Mencoba Bernegosiasi

1720 Kata
“Kita langsung berangkat sekarang, Nick. Semakin cepat semakin baik. Kita harus menyerahkan semua bukti, sekalian menyerahkan bukti kejahatan Heri biar mereka berdua diciduk secara bersamaan.” Dengan ceria Vania mengajak sahabatnya untuk segera melaporkan kejahatan Adrian dan Heri ke kantor polisi. Ia tak sabar melihat pertunjukan menarik saat kedua CEO b******k itu ditangkap oleh polisi. “Oke, aku juga sudah meminta manajer Rully untuk menghandle semua urusan proyek kita, jadi kita bisa fokus kantor polisi saja untuk menyerahkan bukti-bukti ini.” Nick tersenyum pada Vania lalu mengulurkan tangannya. “Yuk, kita berangkat sekarang!” Vania meraih tangan sahabatnya, kemudian bergandengan, berniat langsung ke parkiran lalu berangkat menuju kantor polisi. Senyum terus-terusan tersungging di bibir Vania, merasa lega dan bahagia bisa menjebloskan dua orang yang sudah mencabik-cabik kehormatannya ke dalam penjara. Bukan hanya itu, CEO cantik itu senang bisa melihat kehancuran dua perusahaan di depan matanya meskipun di hati yang paling dalam, terbersit luka yang begitu membekas. Setidaknya ia bisa puas menyengsarakan dua orang yang bertanggung jawab akan penderitaan yang ia rasa. Namun, belum sempat Vania melangkahkan kakinya keluar ruangannya bersama Nick, tiba-tiba suara Heri yang begitu memelas terdengar di telinganya dan belum sempat mencerna semuanya, Vania sudah mendapati Heri memeluk kakinya, mengemis meminta ampunan agar tidak dijebloskan ke penjara. “Ampun, Vania! Ampuni kesalahanku! Jangan jebloskan aku ke penjara!” Vania mencibir sinis. “Apa yang sedang kamu katakan, Heri? Apa kamu mimpi? Kamu ngelantur? Lagi mabuk?” “Aku nggak mabuk, Vania. Aku tahu anak buah kamu sudah mengobrak-abrik semua bukti-bukti kejahatanku di masa lalu. Aku memang jahat, aku kejam, tapi aku masih memiliki anak dan istri yang harus aku nafkahi. Pertimbangkanlah anak istriku! Tolong jangan laporkan aku ke polisi.” Heri terpaksa mengemis pengampunan Vania karena tak ada jalan lain lagi. “Apa aku tidak salah dengar? Selama ini juga kamu tidak pernah menafkahi istri kamu dengan benar. Kamu pikir aku tidak tahu apa? Kenapa kamu masih meragukan kepintaranku?” cetus Vania ketus. “Maafkan aku, Vania! Aku akui aku salah,” pinta Heri lagi. Ia tak peduli lagi soal harga diri. Yang penting ia selamat dan tidak masuk jeruji besi. “Apa kamu pikir aku mau mengampuni kamu? Aku benar-benar sudah gila kalau melakukan itu di saat aku sudah mengantongi bukti kejahatan kamu membunuh seseorang wanita yang sedang mengandung anak kamu. Kamu membunuh anak kamu sendiri beserta ibu kandungnya. Kenapa aku harus membiarkan pembunuh seperti kamu melenggang bebas?” Heri meraung menghiba sambil bersujud di kaki Vania. “Jangan lakukan itu, Vania! Tolong kasihani istri dan anakku!” Vania jengah. Ia menepis tangan Heri yang sedang melingkar di kakinya sambil membentak kasar. “Jangan pegang-pegang aku! Najis tahu nggak? Kamu memang harus mendekam di penjara.” “Tidak, Vania ... jangan!” jerit Heri takut membayangkan tinggal dalam sel. “Kalau kamu tahu diri, kamu tidak akan mungkin berselingkuh dengan istri orang, padahal kamu punya istri dan seorang anak. Istri kamu adalah istri yang memiliki usaha sendiri, tapi tetap saja mata kamu jelalatan sana-sini. Dasar laki-laki tak tahu diuntung? Bukannya menafkahi istri, kamu sibuk menafkahi wanita-wanita muda di luar sana yang kamu jadikan sugar baby. Bahkan kamu memoroti uang istri seorang CEO. Kamu juga doyan jajan. Menjijikkan!” Vania bergidik jijik melihat laki-laki sampah di depannya. “Kamu memang benar-benar b******k. Aku tak akan mengampunimu. Kamu telah membuatku kehilangan sesuatu yang paling aku jaga selama ini. Sampai mati pun aku tak akan memaafkan kamu. Kamu harus mendekam di penjara selamanya sehingga kamu tidak akan diberikan akses untuk bermain wanita lagi,” sambung Vania geram. “Jangan lakukan itu, Vania! Aku mohon jangan lakukan itu!” Heri kembali mencoba memegangi kaki Vania. Vania muak. Ia menendang Heri dengan kasar. “Minggir! aku harus ke kantor polisi sekarang juga.” Heri kembali memegangi kaki Vania, kembali memelas padanya, membuat Vania gerah. Ingatannya ketika malam itu terputar lagi di mana ia harus kehilangan keperawanannya karena pengaruh obat perangsang yang pasti dibubuhkan oleh si b******k ini. Harga dirinya, kehormatan yang sudah ia jaga selama 27 tahun hancur berkeping-keping. Tidak ... ia harus memberikan pelajaran pada laki-laki ini sebelum melaporkannya ke polisi. Tanpa berpikir panjang Vania segera menarik kerah baju Heri, membuatnya berdiri lalu dengan membabi buta, Vania memukul, menendang serta mendorong tubuh Heri berkali-kali. Heri yang tidak siap, tentu saja tidak bisa membalas semua perlakuan Vania padanya. Ia bahkan tidak percaya kalau Vania bisa ilmu bela diri sehingga semua yang ia lakukan untuk menangkis serangan CEO cantik itu berakhir gagal total. “Ampun Vania! Ampuni aku! Lepaskan aku!” rintih Heri kesakitan. Vania terus mengayunkan tinjunya sambil meluapkan emosinya. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kalau menuruti emosiku, rasanya aku ingin membunuhmu sekarang juga. Sudah mati pun, kamu tidak akan bisa mengembalikan kehormatanku. Kamu memang laki-laki j*****m. Semoga keturunan kamu akan merasakan apa yang aku rasakan,” jerit Vania sambil terus memukuli tubuh Heri berkali-kali, membuat Nick yang berdiri di sana tidak bisa membiarkan Vania begitu saja. Tadinya ia membiarkan Vania memukuli Heri untuk memuaskan batinnya, tapi pada akhirnya aksi yang dilakukan Vania melukai dirinya sendiri karena Nick melihat tangan sahabatnya sudah merah sekarang karena tak henti-hentinya meninju wajah, perut, serta menendang kaki Heri. “Hentikan Vania! Kalau mau diwakilkan, biar aku yang memukulnya.” Nick memegangi tangan kanan Vania yang terus meninju Heri. “Lepaskan aku, Nick! Aku belum bisa puas kalau belum membunuh laki-laki sialan ini.” “Vania, masa depan kamu masih panjang. Kamu tidak boleh mengorbankan masa depan kamu hanya untuk membunuh sampah sialan ini,” tegur Nick menyabarkan. “Lepas!? Lepaskan aku, Nick! Aku masih ingin memukuli b******n itu.” Nick semakin erat memegangi tangan sahabatnya lalu memeluknya seraya menepuk punggung belakang Vania, berusaha menenangkan sahabatnya yang masih sibuk mengatur nafas dan emosinya agar kembali stabil. Pria tampan itu juga sudah menghubungi manajer Rully dan juga security ketika Vania mulai memukuli Heri. Sementara Heri masih meringkuk di lantai, memegangi perut dan wajahnya yang lebam karena kebrutalan Vania. “Sabar, Vania! Dia pasti akan menderita lebih perih di sel tahanan nanti. Selain tidak bisa melampiaskan hasratnya pada wanita mana pun, dia juga pasti akan disiksa oleh para narapidana. Aku pastikan dia akan mendekam selamanya di sana. Sudah cukup! Jangan kotori tangan kamu untuk melakukan hal-hal tidak perlu!” “Tapi dia—” “Sudahlah! Sebentar lagi banyak orang yang akan datang kemari. Kamu tidak boleh mengungkit hal itu lagi,” potong Nick. “Tapi, Nick—” Nick mengurai pelukannya lalu memegangi bahu sahabatnya, menatapnya dalam. “Masa depan kamu masih panjang. Akan ada banyak laki-laki yang mendekati kamu karena kecerdasan kamu bukan karena masa lalu kamu.” “Mana mungkin ada laki-laki baik-baik yang mau padaku lagi, Nick. Dan itu semua karena dia,” rintih Vania perih sambil menoleh Heri geram. “Hei, dengarkan aku! Lihat aku! Aku sudah bilang sama kamu, kalau tidak ada laki-laki yang bisa menerimamu, aku mau kok menikahi kamu.” Nick bicara serius. Vania yang tadinya benar-benar emosi, akhirnya bisa sedikit tertawa. “Bisa-bisanya kamu melawak saat aku sedang sedih, Nick.” “Aku enggak ngelawak. Aku serius. Aku sudah tahu seluk-beluk kamu. Aku sudah tahu kamu siapa. Aku kenal kamu luar dalam. Hanya laki-laki gila yang nggak mau sama kamu.” “Tapi aku sudah memiliki kekurangan, Nick,” sahut Vania insecure. “Kekurangan kamu tidak akan terlihat kalau kamu tidak mengatakannya.” Vania mengerucutkan bibirnya. “Mana mungkin mereka nggak tahu. Orang yang menikahi aku pasti akan tahu kalau aku sudah—” “Sssstttt!!!” Nick meletakkan jari telunjuknya di bibir Vania. “Berhentilah bicara soal ini, Vania! Lebih baik kita seret laki-laki ini ke penjara sekarang juga.” Vania mengatur nafasnya sejenak, baru kemudian menatap ke arah Heri yang sudah tersungkur karena pukulannya. Ia juga tidak menyangka pukulannya bisa membuat Heri babak belur separah itu. Nick akhirnya bisa bernapas lega melihat security datang bersama Rully yang langsung memegangi tangan Heri. “Mau dibawa ke mana b******n ini, Pak Nick?” tanya Rully. Nick segera menyerahkan sebuah map dengan tulisan nama laki-laki b******k itu pada Rully. “Bawa laki-laki ini ke kantor polisi sekarang juga! Aku masih harus menenangkan Vania. Ini bukti-bukti kejahatannya. Jebloskan laki-laki itu ke penjara dan biarkan dia membusuk di sana selamanya!” Staf security siap menyeret laki-laki itu, sementara Rully memegang map berisi bukti kejahatan Heri, bersiap akan membawanya ke kantor polisi. “Tunggu, Manajer Rully,” panggil Nick lagi. “Iya, ada apa, Pak?” “Sebenarnya kami yang ingin membawa bukti-bukti kejahatan Adrian ke kantor polisi, biar polisi langsung menciduknya dan b******n itu, tapi karena Vania sudah begini, sepertinya dia tidak akan mampu untuk pergi ke sana bersamaku. Ini, bukti kejahatan Adrian. Bawalah sekalian! Serahkan kepada kepolisian dan biarkan ke polisi menangkapnya dalam waktu dekat.” “Baik, Pak.” Rully mengambil map satu lagi. Namun, belum sempat Rully memegang bukti yang disodorkan oleh Nick, tiba-tiba Adrian langsung merebut map tersebut, membuat Vania, Nick, dan Rully terkejut. Adrian dan juga Tomi sudah cukup lama berdiri di sana menyaksikan apa yang terjadi dan Adrian seketika menghambur mendekati Rully saat mendengar ucapan Nick lalu secepat kilat merebut bukti tentang dirinya yang akan dibawa ke kantor polisi. “Jangan laporkan aku, Vania! Aku bisa menjelaskan semuanya,” teriak Adrian langsung menyembunyikan map yang ia rampas dari tangan Nick tadi. Vania seketika emosi. “Kenapa kamu datang kemari, hah? Lebih baik kamu menunggu di rumah sampai polisi menciduk kamu.” “Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu karena semua bukti yang kamu kumpulkan itu tidak benar. Aku tidak pernah mencelakakan seseorang.” Adrian berusaha menjelaskan. Vania tertawa lebar. “Apa kamu pikir aku bodoh? Kamu juga sama seperti Heri, pernah membunuh seseorang. Heri membunuh kekasihnya yang sedang mengandung anaknya, sedang kamu membunuh anak kamu sendiri.” “Itu bukan anakku,” sangkal Adrian. “Bagaimana kamu tahu itu bukan anakmu kalau nyatanya kamu suka menabung benih ke mana-mana dan ketika wanita yang sudah kamu titipi kehidupan dalam rahimnya meminta pertanggungjawaban, kamu malah berniat jahat padanya. Aku sudah mengumpulkan bukti-buktinya bersama sahabatku dan kamu tidak akan bisa menyangkalnya lagi.” Adrian tahu ia tak akan bisa menang melawan Vania. Ia langsung menyodorkan map berwarna biru pada Vania lalu berniat mengajaknya bernegosiasi. “Aku tidak akan membiarkan kamu membawa bukti-bukti ini kantor polisi. Sebaiknya kamu lihat ini! Kamu lihat dulu video serta bukti-bukti yang aku bawa terkait kejahatan Heri, bukan kejahatanku di malam itu, Vania.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN