Part 2 ( Balas Dendam Tanpa Air Mata )

1000 Kata
*************** Jika saja waktu bisa di ulang kembali ,hal yang paling ingin Ziya lalukan adalah menolak untuk menerima perjodohan kedua orang tuanya dengan pria yang statusnya adalah suaminya sekarang. Dingin ,acuh ,kasar ,dan selingkuh .Itu hanya sebagian dari sikap sang suami yang di awal pernikahanpun sudah Ziya rasakan .Padahal dia sangat mencintai suaminya itu karena dia adalah cinta pertama Ziyan .Walaupun dia kerap kali tak di anggap ,Ziyan selalu bersabar dan selalu berpikir kalau suaminya itu suatu saat akan berubah. Kenapa Ziya bertahan ,bukankah wanita bodoh yang masih mempertahankan suami dan pernikahan yang seperti itu ? Dia bertahan demi sang ayah yang tengah sakit jantung .Dia tidak mau terjadi hal buruk jika ayahnya mengetahui kalau putrinya menderita gara-gara pilihannya . Tapi sekarang dia tidak lagi melakukan hal bodoh seperti dulu hanya untuk mengemis cinta suaminya itu .Kini dia sudah berubah. "Nona ,kita telah sampai ." ujar Adrian ,asisten pribadinya sambil membukakan pintu mobilnya . Ziya hanya mengangguk ,lalu diapun keluar dari mobil dan melihat ada mobil suaminya. "Kamu boleh pulang " ujar Ziyan "Tapi,Nona.." seru Adrian "Tiadak apa-apa .Aku akan baik-baik saja ." "Baiklah .Kalau begitu saya permisi Nona ." pamitnya ,diapun pergi dari sana. Ziyan menghela nafasnya yang penuh kepenatan ,lalu dengan malas masuk kedalam rumah .Dan sesuai dengan apa yang dipikirkannya saat dia berada di dalam rumah .Suaminya itu tengah asik bermesraan di ruang TV bersama selingkuhannya . "Mas ,sudah .Itu istri kamu datang " ujar wanita itu setelah dia melihat Ziyan berdiri mematung melihat mereka dengan wajah dingin dan datar .Tidak ada ekspresi apapun yang terlihat . "Jangan kotori sofa ku." ujar Ziyan dingin. Risa, selingkuhan Arga, langsung menarik diri, wajahnya tegang dan menunduk. Ia segera merapikan pakaiannya. Ia merasa segan dan salah tingkah, terutama karena reaksi Ziyan yang sangat dingin dan tak terduga. "Ah, kamu sudah pulang," ujar Arga dengan nada canggung, sambil membenahi kemejanya. Ia menatap Ziyan, mencari ledakan emosi atau air mata, tetapi yang ia temukan hanyalah mata dingin dan kosong. "Kenapa dia diam saja, tidak seperti dulu lagi ekspresinya ?" tanya Arga dalam hatinya , bingung dengan keacuhan yang ditunjukkan istrinya. Ziyan menatap Arga sekilas, lalu beralih menatap Risa dengan senyum tipis. "Aku yang mengajaknya kesini ,jangan marahi dia ." ujar Arga "Marah? Untuk apa aku marah?" Ziyan melangkah anggun, mengambil tas tangannya dari meja. "Justru aku mau mengucapkan terima kasih padamu, Risa. Kamu telah berbaik hati melayani suamiku." Risa terkejut, tidak bisa berkata-kata, wajahnya semakin menunduk karena segan bercampur malu. Arga juga terperangah, bingung tak mengerti arah pembicaraan Ziyan. Ziyan meletakkan tasnya, lalu memandang Arga. "Arga,jadwalku belakangan ini sangat padat. Aku harus mengurus perusahaan. Aku bekerja hampir 20 jam sehari." Ziyan kembali menatap Risa, menunjukkan ketidak pedulian total pada status mereka. "Jadi, dengan tulus, terima kasih. Kamu sudah meringankan bebanku. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot memikirkan kebutuhan 'biologis' suamiku saat aku harus bernegosiasi di belahan dunia lain. Anggap saja ini sebagai layanan outsourcing yang sangat membantuku fokus pada pekerjaan." Ziyan mengeluarkan dompetnya yang tipis, berisi kartu platinum. Ia mengambil beberapa lembar uang tunai, lalu meletakkannya di meja kopi, di samping mereka. "Ambil ini. Anggap saja bonus karena sudah bekerja lembur. Pastikan kamu selalu menjaga kebersihannya,karena aku tidak mau ada penyakit yang menjijikan di rumah ini apalagi sampai menyentuh tubuh pentingku ini ." "Kalau yang kena kamu atau Arga saja sih no problem,kan gak penting .Kalau aku kan penting banget.Banyak orang yang bergantung pada tubuhku ini . " ujar Ziyan, mengacu pada Arga, suaminya sendiri. Nada bicaranya santai, seolah Arga tak berharga baginya. Arga menatap uang itu, lalu menatap Ziyan, raut wajahnya benar-benar bingung dan merasa harga dirinya terinjak-injak. "Ziyan! Apa maksudmu ini?!" Arga merasa marah, bukan karena ketahuan, tetapi karena keacuhan Ziyan telah membuatnya merasa tidak berharga. Ziyan menatap Arga, tatapannya tangguh dan dingin. "Aku menganggapmu sebagai suamiku, tentu saja. Tapi kamu lupa, Arga," Ziyan mencondongkan sedikit tubuhnya. Auranya mengintimidasi Arga. "Sekaran prioritasku adalah perusahaan, dan Ayahku. Kamu? Kamu adalah bagian dari takdir yang sialnya harus aku jalani ." "Aku sudah menoleransi hal ini sejak lama. Sekarang, aku tidak lagi mau memikirkan hal yang sudah rusak . Aku hanya tidak peduli," lanjut Ziyan, suaranya mengandung otoritas. "Selama kamu tetap memenuhi kewajibanmu sebagai menantu yang baik di depan Ayahku, dan tidak membawa penyakit menjijikkan ke rumah ini, silakan nikmati waktumu." Ziyan menegakkan tubuhnya, lalu melangkah ke arah pintu. "Aku akan kembali ke kantor,mungkin tidak pulang . Aku tidak punya banyak waktu untuk hal sepele seperti ini . Aku harap saat aku kembali nanti, sofa ini sudah bersih," ucap Ziyan, tanpa menoleh. Ia menutup pintu dengan keheningan yang membuat ruangan itu terasa mencekik. Arga terdiam mematung, kebingungan dan hancur karena ia sama sekali tidak penting bagi Ziyan. Ia lebih memilih kemarahan Ziyan daripada ketidakpedulian total ini. Sementara Risa menatap uang di meja, lalu menatap Arga. Rasa segan yang ia rasakan kini bercampur dengan rasa awkward yang luar biasa. Ia menyadari, ia bukan 'orang kedua' yang dicintai, melainkan hanya 'jasa' yang disewa, dan suaminya adalah barang yang ditinggalkan. Ia menutup pintu dengan keheningan yang membuat ruangan itu terasa mencekik. Arga terdiam mematung, kebingungan dan hancur karena ia sama sekali tidak penting bagi Ziyan. Ia lebih memilih kemarahan Ziyan daripada ketidakpedulian total ini. Sementara Risa menatap uang di meja, lalu menatap Arga. Rasa segan yang ia rasakan kini bercampur dengan rasa awkward yang luar biasa. Ia menyadari, ia bukan 'orang kedua' yang dicintai, melainkan hanya 'jasa' yang disewa, dan suaminya adalah barang yang ditinggalkan. Beberapa menit kemudian, suara tumit sepatu mahal Ziyan terdengar kembali. Pintu terbuka lagi. Ziyan kembali melangkah masuk. Ekspresinya masih datar, cool, seolah ia baru saja lupa mengambil kunci mobil, bukan karena ingin menambahkan punchline pada drama ini. Arga dan Risa spontan berdiri, kembali dalam posisi kaku. Keheningan yang tiba-tiba ini terasa jauh lebih awkward daripada sebelumnya. Ziyan mengabaikan tatapan panik mereka. "Selamat bersenang-senang, darling," ujar Ziyan, menggunakan panggilan sayang yang kini terdengar sangat sarkastik dan dingin. Ziyan akhirnya keluar dari rumah itu. Kali ini, ia benar-benar pergi. Arga menatap pintu yang tertutup, lalu menatap Risa. Mereka berdiri dalam awkward yang kental. Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN