41. Ribut

1617 Kata
Aku terbangun dengan perasaan yang nyaman, apalagi saat sadar kalau aku tidur dengan posisi dipeluk Kemal dari belakang. Aku berbalik, menyembunyikan diri di dadanya, memeluknya erat. Ah, aku suka pagi seperti ini. Kaya gini tuh ibarat kabur dari realita hidup, lalu masuk ke salah satu cerita dongeng. Bahagia pisan lah pokonya mah. Apalagi, sekarang aku tahu kalau Kemal tuh beneran terbaik. Pas semalem aku bilang aku gak siap, eh dia gak maksa, cuma lanjutin sebatas apa yang aku setujui sebelum akhirnya dia lari ke kamar mandi. Yaudah, aku gak masalah sih, aku tahu Kemal pasti c**i di sana. Gak apa juga. Sedang asik memandang Kemal, aku tersenyum ketika matanya terbuka, lalu tangannya menarikku untuk masuk lebih dalam ke pelukannya. “Selamat pagi sayaang,” bisiknya lembut. “Pagi sayangku!” Asik mengendus-endus aroma tubuhnya, kami berdua tersentak ketika ponsel yang entah berada di sudut mana, bergetar dengan hebat. HP-nya Kemal, kulihat sebuah panggilan masuk dari Kak Adam. “Mampus!” kudengar Kemal memaki pelan sebelum menjawab panggilan tersebut. “Yoo? Kenapa?” ujar Kemal, aku gak bisa denger Kak Adam bilang apa, jadi cuma tahu obrolannya Kemal aja. “Kaga, gak balik, ada sama gue,” ini pasti nanyain aku nih. “Yo'i, aman, dah janjian aja,” ucap Kemal. Waduh? Janjian apaan nih? “Iya, anter dulu aja. Ketemuan di tempat makan bubur ya? Deket kan? Ya, oke, oke, sip!” Kemal menutup sambungan teleponnya, ia lalu mengedip jahil padaku. “Kenapa?” tanyaku. “Gak apa-apa, kamu mau mandi apa cuci muka aja? Yuk sarapan, sekalian Adam jemput kamu biar kalian baliknya bareng,” “Emm, cuci muka aja,” kataku. “Yaudah, tahu kan kamar mandi di mana?” Aku mengangguk. Sebelum meninggalkan kasur, aku menyempatkan diri dulu mencium bibir Kemal sekilas sebelum belari ke kamar mandi yang ada di samping. Di kamar mandi, aku gak cuma cuci muka, tapi cuci leher sampe ke bagian belakang telinga. Gila kan semalem itu ciumannya Kemal kemana-mana banget. Setelah cuci muka, aku kumur-kumur. Saat melihat pasta gigi, kuambil hanya seujung jari. Gosok gigi pake jari sendiri terus kumur-kumur. “s**t!” makiku pelan ketika melihat tanda merah di d**a bagian atas. Aduh ini kalau Kak Adam liat bisa beneran mampus aku. Kuperbaiki posisi bajuku, biar bisa menutupi bekas gigitan Kemal semalam, dan ya... oke sih ketutupan. Ketika aku keluar kamar mandi sudah ada Kemal di sofa, di meja bahkan sudah ada segelas teh hangat. “Minun dulu biar tenggorokan sama perutnya enak ya?” ucapnya lembut. Aku mengangguk, Kemal bangkit dari sofa, memelukku sebentar, lalu mencium bibirku singkat sebelum ia masuk ke kamar mandi. “Rasa odol!” ujarnya membuatku tertawa. Aku duduk di sofa, mengambil cangkir berisi teh hangat, menyesapnya pelan-pelan. Enak banget, teh-nya aroma melati, terus manisnya juga pas, gak anyep ataupun kemanisan. Penasaran deh aku, ini rumah siapa yang tinggalin? Kok ad air panas, ada teh celup? Kamar mandi juga tadi kelihatannya terawat, ada sabun, ada pasta gigi, shampo bahkan kondisioner. Lalu semalam, kasur yang kami tiduri sama sekali gak berdebu. Jadi, itu artinya ada orang kan yang tinggal di sini? Larut dalam lamunan, aku tersentak kaget ketika pintu kamar mandi terbuka dan Kemal keluar. “Kenapa kamu?” ia melihatku terlonjak sepertinya. “Kaget, heheheh, lagi bengong soalnya,” Kemal sudah tampak lebih segar, bagian depan rambutnya sedikit basah. Dan, mukanya masih sedikit muka batal, gemes banget liatnya. Aku bergeser ketika Kemal mendekat, duduk di sampingku. Kuberikan teh hangat yang ada di tanganku. “Nih, kamu juga minum,” kataku, ia menerimanya dan menyesap teh tersebut. “Udah nih, kamu yang abisin, terus kita janjian sama Adam,” Kemal memberikan lagi cangkir teh tersebut. Kuhabiskan teh yang sisa setengah itu, lalu gelas kosongnya Kemal bawa ke dapur. Kami lalu bersiap-siap, aku memasukkan ponselku ke tas selempang yang kubawa. Lalu mengikat rambutku menjadi kuncir kuda biar gak berantakan. “Yaaang!” seru Kemal, nada suaranya parno, bikin aku panik lalu celingukan nyari tahu ada apa. “Kenapa?” “Itu d**a kamu, merah,” “Nah iyaa, kamu sihh, gimana ini kalau ketauan Kak Adam?” tanyaku, sialnya nih, blouse yang aku kenakan tuh memang berpotongan agak rendah di bagian d**a. “Ini, jaket aku pake aja,” ia melepas jaketnya, memberikan padaku dengan membentangkan jaket tersebut, jadi aku hanya perlu memasukkan tanganku. Kemal membalik tubuhku, memasangkan kaitan retsleting sebelum menarikknya ke atas menutupi bercak merah bekas gigitannya semalam. “Dah, aman sih kalo gini, yuk!” ajaknya. Aku mengangguk. Kami keluar dari rumah ini. Kemal mengunci pintunya lalu kulihat ia mengembalikan kunci tersebut ke bawah salah satu pot yang ada di teras rumah. Naik ke atas motor, kami pun melaju ketika aku memeluk Kemal dari belakang. Seperti biasa, aku menempelkan pipiku di punggungnya. Mengamati jalan, aku tahu ini kami mengarah ke kampusnya Kemal. Lalu tak lama kemudian, motor berhenti di parkiran khusus. Aku langsung turun, di seberang jalan, ada sebuah Pujasera yang menyediakan makanan khusus sarapan. Bubur ayam, lontong sayur, nasi uduk, gado-gado, ketoprak bahkan kupat tahu. Kemal menggengam tanganku, kami menyebrang lalu mengarah ke tempat berjualan bubur. “Kamu komplit yaang?” tanya Kemal. “Gak pake kacang, sama gak pake kerupuk,” “Okee, duduk aja, aku pesenin,” Aku mencari meja yang kosong, karena tahu nanti Kak Adam bakal muncul, jadi ya aku cari meja yang kursinya empat, agak sedikit ke pojok. Kemal sudah menyusulku, ia membawa dua gelas teh tawar hangat, meletakkannya di meja. “Tinggal nunggu Adam aja nih, dia belum aku pesenin, biar pesen sendiri aja,” “Hoyyy!” Baru diomongin, anaknya udah muncul aja. “Sana lu pesen sendiri,” ujar Kemal, Kak Adam mengangguk lalu berjalan menuju gerobak bubur. Kemal duduk di sampingku, terlihat santai, ia meminum teh tawar hangat miliknya sedikit. Kak Adam bergabung dengan kami, duduk di seberangku, sama, membawa segelas teh tawar hangat juga. “Kalian dari mana?” tanya Kak Adam. Aku tahu, dia nanya gitu karena dia kan pinjem kostan Kemal, jadi gak mungkin kalau kami berdua balik kostan semalem. “Elu dari mana?” aku balik bertanya sebelum Kemal menjawab. “Udah gak usah dibahas, dari pada kalian berdua berantem,” ujar Kemal. Kak Adam melirikku dengan tatapan bersalah, tapi aku melihat rasa penasaran juga di matanya. Bubur pesanan kami datang, membuat kami tak melanjutkan obrolan tadi. Aku langsung menarik mangkok bubur milikku, satu-satunya yang gak pake kerupuk. Lalu, saat mulai makan, aku melihat Kemal dan Kak Adam mengaduk bubur mereka. Membuatku mundur dan pindah ke meja belakang, duduk membelakangi keduanya. “Heh? Kamu kenapa pindah?” tanya Kemal terkejut. “Kalian makan buburnya diaduk, gak bisa aku,” “Andin emang gitu Mal, jijik-an kalau liat orang makan bubur diaduk,” jelas Kak Adam. “Ohh astaga!” “Udah biarin aja,” Akhirnya aku makan sendirian di meja, gak apa-apa lah, dari pada aku eneg liat dua orang yang makan bubur diaduk-aduk, hiyyyy, geli. Selesai memakan bubur, aku menoleh ke belakang, Kemal sama Kak Adam udah asik rokokan ternyata, yeeee dasar! Aku kembali ke meja mereka, duduk di samping Kemal, posisiku semula. “Ayok Kak, balik!” ajakku. “Sabar dikit lah dek, ini belum abis rokoknya, nanggung,” Aku cemberut. Kesel nunggu orang ngerokok begini. Heran, tahu gak sih. Harus banget emang abis makan tuh ngerokok? Hih! Aku nih udah gak betah, pengin pulang, pengin mandi. “Dek, lo udah nentuin mau kuliah di mana, jurusan apa?” tanya Kak Adam, seperti membuka obrolan. “Aduh Kak, pusing gue. Pengin ambil Biologi di Jogja, tapi kata Mama kejauhan.” “Biologi di kampusnya Kemal bagus tuh!” ujar Kak Adam. “Emm, iya sihh, cuma pengin yang jauh, pengin nyoba tinggal sendiri gitu, mandiri,” kataku. “Yee elu, ke dapur malem-malem ambil minum aja pake bangunin gue dulu, apalagi tinggal sendiri?” ledeknya. “Elu mah gituin gue mulu, kaga ada support-nya, adeknya tuh dijatohin mulu,” kataku kesal. Kak Adam diam, Kemal juga tidak berkomentar apa-apa. Kami bertiga diam, sampai akhirnya rokok mereka habis dan Kak Adam pun mengajak aku pulang. “See you!” seru Kemal ketika kami berpisah. “Bye sayaang!” sahutku. Aku masuk ke dalam mobil, langsung memundurkan sandaran kursi agar bisa tiduran. “Lo semalem kemana dek?” tanya Kak Adam saat aku akan memejamkan mata. “Lo semalem ngapain Kak sama Mia?” aku balik bertanya. “Kita mau kaya gini? Jadi berantem-berantem gini?” “Bukan gue yang mulai, dah sana nyetir aja yang bener!” “Bukan elu yang mulai? Hey, semua tuh mulai karena elu yang baperan!” seru Kak Adam. “Semua tuh mulai gara-gara cewek lo yang mendadak d***o!” balasku, emosi. Mobil yang sudah berjalan tiba-tiba menepi. “Kenapa jadi lo bawa-bawa Mia?” “Iya, soalnya dia sumber masalahnya!” “Kok lo nyalahin dia?” “Ya mau siapa lagi? Dari awal nih, dia aja yang bego, gak percaya sama gue, ngehasut orang-orang buat jauhin gue. Sadar gak lo?” “Ini lo bahas apaan sih Dek?” tanya Kak Adam. Aku diam. Kak Adam lupa kali ya, aku pernah cerita soal anak-anak di sekolah membenciku? Apa aku lupa menyebutkan nama Mia? Atau aku hanya menceritakan soal Genta saja padanya? “Jalan Kak! Gue mau pulang, capek!” Kak Adam menghembuskan napas kencang sekali sebelum akhirnya mobil pun melaju kembali. Aku memalingkan wajah, menghadap pintu lalu memejamkan mata. Aku gak nyangka bisa ribut begini sama Kak Adam. Kalo gini ceritanya, aku beneran cuma punya Kemal. Tapi, aku jadi penasaran, Kemal kalau disuruh milih antara aku atau Kak Adam, dia bakal pilih siapa ya? Kalo pilihannya Kak Adam yang mana adalahb sahabatnya sedari dulu, fix sih aku beneran gak punya siapa-siapa, yang percaya sama aku, yang belain aku. Sedih. -tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN