****************** Suasana lorong rumah sakit VIP terasa hening, hanya diselingi bunyi sepatu yang bergesekan dengan lantai marmer. Udara berbau antiseptik dan ketegangan yang tertahan. Cahaya sore yang lembut dari jendela besar jatuh, membelah lorong menjadi jalur terang dan bayangan. Ketika Arga datang untuk menjenguk, langkahnya yang biasanya percaya diri langsung melambat saat matanya menangkap pemandangan di kamar rawat ayah mertuanya. Dia dibuat berdecak kesal. Di sana, duduk santai di kursi samping ranjang Handi, ada Bastian, pria dengan surai putih yang kini terlihat akribut—bahkan terlalu akrab—dengan Handi Nugraha. Raut wajah Handi tampak lebih cerah, menyambut setiap candaan dari Bastian. Situasi itu berulang hampir setiap hari. Bastian datang, dan kehadirannya selalu berhasi

