Episode 4

2554 Kata
    Seminggu sudah berlalu, dan Amierra melakukan apa yang di suruh oleh Djavier untuk melakukan solat istikharah. Hampir setiap malam ia melakukannya meminta jawaban dari Allah, apa yang harus ia lakukan. Jawabannyapun sudah di temukan Amierra, karena setelah melakukan solat ketiga kalinya. Djavier muncul dalam mimpinya. Djavier terlihat memakai pakaian serba putih dan wajahnya terlihat cerah sekali dan terlihat sangat tampan. Ia muncul di mimpi Amierra dengan senyuman khasnya. Amierra pikir itu hanya kebetulan saja, bukan jawaban dari Tuhan atas Sholatnya. Tetapi sudah seminggu ini Fauzan tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya atau membalas pesannya yang sudah menumpuk di emailnya. Amierra hanya bisa menghela nafasnya saja, sekarang ia tau apa yang harus ia lakukan. “Hallo,” “Assalamu’alaikum,” “Wa’alaikumsalam,” jawab Amierra.  “Paman besok saja kita ke Serang Bantennya.” “Kamu sudah menemukan jawabannya?” “Hmm,” “Itu jugalah yang saya lakukan, dan sepertinya memang Tuhan sudah menakdirkan kita untuk bersama.” “Hmm,” “Besok saya jemput pagi-pagi yah, saya juga ajak Dania. Perjalanan jauh, dan rasanya tidak baik kalau kita jalan berdua.” “Terserah,” “Baiklah, sampai besok Amierra. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” Amierra mematikan sambungan telponnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendunya. Apa itu berarti tak ada harapan lagi untukku bersama dengan my Ozan? Bip bip Amierra mengambil iphone yang tergeletak di sampingnya dan membaca pesan yang baru saja masuk padanya. Millow Gimana, loe udah bilang sama Abang tentara itu? Me Udeh, besok kita mau ke Serang Banten untuk ketemu Komandannya. Dan melakukan beberapa tes. Millow Ngikut, boleh dong. Siapa tau ada tentara cogan lainnya di sana. Me Kagak! Millow Ah elah, jangan pelit-pelit. Bagi-bagi kacang ijo nya satu kenapa. Kagak kasian nih sama sahabat yang masih jomblo, nunggu di hilalin Abang Kacang Ijo. (Emot nangis) Me Frustasi bener mbak,, Millow Asyem! Ikut yah ikut, biar kagak gantung diri di pohon toge karena gak nemu kacang ijo. Amierra terkekeh membaca pesan dari sahabatnya itu. Ada-ada saja memang Mila ini. Amierrapun membalas dengan emot jempol dan itu membuat Milla bahagia bukan main. Keesokan paginya, Djavier menjemput Amierra bersama Dania.  “Assalamu’alaikum Kak Amie,” “Wa’alaikumsalam Dania.” Amierra memeluk Dania singkat dan beranjak menuju ke pintu penumpang belakang. “Kakak di depan saja, biar Dania yang di belakang,” ucap Dania. “Tidak Dania, nanti temanku akan ikut jadi aku di belakang saja. Kamu duduk di depan saja,” ucap Amierra menaiki mobil. “Masuklah Dania,” ucap Djavier yang di angguki Dania. Ia menaiki mobil Djavier begitu juga Djavier, dan mulai menjalankan mobilnya. “Kita akan menginap di rumah sepupu saya di Banten. Karena kita akan di sana sekitar 2-3 hari, jadi tidak bolak balik,” ucap Djavier melirik Amierra melalui kaca spion. “Hmm,” Hening... Tak ada yang membuka suaranya, “Paman, jemput temanku dulu di tempat yang dulu yah.” “Baiklah,” “Paman?” seketika tawa Dania pecah membuat Djavier memelototinya tetapi Dania terus tertawa. “Cocokkan panggilannya, Dania?” ucap Amierra. “Hahaha cocok sekali, lucu banget,” kekehnya tanpa memperdulikan tatapan intimidasi dari Djavier. “Kasian banget Abang, belum punya ponakan udah di panggil Paman,” tawa Dania pecah seketika, sedangkan Amierra hanya terkekeh saja. Djavier berusaha bersikap tenang tanpa ekspresi walau sebenarnya ia merasa kesal di ejek seperti itu. Tak lama mereka sampai di depan kostan Milla, dan tak lama sang empu keluar dengan membawa beberapa tas. “Astaga loe mau pindahan kemana, Millow? Bawa barang bejibun gini,” ucap Amierra kaget melihat Milla. “Persiapan buat nyari cogan,” kekehnya. Ia menaiki mobil di bantu Amierra menyimpan barangnya di bagasi mobil. “Hai aku Milla,” ucap Milla saat mobil sudah bergerak. “Hai Kakak, aku Dania adiknya bang Djavier,” “Hai Dania, Hai Mas Djavier,” “Hai Milla.” Djavier tersenyum lewat kaca spionnya. “Di pikir Mas tukang baso,” celetuk Amierra. “Dih kenapa? cembokur loe? Lebih bagus kan manggil Mas daripada Paman, kayak loe.” Amierra mencibir kesal mendengar ucapan Milla. Dania terkekeh di depan mendengar ucapan Milla. “Eh Mas, apa di sana ada tentara yang belum menikah?” tanya Milla tanpa tau malu. “Tidak tau malu,” cibir Amierra. “Gak apa-apa, namanya juga usaha biar cepet di hilal sama abang TNI.” Ucapan Milla membuat Dania dan Djavier terkekeh. “Ada banyak Mil,” jawab Djavier. “Wah, kenalin satu buatku yah Mas. Aku mau aku mau,” ucapnya heboh. “Loe pikir makanan,” ucap Amierra. “Syirik aja loe, kan loe udah dapat mas Djavier. Jadi sekarang giliran gue,” ucapnya tanpa tau malu. “Mas pala loe,” gerutu Amierra. “Lihat Mas, ada yang cemburu karena aku panggil Mas.” Djavier terkekeh mendengar penuturan Milla. “Aww,” pekiknya saat Amierra menginjak kakinya dengan keras. “Ada apa?” tanya Djavier “Di injak kaki gajah,” ucapnya asal membuat Amierra melotot kesal. Tanpa sepengetahuan Amierra, Djavier melirik dari kaca spion dan tersenyum melihat wajah Amierra yang terlihat lucu dan cantik menurutnya. Dan kejadian itu tertangkap oleh tatapan Dania yang sadar kalau Abangnya sudah menyukai calon Kakak Iparnya. Mereka sampai di Markas Kopassus Group 1 di Serang Banten. Komando Pasukan Khusus yang di singkat menjadi Kopassus adalah bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat, Indonesia. Kopassus memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror. Tugas Kopasus Operasi Militer Perang (OMP) diantaranya Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Combat SAR, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus). Selain itu, Tugas Kopasus Operasi Militer Selain Perang (OMSP) diantaranya Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, SAR Khusus serta Pengamanan VVIP. Prajurit Kopassus dapat mudah dikenali dengan baret merah yang di sandangnya, sehingga pasukan ini sering di sebut sebagai pasukan baret merah. Kopassus memiliki moto "Berani, Benar, Berhasil". Djavier merupakan TNI AD Kopassus di Indonesia, walau awalnya dia bergerak di TNI AD Infanteri yang merupakan pasukan tempur darat utama yaitu pasukan berjalan kaki yang di lengkapi persenjataan ringan, di latih dan di siapkan untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat. Oleh karena itu seorang Infanteri harus memiliki kemampuan berkelahi, menembak, dan bertempur dalam segala medan dan cuaca. Tetapi karena kemampuannya yang gesit dan mengagumkan beberapa tahun belakangan ini, Djavier di angkat menjadi Kapten dari salah satu Group di tim TNI Kopassus. Struktur organisasi Kopassus berbeda dengan satuan infanteri pada umumnya. Meski dari segi korps, para anggota Kopassus pada umumnya berasal dari Korps Infanteri, namun sesuai dengan sifatnya yang khusus, maka Kopassus menciptakan strukturnya sendiri, yang berbeda dengan satuan infanteri lainnya. Kopassus sengaja untuk tidak terikat pada ukuran umum satuan infanteri, hal ini tampak pada satuan mereka yang disebut Grup. Penggunaan istilah Grup bertujuan agar satuan yang dimiliki mereka terhindar dari standar ukuran satuan infanteri pada umumnya (misalnya Brigade). Dengan satuan ini, Kopassus dapat fleksibel dalam menentukan jumlah personel, bisa lebih banyak dari ukuran brigade (sekitar 5000 personel), atau lebih sedikit.Sebelum turun, Djavier melepaskan jaket kulit yang ia gunakan hingga memperlihatkan seragam kebesarannya yang lain, berbeda dari yang kemarin ia gunakan. Amierra tanpa sadar memperhatikan calon suaminya itu yang terlihat gagah dan tampan dengan seragamnya. Secara garis besar satuan dalam Kopassus dibagi dalam lima Grup, yaitu: Grup 1/Para Komando - berlokasi di Serang, Banten. Grup 2/Para Komando - berlokasi di Kartasura, Jawa Tengah. Pusat Pendidikan Pasukan Khusus - berlokasi di Batujajar, Jawa Barat. Grup 3/Sandhi Yudha - berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur. Satuan 81/Penanggulangan Teror - berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur. Kecuali Pusdikpassus, yang berfungsi sebagai pusat pendidikan, Grup-Grup lain memiliki fungsi operasional (tempur). Dengan demikian struktur Pusdikpassus berbeda dengan Grup-Grup lainnya. Masing-masing Grup (kecuali Pusdikpassus), dibagi lagi dalam batalyon, misalnya: Yon 11, 12, 13 dan 14 (dari Grup 1), serta Yon 21, 22 dan 23 (dari Grup 2). Djavier menuruni mobil diikuti yang lainnya, mereka berjalan memasuki markas Kopassus, banyak sekali tentara baret merah yang sedang berlatih di sana. Amierra tanpa sadar memperhatikan Djavier yang tampak gagah dengan seragamnya. “Macho yeh,” bisik Mila menyadarkan Amierra yang hanya di balas dengusan oleh Amierra. “Selamat Siang Kapten!” sapa seorang pria gagah yang tingginya hampir menyamai Djavier. Pria itu terlihat memakai seragam kebesarannya. “Selamat siang Sersan Iqbal, kenalkan ini Dania adik saya, ini Amierra calon istri saya dan yang ini Kamila temannya Amierra,” ucap Djavier. “Selamat siang semuanya, saya Sersan Inf Iqbal Khairudin, Sersan sekaligus kaki tangannya Kapten Djavier di Group 1 ini,” ucap pria berperawakan 180cm berbeda 5cm dengan Djavier yang tingginya 185cm. “Ganteng euy,” bisik Mila membuat Amierra menyikunya. “Dania dan Mila tunggu di sini saja dulu.” Mereka berdua mengangguk setuju dan Djavier mengajak Amierra masuk ke dalam untuk menemui penguji pertama mereka. Iqbal mengajak Dania dan Mila ke kantin markas, di sana cukup sepi karena ini belum waktu istirahat dan banyak tentara yang terlihat tengah melakukan latihan dan kegiatan lainnya. “Mau pesan apa?” tanya Iqbal Pria itu terlihat ramah sekali, wajahnya tidak terlalu tampan tetapi terlihat manis.“Apa saja, ikut mas Iqbal saja,” ucap Mila dengan tatapan berbinarnya membuat Dania terkekeh. “Aku juga apa saja,” ucap Dania. “Baiklah, sebentar yah.” Iqbal berlalu pergi memesan makanan untuk mereka bertiga. Di tempat Djavier dan Amierra, mereka masih duduk di luar ruangan. “Apa kamu sudah menghapal apa yang saya berikan kemarin?” Amierra menengok ke arah Djavier, “Sudah, ini tes apa sih kok aku sampai harus menghapal buku itu. Mana banyak pasal-pasal juga, seperti mau ujian PPKN saja.” “Itu tes awal kita, kamu di uji soal pengetahuan di bidang pendidikan dan kewarganegaraan sebenarnya itu hanya pengetahuan umum. Begitu juga soal pandanganmu mengenai organisasi terlarang di NKRI, seperti PKI,” jelas Djavier. Tak lama mereka di persilahkan masuk, dan penguji pertama mereka mulai berbasa basi ringan. Dan mulai bertanya beberapa hal kepada Amierra, setelahnya ia melakukan pengujian pada Amierra yang di jawab dengan santai oleh Amierra. Setelah ujian singkat itu, mereka di beri wejangan tentang bahtera pernikahan. Setelahnya Djavier dan Amierra keluar dari ruangan itu. “Aku pikir kamu tidak akan bisa menjawabnya.” “Aku bisa menjawabnya, karena pertanyaan itu sangat gampang. Aku pikir akan di tanya soal pasal UUD, taunya nggak. Padahal kan kalau sulit dan aku tidak bisa jawab, kita gagal nikah.” Ucapan Amierra hanya di jawab senyuman singkat oleh Djavier. Kali ini ia sudah tau bagaimana Amierra. “Setelah ini kemana? Aku sangat lapar.” “Kita akan ke rumah sakit TNI, tak jauh dari sini. Tetapi kalau kamu lapar, kita bisa makan dulu.” “Makan dulu, aku lapar.” “Baiklah, ayo.” Amierra mengikuti Djavier menuju ke kantin Markas. Di sana terlihat Iqbal bersama Mila dan Dania tengah menikmati makanan mereka. “Makan kagak ajak-ajak!” Oho oho Milla tersedak makanannya karena Amierra menoyor kepalanya. “Minum dulu.” Iqbal menyodorkan sebotol air mineral pada Mila. Mila menerimanya dengan wajah mesem-mesem. “Mau makan apa, Mier?” tanya Djavier. “Apa saja yang bisa di makan.” Djavierpun berlalu pergi meninggalkan mereka untuk memesan makanan. “Mbak Amierra kenal Kapten dimana? Dia itu pria yang sangat pendiam dan tertutup, bahkan dia jarang sekali dekat dengan seorang wanita,” ucap Iqbal. “Kami di jodohkan,” jawabnya enteng. “Oh benarkah?” ucapnya seakan tak yakin dan Amierra menganggukan kepalanya. “Dulu saat kami pelatihan di AKMIL, kami berteman dan tidak menyangka akan sama-sama masuk ke komando khusus di group yang sama.” Amierra hanya manggut manggut saja mendengar penjelasan Iqbal hingga tak lama Djavier membawa 2 piring nasi serta lauk pauknya untuk Amierra dan dirinya. Amierra memakannya dengan lahap begitu juga dengan Djavier. “Setelah ini kemana lagi, Kapt?” “Sekarang kami akan melakukan tes kesehatan di rumah sakit TNI. Mungkin akan sampai sore, kamu ada kerjaan Iq?” “Kebetulan saya sedang tidak sibuk, Kapt.” “Bisa kamu antarkan Mila dan Adik saya ke rumah sepupu saya. Dania tau tempatnya, kasian juga mereka butuh istirahat.” “Siap Kapt!” Setelah selesai makan, Amierra dan Djavier pergi menuju ke rumah sakit TNI tak jauh dari markasnya. “Nanti akan di tes apa saja? Tes keperawanan itu bagaimana?” tanya Amierra. “Saya tidak tau, tetapi itu tidak akan membahayakan kamu,” ucapnya fokus menyetir mobil hingga masuk ke rumah sakit TNI. Mereka berdua menuruni mobil dan berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit yang tak terlalu ramai. Amierra berjalan sedikit kelelahan karena harus menyamai langkah lebar Djavier, apalagi dia memakai high heels. “Heh Paman!” teriaknya menghentikan langkah Djavier yang sudah berada 5 langkah di depannya. Djavier menoleh ke belakangnya dengan menaikkan sebelah alisnya. Amierra menghembuskan nafasnya kasar. “Biasa aja jalannya bisa gak? aku udah kayak jalan bareng Banteng yang nyeluduk terus.” Djavier berusaha menahan tawanya mendengar amukan Amierra. “Cepatlah, kita sudah di tunggu.” Amierra mendengus kesal dan berjalan mendahului Djavier menuju ke ruang pemeriksaan. Sesampainya di sana, mereka melakukan beberapa tes kesehatan seperti pemeriksaan dari kesehatan jantung, urin, cek darah, rontgen d**a, dll. Setelahnya mereka duduk di hadapan seorang dokter TNI, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengker di hidungnya walau sedikit melorot.  “Nona Amierra dan Kapten Inf Djavier,” ucapnya.. “Benar Pak,” jawab Djavier. “Apa sebelumnya kamu pernah melakukannya dengan calon suami kamu?” tanya dokter itu tanpa basa basi. “Melakukan apa?” tanya Amierra dengan polos. “Melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan,” ucapnya tanpa basa basi. “Ya tidaklah Pak, kan kami belum nikah,” ucap Amierra dengan santai. “Sudah jujur saja, nanti juga bakal ketahuan saat di test!” desaknya. “Lah saya sudah jujur, mau di test apa juga silahkan saja,” jawab Amierra tanpa rasa takut dan itu membuat Djavier semakin menyukai Amierra. “Benarkah? Jaman sekarang kan banyak sekali kejadian seperti itu,” ucapnya seakan memancing Amierra. “Itu mereka, tetapi tidak dengan saya. Kalau Bapak mau melakukan test yah silahkan, saya tidak takut toh saya berkata jujur,” ucapnya membuat Bapak itu tersenyum seraya melepaskan kacamatanya. “Kalian boleh keluar, hasilnya besok sudah keluar,” ucap pria itu membuat Djavier mengangguk dan berpamitan. “Begitu saja?” tanya Amierra saat mereka sudah keluar dari ruangan. “Iya, memangnya kamu mau bagaimana lagi?” tanya Djavier. “Tidak, selanjutnya apa lagi?” tanya Amierra sedikit memijit betisnya yang terasa pegal. “Besok pagi kita akan melakukan Pembinaan Mental atau biasa di sebut Bintal.” “Apalagi itu?” tanya Amierra dengan kernyitan di dahinya. “Itu hanya tes tentang kepribadian kita, nanti kita harus menjawab beberapa soal yang mereka ajukan. Biasanya tentang keagamaan dan wejangan pra nikah,” ucap Djavier. “Lalu setelah itu?” “Setelahnya kita menghadap ke Brigjen selaku pimpinan di Group 1 parakomando di Serang Banten ini. Dan membawa semua persyaratan yang sudah kita penuhi,” jelas Djavier saat berjalan menuju parkiran mobil. “Lalu?” “Lalu kita pergi ke KUA untuk mengajukan pernikahan kita, supaya bisa tercatat di catatan sipil.” “Syukurlah, aku sudah males menjalankan beberapa tes lagi.” “Tenanglah semuanya sudah selesai, hanya tinggal besok tes terakhir.” Mereka berdua menaiki mobil CR-V milik Djavier dan meninggalkan pekarangan rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN