Rambutnya berayun kesana kemari. Sesekali ia menyeka keringat yg bercucuran dari keningnya. Lari sepuluh putaran mengelilingi lapangan mampu menguras seluruh tenaga yang baru ia isi dengan sepiring nasi goreng buatan bunda tadi pagi. Shania berhenti sejenak di bawah pohon kelengkeng sementara teman-temannya yang lain sudah berhamburan kesana kemarin mencari minum dan makan. Tapi Shania tidak punya tenaga untuk mencari hal lain selain berteduh untuk mengistirahatkan otot-ototnya.
"Minum?" tanya seseorang di samping Shania. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan dua pasang mata itu bertemu. Shania tersenyum lalu mengambil sebotol air mineral yang dibawakan laki-laki itu. Dia Agam. Entah mengapa akhir-akhir ini Agama sering ada di sekitarnya. Mungkin Shania terlalu berharap jika akan lebih dari itu. Dengan segera ia menenggak minumannya hingga tersisa setengah botol.
"Kak Agam gak ada pelajaran?" tanya Shania seraya menutup botol minumannya dan meletakkannya di sampingnya. Agam hanya tersenyum, betapa manisnya senyuman itu. Mungkin lebih manis dari satu kilogram sakarin.
"Bolos ajalah sekali-kali, gue kasian waktu liat lo kecapekan kayak gitu tadi, makanya gue buru-buru lari kesini," ucapnya yang seketika membuat Shania seperti terbang ke langit ketujuh. Agam memang pacar idaman bagi setiap kaum hawa. Buktinya Shania hampir meleleh mendengar pernyataan Agam barusan.
"Gak dimarahin sama gurunya?" tanya Shania yang lagi-lagi hanya dijawab senyuman oleh Agam. Jika seperti ini terus Shania bisa lari sepuluh atau seratus kali lagi keliling lapangan tanpa kelelahan.
"Gurunya gak akan marah setelah lihat wajah gue, ya udah kalo gitu gue balik ke kelas dulu, jangan terlalu capek ya nanti lo bisa sakit," pamitnya seraya mengacak pelan puncak kepala Shania lalu pergi meninggalkannya di sana. Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Agam benar. Mulai dari Zidan, Agam, Athlan, Adrian dan para mostwanted lainnya, mereka tidak ada yang pernah dihukum berat kecuali jika cuma diminta untuk meminta maaf. Karena faktanya tampang mereka cukup laku di mata para guru termasuk Bu Endri yang mendapat predikat guru tersensi satu sekolah.
××
Seusai jam olahraga Shania dan Della memutuskan untuk makan dua mangkuk bakso di kantin. Karena hari ini adalah ulang tahun Della, maka dirinya wajib mentraktir Shania untuk makan siang kali ini.
"Selamat ulang tahun sahabatku yang cantik jelita dan imut bin manis ini, semoga tahun ini Della gak jomblo lagi Ya Allah," ucapnya yang segera dihadiahi tatapan tajam dan menusuk dari Della. Gadis itu hanya tersenyum lalu menyodorkan sebuah kotak berwarna cokelat s**u kepada Della.
"Ini hadiah dari Shania yang manis, semoga suka ya Kak Della!" ucapnya dengan menyungging senyum lebar seperti iklan pasta gigi di televisi. Della pun tersenyum lalu menyodorkan sebuah kotak juga kepada Shania. Gadis itu nampak bingung melihatnya. Ia baru akan ulang tahun dua bulan lagi, mengapa ia juga mendapatkan hadiah?
"Ini hadiah dari Della karena Kak Shania udah mau jadi sahabat Della sampai hari ini, semoga suka ya Kak Shania!" ucapnya yang membuat keduanya tertawa. Mereka lebih terlihat seperti anak kecil yang tengah bertukar kado saat ini. Tiba-tiba seseorang duduk di samping Shania yang membuat keduanya sama-sama terkejut.
"Gimana kakak-kakak yang cantik, hadiah buat aku mana?" tanya laki-laki itu dengan aksen ala dede gemes zaman sekarang. Shania dan Della yang mendengarnya saja hampir menumpahkan kuah baksonya ke depan wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu namanya Bara. Dan seperti namanya ia juga membara seperti bara api. Berbahaya dan mematikan itulah Bara. Rata-rata tidak banyak yang menyukai Bara, selain karena dia anak yang bandel dan susah diatur, laki-laki yang satu ini juga suka berbuat onar di depan umum seperti sekarang bahkan hampir seluruh pasang mata tertuju padanya.
Zidan dan teman-temannya juga menonton dari meja di pojok kantin. Bedanya Zidan tidak terlalu intensif saat melihatnya, ia hanya terfokus pada mi ayam di depannya. Tanpa melihat pun ia sudah yakin jika pusat perhatiannya adalah Shania, lagi.
"Gue harus kesana," itu Agam, dengan mata yang berapi-api. Zidan hanya membiarkannya, sedangkan Adrian mencegahnya tapi berbeda dengan Athlan, karena laki-laki itu tampaknya justru ingin menjadi minyak tanah di antara bara api.
"Lo lihat dulu, kalo gak penting gak usah ikutan, Bara gak pernah melepaskan mangsanya kalo udah dalam gigitannya," ucap Adrian yang segera dijawab anggukan oleh Agam. Apapun masalah yang ditimbulkan Shania itu termasuk hal yang tidak penting untuk Zidan. Dan fakta terkini tentang Bara, laki-laki itu akan mempertaruhkan apapun dalam mendapatkan mangsanya meski itu termasuk dirinya sendiri.
Dilain sisi, Shania dan Della mencoba untuk tidak menghiraukan Bara yang nyatanya kini terlihat sangat menyebalkan setelah memakan di mangkuk bakso milik Shania dan Della. Akhirnya Shania hanya memakan satu mangkuk begitu pula Della. Bahkan wajah sahabat nya itu sekarang terlihat lebih masam dari pada jeruk nipis.
"Udah selesai?" tanya Della yang dengan wajah dongkolnya. Tapi Bara tidak menanggapinya justru sibuk menatap Shania yang tengah menyantap baksonya. Shania yang merasa tidak enak pada Della pun segera menghentikan acara makannya.
"Kenapa berhenti? Mau aku beliin lagi baksonya?" tanya Bara pada Shania. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, ia tidak begitu mengenal orang di sampingnya itu karena yang ia tahu hanya namanya saja. Dengan terpaksa ia harus memberanikan diri untuk berbicara pada Bara, supaya orang itu hilang secepatnya.
"Lo Bara 'kan?"
"Gue baru tahu, kalo lo selama ini juga suka stalking kehidupan gue."
Fix, ini menyebalkan.
"Gue gak tau apa urusan lo di sini, tapi gue kira lo harus pergi deh."
"Kenapa bukan lo aja yang pergi?"
Ini sangat menyebalkan.
"Karena gue yang pertama duduk di sini, jadi silakan lo pergi sebelum gue yang pergi."
"Pergi aja dulu, gue bakal doain supaya lo sampai kelas dengan selamat tanpa cedera, amin."
Sekarang benar-benar menyebalkan.
Della yang sebenarnya tadi benar-benar tidak suka akan keberadaan Bara di sini, sekarang malah ingin melihat cerita pendek ini berlanjut. Jujur ini benar-benar lucu. Apalagi ekspresi Shania yang sangat tidak suka dengan jawaban yang dilontarkan Bara, itu sangat menggemaskan.
"Udah udah kalo Bara emang maunya kita pergi dulu, turutin aja, lagi pula makanan kita udah habis 'kan," ucap Della yang hanya dijawab anggukan oleh Shania. Lalu mereka berdua pun segera pergi dari kantin.
"Shania! Hati-hati di jalan ya!"
Itu memalukan.
Di tempat yang berbeda, Zidan yang masih duduk di sana hanya menyungging senyum miring. Sementara teman-temannya yang lain masih sibuk menanggapi kejadian yang baru saja terjadi. Seperti mak mak yang suka menggosip.
"Tuh 'kan bener tebakan gue, pasti itu gak penting," sahut Adrian yang masih mengikuti alur cerita yang ditimbukan Shania barusan.
"Gue yakin Bara udah tambahin dia didaftar list mangsa untuk selanjutnya, anak itu udah gak ada diposisi aman lagi," ujar Athlan setelah menyeruput es teh miliknya. Mendengarnya Zidan kembali memutar otak. Jika sampai Shania masuk dalam perangkap Bara, mungkin ia ataupun teman-temannya bisa masuk ke dalamnya juga, secara gadis itu adalah umpan siap saji yang sangat ampuh untuk memancing sang predator keluar dari tempat persembunyiannya.
Lo bakal bikin masalah lagi.
"Positive thinking aja, semoga Shania tetep aman setelah ini," ucap Agam lalu meminum es jeruknya yang masih tersisa.
××
Tapi nyatanya apa yang harapkan Agam tidak sepenuhnya terjadi. Kenyataannya Bara mulai menjajaki kehidupan Shania mulai saat ini. Seperti sekarang. Bara memberikan tumpangan kepada Shania, tapi gadis itu menolak. Namun, bukan Bara namanya jika tidak berani memaksa
"Gue bakal jagain lo sampai rumah, dan gak akan gue biarin lo lecet sedikit pun, gue janji," ucapnya meyakinkan. Shania bahkan tidak bisa berpikir secara jernih jika dalam keadaan kepepet seperti ini. Tak sengaja kedua bola matanya menangkap keberadaan Zidan yang tak jauh darinya. Ia pun berpura-pura supaya bisa menghindari Bara untuk kali ini.
"Kak Zidan! Tunggu!" yang merasa terpanggil pun segera mencari sumber suara dan menemukan Shania lagi di sana. Bahkan ia sudah berkomitmen untuk tidak berdekatan lagi dengan Shania, tapi kenapa gadis itu tidak bisa mengerti dirinya?. Shania pun berlari menghampiri Zidan yang sedang berdiri di sana.
"Bara! Gue pulang bareng Kak Zidan!" demi apapun, Zidan tidak akan memberikan Shania tebengan lagi. Bagaimana gadis itu bisa menjadikannya perisai sedangkan dia tidak membawa pedang atau alat perlindungan lainnya? Gadis bodoh.
Shania berbalik dan memasang wajah memelasnya untuk merayu Zidan. Tapi laki-laki itu justru membuang muka. Ia tidak pernah tahan jika seorang perempuan menunjukkan wajah seperti itu, karena itu bisa meluluhkannya.
"Sekali aja, boleh nebeng ya? Please, Kak. Kasihanilah adik kelasmu ini," mintanya dengan memohon. Zidan sudah bosan dengan semua ini. Ia pun pergi tanpa mempedulikan Shania lagi. Gadis itu sudah terlalu jauh melampaui batasannya.
Melihat perlakuan yang dilakukan Zidan kepada Shania membuat sebuah senyum lebar tercetak di wajah Bara. Ia turun dari motornya lalu menarik pergelangan tangan Shania.
"Udah gue bilang, pulangnya sama gue aja, gue gak bakal ngapa-ngapain lo kok, janji deh," ucap Bara yang mencoba meyakinkannya lagi. Kalau sudah begini mau tidak mau ia harus menerimanya. Jika tidak, ia bakal malu karena sudah ditonton orang segitu banyaknya. Dalam hatinya ia merutuki nasibnya karena pernah bertemu dengan Bara. Laki-laki itu pun memberikan sebuah helm berwarna cokelat kepada Shania.
"Ayo naik!" Itu Zidan. Jangan tanyakan mengapa ia bersedia memberikan tebengan kepada Shania untuk kedua kalinya.
××