Perlahan kaki itu melangkah mendekati sosok pria yang sedang mematung di depan pintu keberangkatan. Ia tahu jauh di sana, di sudut bandara, Erwin sedang memperhatikannya, lebih tepatnya memastikan keberangkatannya. Tiket menuju London telah berada dalam genggamannya. Meski hatinya terasa sakit dan tidak rela, demi pria yang dicintainya, Aura harus menguatkan hatinya di depan laki-laki yang berdiri tak jauh darinya. "Regan," panggil Aura pelan. Tak butuh waktu lama untuk membuat pemilik tubuh tegap itu membalikkan tubuhnya sehingga saat ini mereka berhadapan dengan pandangan mata penuh rasa sakit dan rindu. "Aura..." bisik Regan tanpa suara. Lalu pria itu langsung berlari dan merengkuh tubuh kurus Aura ke dalam pelukannya, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Perlahan Aura mengangkat

