******************* Beberapa hari terakhir, hati Risa dilanda kecemasan yang familiar. Ia merasa seperti kembali ke masa-masa di mana Arga mulai menjauh, seperti bayangan yang enggan mendekat. Kencan dibatalkan, pesan dibalas seadanya, dan janji menginap selalu diakhiri dengan alasan pulang lebih awal—seolah ada magnet kuat di rumah yang menarik kekasihnya itu menjauh. Namun, sejak kabar duka itu, Arga kembali merangkai benang-benang perhatian yang sempat putus. Kini, pria itu menghabiskan seharian penuh merawat Risa. Bukankah ini bukti bahwa ia masih diprioritaskan? Bukankah ini hal yang patut dibanggakan? Risa mencoba meyakinkan dirinya, sementara jemarinya yang penasaran tanpa sengaja meraih ponsel Arga yang tergeletak di nakas. Tiba-tiba, suara dingin dan serak menusuk keheningan ka

