Bab 2. Hubungan Baru

1105 Kata
“Bentar, bentar, Ibu bilang apa? Danisa anak Anda?” tanya Tiara yang tak kalah terkejut dari orang tua Danisa. “Iya, dia anak kami. Danisa Hardiyanti yang akan dijodohkan dengan anak Anda.” Tiara tersenyum. “Berarti tidak perlu ada pembatalan perjodohan. Anak kita ternyata sudah saling mencintai, apalagi sekarang Danisa sedang hamil.” “Tidak!” Danisa melangkahkan kaki dengan kesal. Ia mendekat ke arah dua keluarga yang tengah menatap ke arahnya. Gadis itu tidak mengira semua akan berubah menjadi pelik seperti saat ini. “Danisa gak mau nikah!” “Sayang, Mama tahu kalian telah melakukan kesalahan besar. Jujur, Mama sebenarnya sangat kecewa dengan berita kehamilanmu ini. Tapi, Mama dan papa akan merasa lebih kecewa lagi kalau kamu sampai menggugurkan kandunganmu itu. Janinmu tidak bersalah, tidak sepatutnya kamu berbuat demikian.” “Ma, semua tidak seperti itu ….” Danisa menoleh ke arah Devan yang dianggapnya sebagai penyebab kesalahpahaman yang terjadi saat ini. Namun, pria itu justru terdiam dan hanya menempelkan satu jari telunjuknya ke bibir, memberi kode untuk diam. Danisa mendekati Devan, menarik tangan pria itu hingga menimbulkan pertanyaan dari para orang tua mereka. Meskipun begitu, mereka memilih untuk memberi kebebasan agar mereka bisa menyelesaikan masalah. “Pak Devan, Bapak tuh gimana? Kenapa gak ngomong apa-apa sih?” tanya Danisa saat langkahnya terhenti di sebuah taman di tengah resto tersebut. Gadis itu langsung melepas tangan kekar yang sedari tadi ditariknya. Tanpa ia sadari, semua mata pengunjung saat ini tertuju ke arah mereka. “Terus memangnya saya harus bilang apa?" “Bukan seperti itu, Pak. Kita harusnya saling ngebantu buat membatalkan perjodohan itu, apalagi mereka mengira kalau aku lagi hamil! Pak Devan pokoknya harus tanggung jawab untuk meluruskan masalah ini!" “Kan saya memang akan tanggung jawab, Danisa.” “Tanggung jawab gimana?” Gadis itu bingung. Menautkan kedua alisnya saat mendengar jawaban Devan. “Lah itu, diminta nikahi kamu.” “Ya ampun, Bapak. Bapak tuh bisa serius gak sih?” “Saya serius, Nisa! Setelah saya pikir-pikir, lebih baik kita memang harus menikah.” “Bapak sudah gila, ya? Masa depan Nisa bakal suram.” “Masa depanmu bukannya memang sudah suram? Nilai mata kuliah saja gak pernah dapat nilai A. Dapat nilai B pun karena dosen-dosen gak enak hati sama papa kamu. Makanya, kami sepakat buat ngasih kamu nilai rata-rata.” “Tapi, ini bukan tentang nilai, Pak!” Ya, awalnya Devan memang berpikiran sama seperti Danisa. Ingin jujur dan menjelaskan semua kesalah pahaman itu. Tapi, mendadak pikirannya berubah. Ia ingin melanjutkan pernikahan itu supaya orang tuanya tak lagi menjodohkan dengan wanita lain. “Kamu jadi istri pura-pura saya dan kamu saya kasih uang bulanan sama seperti uang saku dari papa kamu. Tidak perlu ada tugas dan kewajiban seorang istri pada suaminya. Hanya sebatas status saja. Bagaimana?” tanya Devan memberikan penawaran kepada mahasiswinya. “Bapak gila?” “Itu terserah kamu sih. Tapi sayangnya kamu gak punya pilihan. Saya sama sekali gak tertarik untuk menjelaskan apa pun pada orang tua kita.” “Bapak?!” Devan tersenyum kecil. Ia seperti mendapatkan koin emas. Tentu saja pria itu tidak menyangka jika keisengannya bermain aplikasi laknat justru membuatnya malah mendapatkan keuntungan. Ia bisa mempertahankan cinta pertama yang tengah diperjuangkan. “Bapak bilang saja, naksir saya, kan? Makanya tak mengelak dari perjodohan ini.” Tanpa menjawab, lelaki dengan kemeja bergaris vertikal itu mengambil ponselnya dari saku. Ia memainkan benda tersebut hingga sudut bibirnya tertarik. “Menurut kamu dia cantik gak?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto kepada Danisa. “B aja.” Pria itu mengernyitkan dahi hingga kedua alis hitam dan tebal hendak menyatu, “Secantik ini dibilang biasa saja? Ternyata penilaian kita beda." “Iya, mata saya normal dan mata Bapak rabun. Makanya, bisa beda.” “Saya akan memberikanmu uang bulanan dua kali dari uang sakumu. Bagaimana? Kamu juga bebas melakukan apa pun yang kamu mau. Begitu pun denganku.” Danisa terdiam. Gadis itu untuk sesaat memikirkan apa yang diucap oleh dosennya. “Gak perlu melakukan tugas sebagai istri, kan?” Pria yang ada di depannya itu menggeleng. “Iya, gak perlu." "Masak gimana?” “Gak usah juga.” “Hmmm … gak perlu … anu juga, kan?” Dahi Devan mengernyit. Lalu di detik berikutnya, ia paham dengan apa yang dimaksud gadis itu. “Enggaklah! Aku juga gak tertarik dengan bocil ef-ef sepertimu.” "Baiklah kalau begitu saya setuju, tapi ada syaratnya?" "Apa itu?" "Bapak harus selalu ngasih saya nilai A, gimana?" Sambil bersedekap, Danisa mengajukan syarat itu. "Baiklah." Danisa pun tersenyum. Saat ini, ia merasa senang karena itu artinya, Danisa tak perlu lagi belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai A. Ya, ia bisa bebas melakukan apa pun semaunya. Bisa dugem bersama teman-temannya hingga pulang larut malam. “Ada satu syarat lagi, Pak!” “Apa lagi?” “Seisi kampus gak ada yang boleh tahu tentang pernikahan kita, apalagi Ayu dan Bella. Randi juga gak boleh!" “Randy? Siapa?” “Teman Nisa. Anak dari fakultas hukum. Gebetan Nisa.” “Owh, ok, ok.” Lelaki itu manggut-manggut. Selesai menyepakati setiap syarat yang diajukan Danisa, mereka pun kembali melangkah menuju ke ruangan VIP. “Tunggu!” ucap Devan ketika mereka berada di depan pintu. Pembatas antara ruang makan biasa dengan ruang VIP. “Ada apa, Pak?” Dengan ragu tangan Devan meraih tangan Danisa, mengalirkan getaran yang aneh di hati gadis cantik itu. Bukan hal yang asing ketika tangannya disentuh oleh seorang laki-laki. Tapi, apa yang dilakukan dosennya itu entah kenapa sampai membuat jantung Danisa berdetak tak karuan. Sontak ia pun menoleh ke arah Devan. “Ini hanya drama supaya mama dan papa kita percaya.” Devan tersenyum kecil, membuat Danisa turut menarik sudut bibirnya. Ditariknya napas panjang lalu mulai mendorong pintu yang kini ada di depannya. Langkah kaki terayun dengan tangan yang saling terpaut. “Kami akan menikah, Pa, Ma,” ucap Devan dengan tegas. Empat pasang mata kini langsung tertuju ke arah mereka saat mendengar perkataan Devan. “Devan dan Danisa memang pernah melakukan kesalahan fatal. Tapi, kami tidak ingin kembali melakukan kesalahan itu. Jadi, tolong restui kami!" pinta Devan melanjutkan ucapannya. Sontak Danisa pun menatap Devan. Sebenarnya jauh di dalam hatinya, ia masih tidak terima jika orang tuanya sampai berpikir ia tengah hamil. Tapi, mengingat akan kebebasan hidup yang nanti didapatnya, Danisa harus bisa cuek akan hal itu. Gadis itu pun mulai tersenyum senang membayangkan kehidupannya nanti. “Sebenarnya saya merasa kecewa sama kalian, tapi mau bagaimana lagi. Pokoknya Minggu depan kita akan melaksanakan pernikahan kalian." “Apa, Pa? Nisa … nikah Minggu depan?” tanya gadis itu merasa sangat kaget. Tentu saja ia tidak percaya jika secepat itu pernikahannya dengan Devan akan berlangsung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN