Bab.7 Wanita Cantik

1054 Kata
“Gak boleh. Kecuali potongan sakumu 50%.” “Gak, itu sih berlebihan. Banyak banget potongannya.” “Kan kalau mau, kalau gak ya terserah, kerjakan sekarang!” ucap Devan datar. Ia kembali mengangkat bukunya dan melanjutkan bacaan. “Ya Tuhan, ada ya lelaki songong seperti ini? Atau jangan-jangan dia dibuat dari tanah sengketa, gak ada adem-ademnya sama sekali kalau bersamanya. Bikin emosi mulu,” ucap Danisa lirih sambil menatap tajam dosen di depannya. “Kamu bilang apa?” “Enggak. Nisa hanya baca pertanyaan di sini,” ucap Danisa menunjuk kertas di depannya. *** “Dicariin seharian juga, baru nongol. Kemana aja?” tanya Ayu ketika Danisa menghampirinya. “Habis dari ruangan dosen nyebelin itu. Kemana lagi?” “Dapat hukuman lagi?” “Iya. Gak jelas banget kan? Gak ada bosan-bosannya cari perkara sama aku.” Ayu dan Bella terkekeh, membuat gadis yang tengah emosi itu kebingungan. “Kalian kenapa?” “Harusnya pertanyaan itu mengarah ke kamu. Gak ada bosan-bosannya kamu cari perkara sama Pak Devan.” “Siapa yang cari perkara? Dianya aja yang sok perfeksionis, sok paling bener, sok dosen terbaik.” “Ehem ….” Deheman seorang lelaki berpakaian kemeja bergaris melintas begitu saja. Deheman menyindir dan tatapan yang fokus ke depan. “Pak Devan,” ucap Ayu dan Bella lirih. “Lain kali kalau protes sama seseorang langsung di depannya. Jangan di belakang,” ucap lelaki itu tanpa menoleh dan berlalu begitu saja. *** Hari berjalan begitu lambat untuk Danisa. Tentang ulangan dari dosen menyebalkan itu berhasil membuat mood wanita itu menjadi buruk. Ia tak tertarik dengan mata kuliah apapun yang diajarkan di mata kuliah selanjutnya. Danisa lebih memilih duduk di kelas dan menyandarkan kepalanya di meja. Sesekali ia pun masuk kealam mimpi hingga sampai kelas itu usai. Tak ada yang berani mengganggu seperti apa yang dilakukan dosen killernya. Dosen menyebalkan yang justru menjadi suaminya. Entah, kenapa takdir bisa sepelik itu. Danisa duduk melamun, menatap lapangan yang diisi oleh beberapa pemain basket. Tak tertarik dengan permainan tersebut melainkan pikirannya terus berkelana. “Bengong di sini, gak pulang?” tanya Randy yang tiba-tiba muncul. “Iya. Lagi males pulang.” “Hari ini aku ada jadwal nge-band, mau ikut?” “Boleh,” jawab Danisa dengan mata berbinar. “Ya sudah, ayo,” ucap lelaki yang mengisi relung hati Danisa. Belum juga mereka beranjak, ponsel Danisa berdering dengan nama Pak Devan. Buru-buru ia menyembunyikan ponsel itu, agar nama yang tertera tak dilihat oleh lelaki di sebelahnya. Danisa ijin untuk menerima panggilan dan sedikit menjauh dari gebetannya tersebut. Tak ingin Randy tahu apa yang akan dibicarakannya dengan dosen Devan. Apalagi kalau ia tahu, jika Danisa telah menikah dengan dosen menyebalkan itu. “Segera ke parkiran sekarang! Kita pulang.” “Tapi, Pak ….” “Gak ada tapi-tapian. Sekarang, Danisa! Atau saya samperin kamu.” “Iya, iya,” ucap Danisa kesal. Dengan berat hati ia membatalkan ajakan Randy dengan alasan urusan keluarga. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu segera meninggalkan lelaki yang disayangnyaa. Entah, ia sendiri bingung kenapa bisa menjadi wanita penurut seperti itu. Yang ada dalam benaknya, ia takut Devan datang menjemput dan seisi kampus tahu kalau ia menikah dengan dosen tak laku itu. Menikah dengan dosen Devan bukanlah pilihan yang bagus untuknya. Sebelum Danisa masuk ke dalam mobil, ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya. Untung saja parkiran sepi karena waktu sudah menunjukkan sore hari. Bergegas ia membuka pintu mobil dan masuk. Laki-laki yang membuat moodnya ambyar seharian telah duduk di jok sebelahnya. “Lama sekali, harusnya dari lapanagan menuju ke sini hanya butuh waktu lima menit,” ucap Devan sambil menatap jam yang melingkari lengannya. “Jangan banyak protes, Pak. Jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua, tuh keriputnya udah banyak,” ucap gadis tersebut sambil menatap lelaki di sebelahnya. Tak menjawab, Devan langsung menyalakan mobil dan mulai menjalankan kendaraannya. “Kita langsung ke rumah bapak? Pakaian Danisa gimana?” “Ada di bagasi mobil.” “Terus sepatu-sepatu Danisa.” “Ada juga.” “Terus make-up Danisa?” Lelaki itu menoleh, “Kita mampir ke toko kosmetik. Lagian, untuk apa sih harus pakai make-up. Kamu sudah ….” Lelaki itu menggantungkan kalimatnya. “Sudah apa, Pak. Danisa sudah cantik kan?” tanya gadis itu sengaja menggoda. “Terserah kamu saja.” Devan menghentikan laju kendaraannya di depan toko kosmetik. Ia menemani gadis berstatus istri itu untuk berbelanja keperluan pribadinya. Danisa mencoba beberapa merk lipstick baru, sengaja mengulur waktu pulang agar Devan kesal. Sayang, niatnya tak membuahkan hasil. Devan terus telaten menemaninya seperti seorang suami siaga. “Sudah, gak ada yang dibeli lagi?” “Enggak.” Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tak lama kemudian tiba di tempat yang dituju. Sebuah rumah berwarna putih dengan halaman yang dipenuhi dengan rumput jepang. Batu-batu besar menjadi pijakan menuju bangunan tersebut. “Adila,” ucap lirih Devan ketika ia menatap teras rumahnya. Seorang wanita cantik telah duduk di kursi menjalin itu. “Siapa, Pak?” tanya Danisa yang tak dijawab oleh suaminya. Mata Devan seperti tersihir. Ia tak menoleh sama sekali ke arah gadis di sebelahnya. Buru-buru, lelaki itu turun tanpa mengindahkan Danisa. Sekelumit rasa penasaran muncul dari benak gadis tersebut, ia memilih tetap duduk manis di kursinya sambil menatap pemandangan yang ada. Devan memeluk wanita itu, namun di detik kemudian sang gadis melepas pelukannya. Obrolan singkat terjadi meskipun tak bisa didengar jelas oleh Danisa, hingga di menit selanjutnya wanita itu beranjak, meninggalkan Devan yang mematung. Wajah garang yang biasa terpancar, kini berubah menjadi sendu. Danisa yakin, wanita itu orang yang special untuk dosennya tersebut. “Turunlah! Segera masuk,” ucap Devan yang kini membuka pintu mobil untuknya. Terlihat matanya berkaca. Danisa menurut. Ia tahu diri untuk tak menanyakan apa yang terjadi. Bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan Devan, mengayunkan langkah mengambil koper yang disimpan di bagasi mobil. Danisa yang tadinya duduk di ruang tamu kini mengekori dosennya yang berjalan menarik koper. Netranya terus menjelajah ke segala ruangan. Rumah kecil dengan sentuhan klasik dan terlihat begitu rapi. “Ini kamarku?” tanya Danisa ketika ia masuk dalam sebuah ruangan. sebuah kamar dengan buku-buku yang terjejer di rak. Matanya terus berkelana hingga ia mendapati sebuah foto yang tertempel di dinding kamar tersebut. Foto dosen menyebalkan dengan wanita cantik yang sama persis dengan yang dilihatnya tadi. “Wanita tadi kekasih bapak ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN