“Akhirnya kamu datang juga. Udah lama aku menanti kehadiran kamu,” sapa Sammy riang ketika melihat sahabatnya melenggang menuju ke arahnya di klub malam miliknya.
Sudah cukup lama sahabatnya tersebut tidak mengunjungi klub malamnya dan selalu mengatakan hal yang sama, pusing karena pekerjaannya. Sepertinya semua permasalahan Adrian sudah selesai. Sammy berniat menghadiahkan seorang wanita cantik yang sudah ia cicipi dan ia ketahui skill ranjangnya secara cuma-cuma sebagai hadiah selamat datang.
“Kenapa kamu menantikan kehadiranku, padahal kamu selalu bersenang-senang di sini setiap waktu?” seru Adrian geli.
“Siapa bilang aku senang-senang terus? Yang ada aku kerja. Aku juga kehilangan sosok bercerita saat kamu nggak datang. Kan, kita sudah bisa share wanita? Kehilangan kamu beberapa waktu benar-benar, bikin aku kesepian, tahu nggak?”
Adrian tertawa lalu memberi kode pada bartender Sammy untuk menyuguhinya minuman yang biasa.
“Emang nggak ada temen lain yang bisa kamu ajak bicara soal itu selain aku?”
“Ada, temanku bukan cuma kamu doang,” celetuk Sammy tertawa.
Adrian pun ikut melebarkan senyumnya, akhirnya bisa tertawa lega setelah beberapa waktu berkutat dengan perusahaan, pusing tujuh keliling dan tidak bisa tidur selama beberapa malam. Kini ia bisa menikmati kehidupan bebasnya untuk berfoya-foya dan bersenang-senang main wanita seperti semula.
“Gimana urusan perusahaan? Aman semuanya?” tanya Sammy sambil menyodorkan segelas minuman keras untuk sahabatnya.
“Sudah aman. Walaupun aku harus sedikit berjuang untuk meraih klien baru di proyek yang baru nanti.” Adrian mulai menyesap minumannya dan merasakan kenikmatan duniawi yang telah lama ia tinggalkan sejak Vania menyerang perusahaannya.
“Apa sebenarnya yang terjadi, sih?” Sammy penasaran.
“Aku sudah bilang kamu nggak bakal ngerti, deh!” Adrian mengibaskan tangannya, meremehkan Sammy.
“Sialan, aku nggak bodoh-bodoh amat, ya! Apa ada yang menjahili perusahaan kamu, ada yang merebut klien-klien kamu, atau ada yang menghasut juga menyebarkan rumor tidak baik di perusahaan kamu?” sembur Sammy sebal.
Lho, kok, kamu tahu?” Adrian tak menyangka.
Sammy membusungkan d**a bangga. “Bukannya itu yang biasanya terjadi jika perusahaan terguncang?”
Adrian kembali menyesap minumannya lalu mendesah pelan. “Aku ketiban sial. Walaupun dibilang sial, nggak juga, sih?”
“Maksud kamu apa? Ngomong udah kayak orang mabuk.”
Senyum Adrian kembali mengembang melihat sewotnya Sammy.
“Aku berkesempatan merasakan tubuh seorang perawan dan itu benar-benar nikmat.” Adrian menjelaskan.
“Wah, beruntung banget kamu! Bisa nggak bagi-bagi?”
Adrian mendengus kesal. "Emang perawan bisa dibagi-bagi? Sekali sudah aku tiduri, ya, enggak perawan lagi, dong!”
“Ya, lumayanlah icip-icip setelah kamu seperti biasa. Bukannya kita bisa berbagi wanita?” seru Sammy nakal.
“Kalau kamu mau mati, silakan saja! Aku enggak mau mati dan enggak berani lagi berurusan sama wanita itu.”
“Maksud kamu?” Sammy bingung mendengar penuturan sahabatnya.
Adrian lalu menjelaskan semuanya secara detail, membuat Sammy benar-benar tidak percaya. Masa ada wanita yang begitu powerful, bisa menghancurkan sebuah perusahaan hanya karena ditiduri saja?
“Enggak masuk akal rasanya. Masa hanya karena tidur semalam, dia bisa mati-matian berniat untuk menghancurkan perusahaan kamu?” Sammy menyangsikan ucapan Adrian.
“Itu yang terjadi padaku. Lingkar mataku sudah benar-benar hitam. Pikiranku kacau dan kepalaku hampir pecah. Itu semua gara-gara wanita cantik itu. Dia memang benar-benar luar biasa cantik dan masih perawan. Sepertinya dia sudah menjaga prinsip dan menjaga dirinya dengan baik selama ini.”
“Iya, tapi dia ketiban apes jadi sebuah alat balas dendam rekan kamu. Gila, ya, Heri sialan itu! Bisa-bisanya mengorbankan wanita polos untuk laki-laki buaya seperti kita.” Sammy tak habis pikir.
“Itulah makanya aku baru saja dari perusahaannya, memukulnya. Kamu enggak lihat nih tanganku sampai merah-merah semua kayak gini.” Adrian menunjukkan tangannya yang bengkak akibat menghajar Heri tadi.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Sammy memegangi tangan Adrian, memeriksa parah atau tidaknya.
“Aku nggak apa-apa. Setidaknya batinku puas sudah bisa memukulnya dan akan melihat kehancuran perusahaannya sebentar lagi.”
“Wanita itu juga yang menghancurkannya, ya? Dia siapa, sih? Kayaknya hebat banget.”
“Vania Emilia Hadinata, seorang CEO cantik yang begitu menyeramkan kalau kita membuatnya marah.”
Sammy seketika semringah. “Wah, aku jadi tertantang, nih?”
“Apaan?” Adrian merengut kesal.
“Aku ingin mendekatinya. Aku tidak pernah tidak mencicipi wanita yang kamu cicipi selama ini, kamu ingat itu, kan?
Adrian tertegun, tidak bisa bersuara. Di hati kecilnya ada sesuatu yang mengganjal. Entah kenapa ia tidak rela sahabat brengseknya itu mencicipi tubuh Vania, walaupun ia tahu bahwa Vania tidak akan mungkin menyerahkan tubuhnya begitu saja pada laki-laki sembarangan.
Sammy menatap heran Adrian saat melihat raut aneh di wajahnya.
“Kenapa kamu kayak enggak ikhlas gitu?”
“Bukannya aku enggak ikhlas. Aku enggak yakin kamu bisa mendekati dia,” kilah Adrian menutupi rasa tak nyaman di hatinya.
“Hei, jangan meremehkanku, ya! Semakin aku diremehkan, semakin aku ingin mendekati wanita itu.”
Adrian kesal, tapi tak bisa menunjukkannya pada Sammy karena seperti yang sahabatnya katakan, mereka sering berbagi wanita selama ini.
“Dia bukan wanita biasa. Salah sedikit saja, klub kamu akan ditutup, tahu enggak?”
“Alah, mana mungkin dia bisa mengganggu klub malamku!”
“Kenapa nggak bisa. Perusahaan nomor satu di negara ini saja bisa dihancurkannya. Apa kamu lupa perusahaanku itu adalah perusahaan nomor satu? Itu pun dia bisa goyah, apalagi hanya sekedar klub seperti kamu,” seru Adrian berusaha menakuti Sammy.
“Sudah kubilang jangan remehkan aku! Aku akan berjuang untuk merayu dan menidurinya kalau aku sudah bertekad,” tegas Sammy.
“Jangan gila, deh! Lagi pula dia bukan wanita nakal. Dia wanita baik-baik. Demi keperawanannya saja dia hampir menghancurkan perusahaan yang sudah didirikan oleh papaku sejak lama.”
“Tunggu!” Sammy menatap mata sahabatnya lamat-lamat. Kenapa ada sorot ketidakrelaan di mata sahabatnya? “Kamu naksir sama wanita itu, ya?”
Adrian merengut kesal. “Gila, kamu! Ya, mana mungkin aku suka sama wanita kejam seperti dia.”
“Soalnya sorot mata kamu kayaknya kamu rela banget, deh!"
“Aku bukan nggak rela, b******k!” maki Adrian kesal merasa dikuliti oleh sahabatnya.
Sammy mengacungkan telunjuknya ke wajah Adrian. “Tuh ‘kan kamu marah? Ada yang aneh di sini.”
“Habisnya kamu dibilangin enggak ngerti-ngerti, sih! Aku hanya takut klub kamu hancur. Apa kamu punya relasi di luar negeri?” tanya Adrian lantang.
Sammy menggeleng pelan. “Apa kaitannya dengan klien luar negeri?”
“Aku yang punya klien luar negeri saja harus berjuang. Kalau kamu nggak mau hancur lebur, mending buang niatan kamu jauh-jauh!” tegas Adrian melarang keras sahabatnya mendekati Vania.
Sammy terdiam sesaat. Rasa penasaran mulai menggelitik hatinya. Seperti apa sih Vania itu? Tanpa menunggu waktu lama ia segera mengambil ponselnya lalu menjelajah ke internet mencari tahu profil dari wanita yang bernama Vania Emilia Hadinata dan benar-benar terpukau melihat kecantikannya.
“Dia cantik banget. Astaga, kamu beruntung banget bisa tidur sama dia semalaman! Beruntung banget kamu bisa dapetin segelnya. Aku mau sama dia. Aku mau mencoba peruntunganku mendekati dia,” seru Sammy terus memandangi potret Vania di ponselnya.
“b******k!?” umpat Adrian dalam hati, tapi tidak bisa mengutarakannya karena ia takut dicurigai oleh Sammy. Adrian juga merasa aneh dengan dirinya sendiri.
“Terserah kalau kamu mau klub malam kamu rata dengan tanah. Jangan salahkan aku nanti, ya!” pungkas Adrian menutupi rasa gusarnya.
“Itu urusanku. Mau rata dengan tanah, kek, mau hancur lebur kayak bubur, kek, yang jelas aku sungguh penasaran pada wanita ini. Yang membuatku sangat ingin mendekati wanita ini adalah karena dia pernah kamu tiduri. Apa kamu tidak tahu aku selalu penasaran dengan setiap wanita yang pernah kamu tiduri?”
“Itu kekurangan kamu. Kamu itu gila. Kalau aku enggak segitunya harus terus tidur sama wanita bekasan kamu,” cetus Adrian sengit.
Sammy mengerucutkan bibirnya meledek Adrian. “Jangan sok suci, deh! Sama-sama b******k ini.”
“Ya, aku akui aku juga b******k, tapi aku enggak segila dan seterobsesi kamu yang selalu penasaran dengan wanita yang kutiduri. Aku tidak begitu sebegitu ingin meniduri wanita yang telah kamu booking.”
“Sekian lama kita enggak ketemu, kamu jadi berubah, ya!” omel Sammy keki.
“Udahlah, lebih baik kamu diam! aku ke sini untuk senang-senang, bukan untuk mendengarkan ocehan kamu.”
Sammy kembali ceria saat sahabatnya bicara soal kebiasaan senang-senangnya.
“Karena itu aku sudah menyiapkan hadiah wanita cantik yang bisa menemani kamu semalaman. Nggak usah bayar. Aku sudah bayar duluan karena aku sudah mencicipinya tadi. Dia barang baru.”
“Perasaan tiap hari ada barang baru, ya?”
“Kamu pikir klubku ini emperan? Wanita berlomba-lomba untuk berjualan di sini dan yang datang ke sini pun tidak ada yang jelek. Semakin hari aku semakin mudah menemukan wanita cantik di sini. Di sini memang surga wanita. Bodoh kalau kamu lama-lama nggak datang kemari.” Sammy berseru bangga.
“Udah, jangan banyak bacot! Di kamar mana aku bisa main?” tanya Adrian ingin buru-buru menuntaskan hasratnya.
“Kamar biasa, dong! Kamu tunggu di sana. Aku akan segera menghubungi wanita itu untuk segera naik ke atas. Selamat bersenang-senang. Kalau sudah bermain dengannya, jangan lupa review-nya, ya!” celetuk Sammy riang sambil mulai menekan nomor wanita sewaannya.
“Dasar sinting! Dah, aku cabut ke atas!”
Sammy melambaikan tangannya, sementara Adrian mulai naik ke lantai atas tempat ia biasa menghabiskan malam panjang dan panasnya dengan wanita-wanita klub untuk menghilangkan penatnya. Namun, tidak bisa ditampik hati kecilnya merasa terusik karena kata-kata Sammy yang berniat mendekati Vania.
“Mana mungkin dia bisa mendapatkan wanita itu. Aku yang tampan luar biasa saja dan memiliki perusahaan nomor satu saja tidak dipedulikan olehnya, apalagi hanya sekedar Sammy." Namun walaupun di bibirnya berucap demikian, tetap saja hatinya benar-benar gelisah. Rasa tidak rela wanita yang pertama kali ia sentuh akan disentuh oleh laki-laki lain, mengusik hatinya.
“Sebenarnya kenapa dengan kamu, Adrian? Apa kamu sudah gila?”
Adrian memarahi dirinya sendiri, sesekali memukul kepalanya sambil terus melangkah ke kamarnya di klub, kamar di mana ia akan menghabiskan malam panjangnya dengan wanita pesanan yang sudah dibayar oleh Sammy, sahabatnya.