Bab.8 Duri

1068 Kata
“Bukan urusan kamu,” ucap Devan datar. Ia mengayunkan langkah dan membuka almari di ruangan tersebut. Beberapa stel pakaian milik pak dosen ada di dalamnya. “Pindah pakaianmu!” ucap Devan sambil membuka koper milik Danisa. “Ini kamar kita. Kamar di sini cuma satu,” imbuhnya lagi. “Apa, Pak?” “Kalau keberatan silakan tidur di luar, karena ini rumah saya jadi terserah saya.” “Arogan sekali.” “Tepat. Aku memang seperti yang kamu ucap. Arogan, sok perfek, jelek, kaku, apalagi?” tanya lelaki itu. “Aneh. Stresnya pak Devan kumat kali ya,” ucap lirih Danisa. “Saya masih mendengar apa yang kamu ucap.” *** “Lagi masak apa, Pak Devan?” tanya Danisa yang mendekat ke arah suaminya. Lelaki dengan kaos berkerah itu berdiri di dapur dengan celemek yang menggantung di tubuhnya. “Hanya goreng ikan. Kebetulan, masih ada ikan bumbu di lemari pendingin.” “Kok cuma satu?” tanya Danisa ketika melihat wajan teflon di atas kompor itu hanya terdapat satu ekor ikan. “Iya. Bukannya kamu gak suka masakan saya? Asin, overcook, dan ....” “Nasi goreng yang saya buang tadi pagi buatan bapak?” “Saya lebih kasihan dengan wadahnya. Harganya mahal,” ucap Devan sambil membalik ikan tersebut. “Habisnya ....” Gadis itu menggantungkan kalimatnya. “Habisnya apa?” “Pagi-pagi bapak sudah bikin moodku ambyar.” “Bukannya kalau moodmu buruk, makanmu jadi banyak.” “Iya. Gara-gara itu juga uang saku dari bapak sudah habis. Aku buat jajan bakso, kwetiau, sate ayam dan siomay.” “Jatah uang jajanmu sudah saya kirim. Silakan kalau mau cek,” ucap Devan yang kini mengangkat ikan gorengnya. Tak lupa ia menyiapkan sambal sate untuk peneman makan ikan tersebut. Lelaki itu melepas celemek yang dipakainya, lalu duduk di kursi makan. Ia menikmati makanan yang dibuatnya. Sedangkan Danisa yang memang sudah lapar, hanya turut duduk di sebelah suaminya dan menatap ikan goreng yang tampak menggoda itu. “Enak ya, Pak?” “Menurut saya enak. Tapi tahu sendiri, selera kita kan berbeda.” “Boleh Nisa ikut makan?” “Ikannya cuma satu.” “Boleh Nisa minta dikit?” tanya gadis tersebut memelas. Devan menoleh. Keras kepalanya akhirnya luluh juga ketika menatap sepasang manik mata yang memandangnya penuh harap. “Sudah saya cuil ikannya.” “Gak papa, Pak. Nisa beneran lapar.” Lelaki itu meraup nasi dan memberikan sedikit daging ikan, disuapkannya makanan itu ke mulut gadis cantik di sebelahnya. Untuk sesaat mereka terdiam. Hanya terdengar suara kunyahan dari mulut Danisa. Gadis manja yang biasa menerima suapan dari ibunya, kini merasakan getaran yang berbeda ketika menerima suapan dari orang yang berbeda. Begitu pun dengan lelaki yang kini menatap ke arahnya. Sebuah aliran listrik menyengat ke hatinya. Baru beberapa jam yang lalu ia menerima pernyataan putus dari kekasihnya, kini sebuah getaran yang aneh kembali dirasa. Bukankah terlalu dini jika mengatakan itu adalah cinta? “Enak?” tanya Devan ketika menatap Danisa mengunyah dengan semangat. Untuk kali pertama ia tersenyum begitu manis. Senyum yang indah, bukan dengan gaya meledeknya atau senyum sinisnya. Danisa mengangguk. “Pak Devan sudah terbiasa masak sendiri?” “Iya. Semejak saya kuliah, saya memang sudah terbisa mandiri. Termasuk dengan urusan makanan.” Gadis cantik itu kembali menerima suapan dari lelaki di sebelahnya. “Bapak cuci baju sendiri?” “Iya, kan cuma masukin ke mesin cuci.” “Nyapu dan ngepel?” “Ya saya sendiri. Siapa lagi?” “Jangan bilang bapak jadiin saya istri pura-pura untuk itu. Aku gak bisa masak, gak bisa nyuci, juga tak bisa urus rumah,” ucap Danisa secepat kilat. Lelaki itu tersenyum tipis. “Saya tahu itu.” “Lalu, kenapa jadiin Nisa istri bapak? Bapak juga bersedia kasih uang bulanan ke Nisa.” Devan kembali tersenyum, lalu kembali menyuapkan makanan ke bibir gadis cantik di sebelahnya. “Kebiasaan sekali kalau makan sambil bicara.” “Nisa penasaran saja, Pak. Sebenarnya alasan bapak apa? Meskipun Nisa gak pinter mata kuliah, Nisa pinter memahami situasi.” “Kamu masih kecil.” “Kecil, Pak? Nisa sudah kuliah semester lima. Sudah gede, sudah bisa buat ….” “Buat?” tanya Devan mengangkat kedua alisnya. “Buat mie rebus,” ucap Danisa terkekeh. “Ya sudah buat mie sana!” “Nisa malas, Pak.” “Belajar malas, membaca malas, masak malas. Apa sih yang enggak kamu malesin?” “Banyak, Pak. Rebahan, nonton drakor, mabar, makan, shoping, dugem dan mabuk. Eh,” ucapnya yang spontan menutup mulutnya. “Mabuk?” tanya Devan kaget. “Saya bisa mengurangi nilai akademik kamu kalau kamu melakukannya. Tak hanya nilai akademik yang penting, attitude juga diperlukan. Terlebih lagi, minum minuman beralkohol tak ada manfaatnya. Hanya merusak tubuh dan pikiran.” “Bapak, bisa tidak enggak ceramah lagi kalau di rumah? Nisa sudah kenyang dengan ceramah bapak di kampus.” “Saya hanya menasehati kamu, itu karena saya peduli.” “Gak usah terlalu dipeduliin lah, Pak. Nisa tuh suka hidup bebas. Jadi gak perlu repot-repot mikirin Nisa.” Lelaki itu terdiam. Ia kembali memilah daging ikan dan memisahkan dari durinya. “Wanita tadi kekasih bapak kan? Kenapa ia tak tinggal lebih lama? Kenapa ia menolak saat bapak peluk?” tanya Danisa yang diakhiri menggigit bibir bawahnya. “Sudah saya bilang itu bukan urusanmu.” “Saya bertanya karena saya peduli, Pak.” “Tidak usah repot-repot pedulikan saya. Saya tidak suka diganggu urusan pribadi saya.” “Lah tadi bapak juga urus kehidupan pribadi Nisa.” “Kalau lagi makan, jangan banyak bicara,” ucap Devan sambil kembali menyuapkan makanan itu dari tangannya langsung. Sengaja mengalihkan pembicaraan tentang Adilla. Wanita yang selama ini menjadi prioritas hidupnya. Belum lama Danisa mengunyah makanan. Ia terbatuk dan diikuti wajahnya memerah. Sepertinya, duri tajam tak sadar ikut tertelan, hingga gadis tersebut merintih kesakitan. Devan panik. Ia terlihat begitu khawatir. Diberikannya air putih untuk diteguk gadis tersebut. Berharap duri ikan yang menyangkut di kerongkongan turut turun bersamaan dengan air yang mengalir. “Danisa, masih sakit?” Gadis itu mengangguk. “Coba makan pisang ini,” ucap Devan sambil mengambil satu buah kesukaannya di atas meja. Ia mengupas buah berwarna kuning itu dan menyuapkan ke bibir Danisa. Danisa menurut perintah lelaki di sebelahnya. “Apa masih sakit?” Wanita itu mengangguk. “Kita ke rumah sakit saja ya?” tanya Devan dengan ekspresi panik. “Tapi boong.” Danisa terkekeh. Ia begitu puas mengerjai dosennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN