Ancaman Balik Adrian

1041 Kata
Adrian berdoa di dalam hati agar Vania bisa berubah pikiran ketika melihat bukti video yang ditunjukkannya. Beberapa menit yang lalu hatinya benar-benar kacau. Ada perasaan aneh yang menyergap jiwanya ketika ia melihat Vania mengamuk memukuli Heri. Adrian tidak pernah menduga wanita yang begitu cantik itu memiliki ilmu bela diri. Setidaknya Vania memiliki ilmu bela diri dasar sehingga bisa memukul laki-laki berpostur tinggi seperti Heri. Namun, bukan itu yang membuatnya kacau, tapi kedekatan Vania dengan Nick yang sampai sekarang terus-terusan memegangi tangannya, yang membuat Adrian gelisah. Ada perasaan tidak suka, perasaan benci dan kesal karena Vania sepertinya begitu akrab dengan laki-laki itu. Meskipun ia tidak begitu mendengar apa saja yang diucapkan oleh laki-laki itu ketika memeluk Vania, tapi tindakan laki-laki itu benar-benar membuatnya gundah. Namun, lagi-lagi Adrian tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas ia tidak suka dengan laki-laki yang bernama Nick itu. “Apa ini?” Vania mengurai tautan tangan Nick, kemudian membuka map yang disodorkan oleh Adrian dan mendapati sebuah flashdisk di sana. Tanpa membuang waktu ia segera menonton isi flashdisk tersebut dan akhirnya menganga karenanya di mana ia melihat dengan jelas apa yang terjadi malam itu. CEO cantik itu begitu marah dan juga kesal sehingga sama sekali tidak berpikir untuk menyelidiki apa yang terjadi pasca insiden itu. Yang ada di otaknya, Heri dan Adrian bekerja sama dan fokusnya mulai maju ke depan, yaitu untuk menjatuhkan perusahaan Heri juga Adrian dalam waktu dekat. Ia tidak pernah menganalisa sampai ke sana. “Kurang ajar! Dasar pria sialan!” Tanpa pikir panjang Vania kembali mendekati Heri yang sedang dipegangi oleh dua security-nya, kemudian tak ragu menamparnya hingga bibirnya berdarah. “Kamu memang benar-benar b******k, Heri. Ternyata kamu yang menjebakku dengan obat perangsang lalu membawaku ke kamar Adrian,” desis Vania emosi. Nafasnya memburu, matanya melotot, begitu geram dengan perbuatan laki-laki jahat itu. Adrian segera mendekati Vania dan juga Heri. “Karena itu aku datang kemari ingin mengatakan padamu kalau aku sama sekali tidak terlibat dalam konspirasi yang diciptakan oleh Heri. Aku juga korban di sini. Aku tidak tahu kalau kamu bukan hadiah seperti yang dikatakan oleh Heri.” Adrian menjelaskan duduk perkaranya. “Hadiah?” Vania sontak menatap Adrian. “Hadiah apa?” “Si b******k ini mengatakan kalau kamu menyodorkan diri untuk ditiduri malam itu. Karena Heri saat itu sedang tidak mood, dia berpikir untuk menghadiahkan kamu padaku. Saat itu aku tidak pernah berpikir kalau kamu adalah wanita baik-baik,” terang Adrian gamblang. “Kurang ajar!” geram Vania kesal lalu kembali melayangkan tinjunya ke wajah Heri hingga Nick terpaksa menghentikan amukan sahabatnya. “Sudah, Vania! Sayangi tangan kamu!" ucap Nick memegangi tangan CEO cantik itu. Vania kembali menatap geram pada Adrian. “Biarpun begitu, kamu tetap salah, Adrian.” “Ya, aku akui aku memang salah. Tapi yang paling bisa disalahkan di sini adalah dia. Karena dia yang menjebak kamu dan ikut menarikku dalam permasalahan tak bertepi,” tandas Adrian membela diri sambil menahan kesal saat melihat mesra dan akrabnya Nick pada Vania. Sementara Heri sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tubuhnya serasa remuk dan kebusukannya dikuliti luar dalam di sana. Tak ada yang bisa Heri lakukan selain menerima nasib yang akan menimpanya. “Jadi, aku minta kita berdamai. Jangan permasalahkan soal ini lagi! Jebloskan saja Heri ke penjara! Itu sudah cukup, kan? Kuharap kamu tidak menyalahkanku lagi,” lanjut Adrian mengutarakan keinginannya. Vania tidak ingin semua Rahasianya terbongkar di depan staf keamanan yang sedang memegangi Heri. Meskipun ia tahu security-nya juga tidak akan mengatakan apa pun tentangnya, tapi ia malu jika Adrian membahas soal malam itu di depan stafnya. CEO cantik itu segera memberi perintah pada Rully untuk membawa Heri ke kantor polisi. “Bawa dia ke kantor polisi sekarang juga, Rully!” “Nggak sekalian sama bukti Pak Adrian, Bu. Biar polisi bisa segera menyeretnya ke penjara?” Rully menanyakan. Andrian melotot kesal pada Rully. “Siapa yang akan masuk penjara, hah? Kenapa kamu sembarangan saja bicara? Kalian tidak berhak menghakimiku karena aku juga seorang korban.” “Pergilah, Rully!” ujar Vania lagi. Rully mengangguk, kemudian segera memberi kode pada dua security untuk menyeret Heri keluar dari ruangan Vania. Tomi yang sejak tadi hanya menyimak, kini ikut menengahi, berniat berdamai dengan Vania. “Seperti yang dikatakan oleh sahabat plus atasanku tadi, Adrian hanyalah korban. Dia juga tidak tahu kalau kamu bukanlah wanita baik-baik. Jadi, turutilah permintaannya untuk berdamai, Bu Vania!” “Yang terjadi masalahnya bukan itu. Dia tahu apa yang terjadi padaku. Saat itu aku tidak bisa mengendalikan diriku. Harusnya setelahnya dia—” Vania tak sanggup melanjutkan kata-katanya, menahan pedih di hatinya kala ingat kejadian malam itu. “Aku tahu. Tidak usah kamu bahas lagi. Aku salah. Kenapa aku menuruti hawa nafsuku? Harusnya aku tidak melakukannya berkali-kali ketika aku mengetahui kamu masih perawan. Harusnya aku tahu persis kalau kamu adalah korban, tapi aku malah menggila semalaman.” Adrian mengakui kesalahannya. “Diam!? Kamu pikir aku bisa diam saja setelah diperlakukan demikian?” Mata Vania melotot tajam. “Aku tidak akan membiarkan kamu melaporkanku ke polisi, Vania. Kalau kamu melaporkanku, maka aku akan menyebar video ini.” Dengan sangat terpaksa Adrian balik mengancam Vania karena sepertinya Vania tak bisa diajak berdamai. “Apa maksud kamu?” desis Vania garang. “Kamu terus mengancamku, maka terpaksa aku melakukan ini karena kamu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Aku tidak mau masuk penjara. Hidupku masih panjang. Aku juga harus menjalankan perusahaan warisan papaku dengan baik dan menafkahi mamaku. Aku tidak mau hanya karena kesalahan Heri, aku harus menerima semua akibatnya. kalau kamu tidak ingin melupakan semua masalah kita dan berdamai, maka dengan sangat terpaksa kita berdua harus sama-sama menerima konsekuensinya.” “Kurang ajar!” Vania mengepalkan tangannya, bersiap memukul Adrian. Nick buru-buru memegangi Vania agar tidak melakukan niatnya dan tindakan Nick itu menyulut rasa kesal di hati Adrian. “Aku memang akan masuk penjara, tapi aku bisa minta bantuan om Pedro untuk mengeluarkanku dari penjara, tapi kamu akan kehilangan harga diri kamu. Setelah aku menyebar semua video ini, semua orang di negeri ini akan tahu kalau kamu kalau kamu tidak perawan lagi, kalau kamu pernah menjadi korban obat perangsang dan pernah bermalam dengan seorang pria. Bahkan aku tidak akan malu mengungkapkan kalau kita pernah tidur bersama. Bagaimana, Vania? Apa kamu masih ingin melaporkanku ke polisi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN