dulu juga ayok, bebas sih aku,” jawabku. “Hemm aku bingung mau ke mana Din,” “Ya udah, di rumah aku aja Kak,” “Boleh?” “Ya boleh lah, masa engga?” “Yaudah istirahat bentar baru keluar ya?” “He’em!” sahutku sambil mengangguk, emang masih capek banget. Diam sekitar sepuluh menit, Kak Kemal yang berdiri terlebih dulu, lalu mengulurkan tangannya. “Ayok!” ajaknya, aku meraih yangan tersebut, berdiri juga lalu kami pun berjalan keluar gedung. “Aku parkirnya agak jauh, gak apa kan?” ucap Kak Kemal sembari kami berjalan, tangan kami masih saling menggengam. “Ya gak apa-apa dong Kak,” “Nyipsss!” Ternyata Kak Kemal gak becanda bilang parkirnya agak jauh, taunya jauh banget. Hahaha! Mungkin karena dateng sore kali ya? Jadi dapet tempat parkirnya sisa-sisa. “Pake ya!” Kak Kemal memasangkan helm kepadaku, dan aku tersenyum ketika ia mengaitkan tali helm di bawah daguku. “Makasi Kak!” “Din?” “Hemm?” “Nanti deh!” “Jih? Kenapa Kak?” “Nanti aja, yuk berangkat!” Aku yang masih bingung karena obrolan gak jelas barusan akhirnya naik ke boncengan motor Kak Kemal, lalu kami pun melaju. Jarak dari Gor Pajajaran menuju rumahku tuh lumayan jauh, jadi walaupun gak macet kami butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke rumahku. “Parkir dalem aja Kak, bentar aku bukain pintu,” aku turun ketika motor berhenti, lalu membukakan pintu pagar agar motor Kak Kemal bisa masuk. Setelah terparkir, aku menutup kembali pagar rumah lalu mengajak Kak Kemal masuk. “Assalammualaikum!” seruku namun tidak ada jawaban. “Kak duduk dulu, aku mau cari Mama,” “Okay Din!” Aku berjalan menuju dapur namun tak ada tanda-tanda keberadaan Mama. Setelah itu aku ke kamar, gak ada juga. Lha? Ini gak ada orang di rumah? Kok bisa gak dikunci? Aku kembali lagi ke dapur, menyiapkan sirup jeruk untuk Kak Kemal, lalu membawanya ke ruang tamu. “Masa Mama gak ada coba Kak?” kataku seraya meletakkan gelas di atas meja. “Wah? Ke warung kali?” “Hemm bisa jadi tuh, soalnya rumah gak dikunci,” “Yaudah tungguin aja,” “Iya Kak, diminum Kak!” Kak Kemal mengangguk, kemudian ia mengambil gelas berisi sirop lalu menyesapnya sedikit. Binging deh kalo begini, diem di rumah beduaan mau ngapain coba ya? Kak Kemal diem, aku juga diem. Hadeh, untung di rumah, kalau di kuburan, serem nih, hehehe. “Din?” “Iya Kak?” “Soal yang tadi,” “Hah? Yang tadi apaan Kak?” “Heheh yaudah bukan yang tadi, yang sekarang,” ralatnya, namun bikin aku makin pusing. Kenapa dah? “Apaan Kak?” tanyaku penasaran. “Hemm, aku mau ngomong, kitakan udah deket ya beberapa minggu ini?” jeda sebentar, kulihat Kak Kemal tersenyum, lalu menarik napas panjang. Yes, yes, yes! Ini Kak Kemal mau nembak aku kan ya? Akhirnya, rasa sukaku berbalas dong, happy banget! “Aku tahu kamu adeknya sahabat aku dan, aku gak ada niat macem-macem. Emmm, mungkin umur kita beda jauh ya? Cuma bisa kan dicoba?” “Dicoba apa Kak?” tanyaku sok gak ngerti padahal ini aslinya udah pengin loncat-loncatan deh, suwer! “Kamu tahu arah pembicaraan ini ke mana,” katanya dan aku pun tersenyum. “Jadi gimana?” tanya Kak Kemal. “Yaa, gak ada salahnya kan nyoba?” sahutku. “Berarti iya?” ia memastikan. “Iya, Kak!” “Manggilnya jangan Kakak dong!” serunya, nada suaranya terdengar lega. “Lha terus apa?” “Ya minimal nama lah,” “Bobby?” “Ampun dah, aku udah gak kenal sama nama itu, sejak masuk SMA dan dikasih julukan Kemal sama senior, nempel banget nama itu, sampe sekarang,” “Tapi kamu seneng dipanggil Kemal?” nah tuh, aku udah gak pake kakak-kakakan. “Emm seneng-seneng aja,” “Yaudah aku panggilnya Kemal, boleh?” “Ya boleh lah!” serunya tersenyum senang, aku membalas senyumnya, sama... senang juga. Lagi salting sambil senyum-senyum, eh ponselku yang ada di meja bergetar, panggilan masuk dari Mama. “Hallo, dek?” ujar Mama ketika panggilannya kuangkat. “Iya Ma, kenapa?” “Adek udah pulang?” “Udah, ini udah di rumah, Mama kemana?” “Mama tadi buru-buru, kayaknya gak sempet kunci pintu ya?” “Hemm iya, tadi aku masuk langsung buka pintu kaya biasa, tapi Mama gak ada,” “Ibunya temen Mama meninggal, Mama jadi buru-buru, buat bantuin dia ngurus ini-itu, kamu udah makan belum Din? Mama masak tuh, cek meja makan aja ya?” “Iya Ma!” “Papa balik kerja nyusul Mama, kamu gak apa-apa kan di rumah sendiri?” “Ini Andin di rumah sama Kak Kemal, tadi nganterin aku pas balik dari Gor,” “Oh yaudah, bagus lah kamu gak sendiri. Soalnya Mama bakal sampe malem, sampe beres tahlil,” “Yaudah okei Ma, turut berduka ya buat temen Mama,” “Makasi sayang, udah yaa!” panggilan telepon dimatikan begitu saja oleh Mama. “Turut berduka kenapa Din?” tanya Kak Kemal, eh Kemal deng, pacarku. “Ini, Mama ternyata pergi, ibu temennya meninggal,” “Ya ampun,” Aku mengangguk. “Kamu mau makan? Laper gak? Tadi Mama bilang kalau masak,” aku lumayan laper sih ini, dan ngajak Kemal makan oke kayaknya ya? “Kamu laper yak? Yok makan!” Aku tersenyum, mengangguk. “Yuk!” aku bangkit dari sofa, lalu berjalan ke ruang makan, mampir dulu ke dapur buat ambil dua buah piring. Membuka tudung saji di atas meja makan, lumayan juga nih masakan Mama. Ada capcay campur, ayam goreng dan telor dadar. “Makan ginian gak apa kan?” “Wihhh ini sih makan mewah!’ sahut Kemal. Aku duduk di kursi makan, Kemal duduk di seberangku. Kuambilkan nasi untuknya juga lauk-lauk dengan porsi sedang sebelum memberikan piring tersebut padanya. “Thanks!” “Sama-sama!” Aku mengisi piring makanku, lengkap semua ada cuma emang porsinya gak terlalu banyak. “Terus kamu di rumah sendiri dong Din?” tanyanya sebelum menyuap makanan. “Engga, kan ada kamu, hehehehe!” “Oh yaudah, aku temenin sampe Mama balik ya?” “Sipp! Makasih! Ayok makan!” seruku. Kemal mengangguk, dan kami pun makan bersama. Asli deh, happy banget loh aku, akhirnya setelah satu tahun menjomblo, aku punya pacar lagi. Yuhuuu~ **** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN