Irawan layaknya orang linglung ketika melangkahkan kaki keluar dari kediaman ayah mertuanya. Langkahnya terlihat gontai, tatapan kabur tak bisa fokus. bukan karena tamparan keras dari telapak tangan Haidar. Bukan sama sekali. Tapi karena perasaannya semakin tercampur aduk sempurna, semua rasa bersalah, sedih, hancur dan terluka menumpuk jadi satu di sana. Andai saja sejak awal ia tegas menghindari Annette, dan tak bersikap ramah pada perempuan ular itu, pastilah tragedi seperti ini tak pernah menghampiri dirinya. Fawnia tak akan pergi, dan semuanya akan baik-baik saja seperti semua. Irawan mafhum jika ayah mertuanya bisa muntap seperti tadi. Masih beruntung Irawan hanya mendapat tamparan keras di pipi kirinya, bukan putusan menakutkan yang bisa aja memisahkannya dengan Fawnia seperti baya

