Bab.10 Inikah Cinta?

1270 Kata
“No, no, saya gak akan panggil bapak dengan sebutan Mas lagi. Enak saja. Bapak itu sudah tua, jadi lebih tepat dipanggil Pak Devan.” “Danisa, kamu harus terbiasa dengan sebutan itu. Jika papa dan mama datang kesini bagaimana? Kita harus membiasakan diri.” Danisa menggeleng, “Enggak. Umur kita tuh jauh beda, Pak. Bukan usia antara kakak dan adik lagi.” “Ya, benar kata kamu kita bukan kakak dan adik. Tapi, kita suami dan istri.” Danisa tergagap. Ia kesusahan menelan salivanya sendiri. “Dalam hukum agama maupun negara kita sah jadi sepasang suami istri.” “Tidak. Kita nikah hanya pura-pura.” “Pura-pura? Saya menyimpan buku nikah kita, tertulis jelas nama istri saya Danisa Hardiyanti.” “Pak, bercandanya gak lucu. Bapak nikahi saya hanya untuk status saja. Dan saya memilih dinikahi bapak untuk kebebasan, itu jelas dalam perjanjian kita.” “Perjanjian mana? Ada surat perjanjiannya?” tanya Devan yang membuat Danisa semakin kesal. “Bapak jangan bilang, jebak Danisa ya. Nikah dengan bujang tua seperti bapak tuh aib. Jadi pernikahan kita gak akan lama. Sebelum teman-teman Nisa tahu hubungan kita nantinya, bapak sudah harus menceraikan saya.” “Niat awal saya memang seperti itu. Tapi, sekarang sudah tak tertarik. Untuk apa saya bercerai?” Lelaki itu mengangkat kedua alisnya dengan genit. “Mama dan papa saya sangat suka denganmu.” Lelaki itu tersenyum dan membersihkan meja dapurnya yang berantakan. “Tapi saya tidak tertarik dengan bapak.” Devan tersenyum sambil mengelap meja dapurnya yang kotor, “Kamu pikir saya serius? Menikah denganmu juga aib. Gadis manja, seenaknya sendiri dan tak bisa apa-apa. Lihat saja, belum genap dua puluh empat jam kamu disini tapi dapurku seperti kapal pecah. Kamu pikir saya tahan dengan gadis sepertimu?” Danisa terdiam. Untuk kali pertama, tingkat kepercayaan diri itu menciut. Danisa yang selalu diagung-agungkan oleh para kaum adam kini direndahkan hingga ke dasar. “Ya sudah kembalikan saya kerumah mama dan papa.” “Kamu sudah terima transferan dari saya. Jadi, nikmati saja waktu di sini. Saya jalani hidup saya dan kamu jalani hidup kamu. Bukannya kita sudah deal.” “Tinggal di rumah bapak seperti disiksa bertubi-tubi.” Devan tersenyum, “Danisa, kapan saya pernah nyiksa kamu? Yang ada kamu yang selalu menyiksa pikiran saya. Bisa tidak sebentar saja keluar dari otak saya.” “Bapak mikirin Danisa tiap hari ya?” Gadis tersebut tersenyum tak jelas mendengar perkataan dari dosennya. Apa yang diucap oleh lelaki dingin bernama Devan itu membuatnya kembali melambung ke angkasa. Ia tak seburuk seperti yang diucap lelaki di depannya nyatanya pikiran dosen menyebalkan itu terisi tentangnya. “Bilang saja bapak naksir?” tanya Danisa kembali. “Naksir? Saya itu pusing mikirin nilai kamu. Bagaimana saya nulis nilai B di mata kuliahmu sedangkan apa yang kamu kerjakan sama sekali tak ada yang benar. Jawaban yang kamu tulis di ruangan saya, satu pun tak ada yang benar.” “Satu pun, Pak?” “Ya. Makanya saya pusing.” “Tapi yang kita bahas bukan tentang nilai, Pak.” “Tentang apa? Aku dan kamu?” Tanpa disadari, wajah Danisa memerah bak buah tomat siap panen. “Terserah bapak lah,” ucap Danisa yang meninggalkan. Ia melangkahkan kaki menuju kamar. “Danisa, buka pintunya!” ucap Devan sambil mengetuk pintu kamarnya. “Males, Pak. Sudah terlanjur rebahan.” “Tapi, ini kamar saya.” “Ini juga kamar saya, Pak. Lagian saya di sini tamu, bukannya tamu adalah ratu?” “Tapi ini mama dan papamu datang. Saya harus jawab apa?” “Papa dan mama?” tanya Danisa kaget. Mendadak matanya berbinar. Ia langsung bangkit dan membuka pintu tersebut. Berlari kecil menuju ruangan tamu yang sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. “Tapi saya bohong,” ucap Devan setengah berbisik di dekat telinga Danisa. “Gak lucu, Pak.” “Gak lucu lagi kalau kamu mengurung diri di kamar dalam keadaan lapar. Bukannya kamu belum kenyang? Mie rebusmu pun tumpah.” “Ya, mau gimana lagi?” “Kita keluar cari makan. Kamu pengen makan apa?” “Danisa mau bakso, nasi goreng seafood, sate ayam dengan irisan cabe yang banyak dan mie ayam.” “Banyak sekali. Itu perut apa gentong?” ucap Devan sambil menoleh ke arah perut rata istrinya. “Jangan lihat-lihat, Pak!” ucap Danisa yang menyadari. “Kenapa? Saya gak dosa kalau pandangi kamu, bahkan saat kamu lepas pakaian pun tak masalah.” “Pak, jangan aneh-aneh!” “Sayangnya saya tak tertarik dengan bocil ef-ef sepertimu. *** Danisa tiba di sebuah alun-alun di pusat kota. Sebenarnya dia malas berada di tempat seperti itu. Biasanya, ia akan jalan ke resto mahal atau ke foudcourt. Kalau tidak, ia akan jajan di mal. Tapi, berhubung ada dosen menyebalkan bersamanya. Ia tak ingin mengambil resiko. Danisa tak mau seorangpun tahu kalau ia ada hubungan khusus dengan lelaki tersebut. “Mau makan mana dulu, bakso?” tanya Devan sambil menunjuk pedagang kaki lima. Tertulis jelas nama Bakso Bang Heri dengan gambar yang menggugah selera. Satu mangkok bakso dengan beberapa irisan daging dan tetelan. “Yakin enak gak, Pak?” tanya Danisa. “Enak,” jawab Devan pasti. “Kebersihannya terjaga gak, Pak? Takutnya perut Nisa sakit habis makan di situ.” Devan tersenyum tipis, “Sesekali hargai pedagang pinggiran. Gak semua makanan kaki lima itu tidak sehat.” “Awas ya, Pak. Bapak bertanggung jawab kalau perut saya sakit.” “Iya.” Lelaki itu menarik lengan Danisa untuk mendekat ke gerobak bakso tersebut. Satu mangkuk bakso isian lengkap dipesan oleh Devan. “Kenapa harus satu, supaya Nisa yang sakit. Bapak tidak?” tanya Danisa penuh curiga. “Yang pengen bakso siapa? Kamu kan? Terus kamu bilang perutmu sakit? Yang ngajak makan di daerah sini siapa? Kamu juga kan? Bisa tidak, kamu tidak negatife thingking terhadap sesuatu.” “Iya, iya, cerewet sekali,” ucap Danisa kembali menggerutu. “Ngurus kamu yang sehat saja sudah cukup memforsir tenaga saya. Bagaimana kalau kamu sakit? Bisa-bisa saya juga ikut masuk ke rumah sakit karena kelelahan.” “Bapak ikhlas gak si ngajak kesini?” “Kalau gak ikhlas, saya tinggal ngerjain tugas-tugas saya. Untuk apa repot-repot anterin kamu ke sini.” Tak lama kemudian makanan yang dipesan sudah tiba. Sebuah bakso dengan pentol yang besar beserta daging dan tetelan. Lebih menggiurkan dari gambar yang tertera di banner di depan tadi. “Jadi makan baksonya gak? Kalau gak mau, saya makan.” “Mau, mau, mau,” ucap Danisa cepat. Ia meraih mangkok yang ada di tangan Devan seperti seorang anak yang tengah kelaparan. “Makannya pelan-pelan, gak usah buru-buru,” ucap lelaki tersebut ketika Danisa terlihat begitu semangat. “Mood Danisa jelek, Pak. Bawaannya pengen makan mulu.” “Iya, Seminggu di rumah saya BB mu akan naik 10kg.” “Gak. Nisa gak cepet gemuk meskipun banyak makan.” “Berarti kamu cacingan. Makanya nutrisi makananmu tak ada yang terserap dengan baik.” Wanita itu menghentikan aktifitasnya, menatap tajam lelaki di sebelahnya. “Saya hanya bercanda. Tapi, kalau dipikir-pikir sih memang iya.” “Pak, jangan buat mood makan saya jelek.” “Bukannya kalau moodmu jelek, makanmu jadi banyak. Sudah habiskan dulu makanmu!” Danisa menikmati bakso di depannya dengan begitu antusias. Kuahnya yang nikmat dengan pentol besar berisi daging cincang. Juga dengan daging tetelan yang menggoyang lidahnya. “Buka mulutnya, Pak! Dari tadi lihatin Nisa mulu, bapak sebenarnya pengen juga kan?” tanya Danisa yang membuat Devan terkejut. Satu sendok dengan kuah dan irisan daging berada tepat di depan bibirnya. Sedangkah kedua mata mereka saling menatap. Dunia seperti berhenti berputar dengan porosnya. Waktu terasa berhenti. Sebuah detak jantung berpacu dengan ritme indahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN