****************** Di pemakaman siang itu, langit Jakarta terasa berat, mendung tebal menggantung rendah seolah turut berduka. Aroma kembang tujuh rupa bercampur dengan bau tanah basah yang baru saja ditutup. Angin berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun tidak sedingin kesunyian yang mencekam. Di hadapan dua gundukan tanah merah yang masih baru, Risa duduk bersimpuh, tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi, matanya sembab dan merah. Isakan pilu keluar dari bibirnya yang kering. "Hikss.... Ayah... Ibu....." Risa memeluk nisan kedua orang tuanya seolah ingin meraih kehangatan yang telah tiada. Di sisinya, Arga, sang kekasih, segera merangkulnya, menarik Risa ke dalam dekapan hangatnya, berusaha menenangkan. Tatapannya penuh iba saat ta

