“Lepasin dulu, sesak perutnya.” Fawnia sedikit mendorong tubuh Irawan. Air matanya sudah susut setelah puas menangis dalam dekapan sang suami. Lagi pula Fawnia tak berbohong perihal sesak yang ia rasakan. Perutnya semakin besar dikehamilan yang sudah masuk usia enam bulan ini, didekap Irawan begitu erat pastilah membuat perutnya terdesak kurang nyaman. “Ma- maaf.” Irawan terpaksa mengurai pelukannya meskipun ia sangat ingin melanjutkannya. Tapi tentu saja ia juga tak ingin membuat istrinya kurang nyaman. Kedua tangan Irawan yang masih bertengger di pinggang Fawnia, terangkat untuk mengusap jejak basah di kedua pipi istri cantiknya. Tak lama setelahnya telapak tangan besar itu berpindah untuk mengusap perut besar sang istri. Pelan, pria itu menunduk demi berbicara dengan calon bayinya.

