Party!
Gilak sih ini rumah warisan udah rame banget, penuh sesak oleh angkatanku. Plus alumni yang mungkin ada sekitar 20 orang, termasuk Kemal dan Kak Adam.
“Fath, coba cek itu minumannya enak gak?” tanyaku, Fathia, teman seangkatanku itu hanya mengangguk.
Kesal, aku akhirnya mendekati bowl super besar tempat minuman selamat datang diletakkan, menyiduk sedikit lalu menuangkannya ke gelas. Menyesap minuman ini, aku merasa kurang soda, jadi kuambil dua kaleng soda dari kulkas lalu menuangkannya ke dalam bowl tersebut, setelah itu kucicipi lagi, dan ya... pas deh rasanya.
Kepalaku pusing sumpah, ngerasa banyak banget orang di rumah ini. Jadi lah aku mencari angin di luar.
Halaman belakang, ramai sekali, Kemal dam Kak Adam ada sana, bermain beer pong. Aku sendiri melipir ke bagian samping rumah, tempat sebuah jacuzzi berada, ketika aku mendekat, eh ternyata sudah ada dua pasang orang berendam di sana. Hih! Padahal kan aku pengin rendem kakiku.
Bingung mau kemana, aku jadi duduk di rumput, di belakangku ada semak-semak tanaman asoka, udah lah. Bentaran dulu di sini.
Dari tempat dudukku ini, aku melihat Kemal, ia tampak lepas, tertawa dan bermain bersama Kak Adam dan entah siapa saja di sana. Hatiku adem gitu liat Kemal happy. Tapi pandanganku teralihkan ke Kak Adam saat Mia datang menghampirinya. Keduanya lalu celingak-celinguk menebar pandangan sebelum akhirnya kulihat Kak Adam pamit ke Kemal. Terlihat Kemal seperti memberikan sesuatu ke Kak Adam.
Aku bangkit berdiri, menuju halaman samping rumah ini. Untungnya di sini sepi. Aku duduk di kursi yang ada, menyambar toples berisi makanan ikan lalu menebarnya ke kolam koi kecil di depanku.
Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.
Kemal❤:
Kamu di mana sayang?
Kok aku cariin gak ada?
Aku tersenyum membaca pesan tersebut, kemudian membalas.
Me:
Di samping nih
Kolam koi
Lagi kasih makan ikan
Pesan terkirim, dan langsung dibaca juga oleh Kemal, namun ia tak membalasnya.
Hanya jeda sekitar satu menit dari pesan dikirim, Kemal muncul, tersenyum ketika ia berjalan mendekat.
“Kenapa sendirian di sini?” tanyanya.
“Pusing, nanti mah aku gak mau ikutan lagi ah,” kataku.
“Kamu pusing gara-gara gak nikmatin acaranya,” ucapnya lalu duduk di lengan kursi yang kududuki, membuatku langsung memeluk pinggangnya.
“Nikmatin acaranya tuh harus gimana? Aku gak mau minum minuman alkohol begitu, gak suka,” kataku, ya aku gak suka, aku pernah nyoba dan gak mau deh, minum miniman yang membakar tenggorokanku.
“Ya gak ada yang harusin kamu minum juga kok sayang, ayok sini, berdiri!” ajak Kemal, ia berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku.
Kusambut uluran tangan tersebut, lalu berdiri. Kemal menarikku mendekat, meletakkan tangannya di pinggangku kemudian mengajak berdansa.
“Gak cocok, musik jedag-jedug begitu kok kita dansa begini?” kataku.
“Ya gak harus ikutin irama lagu, sayaang, nikmatin aja.”
Aku mengangguk, mendempelkan badan, menyandarkan kepala ke bahu Kemal lalu bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai arahannya.
Asli, aku suka begini, menghabiskan waktu berdua sama Kemal tuh enak banget.
“Kamu kasih apa ke Kak Adam?” tanyaku.
“Eh?” Kemal sedikit menarik diri, terkejut karena pertanyaanku.
“Kenapa?”
“Kamu liat apa tau dari orang?” ia malah balik bertanya.
“Jawab aja sih,”
“Kunci kostan,”
“Ngapain kamu ngasih kunci kostan ke Kak Adam?” tanyaku.
“Buat itulah...” jawab Kemal, gak jelas. Itulah? Itulah apaan? Ya, aku sih bisa aja sok mengerti maksud perkataannya, tapi... kaya gak mau aja gitu percaya kalau Kak Adam... ah udah lah.
“Kamu kok mau-maunya ngasih kunci kostan ke dia?” aku melerai pelukan kami, kembali duduk di kursi yang tadi. Kemal tersenyum tipis, ia duduk di samping kolam, menghadap ke arahku.
“Dia pinjem, yaudah aku kasih,”
“Sering Kak Adam begitu?” tanyaku, Kemal tak langsung menjawab.
“Yaang?!” seruku menuntut jawaban darinya.
“Itu urusan dia, Sayaang. Udah lah,”
“Kamu kok mau tempat kamu dipake buat yang kaya gitu?”
Kemal hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, bikin aku kesel.
“Kamu tahu Kak Adam pacaran sama Mia, tapi kamu gak pernah bilang sama aku, kenapa?”
“Ini tuh kamu lagi ngajak debat? Ngajak berantem? Apa gimana?”
“Hah? Siapa yang ngajak berantem, orang aku cuma nanya!” kataku pelan.
“Nada suara kamu gak kaya biasanya sayang, beda. Dan gaya kamu nyampein pertanyaan tuh menyudutkan, seolah aku ngelakuin kesalahan karena gak bilang soal Adam,”
“Ya aku sebel aja, Kak Adam, kamu, gak pernah ada cerita sama aku soal semuanya. Aku tahu Kak Adam sama Mia aja dari Ari sama Genta! Kak Adam, Kakak aku sendiri, gak bilang apa gitu kek sama aku. Kamu juga, kamu gak kasih tau aku apa-apa,”
“Adam cerita sama aku, kapasitas aku apa buat ceritain masalah dia sama kamu? Aku sahabatnya Adam, sayang!”
“Kamu pacar aku!”
“Ya tapi saat Adam curhat, aku memposisikan diri sebagai sahabatnya, bukan sebagai pacar kamu,” ucap Kemal tegas. Tapi itu malah membuatku jadi makin kesal.
“Saking sahabatnya yaa, sampe mau kamar kostnya sendiri dipake yang gak jelas!”
Kemal diam, tidak menyahut. Jadi aku pun diam. Hening cukup lama, sampai kudengar Kemal menghembuskan napas kencang, lalu kami saling bertatapan.
“Kamu maunya apa sekarang? Marahan kita ceritanya nih?” tanyanya, nada suaranya tenang, tapi aku sendiri masih kesal, jadi aku diam, hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
Kami saling diam lagi.
Aku tuh sebenernya gak mau marahan sama Kemal gini, cuma denger dia ngasih kunci kostan-nya ke Kak Adam tuh bikin jengkel. Kok ya mau-maunya?
Terus, Adam. Gosh, Adam. Kakakku, sama Mia. Pikiranku macem-macem banget ini. Ada sedikit perasaan gak ikhlas gitu liat Kak Adam sama Mia. Well, mungkin lain cerita kalau Mia tidak membenciku. Lha ini?
Aku bahkan gak tahu mauku apa. Posisi sendirian gini, harusnya aku gak ngajak Kemal berantem sih. Aku butuh dia buat tenangin diri.
“Sayaang?” Kemal berdiri di depanku. Aku mendongkak untuk menatapnya, ia tersenyum kecil.
Kupeluk pinggangnya, ia juga memelukku, mengusap rambutku lalu terasa sebuah ciuman di puncak kepalaku.
“Aku gak mau debat sama kamu,” bisiknya.
“Aku bosen di sini,” ujarku, Kemal lalu melepas pelukannya, tersemyum menatapku.
“Kamu mau ke mana? Mau pulang?”
“Gak, aku belum mau pulang, pengin berdua sama kamu, tapi gak di sini, berisik,”
“Yaudah, yuk!” Ia menggengam tanganku lalu membawaku keluar.
Mengendarai motornya, aku memeluk Kemal dari belakang, gak tahu ini aku mau dibawa kemana, tapi yaudah, aku gak peduli, yang penting aku bisa berdua sama dia. Sumpah sih, aku lagi ada di posisi gak ngerti sama perasaanku.
Aku marah sama Mia yang sampe sekarang masih jutekin aku.
Aku marah sama Kak Adam yang gak cerita soal hubungan dia.
Aku marah sama Kemal yang biarin aku gak tahu apa-apa.
Terlalu banyak kemarahan dalam hatiku. Bikin aku pusing memproses emosi ini bagaimana.
Tak melihat jalanan, aku mendongkak ketika kami sampai di sebuah rumah kecil, gelap.
“Bagus lah, sepi,” ujar Kemal, entah pada siapa.
“Yuk!” ajaknya.
Aku agak ragu, tapi yaudah lah, aku percaya sama Kemal. Jadi aku mengikutinya yang menggandeng tanganku ke dalam.
Di depan rumah, Kemal mengangkat sebuah pot, lalu mengambik kunci yang ada di bawahnya. Kemudian membuka pintu di depan kami denhan kunci tersebut.
Aku masih diam di ambang pintu ketika Kemal masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampunya.
Dari depan pintu, aku dapat melihat kalau rumah ini mungil. Satu ruangan luas, di ujungnya terdapat dapur, lalu ada dua pintu di sebelah kanan yang ku tebak adalah kamar dan kamar mandi.
“Ayok masuk!” ajaknya, aku mengangguk lalu melepas flat shoes yang kukenakan sebelum melangkahkan kaki ke rumah ini.
Ruangan yang luas ini hanya diisi oleh sebuah sofa, beralaskan karpet, lalu ada banyak bantal sofa, dan terdapat juga meja panjang yang di atasnya berteger TV ukuran 32 inch.
Begitu aku masuk, Kemal menutup pintu di belakangku, bisa kudengar juga ia memutar anak kuncinya. Lalu, Kemal memelukku dari belakang.
“Kenapa sih? Kamu tuh kenapa?” tanyanya.
“Ini kita di mana?” aku balik bertanya.
“Markas Alses, kalo kamu gak mau balik yaudah di sini dulu aja,”
Masih memelukku dari belakang, Kemal membawaku duduk, jadi posisinya aku dipangku gitu sama dia.
“Mau cerita gak kamu kenapa?” tanyanya.
Aku turun dari pangkuannya, duduk di sampingnya, bersandar.
“Gak tahu, aku kaya pengin marah aja,”
“Marah ke aku?”
“Ya itu juga,”
“Yaudah, marah aja, keluarin aja unek-uneknya, daripada kamu gak jelas begini, aku ikutan pusing,”
“Tapi aku tuh pengin banget marah sama Mia, pengin nanya sama dia maksudnya apa? Dia sampe nyuruh Kak Adam ngekost biar katanya Kakak gak tinggal bareng aku. Emang aku virus apa sampe Kakak gak boleh deket aku?”
Kemal hanya mengangguk, lalu ia menarikku ke dadanya, dan kami pun jadinya tiduran di sofa yang gak terlalu panjang ini.
“Kakak juga, gak ada jelasin apa-apa. Tau cewek toksik begitu, masih aja diterusin, kesel!”
Kemal masih tak menyahutiku, dia malah mencium keningku, membiarkan aku mengoceh begitu saja.
“Kamu! Kenapa gak bilang sama aku?”
“Ya itu kan masalahnya Adam sayang, ngapain aku ikut campur, ya kan? Harus dia yang beresin. Aku udah bilang ke Adam, untuk temuin kamu sama Mia, bahas permasalahannya apa, tapi kata Adam, Mia gak mau,”
“Kan, ada masalah tuh kayaknya sama otaknya Mia!” seruku kesal.
“Dah kamu jangan marah-marah terus!” Kemal menghujani pipiku dengan ciuman kecil.
Aku mengangguk, lalu memeluk Kemal dan membenamkan wajahku di dadanya, ia membalas pelukanku erat.
Kutarik napas panjang, menenangkan diri. Mungkin nanti ya, aku akan bicara berdua dengan Mia soal ini. Buat sekarang, ya aku nikmatin aja dulu waktu berdua bareng Kemal.
“Kamu bener gak mau pulang?” tanya Kemal, kutarik diriku dari pelukan ini, biar enak ngomongmya.
“Aku kan tadi berangkat bareng Kak Adam, kalau dia gak balik, yaudah aku juga engga,'
“Oke deh kalau kamu maunya gitu, ini mau di sini aja apa di kamar?”
Aku diam.
Entar kalau di kamar ngapain ya? Pikiranku langsung berkelana kemana-mana. Kak Adam aja begitu, apa aku ikutan juga ya? Tapi sama Kemal, hehehehe!
“Heh? Kamu ditanya kenapa malah bengong?”
“Pindah aja sayang, di sini sempit,” jawabku.
Kemal tersenyum lalu kami pun beranjak dari sofa ini, Kemal membuka pintu terdekat, lalu mempersilahkan aku masuk.
Kamarnya lumayan luas karena hanya berisi kasur busa ukuran queen yanh diletakkam begitu saja di lantai, pake alas tiker sih. Ya, yaudah lah, maklumin aja, markas geng cowok-cowok, mau ngarepin apa coba ya?
Aku naik ke kasur, surprisingly, sprei-nya gak berdebu loh, bersih, jadi ya aku berani aja rebahahan di kasur ini karena gak kotor. Kemal menyusulku, berbaring di sampingku.
“Mau tidur kamu? Apa gimana?” tanyanya.
Kemal tuh yaa, gak ada tahu dia tuh ngasih kode yang aneh-aneh, atau modus apalah gitu. Kacau sih. Tapi kan kalo aku yang mulai duluan mah malu atuh ya?
Ih serba salah banget.
“Belum ngantuk aku,” akhirnya aku menjawab.
Kemal lalu menarikku ke dadanya, aku refleks langsung memeluknya.
“Gila loh!” katanya tiba-tiba.
“Kenapa?” tanyaku.
“Ya gak kebayang aja, aku pacaran sama adeknya temen sendiri. Waktu ketemu kamu pertama di sekolah, gak nyangka aja, bisa jadi sesayang ini sama kamu,”
Aduuuhhh, aku mau terbang boleh gak?
“Sama, aku juga gak nyangka bisa sayang banget sama kamu. Kan dulu kamu nyuruh aku deketin cowok lain biar terhindar dari gosip bikinan Genta,”
“Hahah kacau ya? Tau gitu dari awal aku pacarin aja kamu ya?”
“Iya sihhhh!” seruku.
Kemal tertawa, kini posisinya kami berbaring menyamping, saling berhadapan. Kemal dengan lembut mengelua pipiku, senyum kecil masih merekah di pipinya.
Ketika Kemal mendekat, aku otomatis memejamkan mata, bibirnya mendarat dengan lembut di bibirku. Ketika aku mengecap bibir tersebut, masih terasa sisa alkohol yang ia minum menempel di bibirnya, dan itu membuay bibirnya makin memabukan buatku.
Aku sedikit mengeluh pelan, ketika Kemal menggigit bibir bawahku, namun ia langsung melumatnya membuat rasa sakitnya hilang.
Kurapatkan tubuhku ke tubuh Kemal, tanganku bahkan sudah bergerak mengacak ramburnya. Lalu, terasa sebelah lengannya menyusup ke dalam blouse yang malam ini aku kenakan.
Ugh!
Aku sedikit tersentak ketika Kemal meremas dadaku, sedangkan ciumannya kini turun ke area leher.
Aku bingung, benarkah ini yang kumau sekarang? Atau aku akan menyesal pagi nanti? Tapi... tapi sentuhan Kemal benar-benar terasa nikmat dan nyaman di tubuhku, membuat pikiranku tenang, terbang melayang hingga langit ke tujuh.
Kemal memutar posisi, kini dia berada di atas, ke dua tangannya sudah masuk ke dalam bajuku dan ciumannya pun kini makin turun ke daerah tulang selangka, kemudian lidahnya berjalan naik ke leher sampai belakang kuping. Membuatku meremas sprei kuat-kuat.
Gosh!
Ketika Kemal akan membuka bajuku, aku menahan tangannya. Aku belum yakin.
Kutatap mata Kemal yang terlihat menghitam, lalu kutarik wajahnya agar dapat mencium bibirnya. Kemal membalas ciumanku namun kali ini lenih ganas.
“Yaang, aku belum siap, gak apa?” ucapku pelan di sela-sela ciuman kami.
Kemal menarik diri, ia mengangguk, lalu lanjut menciumku lagi.
“Tapi kalau gini-gini aja gak apa kan? Gak sampe begitu?” ujarnya menanyakan kepastian.
“Oke, kalau gini masih oke!” kataku.
Kemal tersenyum, dan ia pun melanjutkan ciuman yang tertunda itu.
-tbc-