43. Mahasiswa

2206 Kata
Aku masih gak menyangka, sekarang statusku sudah jadi mahasiswa. Well, akhirnya aku kuliah di kampusnya Kemal, masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain sesuai apa yang aku rencanakan. Dapet beasiswa juga, sekolah yang nyariin. Alhamdulillah banget lah. “Ri, balik jam berapa lo?” tanyaku, Ari, ya lagi-lagi Ari. Dia satu kampus denganku, namun Ari ada dijurusan Sastra Inggris. Karena kami nih baru dan belum bergaul, kami memilih makan siang berdua. Biar enak ngobrolnya. “Sore gue, ada kelas jam 3, ya paling keluar setengah lima, kenapa gitu?” “Mau bareng,” “Emang lo balik gak sama cowok lo? Kan dia di kampus ini juga,” “Lha, dia juga ada kesibukan kali,” “Kalo lo sama Genta ya, pasti lo dianter jemput, gak peduli kesibukan dia apaan,” ucap Ari tiba-tiba. “Jih? Kok lo jadi bahas Genta?” “Tu cowok cinta mati Din sama lo,” “Kaya gitu yang bikin takut. Antara cinta sama obsesi beda tipis. Terus kalo yang lu bilang bener, gue sih ogah punya cowok yang ninggalin kesibukan dia buat gue, cowok kudu punya kesibukan, biar punya kehidupan.” kataku. “Iya sih, cuma kalo soal prioritas, lo pasti dinomor satukan sih sama Genta, yakin gue!” “Udah ah, gak usah bahas Genta!” kataku. Heran deh, kok obrolan siang ini bisa tiba-tiba nyambung ke Genta. Sekarang, yang aku tahu Genta masuk ke Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, kampus super mahal itu loh. Dan udah, sejak kuliah aku udah tenang, udah gak diganggu sama dia. “Tapi Din, pas SMA tuh lo sama sekali gak pernah sama Genta?” Ari kayaknya masih seneng aja nih bahas Genta. “Engga, sumpah deh, semua gosip yang dia ceritain tuh bohong,” “Gila juga ya berarti dia. Maksudnya, gosip itu gak cuma bikin nama lo doang kali yang jelek. Nama dia juga,” “Bukannya kalo kaya gitu cowok gak rugi ya? Strata kalian malah lebih naik?” aku membahas sedikit apa yang pernah disampaikan Kak Adam. Ah Kakak, aku kangen banget sama Kakakku itu. Tapi sekarang kita berdua beneran kaya orang asing. Padahal masih tinggal satu rumah. “Di tongkrongan, iya. Tapi kan si Genta bukan anak nongkrong, lu tau sendiri dari SMA circle dia mah hedon di Jakarta begitu, cocok sih sama lingkungan dia sekarang,” dari dulu, Ari tuh emang paling best sih kalau diajak soal gosip. “Yaah, gak tau lah ya motivasinya apaan, yang jelas gue udah gak mau terlibat sama dia,” kataku tegas. “Gue penasaran, lu gak kepengen gitu nyoba sama dia, tu anak ganteng kali, Din. Bang Kemal oke sih emang, cuma Genta juga oke kali!” “Dih apaan lu banding-bandingin! Dari awal gue gak tertarik sama Genta, soalnya gimana ya, awal tahu Genta kan karena Mia. Jadi gue kaya bikin garis loh, oh ini cowok yang mau disikat temen gue, gue gak boleh,” “Cewek mah ribet!” seru Ari. “Kalo cowok punya slogan 'Bro before w***e' ya cewek juga ada, 'Sister before Mister'!” jelasku, Ari hanya mengangguk. “Jadi kita bareng gak nih?” tanyaku. “Ya kalo lo mau nunggu sampe sore ya ayok,” Aku mengangguk, bingung juga. Hemm, kayaknya sih aku harus mulai deket sama temen sekelasku. Biar bisa nongkrong bareng, ngobrol bareng, gak sama Ari terus begini. Bentrok. “Yaudah deh liat nanti aja,” kataku. Selepas makan siang, kami kembali ke fakultas masing-masing. Aku ada kelas jam setengah dua, sementara Ari seperti yang ia bilang, kelasnya sore jam 3. Di gedung fakultas, aku coba main ke perpustakaan. Tadinya mau liat-liat ke studio lukis atau lab fotografi, cuma lagi rame, malu kan kalau tiba-tiba masuk. Perpustakaan fakultasku nih bagus, sama seperti perpustakaan di mana pun, suasananya tenang dan adem. Aku bingung mau baca buku apaan, jadi aku iseng ke rak khusus tugas akhir para alumni, baca-bacain halaman persembahan sambil senyum-senyum sendiri. Rata-rata, standar lah, bilang makasi ke dosen, orang tua, sahabat, bahkan pacar, tapi ada juga yang lucu, halaman persembahan yang menggunakan tinta emas itu didedikasikan untuk kucing peliharaannya. Di sini bacaannya sih karena katanya kucingnya lah yang selalu menemani dia ketika ia mengerjakan proyek tugas akhirnya. Aku tersenyum, jadi ingat Chiro, kucingnya Kak Adam yang gak mau masuk rumah kalau Kakak belum pulang. Semalam apapun, Chiro akan menunggu Kak Adam di teras. Kalau Kakak gak pulang, Papa akan menggendong Chiro, buat tidur di kamar Kakak. Sambil melamun, aku memikirkan hubunganku dengan Kak Adam yang kacau. Aku bingung, yang harus aku salahkan itu siapa. Mia kah? Kak Adam kah? Atau Genta? Atau diriku sendiri? Well, hubungan aku dengan Mia kacau memang karena Genta. Tapi, kalau Mia mau percaya aja sama aku sedikit, mungkin gak bakal kaya gini. Genta? Yaudah lah, mungkin dia memang ditakdirkan untung mengacaukan hidupku. Aku gak dendam sama dia, aku cuma marah aja, dia bisa dengan mudahnya menjungkir-balikan hidupku dengan bualannya. Lalu Kak Adam, gosh, Kakak. Orang yang sayang sama aku, yang jagain aku, sekarang dingin gara-gara ceweknya (Mia), gak suka sama aku. Gak ngerti aku. Apa Kak Adam gak mau coba jelasin semua ke Mia. Atau apa sih? Aku gak ngerti sekarang jalan pikiran Kak Adam kaya apa. Terlalu larut dalam lamunan, aku tersadar ketika jam tanganku berbunyi pelan, sudah menunjukan pukul dua siang. Langsung saja kukembalikan Tugas Akhir yang tadi k****a ke rak, lalu bergegas masuk kelas. Kelaa sudah ramai tapi untungnya dosen yang mengajar belum masuk. Aku mengambik tempat agak ke belakang, dekat dengan sekelompok laki-laki. Beberapa dari mereka tersenyum padaku, dan aku membalas senyumnya. Ketika dosen memasuki kelas, aku pun fokus, menyerap ilmu yang diberikan sebanyak-banyaknya. Biar makin pinter! Asik mendengarkan pemaparan dosen, ponselku berdenting. Sebuah pesan masuk. Kemal❤: Sayang? Masih di kampus kan? Balik aku anter ya? Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Yes! Akhirnya bisa pacaran juga. Akhir-akhir ini Kemal sibuk banget soalnya. Me: Oke sayang Setengah jam lagi aku kelar See you! Kukirim pesan balasan tersebut, lalu kembali mendengarkan penjelasan Pak Surya di depan kelas. Ketika kelas berakhir, aku dengan cepat merapikan barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas. Begitu keluar, syok aku, kaget karena ada Kemal di koridor depan kelas. “Kamu kok di sini?” “Gak boleh?” ucapnya. “Kaget aku, yuk!” Aku menggandeng Kemal, berjalan di sisinya menuju tangga. Lift penuh soalnya dan deket juga cuma dari lantai dua. “Makan yuk?!” ajaknya. “Kamu laper?” tanyaku. “Mayan,” “Aku temenin kamu makan gimana?” “Lha? Emang kenapa?” “Tadi siang aku makan bareng Ari, masih kenyang,” “Okee, tapi kamu beli cemilan apa gitu ya?” tawarnya. “Siap!” Tidak langsung pulang, kami malah menuju cafetaria utama kampus ini. Berada di gedung rektorat, super lengkap dan mewah. Dan tentu saja, selalu ramai tak kenal waktu. Kemal memesan Sup Wonton plus satu porsi nasi dengan jus mangga, aku memesan es jeruk dan satu porsi onion rings. “Gimana skripsi kamu?” tanyaku semangat, seneng deh karena Kemal akhirnya skripsian juga. “Lancar sihh, tapi bingung,” “Eh? Bingung kenapa?” “Iya, kalau aku lulus, kita gak satu kampus, entar ketemunya gimana?” tanyanya, membuatku tersenyum. Dia kenapa manis banget sih. “Lha, waktu aku SMA, kamu kuliah, ketemunya gimana?” “Janjian, Sabtu doang,” “Naah itu bisa,” “Ih sekarang kan kita ketemunya sering, udah terbiasa aku. Nanti kalo kangen gimana?” Sumpah, aku baru tahu Kemal bisa kaya begini. Gemesin sumpah, lucu. “Ya kalo kangen bisa teleponan, kaya dulu aja,” “Aku kepikiran omongan kamu, yang bilang sejak Adam kerja, kamu jarang banget ketemu dia. Aku takut begitu deh,” “Ya itu kan Kak Adam ketemu aku, ketemu Mia sih sering kayaknya,” “Iya gitu?” Aku mengangguk. Ada kalanya, Kak Adam gak pulang. Dia bilang ke Mama kalau dia nginep di kostan temennya. Aku sih curiga kalau itu kostan Mia, bukan kostan temen. Mia kuliah di universitas swasta di kota ini juga, yang aku tahu dari Ari, dia memang kost, meskipun rumahnya deket. “Lagian, aku kan kuliah ya? Jadwal aku fleksibel, bisa kok aku menyesuaikan jadwal kamu nanti.” “Janji?” “Janji!” seruku yakin. Ketika makanan pesanan kami datang, Kemal langsung menyantapnya dengan lahap, keliatan banget dia laper. Mungkin saking sibuknya jadi gak sempet makan siang tadi. Menemani Kemal makan, sesekali aku mengunyah onion rings yang kupesan. Kemal mengambil beberapa buah, buat dicemplungin di sup wonton-nya. “Masih jam segini, mau langsung pulang atau main dulu?” tanyanya. “Aku pengin nonton di bioskop, tapi gak tahu ada film apa,” “Yaudah, kita masuk mall dulu aja kali ya?” ajaknya, membuat aku tersenyum, mengangguk senang. Selesai Kemal makan, kami langsung menuju parkiran, Kemal mengarahkan motornya ke Mall yang ada di dekat kampus. Masuk bioskop, eh zonk banget ternyata film-nya horor semua. “Ayok ih, kan nontonnya berdua,” ajak Kemal, ini mah dia godain aku, dia kan tahu ya aku anaknya penakut abis. “Gak mau, ihh,” “Kan tadi yang mau nonton kamu, gimana sih?” “Pengin nonton kartun aku tuh,” kataku, biar aman yaa, ngapain pula aku nonton horor bikin parno kalo malem. “Yaudah, terus mau apa nih?” “Gak tahu, tapi gak mau balik juga sih,” kataku menggandengnya dengan kedua tanganku. Kemal menoleh, sedikit menunduk lalu tersenyum. “Mau nonton kartun?” tanyanya, aku mengangguk. “Kostan aku mau? Streaming di laptop aja,” tawarnya. “Boleeh!” “Hemmm dasar bocil, ngapain kita ke sini dong? Ngabis-ngabisin bensin gue aje lu yaa!” serunya dengan nada becanda, ia lalu merangkulku, mengajak turun menggunakan eskalator lalu menuju parkiran. Duh, gemes aku sama Kemal. Huhuhu! Sebelum sampe kostan, tentu kami beli jajanan dulu, gak enak kan ya kalau nonton gak sambil nyemil. Jadi begitu sampai di kostan Kemal, ketika ia membuka laptop dan mencari film, aku menyusun camilan kami, biar dimakan berurutan gitu. Laptop diletakkan di meja lipat, sementara kami berdua duduk di kasur, bersandar ke tembok, well, Kemal sih yang senderan ke tembok, aku mah senderan di d**a pacar dong yaa, hahaha! “Mau Ghibli kan?” tanyanya. Ya, Kemal tahu kalau aku suka film-film animasi dari Studio Ghibli, dan kali ini, ia memilih film Kiki's Delivery Service. Yang kusuka dari film Ghibli tuh yaa, ceritanya bagus, animasinya apalagi, ditambah backsong yang enak-enak, gila sih juara. “Lucu tau Jiji tuh!” kataku, Jiji adalah kucing hitam milik Kiki, si peran utama. “Mau-maunya, dia nyamar jadi boneka,” sahut Kemal. Kami menikmati film ini, ringan dan bikin sadar aja kalau hidup tuh emang isinya berjuang, berusaha, buat menggali potensi apa yang kita miliki. Di akhir film, aku yang awalnya bersandar di d**a Kemal kini sudah merosot, malah jadi tiduran di pahanya. Ketika film selesai, aku menggeser posisi, biar kepala yang tadi nengok laptop, jadi melihat ke atas, ke arahnya. “Kita sekarang jarang berduaan ya?” katanya pelan. “Dari dulu juga jarang,” sahutku. Kemal tersenyum, kurasakan ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke arahku, kemudian dengan lembut, bibirnya pun menempel ke bibirku. Mengecap bibirnya pelan, Kemal sedikit menarikku agar aku bangun dan duduk, bukannya duduk di depannya, aku malah naik ke pangkuannya dan ia memeluk pinggangku erat, membuat tubuh kami saling menempel. Tanganku sendiri ada di wajahnya, merengkuhnya agar tidak melepaskan diri dari ciuman ini. Aku sedikit mengaduh ketika Kemal menggigit bibir bawahku. “Jangan gitu, nanti aku sariawan,” ucapku pelan di sela-sela ciuman kami. “Sorry!” Kemal lalu menyapukan lidahnya di bagian bibir yang tadi ia gigit, membuatku membalas ciumannya lebih dalam lagi. Aku sedikit tersentak ketika tangan Kemal merayap ke tubuhku bagian depan, dan ia meremas dadaku. “s**t!” makiku pelan, aku menarik diri dari ciuman ini lalu menenggelamkan wajahku di lehernya. Membuat ia dengan leluasa mencium leherku. Aku gak tahu, apakah aku akan meneruskan ini atau tidak. Aku penasaran, pengin banget nyoba. Dan aku gak keberatan memberikan kesucianku pada Kemal, dia baik. Tapi, aku gak mengerti, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku. Berusaha mengabaikan perasaan itu. Aku menarik kaus yang Kemal pakai sampai terbuka, lalu menciumi leher dan turun ke tulang selaka-nya. “Yaang? Kamu mau?” tanyanya ketika aku sibuk menciumi tubuhnya. “Gak tahu,” jawabku pelan, lalu Kemal mendorong tubuhku menjauh, turun dari pangkuannya. “Berarti gak usah,” katanya, “Kenapa?” tanyaku bingung, ia menarik kausnya, memakainya kembali. “Aku gak mau kalau kamu gak bener-bener yakin,” “Terus? Kamu mau ke kamar mandi sekarang? Lanjutin sendiri?” tanyaku, Kemal hanya mengangakat bahu. “Sini, aku yang lanjutin,” kataku. “Kamu kan gak mau,” “Ya bukan itu, I have my mouth, I can do the BJ!” “Engga, apaan sih!” “Aku bukan anak kecil sayang, aku tahu! Aku pernah nonton film dewasa, aku tahu!” kataku mencoba terdengar yakin. Kemal yang mungkin sudah sangat bernapsu terlihat kalut. Hal itu membuatku tersenyum licik, lalu mendorongnya untuk berbaring. Kubuka gesper yang ia kenakan, lalu menarik retsleting celananya turun. Agak sedikit grogi, aku menggengam milik Kemal yang sudah keras itu, dan kudengar suaranya mendesah kecil. Pelan, aku menundukan wajahku, memberanikan diri memasukkan benda yang ku genggam ini ke dalam mulutku. Oke, waktunya mempraktekkan apa yang kupelajari di film. -tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN