44. What The Heck

1644 Kata
Sejak service-ku yang sepertinya memuaskan, hahaha, aku merasa Kemal jadi makin sayang deh sama aku. Sekarang dia tiap hari mau anterin aku pulang, padahal aku tahu dia sibuk. Dan tentu saja, aku sekarang pulang kampus juga telat mulu, gak setiap hari memang, tapi seminggu dua kali lah, mampir kostan Kemal buat 'senengin' dia. Kuliah tuh menyenangkan deh. Emm, mungkin karena aku masih semester awal kali ya? Hahaha! Masih bisa nongkrong, pacaran, dan pulang malem tanpa dimarahin karena bisa alesan ngerjain tugas. Happy lah! Seperti malam ini, pukul 11 malam aku baru keluar dari kostan Kemal, aku sempet ketiduran sih sebenernya, dan katanya dia gak tega bangunin aku. “Cari s**u jahe dulu yuk, buat kamu,” ujar Kemal ketika kami akan pulang. “Boleh, biar mata aku agak seger nih, nanti ketahuan lagi aku abis tidur,” “Aku gak enak tahu, anterin kamu balik malem terus,” katanya sambil mengarahkan motornya ke pujasera dekat kampus, tempat jualan s**u jahe. “Ih, malah Mama mah makasih sama kamu, aku kegiatan kuliah baliknya dianter sama kamu, selamat sampe rumah,” “Kegiatan kuliah? Hahaha bisa aja kamu nyari alesan!” Aku hanya tersenyum. Kami sampai, Kemal menggandeng tanganku dan kami pun berjalan ke kedai s**u jahe yang kami mau. “Pak, dua yaa, minum sini!” ucap Kemal memesan. Kami lalu duduk berdampingan, karena dingin, Kemal menggengam tanganku erat. Sesekali, aku melirik ke arahnya, gak menyangka sama sekali kalau hubunganku dengan dia nih bisa panjang. Aku bisa ngerasain gimana dia sayang sama aku dan aku juga sayang banget sama dia. Gosh! Kaya, hatiku tuh penuh gitu sama semua perasaan ini. Kadang duduk di samping dia gini, liatin tangan kami yang saling menggengam, lalu sesekali ia menggosoknya agar aku hangat tuh bikin bahagia. Bikin pengin selamanya sama dia aja. “Ini, silahkan diminum,” bapak penjual tadi menghancurkan lamunanku, memberikan kami dua gelas s**u jahe. Aku mengambil segelas, karena hangatnya pas jadi langsung saja kuteguk banyak-banyak, perut dan tenggorokanku jadi hangat seketika, mata juga lumayan agak melek. Berhubung hari makin malam, kami gak berlama-lama, Kemal lanjut mengantarku pulang sampai rumah. Untungnya ya, udah malem jalanan gak macet, jadi hanya butuh waktu singkat, aku sudah sampai di rumah. “Kamu hati-hati baliknya!” seruku ketika Kemal menjauh. Ketika aku berbalik, aku sedikit terlonjak melihat Kak Adam berdiri depan pintu. Dia kan tinggi ya, kaget banget aku, kirain jelangkung. “Astagfirullah, Kak! Lo ngagetin gue aja!” “Bagus lu ya, tengah malem baru pulang!” “Yee, orang ngerjain tugas kok!” “Tugas apaan?” “Ya tugas kuliah!” jawabku asal lalu melewatinya agar bisa masuk ke dalam rumah. Ketika akan masuk ke kamar, tanganku di tahan oleh Kak Adam. “Apaan sih Kak? Drama banget lo! Gue capek! Mau istirahat!” “Dari mana lo?” tanyanya, aku tak menjawab, membuka pintu kamarku lalu masuk ke dalam. Sialnya, Kak Adam sempat menahan pintuku, dan ikut masuk ke dalam. “Orang nanya tuh jawab!” serunya terdengar kesal. Aku masih diam, menyalakan lampu kamarku lalu melempar tasku ke kursi, kemudian menarik baju dari lemari, dan membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku membersihkan diri, gak mandi, tapi cuma cuci muka dan gosok gigi, lalu ganti baju biar tidurnya enak. Ketika aku kembali ke kamar, Kak Adam masih ada, duduk di kursi belajarku dengan tatapan marah. “Kak, ini udah malem, lo gak tidur?” “Lo dari mana balik jam segini?” tanyanya lagi. “Kalo lo balik jam dua malem, gedor-gedor pintu rumah, pernah gue nanya lo dari mana? Engfa kan? Gue bukain pintu bukain aja, nah, yaudah, gak usah banyak tanya Kak!” kataku lelah. “Eh kampret! Lo adek gue!” Kak Adam bangkit dari kursi, mendekat ke arahku dengan tatapan marah. Aku menciut, sedikit takut tapi perasaan kesalku padanya lebih banyak. “Ya emang apa peduli lo? Hah?” “Bisa ya lo ngomong begitu ke gue!” suaranya terdengar marah tapi aku tahu Kak Adam menjaga intonasinya agar tidak didengar Mama atau pun Papa. “Kak, sejak lo pacaran sama Mia, kapan sih lo jadi kakak gue? Heh? Udah hampir dua tahun kita kaya orang asing, terus tiba-tiba lo marah sama gue seolah gue adek bandel dan lo kakak paling care sedunia, please... kita sekarang gak sedeket itu!” “Lo jangan mengalihkan pembicaraan ke Mia. Gue lagi nanya lo, dari mana aja lo balik jam segini? Heh? Sama Kemal? Ngapain aja lo sama dia?” tanyanya, membuatku makin sebal. “Gak usah sok ikut campur hubungan gue, Kak!” “Gue berhak tau! Dan kalo lo udah kelewat batas, gue bisa aja nyuruh orang buat pisahin lo sama Kemal!” “Gilak, lo jahat banget ya Kak sekarang?! Lo gak ada hak ngurusin gue sama Kemal! Lo aja gak cerita soal Mia ke gue, dan gue santai. Lo dilarang Mia buat deket sama gue, padahal gue adek kandung lo sendiri, gue gak protes. Lo balik tengah malem, entah dari mana, pernah gue ganggu lo dengan pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan? Engga kan? Udah, kaya gitu aja, jadi asing aja. Itu lebih baik kan, buat hubungan lo sama Mia? Dan jangan ikut campur hubungan gue!” Kak Adam diam mendengarkan ocehanku, jadi kugunakan kesempatan ini untuk bicara soal apa yang kurasakan selama ini. “Gue sebel Kak sama lo, tapi lebih sebel sama Mia. Dari kelas 2 SMA, dia jauhin gue, marah sama gue atas hal yang gak gue lakuin sama sekali. Bikin gue dijauhin temen sendiri sampe di sekolah temen gue cuma Ari doang. Dan yang bikin gue survive di SMA tuh Kemal, terus sekarang lo mau nyuruh orang buat pisahin kita? Gilak sih lo! Gue kira ya, dengan lo punya hubungan sama Mia, lo bisa jembatanin gue sama dia, jelasin ke dia soal apa yang gue alami, semua tuduhan Genta, semua gosip yang kesebar... gue ngarep lo klarifikasi itu ke Mia. Tapi apaan? Gak ada kan niat lo begitu? Lo malah bucin sama dia sampe jauhin adek lo sendiri. Terus sekarang, sok oke mau jauhin gue sama Kemal, gak jelas lo Kak!” Kak Adam terpatung, aku berusaha menenangkan diri, menarik napas panjang beberapa kali. Karena Kak Adam tak juga merespon, aku akhirnya naik ke kasur, berguling menghadap tembok sambil menarik selimutku. Tidur. Aku gak tahu, apa yang ada dipikiran Kak Adam saat ini. Yang jelas, aku berharap dia mengerti, dan berubah. Sudah, itu saja. **** Kak Adam memutuskan keluar dari rumah. Alasannya, capek harus berangkat pagi pulang malam. Jadi dia mau kost aja di Jakarta, gitu katanya. Mama dan Papa mengizinkan tentu saja, soalnya Kakak jelasinnya bawa-bawa kesehatan fisik dan mental. Ya orang tua, mana tega liat anaknya capek kan ya? Dengan itu juga, aku menobatkan Kak Adam menjadi kakak terpengecut sedunia! Dia lari dari masalah denganku tanpa ada niat menyelesaikan semuanya baik-baik. Jahat! Hari-hari berlalu begitu saja, aku bahkan sekarang ngerasa gak punya Kakak. Hidup santai berasa anak tunggal di rumah. Seperti dulu saat Kak Adam kuliah. Saat ini, Kemal sudah lulus. Ia bahkan sudah direkrut oleh perusahaan yang dulu sering memberinya proyek. Karena rumahnya jauh, Kemal tetap ngekost, tapi sekarang gak di deket kampus lagi, deket sama kantornya. Hubunganku dengan Kemal makin baik. Dia bahkan mengenal baik seluruh teman kelasku. Emang anaknya gampang berbaur dia tuh. Aku sendiri sekarang sudah semester tiga, pelajaran kuliah lagi berat-beratanya. Tapi gimana ya? Karena senang menjalaninya, semua tugas meskipun berat tetap kukerjakan tanpa pamrih. “Istirahat dulu sayang, itu mata kamu udah ngantuk banget,” Hari ini aku menginap di kostan Kemal, lagi males pulang karena tugas banyak banget. Kalau sama Kemal kan enak, dia bisa bantuin. “Hemm, tapi dikit lagi,' “Udah ah tidur,” Kemal menarikku dari meja belajar, membawaku pelan ke kasurnya lalu membuatku berbaring, ia memelukku. “Gampang itu, besok pagi, lima menit juga beres,” ucapnya lalu terasa kecupan lembut di pelipisku. Aku memeluk Kemal, memejamkan mataku karena memang sudah lelah. Kemal membalas pelukanku, mengujani rambutku dengan ciuman kecil. “Aku capek!” kataku pelan, “Tidur sayaang,” “Iya, ini mau,” “Udah dong jangan nyaut, gak tidur-tidur nanti,” bisiknya pelan. “He'em,” “Malah beneran disautin,” “Hehehe, seneng abisnya ngobrol sama kamu,” ucapku jujur. Asli ya, meskipun aku sering menginap di tempat Kemal, dia gak pernah memaksa aku untuk 'berhubungan' dengannya. Kalau gak lagi cuddle-cuddle, ya kami begini, tiduran sambil ngobrol. “Emang kamu gak ngantuk sayang?” tanyanya. “Lumayan,” “Yaudah tidur dong,” “Dongengin!” pintaku dengan nada manja, kudengar Kemal sedikit terkekeh. “Dongeng apa sayaang?” “Dongeng si kancil!” seruku, lalu kudengar lagi tawa renyah Kemal, membuatku gemas jadi kupeluk ia lebih erat, menenggelamkan wajahku di dadanya. “Gak bisa berdongeng aku tuh cinta,” katanya. “Idih cinta!” agak geli aku dengernya, biasanya bilang sayang ini kok tiba-tiba bilang cinta? Hahaha kocak! “Ya emang cinta sama kamu, gimana dong?” “Okee, ini sih aku tidur aja deh, soalnya udah cinta-cintaan ginu mah suka ada niat terselubung!” kataku sembari nyengir. Kulepas pelukan Kemal, lalu berbalik memunggunginya. Emang sih, kayaknya udah dua minggu aku gak 'emutin' punya dia, hahaha. Gak tahu deh selama 2 minggu ini dia gimana. Aku lagi gak mood soalnya. Kurasakan Kemal memelukku dari belakang, lalu bibirnya yang lembut mendarat di bahuku. “Kapan sih emang aku minta? Kamu mulu juga yang mau, wleee!” ucapnya dengan nada meledek. Aku tersenyum, kembali berbalik untuk memeluknya. “Ngeselin banget, sumpah!” seruku. “Udah ah sayang, ayok tidur, kamu tuh butuh istirahat!” kali ini suaranya terdengar serius. Aku mengangguk, lalu mengatur posisi agar nyaman tidur dalam pelukannya. Ketika sudah merasa pas, Kemal menarik selimut, aku pun memejamkan mata. “Sleep tight, Andin sayaang!” bisiknya pelan. “Good night, Kemal. Love you!” kataku sebelum akhirnya terlelap dengan nyaman. Masuk ke dalam mimpi yang lebih indah dari realita. -tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN