“Sial! Kenapa perusahaan Adrian bisa maju kembali? Kenapa semua proyek mangkraknya laku terjual bak kacang goreng? Kenapa perusahaannya mendapatkan proyek-proyek baru dari investor yang tidak kukenal? Dasar kurang ajar! Adrian b******k! Kenapa dia begitu beruntung?” batin Vania geram.
CEO cantik itu tidak bisa tidak menggeram kesal di dalam kantornya. Ia bahkan sudah mematahkan beberapa pulpen, saking geramnya ketika ia menelusuri profil perusahaan Marchetti serta berita terbaru terkait perusahaan tersebut di layar ponselnya. Hatinya benar-benar kesal karena mengetahui perusahaan yang sudah ia serang bertubi-tubi bisa naik, merangkak maju kembali, bahkan tidak tergeser, tetap jadi nomor satu dan itu membuatnya emosi.
Nick tahu apa yang mengganggu sahabatnya. Sejak pria itu masuk ke dalam ke kantor, tidak sedikit pun Vania tersenyum. Sepertinya pikiran gadis cantik itu kacau. Mungkin sejak dalam perjalanan menuju ke kantor, Vania sudah tidak konsentrasi lagi dengan sekitar. Buktinya ia sudah memanggil-manggilnya sejak di lobi, tapi Vania sama sekali tidak menoleh.
Hingga akhirnya pria tampan itu mengikuti atasan plus sahabatnya tersebut ke dalam ruangannya. Namun, lagi-lagi Vania tetap bergeming, fokus hanya pada ponselnya dan ia tahu apa yang terjadi. Ini pasti terkait perusahaan Adrian Marchetti.
“Aku tahu apa yang terjadi sama kamu, Vania.”
Vania yang tidak mengetahui kapan Nick masuk, sontak menoleh ke arah suara. ”Kapan kamu masuk, Nick?”
Nick berdecak pelan lalu menarik kursi di depan CEO cantik itu, kemudian duduk. “Kamu pasti benar-benar banyak pikiran sehingga kamu tidak mendengar aku memanggil-manggilmu sejak di lobi.”
“Yang benar? Aku nggak dengar apa-apa,” seloroh Vania jujur.
“Wajar, sih. Kamu terlalu fokus sama ponsel kamu. Sejak keluar dari parkiran kamu terus menatap layar ponsel dan itu pasti terkait dengan perusahaan Adrian, kan?”
Vania tak ragu menunjukkan wajah kesal bercampur sedih pada Nick. “Benar, Nick. Kamu pasti tahu berita terbaru tentang perusahaan itu, kan?”
Nick melempar senyumnya. “Tentu saja aku tahu. Dia bisa maju kembali karena mendapatkan bantuan yang begitu besar dari luar negeri.”
“Hah!? Siapa?” Vania terkejut mendengar informasi dari pria tampan itu.
“Namanya Pedro. Aku tidak tahu apa hubungan laki-laki itu dengan Adrian. Yang jelas mereka sama-sama warga Italia.”
Vania mengepalkan tangannya. “Kurang ajar! Apa kita tidak bisa kita melobi laki-laki itu?”
“Tidak bisa. Dia di luar negeri. Dia berada di Italia. Sepertinya laki-laki itu punya hubungan erat dengan papanya Adrian. Jadi kamu tidak bisa mengintervensinya.” Nick menegaskan kalau Pedro tak bisa mereka jangkau, apalagi dihasut.
“Jadi bagaimana, dong? Bagaimana cara agar aku bisa menjatuhkan perusahaan itu? Kalau dia kembali maju, itu artinya hal yang kita lakukan selama ini sia-sia. Aku sampai rela menumbalkan diriku untuk meeting dengan lima CEO b******k yang merupakan klien Adrian, berharap perusahaannya segera hancur. Tapi, kenapa jadi begini? Kenapa dia mendapatkan klien yang tidak kita kenal?”
Nick tersenyum lalu menyodorkan segelas kopi pada sahabatnya. “Tarik nafas kamu lalu minum kopi ini!”
“Kapan kamu membeli kopi?” tanya Vania heran.
“Tuh, kan? Bahkan kamu tidak tahu aku mampir membeli kopi di kafe bawah.
“Aku benar-benar pusing, Nick. Maaf, ya! Aku benar-benar tidak dengar suara kamu,” seru Vania lalu meraih kopi yang disodorkan Nick.
“Aku tahu kamu pasti benar-benar kesal.”
“Sangat. Aku marah, Nick. Kenapa semua perjuangan kita sia-sia?" keluh Vania. Ia menyeruput kopinya pelan lalu menghembuskan nafas kasar.
“Tidak sia-sia, kok. Aku sudah mendapatkan kartu As dari laki-laki itu,” tandas Nick cepat.
“Maksud kamu?”
Nick menyeringai puas akan temuannya. “Kamu tidak bisa menghancurkannya lewat jalan utama, yaitu merebut semua kliennya, tapi kamu bisa menghancurkan perusahaan itu lebur seperti bubur dengan bukti-bukti yang aku bawa saat ini.”
Mata Vania seketika berbinar-binar melihat sebuah map kertas yang pastinya akan berisi banyak bukti terkait kebobrokan Adrian.
“Kamu serius? Apa isinya?”
Nick menyesap kopinya, bersiap akan menjelaskan temuan bukti yang ia kumpulkan untuk menjatuhkan Adrian.
“Seperti yang kita bahas waktu itu, Adrian memang memiliki masa lalu kelam. Dia memiliki kasus yang sama seperti Heri.”
“Benarkah? Bagus, aku sudah tidak sabar ingin melihat videonya."
"Di dalam map itu berisi bukti dan rekaman CCTV, ada juga tangkapan layar video di mana Adrian menemui seorang wanita, kemudian terlihat membubuhkan sesuatu di dalam minumannya. Sesaat kemudian wanita yang dia temui berakhir keguguran.”
“Gila! Ini benar-benar gila.” Vania geleng kepala.
“Dia memang benar-benar gila. Dia memang laki-laki b******k. Tidak terhitung berapa wanita yang dia tiduri. Dia sudah mematahkan hati begitu banyak wanita. Di awal dia remaja dia merayu wanita di sekitarnya, menjadikannya pacarnya, menidurinya berulang-ulang, tapi tidak ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh. Apesnya dia sampai membuat seorang wanita mengandung. Terlepas anak yang dikandung wanita itu anak Adrian atau bukan, yang jelas Adrian berkeinginan untuk menggugurkan kandungan wanita itu.”
“Bejatnya!” Vania tak habis pikir.
“Iya, sangat b***t dan nakal. Sebenarnya video itu sudah dihapus, tapi ternyata salinannya masih ada. Awalnya aku berniat memulihkan video lama, tapi untungnya aku mendapatkan salinan aslinya hingga tak perlu memulihkan video bukti kejahatan itu lagi.”
Vania tersenyum bahagia. Ia mengacungkan dua jempolnya pada Nick. “Kamu benar-benar hebat, Nick.”
Nick mengibaskan tangannya. Itu semua karena bantuan darimu. Kalau bukan karena dana operasional yang kamu berikan, aku mungkin tidak bisa meminta anak buahku untuk menelusuri video-video dan mencari bukti yang begitu sulit yang terkadang sudah dihapus, bahkan sudah dimusnahkan oleh pemiliknya. Kekuatan uang kamulah sebenarnya yang membuatku bisa menyelidiki lebih dalam semua target yang kamu ingin selidiki.”
Senyuman indah pun kembali terbit di bibir CEO cantik itu, begitu bangga pada sahabatnya yang rendah hati.
“Baiklah, artinya kita bisa menggunakan video untuk melibas Adrian, melaporkannya ke polisi.”
“Tentu. Karena kejadiannya belum terlalu lama, yaitu sekitar beberapa tahun yang lalu, kita masih bisa mengusutnya dan memenjarakannya," sahut Nick yakin.
“Apakah wanita yang ada dalam video ini mau diajak kerja sama?” tanya Vania memastikan.
“Awalnya dia tidak mau diajak kerja sama, tapi setelah kami merayunya, akhirnya dia mau.”
Wajah Vania langsung berseri-seri. “Bagus! Aku tidak ingin perusahaan Adrian semakin berkibar. Secepatnya kita harus melemparkan bom atom agar Adrian masuk penjara dan perusahaannya hancur berkeping-keping.”
***
“Ada apa lagi? Kenapa kamu? Suntuk lagi?” sapa Tomi setibanya Adrian di ruangannya.
Tomi sudah menunggu atasannya sejak pagi karena ingin menyampaikan berita penting.
“Aku sudah mengikuti saranmu, Tomi. Namun, apa yang terjadi padaku? Aku benar-benar sudah tidak waras. Vania terus bermain-main di kepalaku dan itu membuatku sakit kepala. Kayaknya aku butuh Vania, deh. Bukan butuh wanita lain,” seloroh Adrian lelah.
“Jangan gila, ya!”
“Aku memang sudah hampir gila. Masa aku tidak bisa melakukan kegiatan panasku lagi dengan wanita-wanita di klub malam? Aku sudah menuruti saran-saran kamu untuk bermain dengan wanita lain, kemudian berusaha untuk berpetualang seperti dulu, tapi tetap saja tidak bisa. Kenanganku dengan Vania begitu dalam. Kenapa denganku? Apa dia sudah menyihirku?”
“Alam bawah sadar kamu menyimpan kenangan yang begitu indah dengan Vania, ditambah lagi kenangan yang begitu membekas dan mengerikan ketika Vania menyerang perusahaan kamu. Itu yang membuat alam bawah sadar kamu merekam wajah Vania. Hanya itu masalahnya. Nggak mungkin 'kan kamu jatuh cinta sama Vania?” tandas Tomi.
Adrian merinding. “Mana mungkin casanova sepertiku bisa jatuh cinta. Tidak ada kata cinta dalam kamus hidupku.”
“Karena itu berhentilah berkata konyol! Lebih baik kita hadapi masalah baru.”
“Masalah baru?” Adrian menyipitkan matanya, menduga-duga masalah yang akan disampaikan sekretarisnya.
“Aku tidak tahu kapan dia akan melemparnya, tapi aku yakin Vania memegang senjata yang akan menghancurkan kamu, bukan hanya perusahaan kamu saja.” Tomi menegaskan.
“Maksud kamu apa, sih? Jangan bikin aku tambah pusing, Tomi! Sudah beberapa minggu aku tidak tidur dengan wanita dan sibuk bersolo di kamar mandi. Masa aku harus menghadapi masalah baru lagi?”
“Masalahnya benar-benar gawat, Adrian,” sambung Tomi cemas.
“Iya, buruan ceritain!” desak Adrian.
“Anak buah kita menyelidiki gerak-gerik Vania di mana mereka mendapati pria yang sering pergi bersama Vania yang saat ini sudah menjabat sebagai sekretarisnya, yaitu sekretaris Nick terlihat sedang bernegosiasi dengan pemilik restoran yang berhubungan denganmu.”
“Apa hubungannya dengan kita?” Adrian merasa kesal karena sahabatnya bicara sepotong-sepotong, membuatnya tidak sabar. “Jangan buat aku marah, ya! Jangan sepotong-sepotong kalau bicara!”
“Restoran yang diselidiki oleh Nick adalah restoran di mana kamu membuat wanita itu keguguran. Wanita yang bernama Leni yang ngotot memaksa ingin kamu nikahi sampai-sampai mengancam kamu akan menyebarkan video panas kalian serta hasil tespek kehamilannya untuk menghancurkan kamu dengan syarat kamu bisa menikahinya.”
“Yang benar, Tom?”
“Ini benar. Sebaiknya hari ini kita serahkan tugas kita pada manajer Fikri dan juga Ana. Detik ini juga kita harus pergi ke perusahaan Hadinata. Kita harus bernegosiasi agar bukti yang dikumpulkan oleh Vania itu tidak sampai ke kantor polisi.”