Keresahan Adrian

1348 Kata
“Wah, seger banget, nih, kayaknya hari ini!” goda Tomi sesampainya di perusahaan ketika ia masuk ke ruangan Adrian. CEO-nya itu sudah tampak begitu rapi dan wangi, tidak terlihat kusut seperti beberapa waktu lalu. Rambut-rambut halus yang menghiasi wajah Adrian serta rambut kusut yang selama ini ia lihat ketika Adrian stres menghadapi serangan-serangan dari Vania, kini sudah berubah menjadi rapi. Adrian menjelma kembali menjadi sang casanova yang begitu menawan, wangi, rapi, licin, dan klimis, membuat para wanita pasti akan menempel padanya. “Emang kelihatan segar?” tanya Adrian lesu. “Seger banget, dong. Kamu pasti dari klub 'kan semalam? Kamu tidur di sana, kan?” tebak Tomi. “Enggak, aku enggak tidur di klub malam,” geleng Adrian menyangkal. “Alah, mustahil! Mana mungkin kamu nggak tidur di klub malam milik Sammy. Permasalahan kamu sudah selesai. Yang kita perlu lakukan hanyalah bertemu dengan Vania, meminta maaf padanya lalu menjelaskan kalau Heri yang salah. Hanya itu ‘kan yang harus dilakukan?” “Aku memang enggak nginep di klub malam. Kenapa kamu enggak percaya, sih?” omel Adrian kesal. Tomi tidak bisa tidak merasa heran. “Kenapa kamu enggak nginep di klub malam? Bukannya itu cara kamu menghilangkan penat? Apalagi kamu sudah begitu stres dan cukup lama puasa sejak kamu melakukan itu dengan Vania,” cecar Tomi tak percaya. Adrian seketika menjadi murung lalu mengumpat sendirian dalam hatinya, merasa kesal karena ada hal yang mengusik hatinya. “Kamu kenapa lagi? Jangan katakan kalau kamu ada masalah baru, ya!” tanya Tomi menyelidik. “Aku nggak tahu apa yang terjadi padaku dan itu membuatku kesal.” Adrian mulai membuka apa yang terjadi padanya. “Apa, sih? Buruan ceritain!” Tomi segera menarik kursi di depan meja Adrian lalu bersiap mendengarkan curahan hati CEO plus sahabatnya. “Semalam aku dikasih Sammy wanita yang begitu cantik dan seksi—” “Kalian benar-benar gila, ya! Wanita pakai dibagi-bagi,” potong Tomi sudah kesal sendiri sebelum Adrian bercerita panjang lebar. “Bukan aku yang gila, tapi Sammy yang nggak waras. Dia selalu saja membagi wanita yang sudah ia tiduri untuk me-review rasanya, permainannya dan lain sebagainya. Memang dia benar-benar sahabat gila.” Adrian mengejek sahabatnya sendiri. Tomi mencebikkan bibirnya, tak habis pikir dengan pola pikir Adrian. “Karena kamu juga sama-sama gila dan b******k, makanya kamu dapat teman gila kayak Sammy.” “Bawel kamu! Udah kayak emak-emak pasar aja,” sembur Adrian kesal selalu dipatahkan dan diejek oleh sahabatnya. Tomi terkekeh, kemudian kembali fokus ke pembicaraan awal. “Sorry, sekarang jelasin kenapa kamu nggak nginep di klub yang menurutku cukup aneh!” Adrian pun kembali fokus bercerita. “Tiba-tiba aku jadi nggak normal.” Tomi cekikikan. “Maksud kamu apa?” “Aku jadi nggak nafsu sama wanita semalam, padahal dia benar-benar cantik dan seksi, memiliki tubuh sintal. Dia sudah polos di depanku, bahkan dia sudah merayuku, tapi kenapa aku jadi nggak nafsu sama dia. Kenapa, ya?” Adrian bertanya-tanya sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berpikir keras apa alasan yang membuatnya kehilangan hasrat. Tomi tak kuasa menahan tawanya. “Maksudnya, itu kamu nggak bangun, nggak on seperti biasanya?” Adrian memegangi dagunya sambil menatap ke bawah. “Tetap on, sih. Mana mungkin aku nggak on kalau di depan mata ada wanita cantik dan seksi. Cuma masalahnya—” Adrian menunda perkataannya, membayangkan hal aneh yang terjadi padanya semalam. “Buruan, ah! Aku banyak kerjaan ini,” potong Tomi tak sabar. Adrian cemberut sebal. “Sabar, dong! Masalahnya ketika wanita liar itu menciumku, aku teringat saat aku mencium Vania.” “Hah!?” Tomi menganga lebar, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Beneran, Adrian?” “Bener. Parahnya ketika kami hampir melakukan itu yang aku pikirkan Vania dan aku tidak mendapatkan apa yang aku rasakan saat aku menyentuh Vania dari wanita semalam dan itu membuat moodku hancur. Akhirnya aku mengurungkan tidur dengan wanita itu.” Tomi menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya laki-laki semaniak Adrian bisa urung bertempur saat wanitanya sudah polos tanpa sehelai benang. “Mustahil! Wanita polosan sudah berada di depan kamu, mana mungkin kamu tidak melakukan penyatuan dengannya. Jangan bodohi aku, ya, Adrian! Kamu itu memiliki hasrat yang tinggi. Kamu tidak akan bisa tidak bermain dengan wanita satu hari pun, kecuali saat kamu stres beberapa waktu lalu.” “Ini beneran, enggak bohong, Tomi. Aku bukan impoten, ya, tapi aku seketika kehilangan minat pada wanita itu.” Tomi mencibir Adrian. “Dahlah, aku nggak percaya! Masa begitu dahsyatnya pengaruh seorang Vania pada kamu, padahal Vania sudah kejam ingin menghancurkan perusahaanmu.” Adrian seketika kesal disangsikan oleh sahabatnya. “Faktanya demikian, Tomi. Makanya aku pusing. Aku tidak bisa melampiaskan hasratku. Ujung-ujungnya aku pulang ke rumah lalu main sendiri di kamar mandi,” seloroh Adrian gamblang. Tomi yang tadinya kesal dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adrian, spontan tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar penuturan dari sahabatnya yang begitu gamblang. Ia telah bergaul dengan Adrian cukup lama, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang suka ke klub malam memang mulutnya tidak ada filternya. Berbeda dengan dirinya yang juga tidak sengaja berkenalan dengan Adrian, menjadi tangan kanan yang bisa diandalkan untuk menutupi semua skandal kenakalannya, Tomi adalah laki-laki baik-baik, tapi bisa memahami Adrian. Walaupun sebenarnya hidupnya jauh bertentangan dengan Adrian. Selain membantu jalannya perusahaan, Tomi juga mengurus skandal nakal atasannya sehingga tidak menjadi besar dan menghancurkan perusahaan. “Sialan kamu! Kok, malah meledekku?” sembur Adrian keki. Tomi belum bisa menghentikan gelak tawanya saat membayangkan Adrian bermain solo tanpa pasangan. “Rasanya nggak mungkin seorang Adrian Marchetti bermain sabun di kamar mandi. Itu nggak mungkin, sedangkan banyak wanita yang antre menjajakan tubuh mereka untuk kamu. Kamu benar-benar enggak waras kalau bermain solo. Kamu sakit, Adrian. Apa kamu mau berobat? Aku kenal seorang seksolog yang bisa membantu permasalahan aset kesayangan kamu.” “Sialan, b******k, kurang ajar!” Adrian melemparkan dokumen-dokumen ke lantai lalu melempar gumpalan kertas yang sudah ia remuk sejak pagi ke arah Tomi, membuat sahabatnya itu mengangkat tangannya. “Sabar, Adrian! Jangan ngamuk, dong! Aku bicara fakta.” “Aku juga bicara fakta, Sialan,” cetus Adrian kesal. Tomi mengalah. Ia tak mau membuat Adrian lebih marah dari ini. “Oke, sekarang mau kamu apa?” “Aku nggak tahu. Aku stres, tahu nggak?” cetus Adrian garang. Tomi terpaksa menyarankan ide konyol. “Coba kamu tidur lagi sama wanita lain malam ini lalu buktikan kalau semua yang kamu pikirkan itu hanyalah imbas dari permasalahan yang kamu dapat dari Vania. Dia sudah menyiksa kamu dengan serangan bertubi-tubi ke perusahaan. Karena itu kamu selalu teringat-ingat padanya. Berusahalah melupakan pikiran-pikiran tentang Vania! Nikmati hidup kamu! Bukannya kamu seorang playboy yang suka mematahkan hati wanita dan bermain-main dengan tubuhnya? Mana Adrian yang aku kenal?” CEO tampan itu bersungut kesal. “Ngomong aja mudah. Kamu pikir aku nggak berusaha apa? Semalam aku sudah berusaha untuk menikmati permainan wanita seksi itu, tapi nggak bisa. Itu faktanya. Vania muncul di pikiranku setiap kali aku ingin menyentuh wanita itu.” “Ya, makanya coba lagi nanti malam. Kalau nggak bisa, coba lagi besoknya lagi. Coba terus pokoknya, Adrian! Lupakan sosok Vania! Dia benar-benar mengerikan,” tegas Tomi. “Siapa juga yang mau mengingatnya? Masalahnya aku enggak ngerti kenapa aku jadi begitu? Apa yang terjadi padaku?” Adrian bingung dan kesal pada dirinya sendiri. “Dah, aku nggak mau bahas ini lagi! Lebih baik kita bekerja. Om Pedro sudah mengirim uangnya dan kami akan segera berkoordinasi untuk menyelesaikan pembangunan sepuluh proyek mangkrak lalu segera memasarkannya. Setelah itu uang om Pedro akan dikembalikan, baru kita akan memulai proyek baru yang sudah dikirimkan proposalnya oleh beliau.” Tomi mengalihkan pembicaraan dan memaksa Adrian fokus pada pekerjaan. Ia malas mendengar Adrian membahas soal wanita lagi. Dengan sangat terpaksa Adrian mengesampingkan apa yang terjadi padanya semalam. Ia sungguh tidak mengerti, tapi juga tidak mau terlalu memikirkannya lagi. Adrian berusaha melupakan semuanya, kembali fokus pada perusahaan. “Baiklah,” sahut Adrian menuruti ucapan Tomi. Sekretaris CEO tampan itu lalu melanjutkan ucapannya. “Aku akan atur jadwal untuk menemui Vania supaya kamu bisa menunjukkan bukti-bukti kalau kamu tidak pernah melakukan hal terkutuk, yaitu menjebaknya. Secepatnya kamu harus segera membersihkan nama kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN