21. Pertandingan

1661 Kata
Diberi keterangan wajib oleh sekolah, ya mau gak mau, suka gak suka, di sinilah aku sekarang, Gor Pajajaran. Bersama dengan semua siswa sekolahku. Bahkan, ada yang pakai kostum Burung Hantu gitu, maskot sekolah kami. Kebayang gak sih? Sumpeknya kaya apa? Mana pertandingan basket itu lapangannya indoor, jadi yaudah, suara berisik, bau keringet dan semua kegaduhan bercampur jadi satu. Tapi, ngeliat supporter sekolahku sebegini banyak dan di seberang sana supporter sekolah lawan cuma dikit, ada rasa bangga sendiri loh aku. Kaya... keren aja gitu, tribun bagian sekolah kami penuh dari ujung sampai ujung. Meramaikan acara pake maskot, bawa spanduk sekolah juga, belum lagi teriakan yel-yel yang memberikan semangat untuk semua tim basket yang ada di lapangan. Beuh, atmosfer perlombaannya kerasa banget ini. “Kok Kakak gak berdiri?” di sela-sela teriakan riuh, aku menoleh karena mendengar pertanyaan itu. Seorang gadis bertanya padaku, ia memakai seragam yang sama denganku, dan denger dia bilang Kakak, ya sudah bisa dipastikan kalau dia adik kelas. “Sakit perut, lagian aku duduknya di depan, keliatan jelas. Kamu kenapa duduk?” jawabku bohong, dan sebagai pembelaan aku bertanya balik. “Hehehe sama Kak, aku juga sakit perut. Ini menstruasi-ku hari pertama,” jawabnya. Aku mengangguk. Lalu, sebelum pertandingan dimulai, seperti tradisi biasanya, para penonton dihibur oleh modern dance masing-masing sekolah, memberi semangat tambahan untuk para anggota tim basket. Ya, modern dance, Dari sini, aku bisa melihat jelas, Ratu, salah satu anggota dance dari kelas IPS mendekati Genta ketika gerakan bebas. Ia menggoda Genta dengan gerakan-gerakan seksi. Aku tersenyum dari sini, agak lucu aja liat tampangnya yang kaget, pucet gitu. Beda sama anggota tim-nya yang happy digodain cewek. “Kak Andin gak cemburu?” aku menoleh lagi ke samping, anak kecil ini tahu namaku ternyata. “Cemburu? Kenapa harus cemburu?” tanyaku, “Emmm, anu Kak... bukannya Kak Genta itu pacarnya Kakak ya?” ia balik bertanya. “Bukan lah, ngaco aja, mana ada gue pacaran sama dia!” Adik kelas ini mengangguk. Bagus lah, semoga dia sebarin hal ini ke temen-temennya biar gak ada lagi yang percaya aku sama Genta pacaran. Malesin banget deh, asli! Sesi modern dance selesai, kulihat wajah Genta berubah lega. Menit-menit menuju pertandingan dimulai, semua anggota tim berkumpul, Gaftan ada di tengah-tengah mereka bersama dengan Coach Pandu, memberi instruksi. Ketika officials meminta mereka ke tengah untuk adegan ‘lempar bola’ semua tim inti masuk ke lapangan dan suara supporter langsung tambah riuh dari sebelumnya. “Pemuda Pertiwi bersatu! Tak bisa dikalahkan!” seru Orion, senior galak yang saat ini perannya sebagai koordinator supporter. Tugas dia kaya yang membakar semangat gitu loh, dan setelah seruannya barusan, semua supporter serempak menyanyikan Mars sekolah. “Megah perkasa, berdiri di persada pertiwi! Di bawah naungan Yayasan Bina Pemuda Indonesia, SMA Pemuda Pertiwi!” Aku merinding ketika Mars sekolah dinyanyikan bersamaan begitu, ditambah kami berada di lapangan basket indoor yang membuat paduan suara tersebut menggema ke seluruh bangunan, dan itu memicu adrenalinku juga untuk turut bernyanyi bersama mereka. “Dengan niat suci dan ikhlas untuk memajukan bangsa! SMA Pemuda Pertiwi sumber ilmu pembina bangsa, Mengemban amanat bangsa, kami siap berkarya!” Ketika peluit dari wasit berbunyi dan bola basket di lemparkan ke atas, Genta yang paling tinggi mampu menjangkau bola tersebut, bersamaan dengan bait terakhir lagu kami nyanyikan. “Kobarkan semangat di d**a, Amalkan disiplin kita, SMA Pemuda Pertiwi sentosa sejahtera!” Pertandingan dimulai, dan keliatannya kaya cepet banget deh asli, belum apa-apa Gaftan sudah mencetak skor 2 angka. Membuat gemuruh penonton makin kencang. Asli ya, seumur-umur nonton pertandingan basket, futsal, volly atau badminton sekolah, baru kali ini vibe-nya berasa banget. Seperti bukan cuma pemain intin yang bertanding di lapangan, tapi kami juga. Kuarter pertama, sekolah kami menang, total skor sementara saat ini 18-12 dengan Genta dan Gaftan sempet mencetak skor 3 angka. Ketika kuarter ke-dua dimulai, lagi, Genta menangkap bola yang dilemparkan oleh wasit, asli sih seru banget ini, tanpa sadar aku juga ikut berseru bersama penonton lain, berteriak mendukung tim sekolah kami. “Ayoo Gaftan!” seruku begitu saja ketika melihat Gaftan ada di bawah ring basket lawan, dan tak lama kemudian ia pun mencetak skor. Karena posisiku duduk di depan, jadi aku bisa lihat jelas Gaftan tersenyum ke arahku, aku pun membalas senyumnya sambil berteriak. “Semangat!” Kuarter kedua berakhir, tim kami masih unggul, para supporter tanpa lelah mendukung tim dengan meneriakan yel-yel, sambil sesekali kudengar Orion berteriak. “Pemuda Pertiwi bersatu! Tak bisa dikalahkan!” sumpah yaa teriakan Orion tuh kaya lagi di medan perang, bikin merinding. “Din! Andin!” kudengar namaku di panggil, dan ketika mencari arah suara ternyata dari lapangan, ada Genta yang berdiri di pinggir lapangan, memegang besi pembatas. “Kenapa?” aku berteriak, karena walaupun posisiku ada di depan, tapi jarak tempat dudukku dengan lapangan lumayan jauh. “Sini dulu deh, biar gak teriak-teriak!” serunya, jadi mau gak mau aku bangkit dari dudukku, menghampiri Genta yang ada di lapangan. Karena posisi lapangan nih agak ke bawah, jadi aku menunduk. “Kenapa?” tanyaku ulang. Kulihat sebentar ke arah lapangan, waktu interval kali ini sepertinya lama, karena di lapangan sekarang berisi para dancer yang mengisi jeda. “Kok kamu malah semangatin Gaftan? Kok bukan aku?” “Dih? Emang kenapa?” “Emm gak apa sih, kok pas aku mau cetak skor gak disemangatin?” “Gak liat,” jawabku singkat. “Kamu haus gak teriak-teriak?” tanyanya. “Lumayan, mau beli air tapi males kalau keluar, rame,” “Tunggu bentar!” serunya. Genta langsung berbalik, berlari ke arah tim-nya berkumpul dan tak lama kembali membawakan sebotol air mineral. “Nih, minum yaa, jangan sampe dehidrasi, gerah juga soalnya di sini,” ucap Genta sambil mengulurkan botol air mineral melalui celah-celah pagar pembatas kepadaku. “Makasi Gen!” seruku sambil tersenyum, Genta membalas senyumku. “Dah aku balik lagi, istirahatnya mau kelar,” “Semangat Gen!” “Thank you, that’s all I need!” Genta kemudian berbalik, kembali ke tim-nya yang sedang berkumpul, mungkin sedang mendapat arahan dari Coach Pandu untuk strategi mereka di kuarter selanjutnya. Aku sendiri kembali ke tempat dudukku. Ketika babak ketiga dimulai, Genta tidak kembali ke lapangan, dia duduk di kursi pemaim cadangan. Lha? Kenapa ya? Kok dia gak main? Para supporter seperti tadi, makin semangat karena skor kami sudah sangat jauh, menurutku, meskipun ada satu babak lagi, udah gak bakal kekejar sih. Ketika kuarter tiga akan berakhir, terlihat pertukaran pemain, Genta masuk kembali ke dalam lapangan dan beraksi lagi. Asli sih, Genta sama Gaftan udah kaya dynamic duo, mereka jago banget sumpah. Sepuluh menit berakhir begitu saja, kuarter ketiga selesai dan sekarang poin kami sudah 41 dan lawan kami masih di angka 28. Dan rasanya gak mungkin mereka bisa menyusul poin tersebut. Istirahat kuarter ini hanya sesaat, tidak seperti tadi. Jadi para pemain langsung kembali ke lapangan dan babak terakhir pun dimulai. Supporter sekolahku bahkan sudah menyanyikan lagu kemenangan. Hanya tersisa satu menit dan skor kami sudah jauh di atas skor lawan. Bahkan, ketika salah satu anggota tim lawan mencetak skor 3 angka, itu bahkan sudah tak berarti lagi. Waktu di layar besar makin menipis, lalu ketika waktu berhenti, bola yang ada di tangan Gaftan ia lempar ke atas dan menyerukan kemenangan. Di tribun, kami semua bersorak senang. Mars Sekolah kembali didendangkan oleh kami semua, sampai akhirnya para anggota tim basket meninggalkan lapangan, dan kami semua juga bubar karena supporter dari sekolah lain akan mengisi tribun, meskipun mereka tidak sebanyak supporter sekolah kami. Di luar gedung ternyata sudah ramai, karena memang ada beberapa sekolah yang bertanding hari ini. Dan tentu saja, terdapat antrian di stand penjual minuman karena menjadi supporter itu ternyata bikin haus. Untunglah, aku punya botol air dari Genta. Berjalan kaki ke luar area Gor Pajajaran, aku mencari halte terdekat untuk menunggu Bus yang akan membawaku pulang ke rumah. “Din!” aku menoleh, seseorang memanggil namaku ketika aku sedang berjalan sendirian di trotoar. Dan suara itu milik Genta. “Kenapa?” “Aku nyari-nyari kamu ehhh, kenapa malah pergi?” Aku berhenti, menatap Genta yang terlihat ramah, duduk di atas motornya. Asli sih ya, coba aja perkenalan dan pendekatan aku dengan dia berawal dari hal baik, mungkin aku mau berteman dan kenal dia lebih jauh. Tapi sayangnya, semua itu tak bisa diulang dan anak ini sudah sukses bikin aku menderita selama beberapa saat. “Kenapa?” ulangku. “Ayok, balik bareng yuk?” ajaknya. “Gak, gak mau, aku mau balik sendiri Gen,” “Oh come on, halte paling deket aja satu kilo jaraknya, Din. Kamu mau jalan sejauh itu? Liat aja anak-anak lain, gak ada yang jalan, pada nebeng semua,” ujar Genta mencoba memaksa, tapi aku tetap menggeleng kecil. “Gak, aku gak mau Gen, udah sana kamu balik gih!” usirku namun Genta sama sekali tak bergerak. “Kamu mau jalan sendirian? Serius? Ini udah mau sore Din, kalo ujan gimana?” “Emang kalau hujan kenapa?” itu bukan suaraku, aku dan Genta menoleh, ke samlimg trotoar yang merupakan tembok kawasan Gor. Di balik tembok itu muncul Kak Kemal, hanya terlihat kepalanya saja karena temboknya lumayan tinggi. “Bang, please ini mah jangan ikut campur dulu, ini urusan gue sama Andin, Bang!” seru Genta, meskipun nada bicaranya formal, ia tetap terlihat santai. “Balik lo! Andin biar gue anter balik!” lagi-lagi Genta diusir, kali imi oleh Kak Kemal. “Tapi Bang---” “It’s an order!” seru Kak Kemal memotong kalimat Genta. Pasrah, kulihat Genta mengangguk, kemudian ia pun melajukan motornya meninggalkan aku di trotoar. “Makasi Kak!” ucapku tulus kepada Kak Kemal. Ia terlihat tersenyum manis, jadi aku pun membalas senyumnya. Ampun deh, seminggu gak ketemu Kak Kemal makin ganteng aja. Emm, emang sih kelihatan agak gelap warna kulitnya, tapi malah jadi eksotis loh. Hot! “Sama-sama, kamu tunggu situ ya? Aku ambil motor terus keluar!” “Siap Kak!” sahutku sambil mengangguk. Ya iya dongs, masa aku menyia-nyiakan kesempatan balik sama Kak Kemal? Orang yang pesan dan teleponnya sudah kutunggu selama seminggu ini. Uhhh gemes! **** TBC~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN