Seminggu sudah berlalu, dan Amierra melakukan apa yang di suruh oleh Djavier untuk melakukan solat istikharah. Hampir setiap malam ia melakukannya meminta jawaban dari Allah, apa yang harus ia lakukan.
Jawabannyapun sudah di temukan Amierra, karena setelah melakukan solat ketiga kalinya. Djavier muncul dalam mimpinya. Djavier terlihat memakai pakaian serba putih dan wajahnya terlihat cerah sekali dan terlihat sangat tampan. Ia muncul di mimpi Amierra dengan senyuman khasnya. Amierra pikir itu hanya kebetulan saja, bukan jawaban dari Tuhan atas Sholatnya. Tetapi sudah seminggu ini Fauzan tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya atau membalas pesannya yang sudah menumpuk di emailnya. Amierra hanya bisa menghela nafasnya saja, sekarang ia tau apa yang harus ia lakukan.
“Hallo,”
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Amierra. “Paman besok saja kita ke Serang Bantennya.”
“Kamu sudah menemukan jawabannya?”
“Hmm,”
“Itu jugalah yang saya lakukan, dan sepertinya memang Tuhan sudah menakdirkan kita untuk bersama.”
“Hmm,”
“Besok saya jemput pagi-pagi yah, saya juga ajak Dania. Perjalanan jauh, dan rasanya tidak baik kalau kita jalan berdua.”
“Terserah,”
“Baiklah, sampai besok Amierra. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,”
Amierra mematikan sambungan telponnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendunya. Apa itu berarti tak ada harapan lagi untukku bersama dengan my Ozan?
Bip bip
Amierra mengambil iphone yang tergeletak di sampingnya dan membaca pesan yang baru saja masuk padanya.
Millow
Gimana, loe udah bilang sama Abang tentara itu?
Me
Udeh, besok kita mau ke Serang Banten untuk ketemu Komandannya. Dan melakukan beberapa tes.
Millow
Ngikut, boleh dong. Siapa tau ada tentara cogan lainnya di sana.
Me
Kagak!
Millow
Ah elah, jangan pelit-pelit. Bagi-bagi kacang ijo nya satu kenapa. Kagak kasian nih sama sahabat yang masih jomblo, nunggu di hilalin Abang Kacang Ijo. (Emot nangis)
Me
Frustasi bener mbak,,
Millow
Asyem! Ikut yah ikut, biar kagak gantung diri di pohon toge karena gak nemu kacang ijo.
Amierra terkekeh membaca pesan dari sahabatnya itu. Ada-ada saja memang Mila ini. Amierrapun membalas dengan emot jempol dan itu membuat Milla bahagia bukan main.
Keesokan paginya, Djavier menjemput Amierra bersama Dania. “Assalamu’alaikum Kak Amie,”
“Wa’alaikumsalam Dania.” Amierra memeluk Dania singkat dan beranjak menuju ke pintu penumpang belakang.
“Kakak di depan saja, biar Dania yang di belakang,” ucap Dania.
“Tidak Dania, nanti temanku akan ikut jadi aku di belakang saja. Kamu duduk di depan saja,” ucap Amierra menaiki mobil.
“Masuklah Dania,” ucap Djavier yang di angguki Dania. Ia menaiki mobil Djavier begitu juga Djavier, dan mulai menjalankan mobilnya.
“Kita akan menginap di rumah sepupu saya di Banten. Karena kita akan di sana sekitar 2-3 hari, jadi tidak bolak balik,” ucap Djavier melirik Amierra melalui kaca spion.
“Hmm,”
Hening...
Tak ada yang membuka suaranya, “Paman, jemput temanku dulu di tempat yang dulu yah.”
“Baiklah,”
“Paman?” seketika tawa Dania pecah membuat Djavier memelototinya tetapi Dania terus tertawa.
“Cocokkan panggilannya, Dania?” ucap Amierra.
“Hahaha cocok sekali, lucu banget,” kekehnya tanpa memperdulikan tatapan intimidasi dari Djavier. “Kasian banget Abang, belum punya ponakan udah di panggil Paman,” tawa Dania pecah seketika, sedangkan Amierra hanya terkekeh saja. Djavier berusaha bersikap tenang tanpa ekspresi walau sebenarnya ia merasa kesal di ejek seperti itu.
Tak lama mereka sampai di depan kostan Milla, dan tak lama sang empu keluar dengan membawa beberapa tas. “Astaga loe mau pindahan kemana, Millow? Bawa barang bejibun gini,” ucap Amierra kaget melihat Milla.
“Persiapan buat nyari cogan,” kekehnya.
Ia menaiki mobil di bantu Amierra menyimpan barangnya di bagasi mobil. “Hai aku Milla,” ucap Milla saat mobil sudah bergerak.
“Hai Kakak, aku Dania adiknya bang Djavier,”
“Hai Dania, Hai Mas Djavier,”
“Hai Milla.” Djavier tersenyum lewat kaca spionnya.
“Di pikir Mas tukang baso,” celetuk Amierra.
“Dih kenapa? cembokur loe? Lebih bagus kan manggil Mas daripada Paman, kayak loe.” Amierra mencibir kesal mendengar ucapan Milla. Dania terkekeh di depan mendengar ucapan Milla. “Eh Mas, apa di sana ada tentara yang belum menikah?” tanya Milla tanpa tau malu.
“Tidak tau malu,” cibir Amierra.
“Gak apa-apa, namanya juga usaha biar cepet di hilal sama abang TNI.” Ucapan Milla membuat Dania dan Djavier terkekeh.
“Ada banyak Mil,” jawab Djavier.
“Wah, kenalin satu buatku yah Mas. Aku mau aku mau,” ucapnya heboh.
“Loe pikir makanan,” ucap Amierra.
“Syirik aja loe, kan loe udah dapat mas Djavier. Jadi sekarang giliran gue,” ucapnya tanpa tau malu.
“Mas pala loe,” gerutu Amierra.
“Lihat Mas, ada yang cemburu karena aku panggil Mas.” Djavier terkekeh mendengar penuturan Milla. “Aww,” pekiknya saat Amierra menginjak kakinya dengan keras.
“Ada apa?” tanya Djavier
“Di injak kaki gajah,” ucapnya asal membuat Amierra melotot kesal. Tanpa sepengetahuan Amierra, Djavier melirik dari kaca spion dan tersenyum melihat wajah Amierra yang terlihat lucu dan cantik menurutnya. Dan kejadian itu tertangkap oleh tatapan Dania yang sadar kalau Abangnya sudah menyukai calon Kakak Iparnya.
Mereka sampai di Markas Kopassus Group 1 di Serang Banten. Komando Pasukan Khusus yang di singkat menjadi Kopassus adalah bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat, Indonesia. Kopassus memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror. Tugas Kopasus Operasi Militer Perang (OMP) diantaranya Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Combat SAR, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus). Selain itu, Tugas Kopasus Operasi Militer Selain Perang (OMSP) diantaranya Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, SAR Khusus serta Pengamanan VVIP. Prajurit Kopassus dapat mudah dikenali dengan baret merah yang di sandangnya, sehingga pasukan ini sering di sebut sebagai pasukan baret merah. Kopassus memiliki moto "Berani, Benar, Berhasil".
Djavier merupakan TNI AD Kopassus di Indonesia, walau awalnya dia bergerak di TNI AD Infanteri yang merupakan pasukan tempur darat utama yaitu pasukan berjalan kaki yang di lengkapi persenjataan ringan, di latih dan di siapkan untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat. Oleh karena itu seorang Infanteri harus memiliki kemampuan berkelahi, menembak, dan bertempur dalam segala medan dan cuaca. Tetapi karena kemampuannya yang gesit dan mengagumkan beberapa tahun belakangan ini, Djavier di angkat menjadi Kapten dari salah satu Group di tim TNI Kopassus.
Struktur organisasi Kopassus berbeda dengan satuan infanteri pada umumnya. Meski dari segi korps, para anggota Kopassus pada umumnya berasal dari Korps Infanteri, namun sesuai dengan sifatnya yang khusus, maka Kopassus menciptakan strukturnya sendiri, yang berbeda dengan satuan infanteri lainnya. Kopassus sengaja untuk tidak terikat pada ukuran umum satuan infanteri, hal ini tampak pada satuan mereka yang disebut Grup. Penggunaan istilah Grup bertujuan agar satuan yang dimiliki mereka terhindar dari standar ukuran satuan infanteri pada umumnya (misalnya Brigade). Dengan satuan ini, Kopassus dapat fleksibel dalam menentukan jumlah personel, bisa lebih banyak dari ukuran brigade (sekitar 5000 personel), atau lebih sedikit.Sebelum turun, Djavier melepaskan jaket kulit yang ia gunakan hingga memperlihatkan seragam kebesarannya yang lain, berbeda dari yang kemarin ia gunakan. Amierra tanpa sadar memperhatikan calon suaminya itu yang terlihat gagah dan tampan dengan seragamnya. Secara garis besar satuan dalam Kopassus dibagi dalam lima Grup, yaitu: Grup 1/Para Komando - berlokasi di Serang, Banten. Grup 2/Para Komando - berlokasi di Kartasura, Jawa Tengah. Pusat Pendidikan Pasukan Khusus - berlokasi di Batujajar, Jawa Barat. Grup 3/Sandhi Yudha - berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur. Satuan 81/Penanggulangan Teror - berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur. Kecuali Pusdikpassus, yang berfungsi sebagai pusat pendidikan, Grup-Grup lain memiliki fungsi operasional (tempur). Dengan demikian struktur Pusdikpassus berbeda dengan Grup-Grup lainnya. Masing-masing Grup (kecuali Pusdikpassus), dibagi lagi dalam batalyon, misalnya: Yon 11, 12, 13 dan 14 (dari Grup 1), serta Yon 21, 22 dan 23 (dari Grup 2).
Djavier menuruni mobil diikuti yang lainnya, mereka berjalan memasuki markas Kopassus, banyak sekali tentara baret merah yang sedang berlatih di sana. Amierra tanpa sadar memperhatikan Djavier yang tampak gagah dengan seragamnya.
“Macho yeh,” bisik Mila menyadarkan Amierra yang hanya di balas dengusan oleh Amierra.
“Selamat Siang Kapten!” sapa seorang pria gagah yang tingginya hampir menyamai Djavier. Pria itu terlihat memakai seragam kebesarannya.
“Selamat siang Sersan Iqbal, kenalkan ini Dania adik saya, ini Amierra calon istri saya dan yang ini Kamila temannya Amierra,” ucap Djavier.
“Selamat siang semuanya, saya Sersan Inf Iqbal Khairudin, Sersan sekaligus kaki tangannya Kapten Djavier di Group 1 ini,” ucap pria berperawakan 180cm berbeda 5cm dengan Djavier yang tingginya 185cm.
“Ganteng euy,” bisik Mila membuat Amierra menyikunya.
“Dania dan Mila tunggu di sini saja dulu.” Mereka berdua mengangguk setuju dan Djavier mengajak Amierra masuk ke dalam untuk menemui penguji pertama mereka.
Iqbal mengajak Dania dan Mila ke kantin markas, di sana cukup sepi karena ini belum waktu istirahat dan banyak tentara yang terlihat tengah melakukan latihan dan kegiatan lainnya. “Mau pesan apa?” tanya Iqbal
Pria itu terlihat ramah sekali, wajahnya tidak terlalu tampan tetapi terlihat manis.“Apa saja, ikut mas Iqbal saja,” ucap Mila dengan tatapan berbinarnya membuat Dania terkekeh.
“Aku juga apa saja,” ucap Dania.
“Baiklah, sebentar yah.” Iqbal berlalu pergi memesan makanan untuk mereka bertiga.
Di tempat Djavier dan Amierra, mereka masih duduk di luar ruangan. “Apa kamu sudah menghapal apa yang saya berikan kemarin?”
Amierra menengok ke arah Djavier, “Sudah, ini tes apa sih kok aku sampai harus menghapal buku itu. Mana banyak pasal-pasal juga, seperti mau ujian PPKN saja.”
“Itu tes awal kita, kamu di uji soal pengetahuan di bidang pendidikan dan kewarganegaraan sebenarnya itu hanya pengetahuan umum. Begitu juga soal pandanganmu mengenai organisasi terlarang di NKRI, seperti PKI,” jelas Djavier.
Tak lama mereka di persilahkan masuk, dan penguji pertama mereka mulai berbasa basi ringan. Dan mulai bertanya beberapa hal kepada Amierra, setelahnya ia melakukan pengujian pada Amierra yang di jawab dengan santai oleh Amierra. Setelah ujian singkat itu, mereka di beri wejangan tentang bahtera pernikahan. Setelahnya Djavier dan Amierra keluar dari ruangan itu. “Aku pikir kamu tidak akan bisa menjawabnya.”
“Aku bisa menjawabnya, karena pertanyaan itu sangat gampang. Aku pikir akan di tanya soal pasal UUD, taunya nggak. Padahal kan kalau sulit dan aku tidak bisa jawab, kita gagal nikah.” Ucapan Amierra hanya di jawab senyuman singkat oleh Djavier. Kali ini ia sudah tau bagaimana Amierra.
“Setelah ini kemana? Aku sangat lapar.”
“Kita akan ke rumah sakit TNI, tak jauh dari sini. Tetapi kalau kamu lapar, kita bisa makan dulu.”
“Makan dulu, aku lapar.”
“Baiklah, ayo.” Amierra mengikuti Djavier menuju ke kantin Markas.
Di sana terlihat Iqbal bersama Mila dan Dania tengah menikmati makanan mereka. “Makan kagak ajak-ajak!”
Oho oho
Milla tersedak makanannya karena Amierra menoyor kepalanya. “Minum dulu.” Iqbal menyodorkan sebotol air mineral pada Mila. Mila menerimanya dengan wajah mesem-mesem.
“Mau makan apa, Mier?” tanya Djavier.
“Apa saja yang bisa di makan.” Djavierpun berlalu pergi meninggalkan mereka untuk memesan makanan.
“Mbak Amierra kenal Kapten dimana? Dia itu pria yang sangat pendiam dan tertutup, bahkan dia jarang sekali dekat dengan seorang wanita,” ucap Iqbal.
“Kami di jodohkan,” jawabnya enteng.
“Oh benarkah?” ucapnya seakan tak yakin dan Amierra menganggukan kepalanya. “Dulu saat kami pelatihan di AKMIL, kami berteman dan tidak menyangka akan sama-sama masuk ke komando khusus di group yang sama.” Amierra hanya manggut manggut saja mendengar penjelasan Iqbal hingga tak lama Djavier membawa 2 piring nasi serta lauk pauknya untuk Amierra dan dirinya. Amierra memakannya dengan lahap begitu juga dengan Djavier. “Setelah ini kemana lagi, Kapt?”
“Sekarang kami akan melakukan tes kesehatan di rumah sakit TNI. Mungkin akan sampai sore, kamu ada kerjaan Iq?”
“Kebetulan saya sedang tidak sibuk, Kapt.”
“Bisa kamu antarkan Mila dan Adik saya ke rumah sepupu saya. Dania tau tempatnya, kasian juga mereka butuh istirahat.”
“Siap Kapt!”
Setelah selesai makan, Amierra dan Djavier pergi menuju ke rumah sakit TNI tak jauh dari markasnya. “Nanti akan di tes apa saja? Tes keperawanan itu bagaimana?” tanya Amierra.
“Saya tidak tau, tetapi itu tidak akan membahayakan kamu,” ucapnya fokus menyetir mobil hingga masuk ke rumah sakit TNI. Mereka berdua menuruni mobil dan berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit yang tak terlalu ramai. Amierra berjalan sedikit kelelahan karena harus menyamai langkah lebar Djavier, apalagi dia memakai high heels.
“Heh Paman!” teriaknya menghentikan langkah Djavier yang sudah berada 5 langkah di depannya. Djavier menoleh ke belakangnya dengan menaikkan sebelah alisnya. Amierra menghembuskan nafasnya kasar. “Biasa aja jalannya bisa gak? aku udah kayak jalan bareng Banteng yang nyeluduk terus.”
Djavier berusaha menahan tawanya mendengar amukan Amierra. “Cepatlah, kita sudah di tunggu.” Amierra mendengus kesal dan berjalan mendahului Djavier menuju ke ruang pemeriksaan.
Sesampainya di sana, mereka melakukan beberapa tes kesehatan seperti pemeriksaan dari kesehatan jantung, urin, cek darah, rontgen d**a, dll. Setelahnya mereka duduk di hadapan seorang dokter TNI, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengker di hidungnya walau sedikit melorot. “Nona Amierra dan Kapten Inf Djavier,” ucapnya..
“Benar Pak,” jawab Djavier.
“Apa sebelumnya kamu pernah melakukannya dengan calon suami kamu?” tanya dokter itu tanpa basa basi.
“Melakukan apa?” tanya Amierra dengan polos.
“Melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan,” ucapnya tanpa basa basi.
“Ya tidaklah Pak, kan kami belum nikah,” ucap Amierra dengan santai.
“Sudah jujur saja, nanti juga bakal ketahuan saat di test!” desaknya.
“Lah saya sudah jujur, mau di test apa juga silahkan saja,” jawab Amierra tanpa rasa takut dan itu membuat Djavier semakin menyukai Amierra.
“Benarkah? Jaman sekarang kan banyak sekali kejadian seperti itu,” ucapnya seakan memancing Amierra.
“Itu mereka, tetapi tidak dengan saya. Kalau Bapak mau melakukan test yah silahkan, saya tidak takut toh saya berkata jujur,” ucapnya membuat Bapak itu tersenyum seraya melepaskan kacamatanya.
“Kalian boleh keluar, hasilnya besok sudah keluar,” ucap pria itu membuat Djavier mengangguk dan berpamitan.
“Begitu saja?” tanya Amierra saat mereka sudah keluar dari ruangan.
“Iya, memangnya kamu mau bagaimana lagi?” tanya Djavier.
“Tidak, selanjutnya apa lagi?” tanya Amierra sedikit memijit betisnya yang terasa pegal.
“Besok pagi kita akan melakukan Pembinaan Mental atau biasa di sebut Bintal.”
“Apalagi itu?” tanya Amierra dengan kernyitan di dahinya.
“Itu hanya tes tentang kepribadian kita, nanti kita harus menjawab beberapa soal yang mereka ajukan. Biasanya tentang keagamaan dan wejangan pra nikah,” ucap Djavier.
“Lalu setelah itu?”
“Setelahnya kita menghadap ke Brigjen selaku pimpinan di Group 1 parakomando di Serang Banten ini. Dan membawa semua persyaratan yang sudah kita penuhi,” jelas Djavier saat berjalan menuju parkiran mobil.
“Lalu?”
“Lalu kita pergi ke KUA untuk mengajukan pernikahan kita, supaya bisa tercatat di catatan sipil.”
“Syukurlah, aku sudah males menjalankan beberapa tes lagi.”
“Tenanglah semuanya sudah selesai, hanya tinggal besok tes terakhir.” Mereka berdua menaiki mobil CR-V milik Djavier dan meninggalkan pekarangan rumah sakit.
Keesokan harinya, mereka kembali pergi untuk bertemu dengan Disbintal TNI di markas TNI Infanteri Bogor. Mereka pergi hanya berdua dan meninggalkan Dania dan Milla di rumah sepupu mereka. Kali ini Amierra membawa selendang karena berhubungan dengan Agama, ia memakainya saat sudah masuk ke ruang pengujian.
Di dalam sana mereka di beri beberapa pertanyaan tentang kepribadian merekaberdua, dan bahkan di uji untuk membaca ayat suci Al-Quran. Setelah selesai pengujian, mereka di beri wejangan oleh penguji dalam menjalani bahtera pernikahan. Selesai darisana, mereka menemui Mayor Jendral bernama Indrawan Yudistira. Di sana tak banyak pertanyaan hanya candaan sedikit menggoda Djavier.
Jendral Indra biasa di panggilnya, pria berusia 50tahunan. Ia menjelaskan bagaimana pekerjaan Djavier dan seorang Abdi Negara dimana prioritas pertama mereka adalah Negara bukan Istri atau keluarga. Mensejahterakan Negara adalah tugas seorang Abdi Negara. Dan Amierra berusaha memahaminya, ia harus siap dengan segala konsekuensinya nanti. Kalau sewaktu-waktu Djavier di tugaskan di luar daerah atau Negara untuk melindungi Negara. Amierra berusaha menerimanya, hingga ucapan selamat untuk mereka berdua dari Jendral.
Setelahnya mereka keluar dari ruangan itu, mereka berjalan beriringan. Amierra diam-diam memperhatikan Djavier.
Kamu harus siap kalau suatu saat nanti suami kamu harus meninggalkan kamu dalam jangka waktu yang lama untuk melakukan tugasnya.
Ucapan itu entah kenapa sedikit mengusik pikiran Amierra.
Dug
“Aduh,” Amierra mengusap hidungnya yang menabrak lengan Djavier.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Djavier.
“Tidak, kalau jalan tuh yang bener dong,” gerutunya berlalu pergi meninggalkan Djavier seorang diri.
Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya acara yang di tunggu-tunggu berlangsung. Acara pernikahan Amierra dan Djavier yang di gelar di salah satu hotel tak jauh dari rumah Amierra. Amierra duduk di dalam kamar dengan sudah cantik memakai gaun pengantin putih yang begitu indah melekat di tubuhnya yang ramping. Ia terlihat menatap layar handphonenya berkali-kali berharap ada pesan dari Fauzan.
“Hey, ngelamun aja nih Ibu Kapten.” Goda Mila duduk di samping Amierra.
“Fauzan tidak ada menghubungi gue,”
“Ya Allah, ini hari pernikahan loe dan loe masih memikirkan mantan b******k loe itu.” Amierra memelototi Mila mendengar penuturan Mila.
“Jaga ucapan loe, Mila.”
“Gue berkata jujur, Fauzan gak pantes buat loe tunggu. Lihatlah sekarang ada Djavier suami loe.”
“Calon suami.”
Sah!
“Nah sekarang suamikan,” ucap Mila membuat Amierra menundukkan kepalanya dan mengusapnya wajahnya.
“Berarti ini saatnya gue melupakan Fauzan.”
“Iya, loe benar,” ucap Mila, hingga sang Bunda datang untuk menjemput Amierra dan membawanya ke bawah.
Mila dan Bunda mendampingi Amierra untuk menuju ke tempat acara. Sesampainya di sana, ia duduk di samping Djavier yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Djavier menoleh ke arah Amierra dan menatap Amierra dengan tatapan terpesona nya. Amierra terlihat begitu cantik dengan hijabnya dan kebaya pengantinnya khas adat Sunda. Amierra terlihat menundukkan kepalanya untuk mencium tangan Djavier dan Djavier mengecup keningnya. Tatapan mereka beradu setelah Djavier mengecup keningnya. Tatapan yang sulit di artikan tetapi mereka tak mampu memalingkan tatapannya ke arah lain.
Setelah melakukan beberapa adat Sunda dan ritual lainnya. Kini mereka masuk ke acara resepsi dan acara Pedang Pora yang biasa di lakukan untuk Penghormatan. Djavier terlihat memakai seragam kebesarannya dan Amierra memakai gaun cantik berwarna coklat gold yang begitu indah dan cantik.
Pedang Pora adalah tradisi pernikahan bagi perwira militer yang dilaksanakan dalam rangka melepas masa lajang dengan diiringi rangkaian pedang berbentuk gapura yang dibentuk oleh hunusan pedang dari rekan-rekan perwira atau adik angkatan dari sang mempelai pria. Seorang Perwira lain mengambil mulai berbicara di depan semua orang. “Hadirin yang kami mulyakan, pada hari yang berbahagia ini, kami corps Perwira AKADEMI MILITER akan mempersembahkan acara tradisi corps pedang pora. Acara ini merupakan perlambang kebanggaan dan kebahagiaan corps perwira AKADEMI MILITER dalam mengantar Kakak kami untuk menempuh lembaran kehidupan yang baru. Maksud dan tujuan acara yang telah menjadi tradisi dilingkungan Perwira AKADEMI MILITER ini adalah agar tetap terjalin hubungan ikatan bathin yang kuat dan rasa korsa yang mendalam antara Kakak dan Adiknya serta untuk mengantarkan Kakak kami ke pintu gerbang kehidupan barunya sebagai suami istri yang berbahagia.”
Semuanya sudah bersiap di tempat masing-masing dan begitu khidmat. Sekitar dua belas orang pasukan pedang pora yang berdiri berhadap-hadapan dan satu orang komandan regu, lengkap dengan seragam militernya, topi baret merat yang menjadi cirikhas dari TNI Kopassus dan pedang pora atau pedang panjang yang masih berada di sarungnya dan tergantung di pinggang masing-masing. Adapun yang bertindak sebagai pasukan adalah adik-adik angkatan dari mempelai pria. “Acara Tradisi corps pedang pora dimulai, hadirin dimohon berdiri,” ucapnya hingga semuanya berdiri. “Pasukan disiapkan.” Komandan regupun mulai menyiapkan pasukannya. “Laporan Komandan pedang pora.”
Dan ketika komandan regu telah melaporkan bahwa Pasukan Pedang Pora telah siap kepada kedua mempelai, kemudian pasukan pedang pora-pun disiapkan untuk mulai menghunus pedangnya. Pedang Terhunus itu mengandung makna, bahwa ‘Dengan jiwa ksatria kedua mempelai siap menghadapi segala rintangan yang akan mereka hadapi dalam kehidupan.’
Maka berjalanlah secara perlahan tapi pasti kedua mempelai di bawah pedang pora yang perlahan mulai terangkat saat mereka melewatinya, sambil diringi oleh suara tambur yang ditabuh tak henti memberi semangat kepada kedua mempelai. “Formasi berbanjar yang sedang kita saksikan ini, melambangkan bahwa kami corps perwira AKADEMI MILITER, turut bersuka cita dan mengantarkan Kakak kami tercinta menuju pintu gerbang kebahagiaan dalam menempuh kehidupannya yang baru. Kami menyadari bahwa kami dulu pernah merasakan dalam satu rasa kehidupan dalam menempa diri di AKADEMI MILITER. Penderitaan Kakak kami adalah sebagian dari penderitaan kami yang harus kami rasakan bersama-sama. Kami siap mengantar Kakak kami untuk membagi rasa baik dalam suka maupun duka. Dan pada hari yang berbahagia ini disaksikan dengan mata kebahagiaan dan dengan diiringi doa para hadirin mempelai berdua melepas masa bebasnya, menjalin janji untuk masa selamanya, semoga ini menjadi awal dari suatu kebahagiaan.” Pasukan pedang pora-pun dengan langkah tegap berjalan mengikuti di belakang kedua mempelai kemudian pasukan membentuk formasi lingkaran lalu menghunus pedang ke atas berbentuk payung. Formasi Lingkaran Pedang Berbentuk Payung atau Payung Pora bermakna "Bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu melindungi kedua mempelai dalam menghadapi segala rintangan kehidupan dan selalu ingat untuk memohon lindungan dan petunjuk kepada-NYA".
Kedua mempelai menerima Pemasangan Cincin yang melambangkan “Kepada yang terhormat Bapak Hasan Rahaja beserta Ibu dimohon berkenan untuk memasangkan cincin kepada kedua mempelai. Pemasangan cincin ini merupakan ikrar dan tanda bagi kedua mempelai bahwa mereka akan selalu bersama-sama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.”
“Kepada yang terhormat ibu Anindya selaku ketua Persit Kartika Chandra Kirana dimohon berkenan untuk menyerahkan seperangkat pakaian Persit kepada mempelai putri.” Seorang wanita sekitar 45tahunan beranjak dengan membawa peralatan pakaian itu. “Dengan di serahkannya pakaian persit kepada mempelai putri, secara simbolis mengandung arti bahwa mempelai putri telah diterima menjadi anggota persit KARTIKA CHANDRA KIRANA.” Setelah acara itu, di lanjut ke acara tegak pedang atau pembacaan puisi oleh salah satu pasukan Militer. Setelah pembacaan puisi, mempelai di persilahkan kembali ke pelaminan. Dan di lanjut dengan sarungkan pedang. Lalu laporan Komandan pedang pora. “Hadirin yang terhormat demikian tadi acara tradisi corps pedang pora oleh perwira AKADEMI MILITER, semoga dengan acara pelaksanaan ini akan terjalin ikatan bathin yang kuat diantara kami, dan kami tak lupa corps perwira AKADEMI MILITER mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan berbahagia.”
Setelah acara pedang pora, selanjutnya ke acara hiburan dan penyambutan tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
Selesai acara, kini mereka berdua berada di sebuah kamar hotel yang sudah di sulap seromantis mungkin untuk malam pertama mereka. “Ya Tuhan lelah sekali,” keluh Amierra duduk di sisi ranjang dengan menenteng gaunnya.
Djavier terlihat baru memasuki kamar dan menutup pintunya. “Kamu lelah?”
“Sangat, tamunya bejibun,” keluhnya. Djavier hanya tersenyum seraya melepas jasnya dan menyampirkannya di sofa yang ada di sana. “Aku mandi duluan,” ucap Amierra beranjak menuju kamar mandi.
Ia mulai melepaskan jilbab yang ia gunakan dan berusaha menggapai pengait dan kancing gaun yang ada di punggungnya dengan kesulitan. “Astaga sulit sekali,” keluhnya. Ia kembali melakukannya tetapi sulit sekali dan ia terus marah-marah kesal hingga Djavier masuk ke dalam karena mendengar gerutuan Amierra. Tanpa mengatakan apapun, Djavier langsung membantu membukanya. “Kalau butuh bantuan, katakan saja,” ucapnya.
Amierra hanya diam membisu, Djavier terlihat membukakan gaun itu dengan sesekali tatapannya menuju ke arah cermin dan bertemu dengan tatapan Amierra melalui cermin itu. Mata mereka terpaut satu sama lain, hingga Djavier memutar tubuh Amierra hingga berhadapan dengannya. Mata mereka masih beradu satu sama lain, Djavier memojokkan Amierra dengan kedua tangannya yang berpegangan pada wastafel di belakang Amierra hingga mampu mengungkung tubuh Amierra. Jantung Amierra mendadak berdetak begitu cepat seakan ingin keluar dari tempatnya. Tangan Djavier terulur untuk merapihkan anak rambut Amierra yang terjatuh ke pelipisnya. Djavier masih menatap Amierra dengan intens tatapan elangnya. “Paman-“
“Kamu sangat cantik, Amierra,” pujinya masih membelai pipi Amierra dengan lembut. Amierra mengingat ucapan sang Bunda kemarin malam.
Ingat Amierra, walau kamu tidak mencintainya. Tetapi dia sudah menjadi suami kamu, dia berhak atas kamu. Jangan pernah menolak apapun keinginannya, jadilah seorang istri yang shaleh. Setidaknya ikuti aturan dari Allah SWT, tugas seorang Istri.
Amierra memejamkan matanya saat Djavier semakin mendekatinya. Djavier tersenyum melihat wajah gugup Amierra yang memejamkan matanya. “Mandilah,” bisiknya dan berlalu pergi meninggalkan Amierra. Perlahan Amierra membuka matanya dengan dadanya yang naik turun. Apa barusan itu? Sebenarnya Paman mau menciumku atau tidak sih?
30 menit berlalu, Amierra sudah merasa lebih baik karena habis berendam air hangat. Ia keluar dengan memakai gaun tidurnya dan rambut yang di gulung asal hingga beberapa helainya jatuh ke bawah. Ia keluar dari kamarnya dan terlihat Djavier tengah menuangkan air ke dalam gelas dan mengaduknya. Ia menoleh ke arah Amierra yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Duduklah, minumlah teh ini. Supaya lelahnya sedikit berkurang,” ucapnya seraya beranjak ke kamar mandi.
Amierra duduk di meja Bar dan menggenggam gelas berisi teh hangat itu. Perlahan ia menyesapnya, aroma dari teh itu begitu menenangkan dan rasanya begitu hangat dan sedikit asam. “Tehnya enak,” gumamnya kembali meneguknya.
Tak lama Djavier keluar dari kamar mandi dengan memakai celana boxer hitam dan kaos berwarna coklat. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. “Bagaimana tehnya?” tanya Djavier tampak begitu santai.
“Rasanya enak, segar,” ucap Amierra masih meneguknya.
Djavier mengambil duduk di hadapan Amierra dan menuangkan air mineral ke gelas lainnya. “Itu biasa aku minum saat sedang bekerja. Rasa dan aromanya mampu membuat kita merasa relax.” Amierra mengangguk menyetujui perkataan Djavier.
Setelahnya hening tak ada yang bersuara, Amierra menatap sekeliling kamar yang sudah di sulap seromantis dan seindah mungkin. “Apa malam ini kita akan melakukannya?” tanya Amierra membuat Djavier menatap ke arahnya. “Jangan berpikir yang macam-macam dulu, aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri untuk menawarimu tidur bersama!” ucapnya dengan sengit.
Djavier menahan senyumnya melihat wajah Amierra yang memerah, ia terlihat memalingkan wajahnya seraya menyeduh minumannya. “Bagaimana, mau tidak? Kalau tidak aku mau tidur.”
“Kamu mengajukannya dengan tidak ikhlas,” ucap Djavier membuat Amierra mencibir kecil.
“Khem,, Mas Djavier suamiku Sayang. Mau bobo dulu atau mau itu dulu,” ucap Amierra dengan senyuman menggodanya membuat Djavier tersenyum geli melihatnya.
“Kamu terlihat lelah, istirahatlah.” Ucapan Djavier membuat Amierra melongo kaget. Apa barusan aku di tolak? Oh my God, sudah menggodanya dan sudah menawarinya dengan begitu lembut malah di tolak. Batin Amierra begitu kesal.
“Sepertinya Paman tidak normal karena menolakku,” gerutunya seraya beranjak menuju ranjang tetapi di tahan oleh Djavier hingga tubuh Amierra tertarik dan menabrak d**a bidang Djavier.
“Kamu bilang apa barusan?”
“Aku tidak mengatakan apapun, udah ah lepas aku mau tidur.” Amierra menepis tangan Djavier dan beranjak menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana dengan membelakangi Djavier. ‘Nyesel gue ngikutin omongan Bunda, di kira gue cewek m***m apa. Dan si Paman katro ini bener-bener gak peka. Apa benar-benar dia tak normal?’
Djavier masih memperhatikan Amierra yang menggerutu pelan, ia tau kalau Amierra tengah mengoceh karena barusan di tolaknya. Bukan karena apa-apa, Djavier tau Amierra kelelahan. Dan Djavier tidak ingin membuatnya semakin kelelahan. Bukankah masih ada hari esok.
“Amierra!”
“Hey, Amierra bangun. Ayo kita solat subuh dulu.” Djavier membelai pipi Amierra dengan lembut. “Amierra,” ucapnya sekali lagi.
“Sebentar lagi Bunda,” keluhnya seraya menggeliat kecil.
Djavier tersenyum melihat tingkah polos Amierra barusan, menurutnya itu sangatlah lucu dan menggemaskan. Tatapannya terkunci pada wajah polos Amierra yang terlihat cantik. Tangannya terulur untuk merapihkan helaian rambut Amierra yang jatuh ke wajahnya. Ia masih tidak menyangka akan menikah dengan perempuan yang dulu dia ajar. Dulu dan sekarang, Amierra tetap menggemaskan di matanya. Bibir Djavier kembali terangkat ke atas melihat wajah Amierra yang terlelap. “Baiklah, aku akan solat duluan.”
15 menit kemudian, Djavier sudah menyelesaikan ibadahnya. Tetapi Amierra masih nyenyak dalam tidurnya, “Amierra ayo bangun, solat subuh dulu.” Djavier mengusap pipi Amierra.
“Entar dulu!” Djavier akhirnya memilih mengambil Al-Quran dan duduk di samping Amierra. Ia membaca ayat kursi Al-Quran dengan menaikkan nada suaranya membuat Amierra menutup telinganya dengan bantal. “Siapa sih yang ngaji tengah malam begini,” gerutunya. Djavier tak terusik, ia tetap membaca al-quran hingga Amierra terbangun dengan wajah kesal dan ngantuknya.
“Paman?” pekiknya mendadak melotot sempurna. “Sedang apa kau di kamarku? Cepat keluar sebelum Ayah dan Bunda tau!” Djavier menghentikan membacanya dan menoleh pada Amierra dengan kernyitan di dahinya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Djavier membuat Amierra mengingat sesuatu.
“Ah, kita sudah menikah yah,” gumamnya seraya mengusap wajahnya memuat Djavier menggulum senyumnya.
“Solat subuh dulu gih, Cantik.” Amierra menaikkan sebelah alisnya.
“Paman bilang apa barusan?”
“Solat subuh,” jawabnya.
“Bukan, setelah itu.”
“Apa memangnya?” ucap Djavier mengedikkan bahunya membuat Amierra mencibir.
“So malu malu kucing!” Amierra beranjak menuju ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Pagi-pagi mereka berdua menikmati sarapan di dalam kamar hotel. Amierra menikmati makanannya dalam diam, Djavier sesekali melirik ke arahnya yang terlihat santai. “Amierra!”
“Hmm.” Amierra menoleh ke arah Djavier.
Djavier mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan satu buah ATM padanya. “Saya ingin kamu yang mengatur semua keuangan keluarga kita,” ucap Djavier membuat Amierra mengernyitkan dahinya.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu istri saya,” ucap Djavier dengan santai.
“Aku tau kalau soal itu, bangga banget pake di sebutin terus,” gerutu Amierra.
“Bukan begitu, saya beneran ingin kamu mengatur keuangan rumah tangga kita. Aku mempercayakan semuanya padamu, gaji saya masuk ke ATM itu.”
“Tetapi kamu tidak perlu khawatir, saya ada ATM lain. Uang bonus dan uang tugas akan masuk ke ATM saya, selain itu saya juga ada usaha kecil-kecilan di daerah Banten. Saya membuka usaha bengkel motor dan juga car wash,”jelas Djavier.
“Pantas Paman memberikan ATM yang ini, wong uang yang gede ada di Paman,” gerutu Amierra.
“Bukan begitu, uang yang saya terima tidak setiap bulan, kalau kamu menaruh curiga pada saya. Ambil saja kedua-duanya, nanti saya bikin ATM baru. Dan kamu yang atur keuangan untuk saya,” ucap Djavier membuat Amierra terdiam.
“Tidak apa-apa, pegang saja ATM yang itu. Aku percaya sama Paman kok,” ucap Amierra akhirnya.
“Kamu masih mau menikmati suasana di sini, atau pulang?”
“Tempatnya lumayan bagus, sepertinya aku ingin berenang dulu.”
“Baiklah, kita akan pulang sore saja.”
“Ke rumah?
“Ke rumah orang tua saya dulu. Sebenarnya saya sudah membeli sebuah rumah sederhana di Komplek Ranco Indah. Tetapi lusa saya ada pekerjaan ke Sulawesi Utara untuk satu bulan. Takut kamu kesepian di rumah, jadi sementara di rumah saja bersama Dania.”
“Kenapa gak di rumah saya saja, Paman?”
“Kamu bisa bergantian menginapnya kalau kamu belum terbiasa di rumah orangtua saya.” Amierra mengangguk paham seraya menyantap sarapannya.
“Paman pergi selama satu bulan?” Djavier menganggukkan kepalanya. “Padahal baru nikah juga,” ucap Amierra membuat Djavier menaikkan alisnya.
“Beginilah seorang Abdi Negara, Amierra. Saya harap kamu dapat memahaminya,” ucap Djavier.
“Ya,” jawab Amierra. “Kalau begitu, besok bawa aku pergi seharian. Aku ingin berlibur, anggap saja sebagai ganti bulan madu,” ucap Amierra membuat Djavier tersenyum.
“Baiklah,” ucapnya.
“Bagaimana kalau kita menginap saja langsung, jadi pulang ke rumahnya besok.” Amierra begitu antusias membuat Djavier tanpa sadar tersenyum melihat ke antusiasannya.
“Kamu mau kemana?” tanya Djavier.
“Kemana yah, hmm.” Amierra mengetuk telunjuk ke dagunya. “Kepulauan seribu aja gimana, Paman? Aku pernah ke sana sama Mila dulu, tapi ke Pulau Bidadari. Aku pengen ke Pulau Tidung,” ucap Amierra begitu antusias. “Katanya keindahannya dan juga ke asriannya masih natural, pulau tidung juga sering di sebut dengan surga kecil.”
“Oke, kita pergi ke sana.” Djavier langsung menyetujuinya tanpa memikirkan apapun lagi.
“Serius?” tanya Amierra begitu senang, dan Djavier jawab dengan anggukan kepala. “Yes, makasih Paman.” Amierra tanpa sadar beranjak dan memeluk leher Djavier dari samping dan mengecup pipinya membuat Djavier syok.
“Eh?” saat sadar Amierra segera menjauhkan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Djavier yang menoleh padanya, karena aksi spontan Amierra barusan. “Aku akan mandi,” ucap Amierra segera berlalu pergi meninggalkan Djavier karena merasa sangat canggung dan tindakannya itu sungguh memalukan. Djavier hanya tersenyum kecil melihat tingkah Amierra.
Setelah cek out dari hotel penginapan mereka, Amierra dan Djavier menaiki taxi menuju Dermaga Marina Ancol. Tak banyak pakaian yang mereka bawa, hanya beberapa. Dan sisanya mereka sempat beli di pertokoan dekat hotel.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Djavier dan Amierra sampai di Dermaga Marina Ancol. Sesampainya di sana, banyak sekali yang memperhatikan mereka berdua, terutama pada Djavier. Amierra menatap suaminya itu, ia memperhatikan tampilan suaminya yang memakai celana pendek berwarna hijau army, di padu dengan kaos pendek berkerah berwarna hitam dan jangan lupakan kacamata hitam yang bertengker manis di hidung mancungnya. Pantas saja banyak yang melirik. pikirnya.
“Ayo.” Amierra tersadar dari lamunannya saat Djavier sudah berdiri di hadapannya. Amierra berjalan lebih dulu menuju jembatan dan menaiki speedboat putih. Seorang pria yang akan mengantar mereka, membantu Amierra menaiki speedboat di susul Djavier. Mereka berdua duduk di atas kursi yang sudah begitu juga dengan meja kecil berisi dua gelas minuman fruit punch. Amierra duduk di sisi speedboat menatap hamparan lautan biru di depan matanya, kacamata hitam ia sampirkan di rambutnya. Djavier yang duduk di hadapan Amierra, malah sibuk menatap istrinya itu yang terlihat mengagumi lautan indah di depannya.
Cuaca hari ini terlihat normal, air lautpun terasa tenang. Hembusan angin sejuk dan aroma khas lautan menggelitik hidung mereka. Tujuan mereka adalah Pulau Tidung, Pulau yang letaknya dekat dengan Pulau Pari. Pulau yang memiliki luas 109 hektar (ha). Pulau Tidung merupakan salah satu destinasi tujuan wisata alternatif di Jakarta, berjarak kurang dari 30km. Pulau ini sangat mudah di akses melalui pelabuhan Marina Ancol maupun dari Muara Angke. Secara administratif Pulau Tidung adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Secara umum Pulau Tidung terbagi dua yaitu, Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Perkembangan pariwisata bahari sangat pesat di kawasan ini, dengan keindahan panorama pantai dan jembatan cintanya.
Amierra menoleh ke arah Djavier yang duduk tenang menatap sekeliling lautan luas di depannya. Mereka akan menempuh 3 jam perjalanan menuju pulau tidung.
“Paman, bukankah ini sangat indah.” Mendengar ucapan Amierra, Djavier menoleh padanya. Amierra terlihat cantik dengan rambut panjang yang melambai-lambai karena hembusan angin. Ia terlihat meminum fruit punchnya.
“Kamu benar, Indonesia memikili banyak kekayaan alam yang bahkan tak di miliki Negara lain.” Amierra mengangguk setuju.
“Paman pernah ke sini sebelumnya?” tanya Amierra seraya menyimpan minumannya ke atas meja.
“Belum, saya pernah pergi ke Anyer saja bersama teman-teman saat masih kuliah dulu,” ucapnya.
“Paman jangan terlalu kaku bicara denganku, biasakan gunakan aku kamu. Aku berasa berbicara dengan dosen Sastra,” keluh Amierra yang di jawab senyuman kecil oleh Djavier.
“Mas, di sini ada hiunya gak?” tanya Amierra pada sang sopir.
“Ada Mbak.”
“Kalau kamu penasaran, turun saja ke lautan dan lukai tangan kamu.” Amierra mencibir mendengar penuturan Djavier barusan yang sepertinya ingin bergurau dengannya.
Amierra kembali terdiam, ia menatap Djavier yang sibuk dengan gadgetnya. Iapun memutuskan untuk berselfie ria dengan gaya alaynya. Segera ia mempostingnya ke akun instagramnya.
Setelah menghabiskan waktu cukup panjang, merekapun akhirnya sampai di pulau tidung. Mereka berjalan menyusuri jembatan menuju ke pesisir pantai, untuk menuju resort. Djavier melakukan cek in, dan Amierra menunggunya. Hingga Djavier kembali mendekati Amierra dan mengajaknya pergi mengikuti pelayan resort. Karena bukan weekend, suasana di sini tak begitu ramai pengunjung, hanya beberapa orang saja, itupun tampak orang asal sana. Djavier dan Amierra mendapatkan resort tepat di bibir pantai, bahkan di atas permukaan lautan. Resort itu memiliki balkon kecil dimana terdapat dua buah kursi malas. Dan menyuguhkan view air laut yang begitu jernih.
“Wow,, indah banget Paman!” ucap Amierra yang kini berdiri di balkon kamar.
“Iya, kamu benar. Sangat indah,” ucap Djavier yang berdiri di samping Amierra.
“Aku gak sabar ingin berenang,” ucapnya.
“Sebaiknya kita makan siang dulu.” Amierra menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah menikmati makan siang, mereka berdua berjalan-jalan menuju jembatan panjang itu. Banyak anak-anak remaja dan beberapa orang yang berjalan-jalan di sana, langit sudah mulai berubah warna menjadi warna jingga, karena mendekati petang. Tak ada yang membuka suara, selain helaan nafas dan suara berisik dari yang lain. “Ini namanya jembatan cinta?” tanya Amierra saat mereka berdua berdiri di sisi jembatan.
“Sepertinya begitu, saya belum begitu tau.”
“Paman, apa sebelumnya Paman punya kekasih?” pertanyaan Amierra membuat Djavier menoleh padanya.
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Aku rasa kita perlu pendekatan. Mungkin di mulai dari bercerita tentang diri kita sendiri, setidaknya bisa mengenal satu sama lain.” Amierra mengedikkan bahunya.
“Begitu yah,” ucap Djavier terdiam sesaat. “Saya tidak mengenal banyak wanita, saya tipe orang yang pendiam. Karena saya lebih suka bertindak daripada banyak berbicara,” ucap Djavier membuat Amierra menoleh padanya. “Saya hanya fokus dengan study saya dan masuk ke Akmil, tidak banyak waktu yang saya habiskan untuk bermain. Bahkan untuk mengenal seorang wanita.”
“Tidak pernah kenal atau punya teman wanita gitu?” tanya Amierra tampak penasaran.
“Wanita yang saya kenal hanya kamu dan juga Fatimah.”
“Fatimah?” tanya Amierra mengernyitkan dahinya.
“Iya Fatimah, dia dulu adalah teman kuliah saya di Universitas Islam. Hanya jurusan kami yang berbeda, tetapi kami sama-sama masuk organisasi yang sama saat itu.”
“Apa kalian berpacaran?” tanya Amierra.
“Tidak, saya tidak pernah berpacaran,” kekehnya. “Saya hanya mengenal satu hubungan, yaitu pernikahan. Dan menurut saya, pacaran itu tidak di perlukan.”
“Apa Paman merasa benci atau gak suka sama orang yang pernah berpacaran?” tanya Amierra entah kenapa bertanya itu.
“Tidak, untuk apa saya benci. Saya tidak punya hak untuk melakukan itu,” ucap Djavier. “Memang benar, dalam agama kita. Kita tak di haruskan untuk berpacaran, karena akan menjerumuskan diri pada dosa. Tetapi semuanya kembali pada diri kita sendiri. Biarkan saja Allah SWT yang menilai, bukan kita. Karena kita tidak bertugas untuk menilai prilaku atau kehidupan sesama manusia.”
Amierra menatap kagum jawaban Djavier barusan, dia merasa Djavier ini berbeda dengan yang lain. “Tapi kan sesama manusia itu harus saling menegur dan mengingatkan. Jangan cuek dan tidak perduli saja.”
“Iya kamu benar, saya juga akan menasihati dan menegur saat adik saya atau kamu melakukan kesalahan. Tetapi tetap saja semuanya kembali ke diri masing-masing,” ucap Djavier. “Bukankah lebih nyaman melakukan perubahan karena keinginan sendiri, daripada paksaan dari oranglain? Saling mengingatkan perlu, tetapi itu hanya untuk pertimbangan saja. Yang mengambil keputusan tetap saja pribadi masing-masing,” jelas Djavier membuat Amierra menatapnya semakin kagum. Pria ini sungguh dewasa.
“Kembali lagi ke Fatimah yang tadi, apa Paman menyukainya?” tanya Amierra.
“Menyukainya? pernah. Saya menyukai tutur kata dan sikapnya yang lemah lembut dan begitu sopan. Hanya itu, sisanya mungkin harena hasutan setan.” Djavier mengedikkan bahunya.
“Apa dia cantik?”
“Cantik, tidak ada seorang wanita yang tidak cantik, Amierra.” Kali ini Djavier menoleh pada Amierra yang berdiri di sampingnya.
“Aku tau, tapi maksudku apa dia di atas rata-rata wanita kebanyakan?”
“Saya tidak tau, karena cantik itu relatif. Ada kalanya dia terlihat cantik, ada juga tidak. Lagian cinta karena wajah yang cantik, akan habis termakan oleh waktu.” Amierra menatap manik mata tajam milik Djavier yang juga tengah menatapnya. Hembusan angin terasa menggelitik tubuh mereka berdua. Amierra tersenyum kecil menatap Djavier. “Kenapa?” tanya Djavier.
Amierra menggelengkan kepalanya seraya menatap langit di depannya yang semakin menguning. “Mataharinya akan segera terbenam,” ucap Amierra membuat Djavier ikut menatap ke depannya. Tak ada yang membuka suara selain menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan di depan mereka.
“Aku memiliki masalalu bersama seorang pria, bahkan hubungan kami belum berakhir.” Djavier menoleh pada Amierra saat mendengar penuturan Amierra barusan.