Mengetahui Siapa Vania

1145 Kata
“Apa yang terjadi di sini, Adrian? Apa kamu kenal dengan Bu Vania?” Tomi segera mengajak Adrian untuk kembali ke mobilnya, berusaha mengonfirmasi apa yang terjadi. Kenapa atasan plus sahabatnya tersebut bisa berurusan dengan CEO Vania Emilia Hadinata, seorang wanita cantik yang begitu ditakuti di kalangannya, yaitu seorang CEO yang tidak ingin diganggu dan akan membalas dengan telak siapa saja yang mengusiknya. Jangan katakan kalau Adrian sudah mengganggu ketenangan dan ketenteraman wanita itu. “Aku tidak pernah mengenalnya.” “Tapi kenapa sepertinya dia mengenal kamu?” cecar Tomi lagi. “Aku tidak mengenalnya, tapi aku sudah tidur dengannya semalam. Dia gadis perawan yang dihadiahkan oleh pak Heri padaku,” seloroh Adrian santai. “Hah!?” Tomi membelalak. “Apa maksud kamu? Tidak mungkin dia mau jadi hadiah kamu. Mana mungkin dia mau tidur sama kamu.” “Wanita itu berjalan sendirian bersama CEO Heri ke kamarku dan pak Heri bilang kalau wanita itu menawarkan diri untuk ditiduri. Karena dia ingat padaku, makanya pak Heri memberikan wanita itu padaku,” jelas Adrian. “Tidak mungkin. Setahuku Vania bukan wanita nakal,” ujar Tomi sangsi. “Ya, mana aku tahu soal itu. Yang jelas dia memang perawan. Aku yang berhasil menerobosnya pertama kali dan itu memberikan sensasi yang luar biasa. Maka itu aku bilang sama kamu kalau aku sampai bermain semalaman dengannya.” Tanpa rasa bersalah Adrian menjelaskan aktivitas nakalnya. “Gawat, ini benar-benar gawat. Kamu berurusan dengan orang yang salah,” tegas Tomi gentar. “Maksud kamu apa? Jangan bikin aku bingung, Tomi!” “Tampaknya kita harus berhati-hati ke depannya. Sebentar lagi perusahaanmu akan terguncang. Sepertinya dia akan membalas dendam padamu.” Adrian tak merasa ada yang salah. Dengan santai ia mengusulkan idenya pada Tomi. “Aku akan menemuinya dan bicara langsung padanya. Kenapa dia harus merebut klien besar kita hanya karena telah menghabiskan malam panas denganku? Itu tidak masuk akal. Itu tidak ada hubungannya. Lagi pula dia sendiri yang masuk dalam kamarku. Dia yang merayuku.” “Kamu yakin itu semua atas kemauannya?” selidik Tomi. “Dia mabuk dan sepertinya juga mengonsumsi sesuatu, kemungkinan obat perangsang.” “Astaga, itu artinya dia tidak sukarela melakukannya denganmu. Masa kamu tidak tahu mana yang benar-benar sukarela mana yang tidak?” Tomi tak bisa berkata-kata. Kenapa sahabatnya begitu santai menghadapi masalahnya. Sedangkan ia tahu, sebentar lagi akan ada kejutan-kejutan dari Vania. Yang terburuk perusahaan Adrian hancur berkeping-keping di tangannya. “Dia menggiurkan, sih. Dia begitu menggoda, cantik, dan seksi. Bagaimana aku bisa menolak?” sahut Adrian santai. “Inilah kelemahan kamu sebagai seorang maniak, Adrian. Kamu tidak pernah bisa berpikir kalau ada hal-hal yang bisa mencelakakan kamu dan kamu juga tidak menyelidiki wanita mana pun yang kamu tiduri.” “Dah, jangan berisik! Jangan bikin aku pusing, deh! Mending kamu cari solusi permasalahan ini,” cetus Adrian kesal. “Tidak ada solusi, tahu nggak? Yang harus kita lakukan adalah melawannya. Yang aku ketahui Vania tidak akan berhenti sebelum melaksanakan semua yang dia inginkan.” Tomi menegaskan. “Kamu jangan aku nakutin aku, dong!” “Sebaiknya kamu cek siapa itu Vania Emilia Hadinata. Dia adalah lawan yang sangat tangguh. Meskipun perusahaannya berada di posisi empat besar di negara ini, jauh di bawah perusahaanmu, tapi kepiawaiannya menggantikan Hadinata memimpin perusahan tidak bisa dipungkiri lagi. Pak Heri itu adalah musuh bebuyutannya dan sepertinya kamu sudah masuk dalam jebakan pak Heri, Adrian.” Tomi yakin Adrian dijadikan Heri tumbal untuk balas dendam pada Vania. “Maksud kamu?” “Sudahlah, aku nggak punya banyak waktu untuk menjelaskan soal pak Heri. Yang harus kita lakukan adalah mengamankan klien-klien kita berikutnya. Ada lima klien besar yang harus kita amankan dalam minggu ini sebelum direbut oleh Vania,” ucap Tomi menekankan. Adrian mencebik. “Mana mungkin dia bisa merebut semua klien-klien kita. Emang mereka punya dana yang besar untuk membuat aneka proyek dalam waktu dekat?” “Jangan meremehkan Vania, ya! Dia bisa membuat perusahaan kamu rata dengan tanah! Lebih baik fokus pada meeting kita berikutnya karena kita harus mempertahankan semua klien-klien kita sebelum jatuh ke perusahaan Hadinata." *** Keesokan harinya di perusahaan Hadinata, Vania menikmati keberhasilannya membungkam dua perusahaan yang mengusiknya. CEO cantik itu puas mendengar percakapan di dua buah perusahaan di mana Vania sudah meminta sahabatnya yang bernama Nick untuk memasang alat penyadap di sudut-sudut tertentu yang sudah ditentukan oleh Vania di mana ia bisa mendengar dengan jelas apa saja strategi yang akan digunakan oleh Adrian serta Heri dan para stafnya. “Kalian berada dalam genggamanku. Tidak akan pernah aku biarkan kalian berdua bernapas lega. Bersiaplah, setiap hari kalian akan menerima kejutan demi kejutan dariku!” gumam Vania puas. Nick yang sejak pagi datang ke perusahaan Vania untuk memberikan laporan, ikut geram karena sahabatnya dijebak dan direnggut kehormatannya. Pria blasteran Inggris itu akan mengerahkan semua kemampuannya untuk membantu sahabat cantiknya tersebut menghancurkan dua perusahaan, yaitu perusahaan Dwitama dan Marchetti Group. Laki-laki berparas tampan itu tak akan berhenti sampai menemukan bukti-bukti kejahatan Heri dan Adrian yang bisa digunakan Vania untuk membuat perusahaan tersebut pailit, bahkan bisa menyeret dua pemiliknya masuk penjara. “Cek ini, Vania! Aku telah mengumpukan informasi terbaru tentang si b******k Heri.” Vania semringah lalu meraih map dan beberapa Micro SD yang diserahkan Nick. “Wah, aku benar-benar sudah tidak sabar ingin mengeksekusi mereka berdua, Nick!” “Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menggali informasi tentang Heri. Ternyata dia memiliki skandal besar dulu. Semua bukti-bukti yang aku bawa ini bisa kamu pakai untuk menjebloskannya ke penjara.” Nick yang merupakan tangan kanan dari Vania yang mengerti IT juga mampu menyusup ke perusahaan melalui bantuan anak buahnya sehingga bisa membantu Vania menjalankan perusahaan selama bertahun-tahun. “Gila, ya! Bisa-bisanya b******n itu punya skandal dengan istri CEO perusahaan Pranata. Dia benar-benar rakus. Bukannya dia sudah punya istri?” Vania tak habis pikir. “Ya, dia sudah punya istri, tapi dia masih bermain gila dengan istri CEO Rendy Pranata,” tegas Nick. “Sekarang coba buka mapnya! Itu catatan kelam Heri yang pernah menghabisi nyawa seorang wanita.” “Kenapa dia bisa lepas dari skandal pembunuhan itu, Nick?” Vania heran. “Heri begitu licin. Dia membayar orang untuk tutup mulut, tapi sepandai-pandainya dirinya menyimpan kebusukan, tentu masih ada celah untuk terbongkar dan aku berhasil menemukan celah tersebut." “Bagus, makasih banyak, Nick. Bonus kamu akan aku segera cairkan sekarang. Kamu memang sahabat terbaik bagiku.” “Sama-sama, Vania. Itulah gunanya sahabat. Aku akan membantumu membalaskan dendammu hingga dua orang itu mengemis dan menghiba di kakimu,” tandas Nick geram. “Thanks, ya! Aku merasa kuat mendapatkan pendukung yang super cerdas seperti kamu.” “Sama-sama. Jadi apa langkah kamu selanjutnya?” “Aku akan menunggu kedatangan Heri ke perusahaan kita setelah perusahaannya terguncang dan nyaris bangkrut nanti. Aku yakin dia pasti akan menemuiku kemari dan akan menuntut serta mengamuk di sini. Bersiap-siaplah menghubungi polisi karena hari itu juga kita akan mengirim j*****m sialan itu ke penjara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN