Fawnia tak terlalu ingat kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak seperti semalam. Mungkin lebih dari dua minggu lalu sebelum ia terang-terangan mengibarkan bendera perang pada sang suami. Perempuan itu juga tak terlalu ingat, sudah berapa jam ia bergelung di alam mimpi, karena yang sekarang ia rasakan hanya usapan samar yang bergerak naik turun di pipi kanannya. “Sayang, bangun. Subuh dulu cantik,” seru suara berat yang ia rindukan setiap paginya. “Fawnia, bangun dulu yuk. Habis sholat subuh nggak apa-apa lanjut tidur lagi.” lanjut suara itu terjaring indera pendengaran Fawnia. Bukannya membuka mata dan terbangun, Fawnia justru berbalik badan dan kembali meringkuk bak seorang bayi di atas d**a bidang sang suami yang sedari tadi mencoba membangunkannya. Tergelak kecil, Irawan yang baru

