"Zidan!"
Untuk sesaat telinganya berdengung setelah mendengar teriakan itu. Ia segera menarik selimut dan menutup tubuhnya hingga tidak terlihat. Hari Minggu yang berisik. Ia mendengar pintu kamarnya terbuka, tapi ia tidak ingin mengintip siapa yang membukanya. Yang terpenting adalah teriakan itu sudah berhenti dan ia bisa melanjutkan acara tidurnya tadi.
Tak lama ia merasa kedinginan entah darimana air itu berasal dan meresap ke dalam serat selimutnya. Tunggu, tunggu, itu air! Zidan segera menyingkirkan selimutnya lalu di lihatnya perempuan yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya itu sedang berkaca pinggang. Milan memang bisa mengalahkan mamanya dalam hal ini, dia sangat cerewet jika ada sesuatu yang mengganggunya. Tapi apa yang telah ia lakukan?
"Apa?"
"Lo makan kue gue di kulkas?"
"Ha?"
Memang kue cokelat di kulkas itu punya Milan? Zidan tidak tahu menahau masalah itu, yang ia tahu hanya saat itu perutnya sedang lapar dan ia butuhkan adalah makanan. Dan saat itu yang ia temukan hanya kue cokelat dengan beberapa strawberi di atasnya. Karena setelah mendengar lelucon dari Athlan yang membuatnya masih malu hingga sekarang itu membakar seluruh tenaganya.
"Hmm."
"Zidan! Lo tau gak kue itu dari siapa?"
"Gak."
"Itu dari pacar gue, adik durhaka! Entah mama ngidam apaan waktu hamil manusia kulkas macam lo, pengen gue garuk rasanya wajah datar lo itu, hiih!" cerca Milan panjang lebar. Seperti itulah kakak dan adik, mereka memang jarang sekali berantem tapi sekali berantem yang Zidan cuma diam tapi Milan sudah seperti orang kebakaran jenggot. Watak mereka memang hampir sama, yang membedakan hanyalah ketika mereka marah. Sama-sama menakutkan tapi berbeda perlakuan.
"Terus?"
"Zidan! Gue bakal bilangin mama kalo lo punya pacar, biar dijodohin sekalian terus dibawa ke KUA."
"Lo bau."
××
Hembusan angin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Waktu yang tepat untuk mencari udara segar dengan sinar matahari yang cerah. Gadis itu melipat kakinya lalu bersandar pada pohon di belakangnya. Lirikan matanya berjalan seiring habisnya kalimat yang telah ia baca. Hari ini ia tidak punya pekerjaan kecuali untuk membaca novel. Bundanya sedang pergi dengan ayahnya ke pasar. Jadi ia sendirian di rumah. Lalu ada sebuah pesan masuk.
Della Marcella
Shan, main yuk!
Shania Maheswari
Kemana?
Della Marcella
Ke rumah Kak Zidan
Shania Maheswari
Mau gue tampol sebelah mana, Del?
Della Marcella
Kasih uang jajan tambahan aja cukup kok, Shan. Kalo gak gitu comblangin gue sama Kak Athlan wkwk
Shania Maheswari
Beneran mau sama Kak Athlan nih? Gue bilangin ya, kalo lo suka sama dia biar lo gak jomblo lagi
Della Marcella
Gak deh, mending gue sama oppa aja, jadi main gak nih?
Shania Maheswari
Kalo ke rumah Kak Zidan gue gak mau, mau lamaran emang?
Della Marcella
Gue anterin ngapel wkwk
Shania Maheswari
Ya udah kalo gitu
Della Marcella
Eh eh jangan marah dong gue cuma bercanda, gue jemput ya, kita makan
Shania Maheswari
Oke bos
Dengan segera, Shania bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke dalam untuk segera bersiap. Kalo gini kan ia tidak jadi gabutz di rumah sendirian. Della memang pengertian. Setelah siap, ia pergi ke dapur untuk mengambil kue cokelat yang bundanya beli kemarin. Karena kemarin bundanya beli banyak, ia ingin memberikan beberapa untuk Della dan memakannya bersama-sama di sana.
××
Bukannya makan seperti yang Della bilang, gadis itu malah pergi ke sebuah komplek perumahan yang membuat Shania mengernyitkan dahinya dari balik kaca helmnya. Motor matic milik Della berhenti di sebuah rumah megah bertingkat. Dan ada seseorang tengah mencuci motor di sana. Kalau biasanya orang kaya itu tidak mau repot-repot mencuci motor, yang ini malah merepotkan diri sendiri untuk mencuci motor. Aneh.
"Ini rumah saudara lo?" Shania menanyakan ini bukan tanpa alasan, karena yang ia tahu Della adalah orang kaya. Jadi, mungkin saja jika itu saudara dekat Della. Tapi gadis itu menggeleng sebagai jawaban.
"Kak Zidan!"
Dengan spontan Shania mencubit pinggang Della, ia sudah bilang jika ia tidak mau ikut jika itu ke rumah Zidan. Tapi gadis itu malah menantangnya dengan membawanya kesini. Mau ditaruh dimana mukanya kalau begini. Ia tahu ia sudah banyak merepotkan Zidan selama ini, yaitu selama ia bertemu dengan Zidan saat itu.
Lain halnya dengan Zidan yang masih terbengong melihat adik kelas pembawa masalah itu datang ke rumahnya. Sementara di tangannya masih ada sebuah selang yang menyala dan di tangan lainnya ada bisa untuk mencuci motor. Memang sih sebelumnya Della sudah meminta izin darinya untuk datang kemari, tapi ia tidak mengizinkannya
Meski Della adalah saudaranya tapi bukan berarti gadis itu bisa mendekatkannya dengan sahabat karibnya itu. Tapi Shania tidak pernah tahu jika Della dan Zidan itu saudara. Karena alasan tertentu, hubungan keluarga itu disembunyikan. Bukan berarti juga Zidan bersaudara dengan Fella yang nyatanya sepupu Della, karena paman Della menikah lagi dengan mama Fella, yang faktanya adalah janda anak satu. Maka dari itu Fella berani mendekati Zidan selama ini dan tidak pernah mau menyerah.
Della dan Shania turun dari motornya lalu pergi menghampiri Zidan yang tengah mencuci motor di sana. Dengan tatapan tajam, laki-laki itu menatap apa yang sedang dibawa Shania.
"Kue cokelat?"
Della yang mengerti maksud Zidan segera mengambil kantong plastik yang berisi kue cokelat itu dari tangan Shania dan memberikannya kepada Zidan.
"Ah iya kita mau ngasih kue cokelat ini buat Kak Zidan, Shania sendiri loh kak yang buat."
Dengan spontan Shania menginjak kaki Della. Mulut gadis itu memang harus di sumpal dengan sesuatu yang lengket supaya tidak berbicara yang aneh-aneh lagi.
"Oh."
"Ya udah, kita pamit dulu, selamat siang, Kak."
Bukannya menjawab, Zidan malah pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan Della dan Shania sendirian di halaman rumah. Shania menarik tangan Della untuk keluar dari pekarangan rumah Zidan.
"Gue kan tadi udah bilang, gue gak mau pergi ke rumah Kak Zidan, lagian lo kenapa sih, Dell? Kue cokelat tadi juga mau gue kasih buat Lo, malah dikasih ke dia, lo mau lihat gue dibully habis ini? Mau gue jadian sama Bara cuma gara-gara gue dikira dekat sama Kak Zidan? Mau gue dihukum gantung kayak di drama Korea? Sebel ih," cerocos Shania panjang lebar yang membuat Della hanya tersenyum menanggapinya.
"Gue gak mau semua yang lo sebutin tadi, Shan. Yang gue mau lo jadian sama Kak Zidan, dan buat dia gak dingin lagi, gue kasihan sama dia karena gak pernah punya pacar sejak itu, dan untuk masalah kue cokelat anggap aja gue udah nerima pemberian lo, jadi makasih buat kuenya Shania," jelas Della dengan wajah yang begitu tulus, tapi terlihat aneh ketika Shania yang melihat. Ya semacam lebay.
"Emang lo siapanya Kak Zidan? Segitu pedulinya lo sama dia sampe dengan jahatnya lo ngorbanin gue," sahut Shania tak terima.
"Ya gue bukan siapa-siapa dia sih, tapi dengan menjadi salah satu fansnya Zidan gue rasa ini waktu yang tepat buat mengembalikan semuanya seperti semula," jawabnya mantap.
"Dengan ngorbanin gue?"
"Maaf hehe."
Sementara itu Zidan dengan membawa sekantong kue cokelat pergi ke dapur. Dibukanya isi tas plastik berwarna hitam itu dan melihat kotak tempat kue, terdapat nama merk kue tersebut. Dan ia teringat apa yang dikatakan Della tentang kue cokelat yang dibuat sendiri oleh Shania. Diam-diam ia tersenyum, lebih lebar dari biasanya. Della memang tidak pandai berbohong sejak dulu.
Ia pun segera memotong kue menjadi beberapa bagian lalu memindahkannya di piring. Ia tidak ingin Milan marah karena kesalahan yang tidak ia sengaja. Kemudian ia pergi ke kamar Milan yang letaknya bersebelahan dengan perpustakaan pribadi keluarganya di lantai dua. Tak lupa ia mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam. Yang ia lihat hanyalah seorang mahasiswi tengah mengerjakan tugasnya seraya mendengarkan musik yang mengalun lewat speaker laptopnya
"Ini," ucapnya sambil meletakkan beberapa kue cokelat di samping buku-buku milik Milan.
"Lo beli, Dik?"
"Nggak."
"Seharusnya lo gak usah repot-repot bawain gini ini segala, gue udah maafin kok."
"Ga mau?" tanyanya seraya mengambil kembali piring berisi kue cokelat itu tapi dengan segera diambilnya piring itu dari tangan Zidan dan meletakkannya kembali di tempat tadi.
"Ya maulah, adik gue ini kan udah susah payah jadi ya harus gue hargain, makasih, Dan."
Zidan hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar kakaknya yang lama-lama bisa membuat ia pusing karena bau manis yang terlalu menyengat hidung atau itu. Ia memang tidak menyukai hal yang berbau manis sejak dulu maka dari itu, kalaupun ia memakan hal yang manis pasti itu karena kepepet. Ya seperti insiden kue cokelat kemarin. Kalau bukan karena ia lapar ya tidak ia makan.
Tak lama, baru beberapa langkah menjauh dari kamar Milan, Zidan mendengar jika kakaknya itu mulai berteriak tidak jelas.
"Zidan! Cewek tadi itu pacar lo? Gue bilangin mama ya!"
"Astaghfirullah," ucapnya lirih setelah mendengar teriakan Milan barusan. Gadis itu mungkin terlalu banyak membuat masalah untuknya.
××