Bab.11 Hal Gila Danisa

1211 Kata
“Ayo, Pak, buka mulutnya! Gak perlu gengsi,” ucap Danisa tersenyum. Ia lupa menyadari kalau lelaki di depannya pun sama sepertinya. Sedikit demi sedikit memberi ruang hati untuk dirinya. Terlebih lagi tentang cintanya yang kandas. Membuat Devan lebih mudah mengganti posisi Adila menjadi Danisa lebih mudah dari pikirannya. Devan kembali tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia menerima suapan dari seorang wanita kecuali dari mamanya. Ya, ini benar-benar pertama kali ia merasakan hal tersebut. Hal yang tak didapatkan dari Adila sekali pun. Wanita itu terlalu mandiri dan cuek. Apalagi mereka menjalin hubungan lama memang dalam keadaan LDR. Saling sibuk mengejar karir masing-masing. “Enak kan, Pak?” tanya Danisa polos. Ia menatap lelaki di depannya, mengunggu reaksi. “Kamu memang terbiasa -.” Belum juga kalimat itu terselesaikan. Suara dering ponsel Danisa menghentikan aktifitas mereka. “Malam ini?” tanya Danisa kaget. Dilihatnya lelaki di depannya dengan bingung. Tangan kanannya mendekatkan ponselnya ke telinga sedangkan tangan kirinya tanpa sadar menggaruk kepala yang tak gatal. “Datang sekarang?” tanyanya lagi. Devan tak mendengar obrolan dari sana. Tapi, ia terus memperhatikan wanita di depannya. Ia terdiam, tak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi gadis manja tersebut. “Pak, boleh tidak Nisa ….” Danisa mengutarakan niatnya ketika panggilan itu berakhir. “Apa?” “Danisa mau ke café. Randy sedang manggung di sana.” “Randy gebetanmu itu?” tanya Devan mencoba dengan ekspresi datar. Hatinya sedikit terusik dengan nama yang diucapkannya. “Iya, Pak.” “Nanti pesta miras lagi? Dugem lagi?” “Katanya Nisa bebas kalau jadi istri bapak. Kenapa malah dikekang?” “Danisa, sudah pernah saya jelaskan bukan? Saya membebaskan kamu melakukan tugas istri. Tapi, untuk hal seperti yang kamu ucapkan itu masih ada dalam pengawasan saya. Bagaimana jika mama dan papa tahu, mereka akan berpikir kalau saya tidak becus jaga kamu.” “Emang gak becus.” “Danisa, bisa tidak sekali-kali tidak egois?” “Bapak tuh yang egois,” ucap Danisa dengan nada meninggi. Ia berlalu meninggalkan Devan yang tadinya duduk di sebelahnya. Langkah-langkah kaki Devan terayun dengan netra yang menatap sekeliling. Ia terlalu jauh ditinggal Danisa saat membayar baksonya, hingga tak menemukan gadis itu kembali. Mungkinkah ia sudah pergi dengan Randy? Pertanyaan itu berkerumun di pikirannya. Sesuatu yang rasanya berat baginya. “Tidak, tidak, ini bukan rasa itu. Saya hanya sebatas memiliki rasa tanggung jawab terhadap Danisa. Bukan cinta. Cinta saya masih tetap untuk Adila,” ucap Devan bermonolog. Ia belum meyakini tentang rasa yang mulai menyapa hatinya. Langkah kakinya mulai terhenti ketika melihat pungung Danisa. Kaos dengan warna putih bermotif bunga dan celana jeans khas anak muda. Rambut panjangnya dikuncir kuda hingga leher jenjangnya begitu terkespos. Ia tengah duduk di bawah pohon dengan menatap ayunan yang dinaiki dua bocah umur lima tahunan. “Kamu beneran ingin kesana?” tanya Devan mendekat. “Percuma saya jawab,” ucap Danisa tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. “Tidak ada yang percuma di dunia ini. Hal sekecil apapun itu pasti punya peran masing-masing.” “Danisa lagi tak ingin dengar ceramah bapak.” “Danisa, ini sudah malam. Kamu juga belum belajar. Besok kamu masih harus remidi ulangan harian kemarin. Kenapa tidak -.” “Bilang saja tidak boleh. Selalu banyak alasan.” “Saya ijinkan kamu kesana. Tapi janji, harus pulang sebelum jam sepuluh malam.” “Sepuluh malam? Danisa itu udah gede, bukan anak SD lagi.” Danisa menoleh. Kini ia mengubah posisi, duduk di bangku yang sama, menatap lelaki yang mengajaknya berbicara. “Justru karena kamu sudah gede, jadinya mesti jaga diri. Jangan sering pulang malam dengan pergaulan tak jelas.” “Pergaulan tak jelas? Nisa hanya lihat Randy manggung. Nisa hanya mau semangati Randy. Bapak tahu dia juga kan? Nilai akademiknya juga bagus. Gak mungkin ia memberi pengaruh negative kepada Nisa.” “Bagaimana kalau saya antar kesana?” “No! Bagaimana kalau ada yang lihat bapak? Apalagi Ayu dan Bella juga ikut kesana. Bisa rusak reputasi saya.” Devan tersenyum kecil, “Seburuk itu saya di mata kamu? Ini kunci mobil saya, datanglah dengan mobil itu. Saya khawatir jika kamu pakai jasa kendaraan online.” Lelaki itu meraih kunci mobil dalam sakunya dan memberikan benda tersebut kepada Danisa. “Bapak yakin?” Devan mengangguk. “Kalau Nisa pulang terlambat bagaimana?” “Saya susulin kamu.” “Kalau Nisa kabur?” “Saya datangi ke rumah papa kamu.” “Kalau Nisa juga gak pulang kesana?” “Saya akan buat pengumuman di sosmed dan membagi selebaran di jalan manapun. Ada wanita hilang dari rumahnya.” Danisa tersenyum. “Terima kasih ya, Pak. Sudah ijinkan Nisa.” Danisa hendak beranjak, hingga kakinya kembali terhenti ketika namanya dipanggil. “Ada apa lagi, Pak?” Devan tak menjawab, Ia hanya mendekat. Hingga sedetik kemudian jari lelaki tersebut menyentuh bibir Danisa, “Ada bekas kuah bakso di bibirmu,” ucapnya. Danisa terdiam. Lagi-lagi ia merasakan sesuatu hal yang aneh. “Pak Devan pulangnya bagaimana?” “Tidak usah kamu pikirkan. Yang penting kamu hati-hati di jalan. Lain kali, minta Randy jemput kamu. Lelaki yang sayang dan peduli tak akan mungkin membiarkan wanitanya datang sendiri. Apalagi malam-malam.” Lelaki itu hendak mengayunkan langkah hingga akhirnya ia kembali menoleh kearah gadisnya. Devan menarik ikat rambut Danisa yang membuat rambut panjang hitam itu terurai begitu saja. “Jangan biarkan lehermu dilihat lelaki di luaran sana. Kamu tak tahu apa yang mereka pikirkan.” Devan pergi yang justru membuat Danisa mematung. *** “Gila, kenapa jadi gini?” ucap Danisa kesal yang kini menepikan kendaraannya. Ia mengacak rambut panjangnya yang membuat satu persatu helai rambut rapi itu menjadi berantakan. Ia meraih ponselnya dan mencari nama Randy di dalamnya. “Ran, maaf ya! Aku gak jadi kesana.” “Lo, kenapa? Ini Ayu dan Bella sudah ada di sini juga.” “E … aku ….” “Woy, kenapa gak jadi datang? Papamu ngelarang kamu pergi malam lagi?” tanya dari sebrang sana yang beralih dengan suara Ayu. “Papamu gak asyik sekali sih, Nis.” Suara Bella yang kini terdengar. “Iya. Mau gimana lagi?” “Ya sudah, besok kita bertemu di kampus. Bye.” “Ya, bye.” Danisa menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Baginya, ini adalah hal gila yang pernah ia lakukan. Membatalkan sesuatu yang ingin sekali ia datangi. Bahkan saat bersama orang tuanya, ia akan kekeh dengan permintaannya tersebut. “Apa seburuk itu saya di mata kamu?” ucapan Devan dengan ekspresi aneh itu terus terekam di memori Danisa. “Apa aku berlebihan ya menghina, Pak Devan?” batinnya. Danisa memutar balik laju kendaraannya, memilih jalan pulang. Ia bahkan melajukan roda empat itu dengan kencang tak sabar bertemu dengan dosen menyebalkan. Lima belas menit lamanya akhirnya ia sampai. Devan duduk di kursi teras dengan laptop di pangkuannya. “Kamu sudah pulang? Ini belum jam sepuluh,” ucap Devan sambil menatap jam yang melingkari lengannya. “Bapak ngerjain tugas apa? jangan bilang bapak kasih nilai buruk untuk aku, Randy, Ayu dan Bella,” tanya Danisa penuh selidik. Pasalnya, ia pernah bercerita kalau attitude mahasiswanya menjadi nilai juga di matanya. Danisa menoleh kearah benda kesayangan lelaki tersebut. Hingga tersadar ada fotonya di dalamnya. “Pak, itu foto Nisa?” tanya gadis itu kaget. “Ya, rencananya saya mau buat selebaran berita orang hilang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN