“Prioritas? Bilang saja bapak malas belajar juga kan? Sok-sok an, jadiin Nisa sebagai alasan.” “Danisa, dijaga bicaranya. Dia suamimu,” tegas papa Danisa. “Pa, kok malah belain Pak Devan si? Sebenarnya anak papa itu Nisa atau Pak Devan?” “Nisa sayang, bukan seperti itu. Papamu hanya -.” Belum juga mama Danisa menyelesaikan kalimatnya, Danisa meninggalkan ruangan begitu saja. Ia belum siap untuk diduakan. Ia belum bisa terima ketika kedua orang tuanya lebih membela orang lain darinya. Ya, itulah yang saat ini berputar di pikiran gadis manja itu. “Dev, mau kemana? Biarkan Danisa sendiri dulu. Habiskan makan malammu,” ucap papa Danisa kepada menantunya. Ya lelaki yang cukup matang umur itu memang sengaja memberi pelajaran untuk gadisnya. Ia tak ingin anaknya terus tumbuh dengan sikap m

