Pagi ini, seusai upacara bendera digelar. Seluruh murid yang melanggar tata tertib sekolah terutama bagian kelengkapan seragam berbaris rapi di lapangan membetuk beberapa banjar. Bara pun menjadi salah satu dari mereka. Shania yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum melihat Bara yang tengah ditanyai oleh bagian guru kesiswaan itu sedang menyeringai tanpa dosa. Bagaimana bisa ada laki-laki seperti itu? Mungkin jika Shania bisa mengiranya, hanya ada beberapa yang tersisa di negara ini.
"Lagi liatin Bara nih?" tanya Della yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Gadis itu mengangguk. Meski Bara tergolong anak yang nakal dan susah diatur, menurutnya itu tak sepenuhnya benar. Buktinya saja tadi pagi tanpa sepengetahuan dirinya Bara mengikuti angkot yang ia tumpangi hingga sampai ke sekolah, katanya sih buat ngejagain takut ada yang ganggu. Mengingatnya pun Shania jadi ikut tersenyum.
Sudah sepuluh menit ia melihatnya, tak dirasa sudah waktunya masuk kelas. Jam pertama adalah sejarah. Sejarah tentang bagaimana bisa hati merasakan sesuatu yang dinamakan cinta. Itu yang sedang dipelajari Bara di bawah tiang bendera. Hormat seperti ini selama dua jam ke depan bisa membuatnya dehidrasi akut karena tidak bisa bertemu dengan Shania. Iya Shania. Gadis yang baru-baru ini ia incar. Entah mengapa ia merasa tertantang ketika melihat banyak orang yang melindungi gadis itu termasuk Zidan. Zidan sang penguasa sekolah yang abadi.
Dilain sisi Zidan sedang berjalan-jalan di sekitar kantin bersama teman-temannya. Guru mata pelajaran ujian nasional sedang ada rapat untuk membahas tryout yang akan diselenggarakan bulan depan. Jadi kelas dua belas tengah menikmati jam kosong sekarang. Sampai ia melihat Bara yang tengah dijemur di tengah lapangan bersama berandal-berandal sekolah lainnya.
"Gue rasa Bara suka sama Shania," ucap Athlan yang berdiri di samping Zidan. Athlan tahu jika Zidan tengah menatap Bara maka dari itu ia melontarkan kalimat yang bahkan mulutnya sudah gatal untuk mengatakannya. Zidan hanya bergumam lalu melanjutkan jalannya. Sementara Agam yang berada di paling belakang, menghentikan langkah Athlan.
"Jangan bilang, kalo Zidan suka sama Shania juga?" tanya Agam dengan wajah khawatir, entah apa yang laki-laki itu risaukan tentang hal ini. Athlan diam sejenak, memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia berikan kepada Agam.
"Untuk sekarang gue rasa gue belum tahu, mungkin kita bisa lihat nanti untuk jawabannya," jawabnya kalau meninggalkan Agam sendiri. Ia memang lebih dengan dengan Zidan sejak SMP jadi ia tahu persis bagaimana laki-laki itu bisa berekspresi sesuai dengan keadaan hatinya saat ini.
××
Satu jam berlalu dan pelajaran sejarah pun ikut berlalu dan digantikan dengan matematika. Mata pelajaran yang hampir di benci oleh kebanyakan murid di kelasnya tapi ia tidak termasuk. Ia tidak tega untuk membenci sesuatu apalagi matematika. Jika ia membencinya, sama saja ia membenci uang. Dilihat dari segi apapun, pada umumnya yang sangat diperlukan. Dan jika ia membencinya mungkin ia harus hidup di zaman prasejarah.
"Shan, pinjem catatan matematika," ucap Lian yang duduk di belakangnya. Ia pun segera memberikan catatan miliknya. Guru matematika yang mengajar di kelasnya terkadang memang suka telat. Jadi, untuk anak yang belum mengerjakan tugas, itu seperti menemukan uang di jalan. Apalagi kalau nominalnya besar.
"Del, lo lagi asik ngapain sih?" tanya Shania yang sedari tadi memperhatikan Della tengah senyum senyum sendiri. Gadis itu melirik Shania sekilas lalu menunjukkan apa yang baru saja ia lihat. Shania melihat jika di layar ponsel Della, terdapat foto Bara dengan wajah jeleknya. Dan laki-laki itu menulis caption 'Bentengnya boleh banyak tapi ksatrianya hanya akan ada satu'
"Coba lo baca komentarnya, Shan."
Zio_Sagart Ksatria apaan lu Bar, ngaco lu ketinggian, beli jarum sono ntar gue letusin balon punya lo biar jatuh
Sheren_Munf Hai honey, kamu manis bngitss deh, makin cuintah
Sewapacar.id Anda jomblo? Belum punya pacar dari dulu sampai sekarang? Kami adalah agen sewa pacar terbaik se Indonesia, berminat? Silakan kunjungi laman kami lalu pilihlah mana yang Anda suka
Hemaviton_kukubima Itu cocok buat Lo Bar, lagian udah dari seminggu yang lalu belum ada gantinya juga
Bara.handsome gue udah ada, jangan khawatir habis ini juga jadian, doain bro
Shania hanya membacanya sampai segitu, karena guru matematikanya sudah datang dan siap menerangkan materi. Tapi Della membuyarkan konsentrasinya dalam seketika. Gadis itu menatapnya dengan wajah memelas dan seperti tengah menahan sesuatu.
"Anterin gue ke kamar mandi dong, Shan. Kebelet banget nih, udah di ujung," sambil menahan tawa, Shania mengangguk sebagai jawaban. Lalu mereka berdua izin kepada guru untuk pergi ke kamar mandi. Jika diukur dari kelasnya, kamar mandi berjarak cukup jauh karena kelas mereka diapit kelas yang lain, otomatis mereka harus ke ujung koridor untuk menemukan kamar mandi.
Saat di jalan, Shania melihat Bara yang masih dijemur di lapangan. Bajunya basah karena keringat, dan mungkin ia sangat kelelahan hingga hampir sempoyongan mau pingsan. Tak lama, Bara juga menangkap keberadaan Shania dari ujung matanya. Dua pasang mata itu pun bertemu. Laki-laki itu tersenyum lebar ke arah Shania.
"Shania, lo bisa beliin gue minum gak? Gue dehidrasi nih, habis ini megap-megap mau mati," Shania tersenyum tipis lalu mengangguk. Tidak ada salahnya membantu teman, toh itu tidak mengurangi pahalanya.
"Dell, lo ke kamar mandi sendiri gih, gue tunggu di sini," ucapnya yang segera diangguki oleh Della, lalu gadis itu segera melesat pergi seperti jet. Mungkin karena dia sudah menahannya cukup lama.
Shania pergi ke koperasi sekolah untuk membeli air mineral yang letaknya tak jauh darinya. Setelah itu, ia pergi ke lapangan untuk memberikan air untuk Bara.
"Ini."
"Makasih, Shan."
Setelah mendapat air mineral dari Shania, buru-buru Bara meneguknya lalu mengguyurkan sebagian air ke rambutnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Bara. Sementara siswa lain yang sedang dihukum hanya bisa menahan tawa. Mengingat Shania, seorang gadis baik dan ramah terjebak pada perangkap Bara, seorang playboy mematikan.
"Kalo gitu gue balik dulu ya," pamit Shania. Baru dua langkah ia menjauh. Bara menahannya dengan memeluk gadis itu dari belakang, Shania tidak bisa mengelak karena Bara memeluknya terlalu erat sementara ia tidak bisa berteriak karena dirinya sekarang benar-benar sedang syok.
"Gue bakal ngedapetin lo bagaimana pun caranya karena lo udah bikin gue suka sama lo, jadi lo harus tanggung jawab," bisik Bara dengan lembut tapi nadanya benar-benar menusuk yang membuat tubuh Shania menegang seketika. Gadis itu takut sekaligus bingung harus apa.
Tak berlangsung lama, seseorang menariknya hingga pelukan Bara pun terlepas dari tubuhnya. Dan ini membuatnya sangat terkejut untuk kedua kalinya karena gerakan yang begitu tiba-tiba. Bara tersenyum miring menatap laki-laki yang berani mengganggu acaranya itu. Sementara Shania yang ada di belakang laki-laki itu menutup mulutnya dengan spontan ketika menyadari jika yang berani menariknya tadi adalah Zidan.
Entah apa yang menariknya untuk menyelamatkan gadis itu lagi. Tapi alasan yang ia ingat hanyalah kue cokelat kemarin. Ia ingin berterima kasih untuk kue kemarin, maka dari itu ia mengorbankan diri untuk terjun ke bara api seperti. Dan juga karena omongan Athlan tadi, yang hampir membuatnya pusing hanya untuk mendengarnya.
"Wow, seorang Zidan yang terkenal dingin, cuek dan gak pernah deket sama cewek udah bisa ngambil punya orang lain nih? Gue gak nyangka, gue sih gak tahu ya apa yang mama lo ajarin ke lo selama ini, tapi lo gak bolehlah ngambil punya orang lain kayak gitu, dosa, Dan. Lagi pula lo kan gak ada hubungan apapun sama dia, jadi ngapain lo harus ikut campur," ocehan yang didengar Zidan itu benar-benar sampah yang baginya lebih buruk dari sampah jenis apapun di dunia ini. Apalagi laki-laki di depannya itu sudah menyangkut pautkan mamanya. Dan itu membuatnya tidak terima.
"Pacar lo?" tanya Zidan pada Shania yang berdiri dekat di belakangnya, lalu gadis itu menggeleng sebagai jawaban.
Dengan cepat Zidan memberikan satu pukul tepat di pipi Bara. Shania yang melihatnya semakin syok bukan kepalang. Ia tidak tahu jika masalah kecil tadi bisa berujung seperti ini, apalagi Zidan yang ia anggap orang pendiam dan cuek itu bisa memukul orang apalagi di sekolah.
"Ah, lo mau adu fisik sama gue?" ucap Bara dengan tatapan penuh kebencian. Ia pun segera memberikan pukulan bertubi-tubi yang segera ditangkis oleh Zidan. Dan pertengkaran pun tak teelakan. Sementara itu Athlan, Agam dan Adrian yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mereka segera terjun ke lapangan untuk melerai mereka berdua.
"Udah, udah. Untuk lo Bara, lo gak bisa meluk cewek seenak jidat lo, kalo lo mau gue bisa sewain mobil untuk nganterin lo ketempat sepi, dan buat lo Zidan gue gak tahu apa yang bisa buat lo adu jotos sama Bara di sini tapi sebaiknya kita pergi, gue gak mau ada anak yang berantem lagi cuma karena hal sepele," saat mengucapkan kata sepele kedua bola mata Athlan menatap Shania. Gadis itu benar-benar pembawa masalah. Awalanya ia kira itu hanya persepsi Zidan sendiri. Tapi tidak. Dia berbahaya dan membahayakan orang lain.
Mereka berempat pun meninggalkan lapangan disusul Shania di belakangnya. Ia khawatir tentang semuanya sekarang. Tak lama Della datang dan yang ia lihat hanyalah kekacauan mungkin. Dilihatnya Bara yang masih berdiri di sana, menatap punggung Shania yang terus berjalan menjauhinya. Wajahnya pun babak belur seperti habis dipukul habis-habisan. Sementara Shania, gadis itu tampak lesu.
"Ada apa, Shan?"
Gadis itu terdiam, ia tidak tahu lagi sebanyak apa hutangnya pada Zidan sekarang. Padahal untuk menghindari masalah, dengan seberusaha mungkin ia menjauhi Zidan, tapi mengapa malah seperti ini?
××