Bab.9 Adik kakak?

1027 Kata
“Gak lucu,” ucap Devan yang kini kembali duduk dan menikmati makanannya. Makanan yang sama, piring yang sama bahkan dalam suapan yang sama. Entah, mereka menyadari apa tidak, antara Danisa dan Devan seperti seorang pasangan harmonis. “Pak Devan marah? Danisa kan hanya bercanda. Wajah Pak Devan kaku, kayak kanebo kering. Jadi, biar senyum dikit,” ucap Danisa yang tak berhasil membuat lelaki di sebelahnya membaik. Dosen menyebalkan itu masih terdiam tanpa ekspresi. “Biasanya juga Danisa yang dikerjai. Suruh ngerjain tugas inilah, tugas itulah, sampai tangan Danisa kram pula. Cuma dibercandain gini aja ngambek, kayak cewek,” ucap Danisa menggerutu. Devan tak bergeming. Ia masih menikmati makanan di depannya. “Tahu gak, Pak Devan itu mesti banyak senam wajah, banyak senyum, biar syaraf-syaraf yang ada di tubuh bapak bisa bekerja dengan baik.” Danisa menggerakkan bibirnya, dahinya, melakukan senam wajah seperti yang dimaksud. Akan tetapi, Devan tetap tak beranjak. Ia hanya sekilas menoleh dan kembali menikmati makanannya kembali. “Pak, Nisa masih lapar,” ucap Danisa membuka mulutnya. Sengaja menggoda supaya laki di sebelahnya berhenti murung. “Ikannya sudah habis tinggal durinya. Mau?” “Gitu amat sih, Pak. Pelit.” “Di rak sana masih ada mie instan. Silakan kalau mau dimasak.” “Masak sendiri, Pak?” “Ya iyalah, kamu urus dirimu sendiri. Harus saya gitu?” Devan bangkit dan mendekat ke wastafel, mencuci piring kotornya. “Di kulkas masih ada satu telur. Saya belum belanja minggu ini. Jadi seadanya dulu,” imbuhnya lagi. “Bukannya itu, Pak. Saya gak bisa masak.” “Kalau gak bisa masak ya belajar. Lagian cuma buat mie instan kan tinggal didihin air dan masukin mienya saja.” “Gak bisa nyalain kompor, Pak.” Gadis itu meringis ke arah lelaki yang sedang mengusap tangannya. Mengeringkan tangan basah usai cuci piring. “Ini sudah,” ucap Devan yang memutar gagang untuk menyalakan kompor miliknya. Api biru dengan nyala teratur keluar dari sumbunya. Danisa mengerucutkan bibir, mengambil panci dan mengisinya dengan air. Seumur hidup baru kali ini ia masak sendiri. Biasanya cuma berteriak memanggil nama bibinya dan apa yang diinginkan akan datang. “Bumbunya gak usah dimasukin,” ucap Devan ketika gadis di sebelahnya hendak menuang bumbu ke air mendidih. “Kenapa, Pak? Yang namanya bumbu ya dimasak, dicampur sama mienya.” “Baca cara membuatnya tidak? Saya heran kenapa punya mahasiswi yang IQ otaknya ada di bawah rata-rata,” ucap Devan sambil menunjukkan kemasan mie tersebut. “Jika bumbu ikut dipanaskan, maka akan mengalami perubahan struktur kimia yang bersifat racun.” “Bisa tidak gak bahas masalah IQ? Saya hanya malas baca saja jadi tidak tahu.” “Iya, semuanya serba malas.” Baru juga Devan beranjak menjauhi Danisa, jeritan gadis tersebut mengejutkannya. “Ada apa, Nisa?” tanya Devan panik. “Nisa gak bisa nuangnya, Pak. Panas.” “Manja. Kamu itu bukan anak paud lagi. Belajar mandiri! Kamu itu bisa. Tapi, malas,” ucap lelaki berhati es tanpa tergerak untuk membantu. Ia kembali mengayunkan langkah meninggalkan. Baru juga dua kakinya berayun bergantian. Suara jeritan kembali terdengar. Kali ini diikuti dengan panci yang tumpah dengan mie dan air mengaliri sebagian meja keramiknya. Danisa mematung menatap tangannya yang terkena air panas sambil menangis. Ditariknya tangan itu oleh Devan dan dialiri air mengalir dari kran. Sesekali Devan menatap gadis di sebelahnya dengan perasaan bercampur aduk. Antara rasa bersalah, rasa geli dan rasa jengkel. Bagaimana bisa seorang mahasiswi menuang mie dan kuah panas ke mangkok saja tidak bisa? “Masih sakit?” tanya Devan. “Ya.” Danisa mengerucutkan bibir kembali. Ia masih jengkel dengan keadaan. “Danisa pingin pulang. Danisa gak suka tinggal di sini.” “Tapi ….” “Pokoknya Danisa pingin pulang. Di sini gak enak. Jadi mandiri gak enak. Meskipun papa sering ngomel dan ngancam nurunin uang saku Danisa tapi mereka tak pernah ngebiarin Danisa sakit. Apalagi masak sendiri seperti tadi.” “Saya juga tidak membiarkan kamu sakit.” Lelaki itu menoleh kearah Danisa, di mana wanita tersebut juga menatap dosennya. Pandangan mereka tak sadar saling bertemu, saling menyelam dengan pikiran masing-masing. Menikmati pemandangan di depannya dan merasakan deru nafasnya. Kedua jantung itu berdetak tak pada semestinya. “Maaf dengan yang saya lakukan. Saya hanya ingin kamu menjadi wanita yang lebih dewasa,” ucap Devan yang kini berlalu. Danisa terdiam. Tatapan dari dosen killer itu memengaruhi pikirannya. Dosen tampan dengan sikap dingin namun peduli. “Sadar, Danisa. Pak Devan itu punya kekasih,” batin Danisa menyadarkan dirinya. Lagi-lagi ia merasakan getaran tiap kali berdekatan dengan lelaki tersebut. “Lain kali jangan ceroboh lagi! Kamu itu sudah dewasa. Buktikan kepada mama dan papamu. Buat mereka bangga dengan kehadiranmu.” Devan menarik lengan Danisa, meminta ia duduk di kursi dan mengolesi jarinya yang melepuh dengan obat luka. “Papa dan mama bakal bangga ngelihat Nisa bisa tuang mie kuah sendiri?” tanya Danisa lugu. Devan tersenyum tipis, “Maksud saya mereka akan bahagia melihat kamu mandiri. Bukan gadis yang manja lagi.” “Bapak ini mau ceramahin saya atau mau obatin luka saya?” “Saya itu peduli makanya bicara panjang kali lebar dengan kamu.” “Peduli dari mana, Pak? Yang ngasih tugas di luar batas kemampuan? Yang ngebiarin Nisa kelaparan?” “Saya sudah kasih kamu makan, hampir satu porsi saya.” “Kasih saya makan? Bapak anggap Nisa apa? Gak enak bangert dengarnya.” Devan tersenyum sambil menoleh kearah Danisa. Sedangkan jarinya masih terus mengoles salep ke luka melepuh di jari gadis cantik tersebut. “Selain kamu pemalas, manja, kamu juga ngambekan ya orangnya. Pantas saja mama dan papa kamu segera menikahkan anaknya. Sudah gak kuat didik kamu.” “Bisa tidak, Pak, kalau bicara itu yang bikin hati adem, tentram gitu. Gak bikin emosi mulu.” “Bisa.” “Nah, bagus, kalau begitu lakukan!” “Saya akan lakukan jika kamu melakukan syaratnya.” “Ada syaratnya?” Lelaki itu mengangguk, “Di dunia ini gak ada yang gratis, Nisa.” “Ok, ok, syaratnya apa? yang penting Nisa gak emosi mulu tiap lihat bapak.” “Syaratnya mudah. Cukup panggil saya Mas dan kamu saya panggil adek. Gimana?” “Apa?” tanya Danisa dengan mata yang membulat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN