“Iya. Pernikahan itu harus segera dilaksanakan, mengingat usia kandunganmu yang akan bertambah dan perutmu yang akan membesar. Lebih cepat lebih baik, untuk apa harus ditunda?”
“Tapi, Pa ….”
Belum juga Danisa menyelesaikan kalimatnya, genggaman tangan Devan yang semakin kuat membuatnya menoleh ke arah dosen tersebut. Pria itu pun mengkerjapkan mata memberikan kode padanya untuk diam. Entah, bius apa yang diberikan oleh Devan, yang pasti, Danisa langsung bungkam. Sikap pemberontak yang biasanya sering ia tunjukan pada kedua orang tuanya kini tidak berlaku saat di hadapan sang dosen.
“Jangan terlalu keras sama menantu saya!" Tiara bangkit dari posisi duduknya. Ia langsung memeluk gadis manja itu dengan senyum bahagia.
“Kami lakukan ini semua demi kalian, Danisa. Mama harap kalian setuju. Demi anak kalian juga,” imbuh Tiara yang kini mengelus lembut perut calon menantunya.
Danisa terdiam. Ia bingung harus berbuat apa. Dilihatnya, Devan yang ada di sebelah, justru tersenyum mengejek ke arahnya.
“Kalian makan dulu, kami sudah selesai makannya!” titah Tiara lembut. Dari ucapan dan bahasa tubuhnya, wanita paruh baya itu begitu menyukai Danisa.
“Jeng, kita bahas pernikahan anak kita di luar aja, yuk! Biar mereka bisa makan berdua dengan nyaman,” ucap Tiara lagi.
“Iya, baiklah.” Wanita dengan pakaian semi formal itu pun berdiri.
“Pa, kok kalian masih duduk. Ayo ikut juga!"
“Lo, kita juga, Ma?”
“Ya iyalah, Pa. Ngapain Papa di sini? Gangguin yang lagi kasmaran aja." Tiara menoleh ke arah Danisa dan anak lakinya secara bergantian.
“Ya sudah, ya sudah, kita ikuti kemauan istri kita, Pak. Dari pada moodnya buruk, bisa berwajah masam seharian nantinya.”
Satu persatu mereka meninggalkan ruangan. Hanya ada Danisa dan Devan yang duduk saling berhadapan. Di tengah mereka, meja besar dengan segala macam menu masih tersaji, hanya terlihat beberapa piring yang sudah kosong. Jejak makanan yang dihabiskan oleh dua keluarga yang tengah berbahagia.
“Kenapa lihatin aja?” tanya Devan ketika gadis di depannya menatap dengan bibir yang meruncing.
“Puas ngeledekin aku? Pakai bilang aku hamillah, aku pacarmulah." Danisa menggerutu dengan wajah kesal.
“Kenapa dibahas lagi? Bukannya beberapa menit yang lalu kita sudah deal dengan perjanjian kita. Apa mesti saya buat hitam di atas putih?”
“Terserah!"
Danisa yang memang sudah lapar, mulai mendekatkan beberapa menu ke arahnya. Dilahapnya, makanan tersebut seperti beberapa hari tidak makan. Perutnya yang kecil ternyata bisa menampung makanan lebih banyak dari perkiraan. Sedangkan pria berkemeja garis di depannya kini hanya menatap dengan ekspresi heran.
“Kenapa lihatin Nisa dari tadi? Gak lapar? Gak ingin makan? Ya sudah, makanan Bapak buat aku aja," ucap Danisa yang kini meraih piring di depan dosennya, mendekatkan benda tersebut unuk antri dimakan. Ya, tiga tumpuk piring menjadi bukti betapa laparnya wanita cantik itu.
“Kamu, masih kuat nambah? Kamu itu udah ngabisin steak, nasi, tumis kangkung, dan udang goreng.”
“Kenapa? Gak ikhlas makanan Bapak saya ambil?”
“Ikhlas, kalau mau ya dimakan aja. Ibu hamil kan memang butuh banyak nutrisi,” goda pria itu sambil tersenyum.
“Apa, Pak?” tanya Danisa dengan mulut yang masih penuh. Pipi mengembung layaknya ikan buntal itu membuat sudut bibir Devan tertarik.
“Habiskan dulu makanannya, gak baik makan sambil bicara!"
Danisa mengunyah makanan yang memenuhi rongga mulutnya, menelannya dan mengakhiri dengan minum air putih. “Aku kalau lagi badmood memang makan banyak, Pak.”
Devan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. “Sepertinya kulkas rumahku juga harus diisi banyak makanan.”
***
Seminggu berlalu begitu cepat. Di mana pernikahan antara Danisa dan Devan telah tiba. Mereka melakukan semua dengan sederhana, hanya keluarga inti dari kedua mempelai yang datang. Ya, itu semua diinginkan oleh Danisa dengan alasan menutupi aibnya. Meskipun sebenarnya, ia ingin menyembunyikan pernikahan tersebut seperti perjanjian yang dilakukan antara Danisa dan Devan. Ia tak ingin sahabatnya tahu kalau ia sudah menikah. Yang lebih parahnya, pria yang dianggapnya sebagai dosen paling menyebalkan seantero dunialah yang menjadi suaminya.
“Danisa, makan yang banyak gih!” ucap Tiara yang tampak begitu bahagia hingga memperlakukan Danisa layaknya anak sendiri.
“Gak perlu sungkan di sini. Kamu sudah jadi anak Mama,” imbuhnya lagi.
“Iya, Ma.” Danisa membalik piring yang ada di depannya, menuangkan sedikit nasi dan lauk. Dilihatnya sendok yang menjauh, rasanya tak etis jika harus bangkit dari tempat duduknya.
“Pak Devan, boleh minta tolong ambilkan sendok?”
“Lho, lho, lho, kok panggilnya, Pak? Mama tahu kalian dosen dan mahasiswi, tapi panggilnya jangan gitu dong, gak enak kalau didengar orang,” protes Tiara.
“Mas Devan, tolong ambilkan sendok, ya!" Danisa mengulang perintah yang sama. Sebenarnya ia risih memanggil dengan sebutan itu. Namun, apa mau dikata, takdir mengharuskan ia melakukannya.
Devan yang mendengarnya pun hanya cengar-cengir tak jelas. Ia tampak bahagia menatap ekspresi aneh dari gadis yang kini telah menjadi istrinya.
“Nah begitu, kelihatan lebih mesra.” Tiara tersenyum.
“Nis, tolong ambilkan tisu itu!" ucap Devan yang kini berbalik memerintah.
“Devan?!”
“Apa, Ma?”
“Kamu juga gak boleh manggil Nisa kayak gitu.”
Dahi pria yang duduk di sebelah Danisa pun mengernyit. “Dek Nisa, tolong ambilin tisunya ya!”
Danisa menahan senyum. Kalimat yang terlontar membuatnya ingin tertawa terbahak. Dek Nisa, sapaan yang terdengar aneh di telinganya.
“Ini, Pak Devan, eh, Mas,” ucapnya sambil memberikan tisu yang tidak jauh dari jangkauannya.
Orang tua Devan hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya.
***
Malam ini adalah malam pertama sepasang pengantin baru. Di luar dari kebiasaan pengantin pada umunya, Devan justru asyik duduk di depan meja kerjanya memperhatikan laptop warna hitam miliknya. Beberapa lembar kertas jawaban menjadi sosok yang menarik dari menemani gadis yang tengah terlelap di atas sofa di depan TV. Ya, Danisa tidur lebih awal. Sepertinya ia capek dengan aktifitas hari ini. Menjadi mempelai perempuan dan menjadi seorang menantu baru. Hal yang tak pernah masuk dalam pikirannya saat ini. Hingga tanpa sadar, ia terlelap ketika menyaksikan drakor kesayangannya.
Devan melirik jam yang berada di sudut mejanya. Waktu menunjukkan hampir dini hari. Ia menutup benda elektronik di depannya, menghampiri Danisa yang tengah tertidur. Bagaimanapun, ia tak tega melihat gadis tersebut tidur dengan posisi tak nyaman.
“Nisa, kamu tidur di kasur aja! Biar aku saja yang tidur di sini.”
Tak mendapatkan jawaban dari Danisa, Devan pun memutuskan untuk memindahkan gadis itu ke tempat yang lebih nyaman untuk istirahat. Membuat Danisa terbangun. Seketika pandangan mereka saling bertaut. Tentu saja gadis itu terkejut saat membuka mata, dosen yang dianggapnya menyebalkan itu kini berada sangat dekat dengannya. Bahkan aroma tubuh dan deru nafasnya bisa dengan jelas tercium oleh indera penciumannya.
“Pak Devan, apa yang kamu lakukan?” tanya Danisa dengan penuh selidik.