• Part 4 - Flower From Ice Boy •

1525 Kata
Suara motor menderu di antara semilir udara sore yang cukup dingin hari ini. Perhatiannya menyapu seluruh pemandangan kota tanpa ada yang terlewat. Laki-laki itu melirik kaca spion motornya yang menampilkan wajah gadis yang tengah duduk di jok belakang. "Rumah lo dimana?" tanya Zidan dari balik helmnya. Shania menunjuk ke arah sebuah g**g yang tak jauh dari mereka. Sesampainya di depan rumah. Shania segera turun dari motor Zidan. Lalu untuk beberapa saat kesunyian menyelimuti mereka. "Maaf Kak, udah ngerepotin dan makasih udah mau nganterin," tidak ada jawaban dari Zidan. Laki-laki itu hanya diam seraya menatap lurus ke depan. Tapi satu suara menginterupsinya untuk menatap sang lawan bicaranya. "Lho dek, temennya datang kok ya ndak disuruh masuk," ucap Mama Shania dari depan pintu masuk. Zidan hanya tersenyum seraya membuka kaca helmnya.  "Terima kasih, Tante. Zidan langsung pulang aja," jawabnya sopan yang seketika membuat Shania tercengang. Gadis itu awalnya menebak-nebak apa respon Zidan ketika mamanya berucap seperti itu. Tapi setelah mendengar jawaban Zidan itu membuatnya sangat terkejut. Ternyata Zidan juga tidak buruk. "Habis ini Maghrib, kamu makan malam disini aja, tante tau pasti kamu capek setelah seharian sekolah ya to," mau menolak tidak enak, tapi ini juga melawan prinsipnya jika ia menerima tawaran dari Mama Shania. Zidan pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama Shania. Sedikit senyum. ×× Zidan mengendarai motornya di antara angin yang berusaha menutup masuk ke dalam jaketnya. Kota terlihat cukup ramai hari ini. Hingga ia sampai di sebuah kompleks perumahan. Lalu ia memberhentikan motornya di sebuah rumah bertingkat dengan halaman yang luas serta satu pos satpam. Laki-laki itu segera membuka gerbang rumahnya dan pergi ke garasi.  Karena satpam rumah sedang pulang kampung akibat istrinya yang baru saja melahiran ia harus membuka tutup gerbangnya sendiri. Rumah tampak sepi dan tidak ada suara. Mungkin Milan masih di kampus dan papanya masih di kantor. Tapi mengapa mamanya tidak ada. Padahal ia tahu jika jadwal kerja mamanya tidak sepadat papanya yang mengharuskan bolak-balik luar kota setiap minggu. "Halo, Ma." "Mama ada urusan mendadak, kalau mau makan mama udah siapin sup ayam sama ayam goreng di meja makan." "Iya." Singkat padat dan jelas. Bahkan ia tidak perlu membuang pulsanya untuk ini karena ia hanya bicara sepuluh detik. Terkadang pulsa sepuluh ribu untuk Zidan bisa bertahan hingga satu bulan. Tak heran jika ia memang orang yang sangat hemat dalam hal apapun.  Mengingat ia sudah makan malam di rumah Shania karena terpaksa tadi, ia tidak perlu untuk makan malam lagi. Disimpan saja untuk nanti malam atau besok. Semoga tidak basi. Ia pun segera pergi ke kamarnya dan mandi. Setelah mandi ia menyiapkan tugas untuk besok dan mulai mengerjakan PR yang tadi diberikan. Selain irit pulsa, ia juga irit waktu dan pikiran. Tidak sampai setengah jam tugas fisika dan matematika miliknya selesai. Irit 'kan. Dan mulailah masa dimana ia tidak punya pekerjaan untuk dilakukan. Seperti inilah keadaan yang terkadang membuat kepalanya pusing. Mungkin ia akan bermain gitar sebentar. Tapi saat ia mengambil gitar, terdengar suara orang membuka pintu masuk. Ia pun segera pergi ke sumber suara dan menemukan kakaknya beserta teman-temannya membawa dua kantong plastik yang berisi chicken wings.  "Zidan, mama mana?"  "Keluar." "Itu adik lo? Ganteng banget ya dia, kenalin sama gue dong, kali aja cocok."  "Iya, Mil. Wajah adik lo itu mirip bintang film deh, tapi gue lupa namanya." Mendengar ocehan tak bermutu dari teman-teman kakaknya itu membuat perutnya terasa mual. Ia pun segera pergi kembali ke kamarnya. Mungkin bermain gitar bukan keputusan yang terbaik. Dan keputusan terakhirnya adalah keluar mencari udara segar. Yang faktanya jauh lebih bagus dari pada harus mendengarkan gosip para perempuan di sana.  Tapi kalau dipikir-pikir kata-kata perempuan tadi benar. Tampang Zidan yang nyatanya jauh di atas rata-rata menjadi kurang berguna jika tidak dimanfaatkan secara optimal. Bakatnya menjadi aktor pun harus terlupakan karena statusnya yang kini masih sebagai pelajar.  Perkenalkan kakak Zidan, namanya Milan. Milan Alexandria Thaufan. Dia seorang mahasiswi semester empat jurusan ekonomi. Itu kemauan Wildan, Papa Zidan dan Milan. Entah mengapa kakaknya itu bisa sejalan dengan papanya. Hanya sedikit kisah papanya yang ia tahu. Yaitu mantan troublemaker sekolah yang jatuh cinta sama petugas patroli keamanan yang bukan lain adalah mamanya. Dan Zidan tidak menginginkan kisah cintanya seperti itu, toh ia juga bukan anak yang nakal seperti papanya jadi sudah pasti kisahnya akan berbeda dari itu. Sesampainya di tempat tujuan, Zidan seera memarkirkan motornya di sampingnya mobil Athlan lalu masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah yang ia dan teman-temannya beli dari sisa uang jajan sekolah. Dan tampaknya hanya ada Athlan di sana dengan dua bungkus keripik kentang. Sepertinya laki-laki itu sedang melakukan hal yang seru. Yaitu membaca komik. "Yang lain mana?" "Malam mingguan sama doi." "Oh, lo nggak?" Athlan mengalihkan perhatiannya lalu menatap Zidan dengan mata berbinar-binar, seperti tengah melihat sebongkah berlian Swarovski yang sangat mahal itu. "Mau jalan sama gue?"  "Gak." Athlan segera memasang wajah memelas lalu kembali membaca komiknya. Zidan mengambil gitar yang ada di atas meja kemudian memainkan sebuah lagu untuk menemani malam minggu hari ini. "Lo tau Shania?" Zidan mengangguk lalu menghentikan petikan gitarnya. Mungkin ini penting. Tapi Zidan tidak yakin. "Agam naksir dia," ucap Athlan yang membuat Zidan mengernyitkan dahinya. Ia sudah tidak terkejut ketika mendengar fakta itu. Bahkan ia sudah tahu lebih dulu saat Agam berbicara sendiri kepadanya beberapa hari yang lalu. Athlan meletakkan komiknya lalu meminum s**u indomilk cokelat miliknya hingga habis. "Terus?" "Ya, menurut feeling gue, lo juga suka sama dia." Tunggu, tunggu, apakah Athlan tengah mengigau berat hari ini? Setahu Zidan hatinya tidak pernah berkata jika ia menyukai Shania saat ini. Tapi mengapa Athlan tahu sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu? Ah lupa, Athlan kan cenayang masa kini. Tapi ramalannya kali ini jelas seratus persen salah untuk Zidan. "Lu ngigau, Bos."  "Rasa itu gak akan ngasih pengumuman saat dia datang, dia bakal ngalir kayak darah di pembuluh kapiler, jadi lo harus peka."  "Gak usah dibahas."  "Ntar kalo Agam yang dapet duluan, lo nyesel." "Ya udah ayo pergi."  Dengan sumringah Athlan segera memakai jaketnya dan bangkit dari tempat duduknya. Mau tak mau Zidan harus bermalam mingguan dengan Athlan, ini hanya untuk menyumpal mulut Athlan supaya tidak berbicara lagi tentang Shania karena ia sudah lelah mendengarnya.  ×× Malam minggu ini, Shania hanya berdiam diri di rumah. Mamanya sedang menonton televisi di bawah dan papanya sedang mengerjakan laporan di ruang kerjanya sedangkan dirinya sedang mencari sesuatu yang menarik di ponselnya tak terkecuali melihat para oppa ganteng yang akhir-akhir ini sedang ia sukai. Setelah melihat beberapa drama korea, ia jadi suka melihat para aktor asal negeri gingseng itu.  "Yoo Seung Ho," sedari tadi ia hanya menggumamkan nama itu saja seraya menscroll layar ponselnya yang memperlihatkan wajah pria itu. Apalagi saat memainkan peran di drama korea Master of The Mask mungkin Shania bisa menghabiskan banyak tisu saking bapernya.  Tok tok tok  "Buka aja, gak dikunci!" serunya. Itu mamanya dengan wajah yang tampak heran sekaligus bingung. Itulah yang Shania tafsirkan sekarang.  "Ada apa, Ma?"  "Dek, ada temen kamu. Kayaknya itu yang tadi sore, tapi gak tahu lagi, mama lupa namanya."  "Kak Zidan?!"  Seperti disengat listrik bertegangan tinggi, Shania tidak tahu mengapa kakak kelasnya itu ke rumahnya malam-malam seperti ini apalagi baru satu setengah jam yang lalu Zidan meninggalkan rumahnya. Shania segera pergi menghampiri tamunya itu. Tapi ternyata bukan Zidan yang mamanya maksud. Melainkan Athlan. "Ada apa, Kak?" tanya Shania yang masih penasaran itu. Athlan hanya tersenyum atau lebih tepatnya menyengir saja ketika ditanya. Sebenarnya ia kesini untuk Zidan tapi cowok itu malah berdiam diri di dalam mobil dan tidak mau keluar. Dengan alasan, bosan melihat wajah Shania yang tidak berubah-ubah dan seperti itu saja. Ya kira power rangers. "Gak ada apa apa, mau ngasih ini aja," ucapnya seraya memberikan buket bunga dan sebuah cokelat. Lalu ia pun pamit pergi. Ia tahu pasti Shania akan sangat bingung dengan kelakuannya yang terlihat seperti orang aneh.  "Kalau ini berhasil, lo harus traktir gue di kantin selama dua minggu, okey?" Zidan mendengus lalu menjalankan mesin mobilnya. Entah apa yang dilakukan Athlan dengan sebuket bunga dan cokelat batang tadi. Yang jelas Zidan tak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Athlan. Dilain sisi, Shania masih bingung dengan kelakuan Athlan tadi. Lalu ia mengambil sebuah kartu ucapan yang tergantung di buket bunganya. Have a nice dream Zidan "Ini gue mimpi atau gimana?" Bahkan ia sudah membaca kartu ucapan itu berulang kali untuk meyakinkannya. Seorang Zidan Dirgantara Thaufan mengiriminya lewat kurir bernama Athlan. Hebat. Mungkin Shania akan lebih baper dari pada melihat Yoo Seung Ho memainkan peran di drama korea. Karena faktanya Zidan itu nyata bukan drama ataupun sandiwara. Tak lama sebuah senyum tercetak di wajah Shania. Sangat manis.  Tunggu, tunggu, gue gak boleh terlalu berharap, kali aja ini cuma sekedar formalitas, kalo fans Kak Zidan tahu, mungkin gue bisa ditendang dari sekolah batin Shania. "Lo kasih ucapan apa ke dia?"  "Have a nice dream dari Zidan." "s**t!" umpatnya, ia segera menepi dan menghentikan laju mobilnya. "Turun!" Athlan pun membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil. Tak lama mobilnya pergi dari hadapannya. "Wait, kayaknya ada yang aneh deh, ah iya mobil gue, Zidan lo bawa mobil gue itu! Wey kunyuk!" teriak Athlan dari pinggir trotoar hingga mobilnya lenyap di antara kerumunan para mobil lainnya. Mungkin ia tidak akan melakukannya lagi setelah ini. Zidan kalau marah memang sangat menakutkan. ××
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN