Ketika sore menjelang hujan tak kunjung juga reda. Mereka terpaksa menunggu di sebuah tenda kecil dekat parkiran. Aura yang mengenakan pakaian tanpa lengan mengusap lengannya. Berharap dengan melakukan hal itu ia setidaknya mendapatkan perasaan hangat pada tubuhnya. Tiba-tiba tanpa di duga sebuah lengan yang kekar meraih bahunya dan membawanya ke dalam pelukan. Degup jantungnya sukses berdetak dua kali lebih cepat. Mengapa saat ini ia merasa seperti seorang remaja? Perlahan Aura mengangkat wajahnya dan menemukan sepasang mata cokelat itu sedang memandangnya. Dengan cepat Aura mengalihkan tatapannya, takut Regan mengetahui kegugupannya. "Aku berharap hujan tak akan pernah reda," ucap Regan tiba-tiba. Aura memilih diam dan tidak menanggapi perkataan Regan tadi. "Lebih baik kita berlari

