Serangan Video Panas

1744 Kata
“Pak Tomi, gawat, Pak!” Manajer Fikri dan sekretarisnya yang bernama Nia buru-buru masuk ke ruang rapat dengan raut cemas, membuat Tomi yang saat itu sedang berbincang-bincang dengan Adrian terkejut dan tak sabar ingin mendengar apa gerangan yang terjadi. “Kenapa wajah kalian begitu panik?” tanya Tomi. “Coba cek website kita, Pak! Kalau ini sampai tersebar ke mana-mana, perusahaan ini akan hancur.” Fikri menegaskan. Adrian yang sejak kemarin sudah dibuat panik oleh Tomi karena ia sudah memeriksa dan mencari tahu siapa itu Vania, semakin ketir-ketir sekarang. Kenikmatan yang ia rasakan semalaman suntuk bersama wanita itu sirna, berganti rasa ketakutan. Ia benar-benar ngeri perusahaan yang sudah diwariskan padanya oleh mendiang papanya akan hancur begitu saja hanya karena kesalahan satu malam. Sepertinya dirinya memang dijebak oleh Heri dan wanita itu tidak tahu kalau dirinya juga ikut terjebak di sini. Adrian pun segera memerintahkan sekretarisnya untuk membuka website di laptopnya. “Buruan buka website kita! Ada apa gerangan?” Tomi langsung menuruti kata-kata Adrian, mencari apa yang terjadi di website perusahaannya dan matanya benar-benar terbuka lebar ketika melihat potongan video berdurasi sekitar 10 detik di mana Adrian yang wajahnya sengaja sedikit di-blur itu terlihat begitu menikmati permainan panasnya dengan seorang wanita, membuat jantungnya berdebar-debar. Bukan karena ikut terpantik hasrat karena melihat potongan video itu, tapi karena Tomi benar-benar takut akan serangan yang dilakukan oleh Vania. Serangan video panas itu ia yakini datangnya dari Vania. Walau di-blur, orang yang kenal dengan Adrian tahu persis itu siapa. Sebentar lagi, serangan lain pasti akan diluncurkan oleh CEO cantik itu. “Ini!? Lihatlah, Adrian! Perbuatan kamu pada wanita yang sudah kamu celakai akan membawamu menuju kehancuran,” seru Tomi kesal. “Kamu jangan nakut-nakutin aku, dong!” omel Adrian ikut kesal. “Coba lihat dulu ini! Aku yakin ini baru sebagian. Sementara aku tahu persis sudah tidak terhitung lagi berapa banyak wanita yang kamu tiduri, berapa banyak yang sudah pernah kamu celakakan, yang sudah pernah kamu beri harapan, bahkan ada yang mengaku pernah mengandung anak kamu. Mereka satu persatu akan muncul ke permukaan dan itu karena kecerobohan kamu.” Tomi tak bisa membendung rasa kesalnya lagi, membuat Fikri dan Nia kebingungan. “Sebenarnya apa yang terjadi di sini, Pak? Kenapa ini bisa terjadi? Bukannya skandal seperti ini sudah lama ditutup?” ujar manajer Fikri. “Iya, Pak. Kami berdua sudah bekerja sama dengan tim IT kita untuk meredam semua gosip yang terjadi meskipun kami tahu itu memang pernah terjadi.” Adrian sempat tercengang saat melihat sepotong video panasnya dengan seorang wanita yang sudah pernah ia hapus dan musnahkan yang kini bisa beredar di situs perusahaannya. Bagaimana bisa? Video itu adalah video pemerasan yang dilakukan oleh salah satu partner ranjangnya karena dirinya tidak pernah iseng ingin merekam kegiatan nakalnya selama ini. “Kalian bertiga sudah mengetahui bagaimana buruknya aku ‘kan? Apa kalian yakin semua bukti-bukti tentang keburukan-keburukanku semuanya sudah dihapus dan dimusnahkan? Tidak mungkin video yang sudah lama ini bisa beredar kembali. Kita bahkan telah memenjarakan wanita itu sejak lama karena terbukti ingin memeras dan menjebakku menjadi suami yang bisa ia manfaatkan kekayaannya.” “Makanya aku bilang kamu itu telah melakukan kesalahan fatal, Adrian. Dengan kamu mencelakakan Vania, itu artinya kamu menghancurkan perusahaan kamu sendiri.” “Maksud anda apa, Pak Tomi?” Manajer Fikri seketika merasa takut saat mendengar nama Vania. Tomi menghela nafas lelah lalu mulai menguraikan kisah yang terjadi antara Vania dan Adrian. “Atasan kita ini telah melakukan hal yang fatal pada Vania, CEO Hadinata Group. Walaupun aku tidak bisa menyalahkan Adrian sepenuhnya karena Adrian juga juga dijebak.” “Bisa dijelaskan lebih detail, Pak Tomi? Kami masih bingung. Kami akan mengambil langkah kalau kami sudah mengetahui yang sebenarnya.” Fikri ingin tahu yang sejelasnya. Tomi pun lalu menjelaskan apa yang terjadi pada Fikri dan Nia sejelas-jelasnya, membuat keduanya gentar. “Ini benar-benar gawat, Pak. Bu Vania bukan orang sembarangan.” Fikri seketika pesimis. “Itu yang kumaksud tadi. Sekarang cepat urus dulu masalah website ini? Jangan sampai ini beredar keluar! Kalaupun sampai beredar keluar, kita harus mengeluarkan banyak uang dan juga tenaga untuk menghapus video itu dari peredaran. Semua klien akan mempertanyakan kredibilitas serta reputasi perusahaan. Yang terburuk, tidak akan ada lagi lain yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita.” “Itu tidak boleh terjadi. Kalian berdua harus kerja keras. Aku tidak mau perusahaan warisan papaku hancur begitu saja.” “Sebelum kamu ngomong kayak gitu, harusnya kamu pikir apa yang kamu lakukan, Adrian,” tegur Tomi kesal. “Ya, aku mana tahu kalau dia memiliki kekuatan seperti ini! Aku juga enggak pernah lihat dia sebelumnya.” Adrian berusaha membela diri. “Karena kamu enggak pernah meeting dengan klien-klien besar, Adrian. Setiap ada seminar dan meeting serta pesta, kamu tidak pernah pergi. Hanya aku Fikri dan juga Nia yang menghadirinya. Kamu main wanita terus, sih. Jadikan pelajaran, Adrian! Gara-gara seorang wanita, perusahaan yang sudah didirikan oleh papa kamu sebentar lagi akan hancur berkeping-keping.” Adrian menggeleng keras. “Tidak ... itu tidak boleh terjadi. Sebelum dia berhasil menghancurkan perusahaan, aku harus bertemu dengannya. Aku harus bicara padanya empat mata. Aku harus menjelaskan kalau semuanya bukan kesalahanku.” “Meskipun kamu tidak mengetahui kalau kamu dijebak oleh Heri, tapi kamu sudah memanfaatkan keadaannya yang sedang mabuk dan juga dalam efek obat perangsang. Ketika kamu tahu dia perawan, harusnya kamu tidak mengulanginya lagi dan menyadari kalau dia juga terjebak. Ketika seorang wanita masih perawan, itu artinya dia sudah menjaga dirinya dengan baik. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah melakukannya berulang-ulang, memberikan penghinaan padanya, bahkan menawarinya untuk menjadi parter ranjang jangka panjang kamu?” cecar Tomi gerah. Adrian bersungut kesal. Emosinya mulai merangkak naik ke kepala. Sejak tadi ia selalu saja dipojokkan. “Kamu kenapa bela dia, sih? Aku apa dia yang jadi CEO kamu? Aku yang gaji kamu di sini, bukan dia,” geram Adrian naik darah. “Aku hanya berdiri di posisi dia. Dia adalah seorang wanita yang kukuh menjaga martabatnya selama ini dan tiba-tiba kamu hancurkan begitu saja. Meskipun dia tahu kamu tidak bersekongkol dengan Pak Heri, itu tidak akan meredam emosinya. Dia akan tetap menghancurkan perusahaan ini. Pegang kata-kataku! Kalau ini semua tidak selesai dalam waktu cepat, tinggal menunggu waktu. Semua investor akan menarik saham mereka dari perusahaan ini dan perusahaan ini tidak akan ada klien sama sekali yang artinya perusahaan ini akan hilang ditelan bumi.” *** Sementara di perusahaan Hadinata, Vania sibuk mendengarkan percakapan yang terjadi di dua perusahaan yang menjadi targetnya. Yang CEO cantik itu ingin incar sekarang adalah perusahaan milik Adrian karena perusahaan Heri sudah dalam genggamannya. Tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya Heri mengemis padanya. “Ke mana mereka? Kenapa mereka tidak berbincang-bincang di ruangan Adrian dan ruangan sekretarisnya?” “Kenapa, Bu Vania?” tanya Rully, manajer Vania yang sedang menunggu Vania mereview laporannya. “Ah, iya! Aku dari tadi pagi berusaha mendengarkan apa saja yang mereka lakukan di sela-sela kegiatanku menandatangani proposal dan lain sebagainya, tapi sampai siang aku tidak mendengar Adrian bicara dengan para stafnya.” “Sepertinya mereka sedang sibuk mengurus skandal Pak Adrian, Bu," tebak Rully mengulum senyum. "Saya mendapatkan kabar kalau perusahaan mereka sedang sibuk menghapus video yang sudah Anda sebar di website perusahaan. Apakah video itu sudah disebar keluar juga, Bu?” “Tentu saja. Aku tidak akan menunggu waktu lama untuk menghancurkan perusahaan itu. Meski wajahnya di-blur, semua klien Adrian pasti tahu siapa dia. Nanti aku juga akan mengirim video lainnya yang wajahnya jelas. Setidaknya aku puas melihat kepanikan seisi perusahaan.” Rully kembali tersenyum, ikut senang melihat keceriaan atasannya. “Sudah pasti semua panik, meeting terbengkalai, proyek tertunda, bahkan sebentar lagi mangkrak, Bu.” “Pasti. Perusahaan Marchetti itu bisa dibilang perusahaan nomor satu karena banyaknya kliennya juga besaran income-nya sedikit lebih tinggi dibanding perusahaan Pak Diego Morelli, yaitu perusahaan suaminya Kak Aurel, teman Kakak iparku. Anggaplah Perusahaan Marchetti adalah perusahaan nomor satu, sedangkan perusahaan kita ada di posisi empat besar saat ini. Apa kamu pikir akan mudah menggoyahnya kalau bukan dengan menunjukkan keburukan dari perusahaan itu?” “Itu pasti sulit, Bu.” “Selama ini mereka berhasil menutupi semua kebusukan Adrian, tapi dia tidak tahu kalau aku memiliki seorang sahabat yang handal di bidang IT, yaitu Nick. Bersama teman-temannya, sangatlah mudah untuk mencari data-data yang sudah dihapus, meskipun sudah beberapa tahun yang lalu.” “Anda benar-benar hebat, Bu Vania,” puji Rully takjub. “Anda jauh lebih hebat dibanding papa dan mama anda.” “Terima kasih atas pujiannya, Rully. Namun, sayang nasibku tidak baik. Aku tidak bisa mempertahankan kehormatanku. Aku mungkin bisa dikatakan tidak cerdas karena aku tidak bisa melindungi diriku sendiri,” lirih Vania. “Itu jebakan, Bu. Orang yang dijebak, pasti tidak akan tahu kalau mereka akan dicelakai.” Rully berusaha membesarkan hati atasannya agar tidak menyalahkan dirinya. “Karena itulah aku belum sehebat itu. Aku kurang mawas diri. Aku merasa pongah karena aku tidak pernah tidak berhasil menjatuhkan lawan-lawanku. Ternyata aku kurang cerdik, tidak menyadari kalau orang akan bisa berbuat licik padaku. Untuk itu aku akan membalas mereka dengan telak.” “Benar, Bu Vania. Kalau Anda terus melakukan ini, bukan tidak mungkin dalam waktu seminggu hingga dua minggu ke depan, semua investor yang bekerja sama dengan Perusahaan Marchetti akan menarik saham mereka dengan paksa dengan alasan mereka tidak mau terlibat dengan perusahaan yang penuh skandal. Sebentar lagi perusahaan itu akan didatangi oleh para wartawan, terkait video yang sudah tersebar.” “Tentu saja. Aku bukan hanya menyebarnya di website perusahaan mereka, tapi aku menyebarnya di semua website perusahaan yang terkait dengannya, yang bekerja sama dengannya. Otomatis semua akan langsung menemui Adrian dan akan meminta penjelasan padanya. Bukan tidak mungkin mereka akan langsung menghentikan kerja sama secara sepihak. Saat itu terjadi, perusahaan Adrian akan gulung tikar dan aku akan bertepuk tangan ketika melihat dia mengemis padaku.” Vania puas. Meski ia kehilangan sesuatu yang tak ternilai dari dirinya, setidaknya ia bisa melihat penderitaan dua orang yang telah mencelakainya, memberikan stres luar biasa pada mereka sebelum akhirnya mengirim mereka ke penjara. “Semua impian Anda akan terwujud Bu Vania. Kami pastikan kami akan terus terlibat membantu mewujudkan semua impian Anda.” Rully meyakinkan. Vania tertawa riang, sungguh tak sabar menanti kehancuran dua orang yang mengusik harga dirinya. Namun, tawa itu seketika sirna ketika ia melihat laki-laki yang sudah mencabik-cabik kehormatannya melangkah masuk ke dalam ruangannya setelah berhasil menyingkirkan para staf yang ingin menghalanginya, membuatnya kesal setengah mati. “Kamu tidak akan bisa melakukan semua itu, Vania Emilia Hadinata. Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN