Adrian menggila. Bukan dirinya yang berhasil menggoda Vania dengan buaian bibirnya, tapi dirinyalah yang malah tergoda, terbuai serta mabuk kepayang saat bibirnya berhasil mendarat di bibir manis Vania. Seketika keinginannya untuk memiliki Vania semakin menggebu-gebu. Semua kilasan malam panasnya dengan Vania malam itu terputar jelas. Tubuhnya seolah merindukan tubuh Vania. Bibirnya sungguh merindukan bibir manis Vania hingga tanpa sadar Adrian menyesap bibir itu dengan buas dan liar, meluapkan semua kesedihan dan kegalauannya yang tiba-tiba saja sirna tidak berbekas. Perasaan baru yang belum pernah ia rasakan membuncah di dadanya. “Ini benar-benar gila. Kenapa wanita ini bisa berbeda daripada wanita-wanita lain yang pernah aku cium. Bibirnya begitu memabukkan. Sepertinya aku tidak ak

