“Coba ulangi! Saya tidak paham.” “Mas Devan itu dosen harusnya paham dengan ucapan Nisa.” “Tapi saya bukan ahli bahasa. Kalimatmu ambigu.” “Masa Nisa harus nyatain perasaan sama cowok sih, Mas. Enggak. Nisa gak mau.” Gadis itu memalingkan wajahnya dengan bibir yang dikerucutkan. Tangan Devan memegang pucuk kepala wanitanya,membelai rambut panjang hitam itu dengan lembut. Bukan lagi drama tempo hari untuk mengelabuhi mama mereka. Namun, karena rasa sayang tulus yang kini hadir di antara keduanya. “Dek Istri, emang ada yang salah kalau wanita menyatakan perasaan lebih dulu? Sekarang jamannya emansipasi wanita.” “Jaim, Mas. Paham gak sih?” “Kenapa jaim untuk mengungkapkan rasa sayang? Bahkan saya selalu mengatakan itu kepadamu meskipun sering kali kamu tolak. Saya sadar diri, saya

