“Gimana keadaan perusahaan, Vania?”
Mira menanyakan kondisi perusahaan pada putrinya saat mereka sama-sama sarapan pagi itu. Sudah beberapa tahun Vania menggantikan suaminya menghandle perusahaan menjadi seorang CEO cantik yang begitu digandrungi oleh CEO muda, membuat Mira mendapatkan telepon dari rekan-rekannya, menginginkan Vania menjadi menantu mereka.
Mira juga mengetahui perusahaan mereka benar-benar maju. Bisa masuk ke posisi empat besar itu sungguh luar biasa. Bukan tidak mungkin sebentar lagi perusahaan itu bisa menyaingi perusahaan Morelli dan Marchetti. Mira dan juga Evan sudah lama tidak mengurusi perusahaan, hanya melihat perkembangannya saja, juga tidak pernah mengetahui secara detail urusan internal perusahaan lagi karena Vania sudah meng-handle semuanya dengan baik.
“Semuanya baik-baik aja, Ma. Bisa-bisa kita naik posisi tiga sebentar lagi,” ujar Vania menyeruput s**u coklatnya.
“Benarkah?” Evan yang sedang menikmati kopinya, spontan menatap bangga putrinya.
“Iya, dong, Pa. Siapa dulu yang handle?” seru Vania tetap bersikap ceria di depan orang tuanya. Dukanya, hanya dirinya yang menanggungnya.
“Papa benar-benar bangga sama kamu, Sayang. Tapi, apa kamu enggak lelah bekerja terus?” tanya Evan menyelidik.
Evan sebenarnya penasaran. Hidup putrinya benar-benar berkutat dengan urusan bisnis. Wanita seumur putrinya harusnya mencari kesenangan di sela-sela kegiatannya menjalankan perusahaan, misalnya berpacaran. Tapi hingga detik ini mereka tidak mengetahui siapa sosok yang sedang dekat dengan Vania.
“Kenapa Papa nanya begitu?” Vania balik bertanya.
Mira tersenyum pada putri cantiknya, putri yang begitu ia banggakan. “Bukan aja papa, sih, Mama juga heran lihat kamu enggak pernah berhubungan dengan laki-laki selain Nick dan Rully. Kamu enggak pernah terlihat jalan dengan laki-laki lain.”
“Ma, aku masih muda. Umurku baru mau menginjak usia 27 tahun. Aku masih mau berkarir, Ma,” protes Vania.
“Hei, umur 27 tahun itu kalau menikah sudah punya 7 anak,” celetuk Mira tertawa.
“Astaga, gila aja, Ma!” Vania spontan geleng kepala.
“Lho, Mama dan papa juga menikah muda, kok. Kami berbisnis dan berjuang bersama-sama hingga sukses. Kalau bisa dijalani keduanya, kenapa harus satu-satu? Anak kembar kakak kamu aja udah berusia hampir 6 tahun, bentar lagi SD. Mana kakak ipar kamu sedang hamil kembar laki-laki yang sebentar lagi akan lahir. Masa kamu betah melajang, Sayang?” Mira menjabarkan.
“Aku belum mau mikirin urusan itu, Ma.” Vania mulai tidak nyaman dengan pembahasan perjodohan itu.
Mira dan Evan sedikit cemas pada putri mereka yang benar-benar tegas, pintar, cerdas, sedikit licik dalam menjatuhkan musuh-musuhnya. Mereka takut Vania mendapatkan musuh. Mereka berdua juga ngeri Vania jadi tidak tertarik lagi untuk berhubungan dengan laki-laki karena terlalu fokus bekerja. Mereka tidak ingin putri mereka menjadi perawan tua.
“Tapi Mama benar-benar takut kamu lama-lama keenakan ngurusin perusahaan, ujung-ujung kamu nggak nikah-nikah.” Mira menyuarakan kecemasannya.
“Di zaman sekarang ini nggak penting namanya nikah, Ma. Penting itu menjadi wanita independen, wanita mandiri,” tegas Vania sambil meraih rotinya, mengunyahnya pelan, berusaha menanggapi pembahasan mamanya dengan santai.
“Wanita mandiri juga butuh suami, Sayang,” seru Mira cepat sambil menyodorkan roti isi selai pada suaminya.
“Udahlah, Ma! Jangan merusak moodku! Hari ini aku banyak kerjaan. Ada banyak klien yang masuk yang harus aku handle. Itu membudak dua kali lipat dibandingkan biasanya. Beberapa minggu ini aku memang benar-benar fokus pada proyek baru.”
“Papa dengar perusahaan Marchetti terguncang. Apa karena kamu, Vania?” Evan yang baru saja akan mengunyah rotinya, tiba-tiba merasa penasaran akan rumor yang ia dengar terkait proyek baru yang Vania garap bersama klien Adrian Marchetti.
Vania sedikit gugup akan pertanyaan dari sang papa, tapi ia tidak mau terlihat memiliki hubungan yang memanas dengan Adrian.
“Apa hubungannya denganku, Pa?” Vania membalik pertanyaan papanya.
“Oh, bukan kamu yang mengacaukan perusahaannya?” tanya Evan menyelidik sambil menikmati roti yang diberikan istrinya tadi.
“Ngapain aku mengacaukan perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan kita?” Vania pura-pura tak memiliki masalah dengan perusahaan Marchetti.
Evan kembali menyesap kopinya setelah roti di tangannya habis lalu menanggapi putrinya. “Syukurlah! Soalnya Papa iseng baca berita dan mengetahui kalau perusahaan Marchetti sempat terguncang meskipun sekarang baik-baik saja.”
“Ya, nggak ada hubungannya denganku, Pa,” tegas Vania meyakinkan.
“Makanya Papa nanya, Sayang. Soalnya klien perusahaan Marchetti sekarang bekerja sama dengan perusahaan kita.” Evan menjelaskan kecurigaannya.
“Oh, itu! Aku nggak melakukan apa-apa pada perusahaan nomor satu itu. Masalah klien, itu aku nggak maksa, Pa. Klien berhak menentukan siapa yang akan menjadi rekan mereka, kan?” Vania menjelaskan.
Mira menepuk pelan lengan suaminya. ”Iya, Pa. Kok, malah nyalahin putri kita?”
“Bukan itu, Ma. Aneh aja tiba-tiba perusahaan nomor satu di negara kita milik Adrian Marchetti yang selalu bersaing dengan perusahaan nomor dua, yaitu perusahaan Diego Morelli, tiba-tiba bisa goyah. Sedangkan perusahaan Morelli saja pernah diguncang rumor gay beberapa tahun yang lalu, tapi tidak separah ini.” Evan menyuarakan rasa herannya.
“Tapi dia tetap perusahaan nomor satu, kan, Pa?” tanya Mira penasaran.
“Iya, proyeknya yang mangkrak kini berjalan lancar. Tidak ada masalah. Sepertinya dia masih merajai pendapatan terbesar setiap bulannya.”
Vania mengepalkan tangannya di bawah meja sambil mengomel geram dalam hati. “Sial! Aku sudah merebut semua klien besarnya. Kenapa dia masih bisa bertahan? Aku harus mencari cara agar bisa menghancurkan perusahaan itu lebur dengan tanah. Di mana lagi dia bisa mencari klien, sedangkan aku sudah menyabotase semuanya?”
“Apa pun itu, itu tidak akan terjadi pada perusahaan kita, Pa. Perusahaan kita bersih, tak ada skandal apa pun. Apa Papa tahu perusahaan Marchetti itu—” Vania menahan kata-katanya.
Tidak ada gunanya mengungkapkan keburukan perusahaan laki-laki sialan itu di depan orang tuanya. Ia juga tidak ada hubungannya dengan perusahaan itu. Vania tak mau menambah beban pikiran orang tuanya.
“Lho, kok, gantung ngomongnya? Kenapa dengan perusahaan Marchetti?” tanya Evan penasaran. “Perusahaan itu perusahaan besar, lho!”
“Iya, intinya perusahaan besar juga bisa terguncang, Pa.” Vania mengalihkan topik, tidak ingin membahas soal busuk dan bobroknya pemilik dari perusahaan yang sekarang sudah mulai bangkit kembali.
“Ya, udah! Intinya hati-hati aja menghadapi musuh-musuh perusahaan kita. Jangan sampai mereka berbuat jahat padamu.” Evan mengingatkan putrinya untuk selalu waspada.
“Iya, Pa. Tenang aja! Aku memiliki teman yang benar-benar handal yang sudah menjadi sekretarisku. Nick memang benar-benar bisa diandalkan.”
Mira yang sejak tadi menyimak pembicaraan putrinya dan suaminya, tiba-tiba sebal pada putrinya. “Kamu berdua-duaan sama Nick terus, bagaimana laki-laki lain mau mendekat, Sayang?”
“Ma, kok, balik lagi topiknya, sih?” protes Vania sewot.
“Kamu nggak tahu, sih. Mama dan papa kamu diteror sama rekan-rekan kami. Walau kami udah pensiun, tapi kami tetap mengadakan arisan, pertemuan-pertemuan antar sesama relasi untuk mengakrabkan dan menjaga silaturahmi dan kamu tahu nggak rata-rata mereka menanyakan kamu, ingin meminang kamu mereka karena mereka benar-benar tahu sepak terjang kamu dan ingin menjadikanmu menantu mereka.”
“Nggak, ah, Ma! Aku enggak mau dijodoh-jodohin. Aku nggak mau mengikuti jejak kak Reza yang nikah kontrak karena Mama jodohkan dengan kak Laura.”
Mira mencebikkan bibirnya pada putrinya. “Buktinya mereka bahagia, punya anak kembar perempuan lucu dan bakal nambah kembar laki-laki bulan ini. Kadang perjodohan membawa jodoh sesungguhnya, Sayang. Mana tahu pas Mama jodohin kamu, jadi jodoh beneran, kan?”
“Mamaaa ... ini bukan zaman dulu. Aku bisa mencari jodoh sendiri dan itu pun bukan sekarang,” omel Vania kesal dengan desakan sang mama.
“Emang tipe cowok yang kamu sukai kayak gimana, sih?” Mira penasaran.
“Aku belum ada bayangan dan gambaran soal itu, Ma,” sahut Vania asal. “Karena sepertinya aku tidak berhak memiliki mimpi untuk membina hubungan dengan laki-laki mana pun karena aku sudah memiliki kekurangan dan kecacatan yang sampai mati pun tidak akan aku beritahukan kepada Mama dan Papa. Maafkan aku, Ma! Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik,” sambung Vania dalam hati.
Gadis cantik itu menyimpan rasa perih di hatinya sendiri. Sampai mati pun ia ingin membuat orang tuanya bangga. Vania tidak akan membuka aibnya sendiri dan akan membawa aib itu sampai mati. Ia juga tidak yakin bisa menemukan laki-laki yang bisa menerimanya apa adanya. Kemungkinan ia akan terus melajang hingga mati.
“Apakah tipemu itu tinggi? Apa blasteran ataukah orang lokal seperti kita?” tanya Mira lagi.
“Yang jelas yang mau menerimaku apa adanya, Ma.” Kata-kata itu meluncur begitu saja di bibir Vania.
Hanya laki-laki yang mau menerimanya apa adanyalah yang bisa menjadi suaminya karena dirinya sudah memiliki kekurangan dan kekurangan itu tidak akan pernah bisa diperbaiki.
“Siapa yang tidak akan menerima kamu apa adanya? Kamu cantik, pintar, dan cerdas serta telah memajukan perusahaan. Semua CEO muda, bahkan yang duda mengantre ingin melamar kamu kalau kamu mau tahu? Mama yang pusing setiap hari mendapatkan telepon dari orang tua mereka yang menginginkan untuk meminang kamu.”
“Ma, sebaiknya Mama tolak saja semua permintaan mereka baik-baik, ya, Ma! Karena sampai kapan pun aku nggak mau dijodohin. Jangan sampai mereka berharap berlebihan padaku, kecuali kalau mereka berpikir untuk mendekatiku, berakrab ria denganku!” sahut Vania asal.
Namun, ucapan Vania malah memberi angin segar pada Mira untuk mulai menjodohkan anaknya. “Kamu serius mau mereka dekati? Kalau kamu serius, Mama akan aturkan jadwalnya agar mereka mulai melakukan pendekatan sama kamu.”
“Tapi enggak sekarang, Ma. Aku masih sibuk. Udah aku bilang tadi tender kita dua kali lipat lebih banyak dibanding bulan lalu. Aku bahkan tidak sempat makan siang yang benar karena terus-terusan meninjau proyek-proyek baru kita.”
“Ya, udah! Mama akan aturkan jadwalnya.” Mira semringah.
“Asal bukan kencan, ya, Ma!” Vania menegaskan.
Mira tersenyum lepas, merasa bahagia bisa membukakan jalan jodoh untuk putrinya seperti saat ia menjodohkan Reza, kakak Vania lima tahun lalu.
“Bukan, hanya sekedar pertemuan biasa saja. Mama akan meminta anak-anak relasi Mama menemui kamu di masa senggangmu. Jadi, kamu bisa berteman terlebih dahulu dengan lawan jenis kamu sambil memilah-milah laki-laki mana yang bisa kamu jadikan pasangan kamu nantinya. Tidak ada penolakan, Sayang. Mama nggak ingin kamu terlalu larut dalam pekerjaan dan melupakan soal jodoh. Ingat, wanita mandiri juga butuh pria, butuh suami yang mendukungnya. Jadi, turuti kata-kata Mama, ya!”