“Adrian ... Adrian ... buka pintunya!” Berulang kali Adelia mengetuk pintu rumah putranya, menekan bel berkali-kali, tapi putranya tidak kunjung keluar juga. Sudah lama Adrian tidak mengunjunginya dan ketika ia menghubungi Adrian via telepon, putranya itu pun jarang mengangkatnya, membuatnya mengomel kesal. Namun bukan Adrian jika tidak bisa membuatnya jengkel setengah mati di mana Adrian sering memutuskan panggilan sebelum ia sempat mengomeli putranya tersebut sepuas hati. Hari ini ia sudah capek-capek datang ke perusahaan, tapi tidak bisa menemukan putranya di sana dan ketika ia mengkonfirmasinya pada Tomi, sekretaris anaknya tersebut mengatakan bahwa Adrian tidak bekerja sejak pagi, hanya mampir sebentarsebentar, kemudian pergi ke entah ke mana. Tak ada yang bisa Adelia lakukan selai

