Kak Kemal sudah kembali, jadi sekarang aku aman lagi dari Genta. Duh happy banget aku tuh ada Kak Kemal di hidupku. Parah!
Kadang sedikit nyesel juga, kok baru kenal Kak Kemal sekarang ya? Gak dari dulu-dulu aja gitu, pas dia sama Kak Adam masih sekolah, pas dia sama beberapa anggota geng-nya rajin main ke rumah.
Telat banget sih aku, asli.
Hari ini, Kak Kemal mau ajakin aku ke kampusnya, universitas favorit di negara imi yang kebetulan ada di kotaku. Kalau gak salah, ranking kampus ini pertama sih di Indonesia, kampusnya Kak Adam ada di nomor dua. Dan sudah dipastikan, susah sekali masuk ke sana.
“Kamu mau kemana Dek?” tanya Mama ketika aku menghampirinya.
“Mau diajak Kak Kemal jalan-jalan ke kampusnya, liat-liat gitu,” jawabku.
“Ohhh, iya sana gih, kali aja dia kasih tips and trick masuk ke sana. Adek kuliah di situ aja kalau bisa, gak usah keluar kota kaya Kakak,” jelas Mama.
“Eh emang kenapa?” padahal aku punya rencana buat masuk ke perguruan tinggi lain. Bahkan lebih jauh dari kampus Kak Adam yang masih ada di provinsi yang sama walaupun beda kota. Kampus pilihanku ada di provinsi lain, jauh, tapi untungnya gak nyeberang pulau.
“Ya biar gak jauh dari Papa sama Mama dong dek!” Papa yang datang dari arah ruang tamu.
“Ih curang, Kak Adam boleh pergi jauh, masa Andin engga?”
“Udah itu urusan nanti, kamu liat aja dulu kampusnya Kemal, toh bagus juga kan?” ujar Papa, aku menjawab dengan anggukan kecil.
“Yaudah sana gih, itu Kemal udah nungguin kamu dari tadi,”
“Heu? Udah sampe? Kok gak bilang?” aku mengecek ponselku, gak ada tuh chat masuk dari Kak Kemal yang bilang kalau dia udah sampe.
“Papa ajak ngobrol dulu,” jawab Papa.
“Jih dasar, yaudah Andin berangkat!” aku mencium punggung tangan Mama dan Papa bergantian.
Setelahnya, aku berbalik berjalan ke luar rumah, dan benar saja, sudah ada Kak Kemal di teras rumah dengan segelas teh di meja. Ia tersenyum ketika aku keluar.
“Lama ya?” tanyaku.
“Engga, seru ngobrol sama Papa kamu, jadi gak berasa nunggu,” katanya.
“Mau berangkat sekarang?”
“Boleh yuk, biar gak kemaleman nanti lab-lab pada udah keburu ditutup,”
Nah, aku dan Kak Kemal ini memang sengaja berangkat sore. Sepulang aku sekolah, dan Kak Kemal juga jam kuliahnya kosong. Katanya juga, kalau sore santai, gak ada banyak dosen yang nanya ini-ittu, paling cuma mahasiswa nongkrong, dan yang jaga kampus.
Seperti biasa, aku naik ke boncengan Kak Kemal, lalu motornya bergerak dan kami pun membelah jalanan sore yang sangat tenang ini. Ya tenang, cuacanya enak, jalanan gak macet, mantep lah pokoknya.
“Gimana hari ini di sekolah?” tanya Kak Kemal, mengajak ngobrol mungkin biar gak bete diem-dieman di jalan.
“Santai sih Kak, hari ini tim basket sekolah gak ada pertandingan jadi full belajar, tapi besok ada tuh, beres istirahat harus pada berangkat,” jawabku, dan dari kaca spion kiri bisa kulihat Kak Kemal mengangguk dan tersenyum.
“Bagus lah, ide-nya Adam keren, waktu jaman kita sekolah, boro-boro supporter banyak, apalagi kalo tanding jam sekolah, sepi banget kaya kuburan,”
“Kenapa sih pada setuju? Aku mah kaga tau ihh, kaya.... ngapain amat gitu loh Kak?”
“Hahaha, bagus tau ih, sekolah kita jadi keliatan kompak, udah gitu dengan banyaknya supporter, bisa buat jatohin mental lawan juga. Pertandingan kaya gitu tuh kadang gak cuma skill main kita yang utama, tapi gimana kita mempermainkan mood lawan, kalo mereka jiper, pasti mainnya juga berpengaruh,” jelas Kak Kemal.
Aku mengangguk, oke deh, aku ngerti kayaknya.
Soalnya, dulu waktu aku masih Lomba Ketangkasan Baris-berbaris, Kang Irvan gak pernah bolehin kami keluar ruang tunggu untuk liat tim lawan yang lagi tampil, katanya biar otaknya jernih, gak jiper kalau lawan lebih bagus, dan gak jumawa pas lawan lebih jelek. Jadi tahunya ya tampil aja. Sebelum dan sesudah tampih harus diem di ruang tunggu.
Motor yang kami naiki berhenti, kami sudah sampai di parkiran khusus motor kampusnya Kak Kemal. Ia lalu mengajakku turun, lalu masuk ke salah satu bangunan terdekat.
“Ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Din. Ada 5 Department untuk S1 dan buat Magister kayaknya ada 7 program studi, karena lebih menjurus kan kalau S2, aku tahunya segitu, tapi---” Kak Kemal menuju stand info grafis yang tersedia, dan di samping info grafis tersebut ada tumpukan brosur.
“Ini buat lebih jelasnya,” tambahnya, mengambil satu lembar brosur lalu diberikan kepadaku.
“Okay, tapi aku kan dari IPA nih Kak, boleh gitu ambil jurusan nyeberang?” tanyaku penasaran.
“Boleh-boleh aja sih yaaa, aku nih dari IPS nyeberang ke Teknik, dipikir Teknik santai, taunya banyak banget Fisika-nya bikin pusing,”
“Untung Kak Kemal pinter ya?” sahutku dan ia tersenyum.
Lalu, kami berjalan menuju lift, gedung ini hanya 5 lantai dan Kak Kemal langsung memencet tombol angka lima. Kami berdua diam ketika lift membawa kami naik. Tak lama, terdengar suara dentingan dan pintu lift pun terbuka.
“Lantai lima nih didominasi sama foodcourt, hampir semua gedung punya FC di lantai atas. Ada juga ruang kelas. Kalau ruang dosen, tata usaha, itu semua ada di lantai satu,” jelas Kak Kemal.
Aku mengangguk. Suasanya di sini masih lumayan ramai. Ada beberapa orang yang mengisi meja-meja yang tersebar rapi, dan counter jualan makanan juga banyak dan enak-enak.
“Ayok!” Kak Kemal mengajakku ke sisi kiri bangunan, ia memperlihatkan ruang kelas yang terlihat nyaman. Kursi khas anak kuliahan berwarna biru, lalu papan tulis white-board di depan ruangan, juga sebuah proyektor yang memggantung di tengah ruangan. Ya, standar ruang belajar kuliahan lah ya? Cuma keliatannya ya nyaman banget deh. Asli.
Hanya melihat ruangan itu dari luar, kami lalu lanjut lagi. Ternyata agak ke belakang dan bagian belakang tuh ada kaya balkon gitu, Kak Kemal berdiri di sampingnya, menghadap ke bawah, jadi ya aku ikutan.
Bagian belakang gedung ini ternyata menghadap ke lahan hijau kampus, juga beberapa gedung lainnya, karena memang posisi gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini berada di depan, jadi ya belakangnya pemandangan kehidupan kampus.
“Taman kampus bagus ya Kak!”
“Iya, salah satu yang bikin aku seneng kuliah di sini tuh itu sih, limgkungan kampus walaupun bangunannya tinggi-tinggi, tapi ruang terbuka hijau bener-bener dipikirkan dengan baik. Taman kampus yang luas, dan hampir di setiap fakultas, punya taman kecil buat kita nongkrong sambil ngerjain tugas,”
“Eh seriusan? Keren dong!”
“Yak, gak cuma mementingkan perkembangan ekonomi dan pembangunan kampus, tapi ya itu... kan kita juga bakal lebih nyaman kan kalau lingkungannya adem?”
“He’em!” sahutku sambil mengangguk.
“Dan enaknya, boleh ngerokok di situ hahahah! Biasanya di ruang publik atau taman gitu kan gak boleh rokok-an ya? Ini boleh, peraturan dari salah satu Dosen Biologi, katanya malah bagus rokokan di taman asapnya langsung disaring sama tanaman, kan emang itu ‘makanan’ mereka kan?”
“Karobon dioksida kan? Tapi asap rokok kan banyak zat-nya,” kataku.
“Yaaa itu lah pokoknya, aku gak ngerti-ngerti amat soal Biologi, cuma peraturan itu bikin kita happy sih. Coba kebayang ngerokok di smoking room? Dih? Pengap begitu.”
Aku jadi mikir bentar. Iya ya? Kenapa smoking area dibikin jadi ruangan tertutup di pojokan ya? Mending kalau ada exhaust fan-nya? Kalo kaga? Bener sih kata Kak Kemal, pengap.
“Iya Kak, bener juga,”
“Lagian di taman kampus kan gak bakal ada anak-anak kecil kan? Orang ini lingkungan orang gede juga kan? Terus kalo soal ini hamil? Emmm jarang liat sih ada mahasiswa atau dosen hamil nongkrong di taman kampus,”
Kak Kemal tertawa pelan, dan aku pun ikut tertawa bersamanya.
“Mau turun? Liat fakultas lain?” ajaknya.
Aku menarik napas panjang dulu sekali. Udara di atas sini enak soalnya. Lalu, aku mengagguk. Kak Kemal menggandeng tanganku dan kali ini, ia tidak mengajakku naik lift, tapi lewat tangga darurat.
Aduh Kak! Kenapa bikin deg-deg-an terus sih? Gemes! Jadian yuuukkk!!
****
TBC~