Belum selesai Danisa memperkenalkan diri, ponsel Maura berbunyi. Wanita itu tampak melihat nama yang tertulis hingga akhirnya menerima panggilan tersebut. Danisa menarik lengan kekar suaminya, meninggalkan Maura begitu saja. Ia malas berdebat dengan wanita itu. Terlebih lagi, tak suka jika suaminya tebar pesona kepada wanita lain. “Dek Istri, kenapa mesti buru-buru?” tanya Devan yang kini memasukkan barang belanjaan di mobil. “Ayolah, Mas. Cepetan dikit! Keburu Maura nyusul.” “Memangnya kenapa kalau Maura nyusul?” “Ah, gak peka. Danisa yang nyetir kalau gitu.” “Eh, jangan, jangan!” Devan mulai menjalankan kendaraannya. Namun, gadis di sebelahnya terus saja memasang muka masam. Devan tak tahu cara mengembalikan mood seorang wanita. Bahkan, ia harus mempelajari buku bergambar tak seno

