45. Nightmare

2007 Kata

Irawan mengernyitkan kening keheranan tatkala baru saja memasuki rumah mewah kedua orang tuanya. Rumah masa kecilnya ini terlalu senyap. Memang biasanya rumah ini sepi, karena hanya ada kedua orang tuanya saja yang menghabiskan waktu berdua. Namun entah kenapa kali ini ada sedikit yang janggal menurut Irawan. “Mbak Tini,” panggil Irawan pada salah satu asisten rumah tangannya yang melintas di ruang makan. Ibu satu anak yang tak lain adalah putri dari Bi Odah itu menoleh dan mengangguk patuh pada majikannya yang baru datang. “Nggih, Mas.” “Mama ke mana? yang lain mana? sepi banget?” Irawan mengedarkan pandangan. Juga melirik sekilas pada jam dinding yang ada di dinding ruang tengah, masih jam tujuh lebih beberapa menit. Biasanya di jam-jam seperti ini sang mama akan sibuk membantu menyia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN