Pintu ditutup, membuat Danisa berpikir jika Devan telah mengibarkan bendera perang. Alih-alih menjawab pertanyaanya dengan baik justru dosen itu tak mengindahkan.
“Dasar bunglon,” ucapnya kesal kepada benda persegi panjang di depannya.
Danisa duduk menyilangkan kaki di kursi taman menghadap ke deretan bunga yang tengah mekar. Sedangkan nasi goreng yang tadinya hendak dihabiskan kini sudah masuk di tong sampah bersamaan dengan wadah makannya.
“Nonton drakor dulu ah,” ucap gadis tersebut yang kini meraih ponsel di sakunya.
Layar menyala bersamaan dengan fotonya yang tengah tersenyum menjadi wallpaper benda tersebut.
“Sendirian aja?” tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
Tanpa menoleh, Danisa sudah tahu siapa yang datang. Suara yang khas bersamaan dengan parfum woody bercampur citrus tak pernah berubah sejak mereka saling mengenal.
“iya.” Ia kembali menyimpan ponselnya tak ingin menduakan waktu ketika bersama Randy. “Aku dikeluarkan dari kelas.”
“Kelas Pak Devan?”
“Iya, siapa lagi?”
“Kalian itu selalu saja punya alasan untuk bertengkar.”
“Dia yang cari gara-gara.” Danisa mengerucutkan bibir dengan wajah masam.
“Masih badmood? Mabar yuk!”
“Siap,” jawab Danisa dengan tatapan benderang.
Danisa kembali meraih ponsel di sakunya, membuka aplikasi yang mempertemukan antara dia dan Randy. Ya, perkenalan dia berawal dari permainan free fire, sebuah aplikasi permainan online.
Di sisi lain, Devan tak tenang. Ia menjelaskan materi dengan hati yang bercampur aduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah dengan Danisa. Benar seperti yang diucapkan gadis tersebut. Ia lah yang memintanya untuk sarapan. Tapi, ia juga yang berlebihan memberi hukuman. Apalagi sampai memintanya meninggalkan kelas.
Di sela jam mengajarnya, Devan lebih memilih memberi ulangan dadakan kepada mahasiswanya. Sesekali ia menyibak gorden, menampilkan jendela kaca yang membiaskan suasana luar. Dilihatnya Danisa yang tengah duduk bersama seorang lelaki, yang terkadang si pria itu mengacak rambut panjang istrinya. Tak mengelak, Danisa justru menoleh dan tersenyum. Ya, meskipun hanya punggung mereka yang terlihat tapi kebahagiaannya tergambar jelas.
Ia menatap jam yang melingkari lengannya. Masih lima belas menit jam mengajarnya. Namun, semua terasa begitu lama.
Devan : Saya memintamu makan di luar, bukan untuk berduaan dengan lelaki. Bukannya kamu bilang mengantuk? Harusnya kamu ambil kesempatan untuk tidur.
Danisa yang tengah asyik bermain dengan Randy, tak mengindahkan pesan tersebut. Ia hanya menggeser notifikasi itu ketika menghalangi permainannya.
Devan : Ada pesan tuh dibalas. Apalagi posisi pegang hp.
“Ach, menggangu,” ucap Danisa ketika sekilas membaca pesan tersebut masuk ke ponselnya.
“Mengganggu?” tanya lelaki di sebelahnya. Randi masih fokus dengan ponsel di tangannya. Sedangkan jari-jarinya begitu lihai memainkan permainan tersebut.
“Iya, itu musuhnya ganggu banget,” dusta Danisa.
Devan : Danisa Hardiyanti
Devan : Danisa Hardiyanti
Spam pesan dari Devan membuat konsentrasinya buyar. Danisa tertembak dan tak bisa melanjutkan permainan.
“Hah, menyebalkan,” umpatnya kepada benda pintar miliknya.
“Tumben kalah main. Sepertinya, kamu memang sedang tidak baik-baik saja.” Lelaki itu turut mengakhiri permainan, menoleh ke arah Danisa dan menyuguhkan senyum terindahnya.
Danisa membalas senyum kepada Randy. Lelaki pujaan, yang mampu menarik hati dan pikirannya.
“Danisa, segera ke ruangan saya,” ucapan Devan membuat kedua insan itu terkejut. Tak jauh dari mereka, ada lelaki dingin yang memegang satu buku tebal, menatap ke arahnya.
“Untuk apa, Pak?”
“Saya menyuruhmu ke luar kelas untuk menghabiskan makanmu, sekaligus instrukpeksi diri dengan kesalahanmu. Bukan untuk mabar.”
“Tapi, Pak ....”
“Makananmu sudah dihabiskan?” tanya Devan yang terucap ragu. Untuk kali pertama ia memperhatikan wanita lain selain Adila.
Dahi Danisa mengernyit, ia menoleh ke arah tong sampah. Wadah warna merah muda dalam keadaan membuka, beserta isinya yang berantakan. Nasi goreng dengan beberapa potong sosis bercampur dengan sampah yang lain.
“Kamu ...,” ucap Devan menggantungkan kalimatnya. “Kamu buang makanan yang capek-capek saya buat?” Kalimat yang tak berhasil lolos dari lelaki berumur matang tersebut. Ia mengurungkan. Tak ingin Danisa tahu kalau ia lah yang membuat nasi goreng itu dengan susah payah.
“Kamu, segera ke ruangan saya,” ucap Devan yang langsung meninggalkan Danisa tanpa menunggu jawaban maupun reaksi gadis tersebut.
“Maaf ya, Danis. Gara-gara aku ngajak mabar malah dapat omelan lagi dari Pak Devan.” Randy merasa bersalah. Dari semua gebetan yang pernah mendekati Danisa hanya Randylah yang paling peduli tentang kuliahnya. Memberi nilai plus di mata Danisa.
“Gak papa kali, udah biasa,” ucap Danisa. “Ya dah, aku cabut dulu ya!” ucapnya lagi yang kini mengayunkan langkah. Tak lupa lambaian tangan kecil kepada lelaki tersebut.
***
“Saya Danisa, Pak,” ucap gadis berambut panjang itu sambil mengetuk pintu.
“Silakan masuk.”
Danisa meraih gagang pintu dan memutarnya. Sedetik kemudian mendorong benda tersebut dengan perlahan.
“Duduklah sini!” perintah Devan sebelum tubuhnya masuk dengan sempurna. Hanya kepala yang menyembul usai pintu dibuka.
“Baik, Pak,” ucapnya malas.
Ia duduk di kursi di depan suaminya. Bertatapan langsung dengan lelaki menyebalkan itu.
“Ada perlu apa bapak memanggil saya?”
“Kerjakan ulangan ini. Nilaimu akan kosong jika kamu tak ikut mengerjakan,” ucap Devan sambil menyodorkan sebuah buku.
“Di sini, Pak?”
“Ya iya, di mana lagi? Kamar mandi?”
“Maksudnya, kan ada bapak.”
“Memang kenapa kalau ada saya?”
“Gak bisa nyontek, Pak. Saya dapat jawaban dari mana.” Gadisa cantik itu meringis.
“Danisa, serius dikit.”
“Nisa sudah serius, Pak. Dua rius malah. Semua yang bapak ajarkan kepada saya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Gak ada yang nyantol di otak.”
“Danisa.”
“Baik-baik, Pak. Nisa kerjakan,” ucap gadis itu dengan berat.
Danisa melihat jejeran huruf di depannya. Namun, apa yang dipertanyakan selalu tak mendapatkan jawaban. Tiap kali di jam kelas dosen killer itu, ia memang lebih memilih tidur atau melakukan hal yang tak penting lainnya. Memperhatikan materi dan menatap wajah dosen menyebalkan itu sangatlah membosankan.
“Pak, bisa tidak Danisa kerjakan di rumah saja?”
“Kenapa?”
“Danisa mau cari contekan dulu.” Gadis itu mnampakkan jejeran giginya yang rapi.
“Danisa, jangan bercanda!”
“Siapa yang bercanda? Kan Nisa serius,” ucap gadis tersebut dengan lirih.
Devan menyibukkan diri dengan buku bacaannya, hingga tiba-tiba ia terkejut dengan wanita di depannya. Ia duduk dengan kedua tangan menyangga rahang, tersenyum begitu manis dengan tatapan penuh arti.
“Boleh ya, Pak? Uang jajan Nisa dikurangi 50ribu tak apa,” ucap gadis tersebut dengan memelas.